
"Nah kan lucu."
Daniel yang baru selesai memakaikan sebuah mini jas kepada Darriel tersebut, tampak terkagum-kagum dan senyum-senyum sendiri. Ia gemas melihat tampilan sang anak yang begitu lucu.
"Gimana mas?" tanya Lea yang kebetulan tengah sibuk di luar. Ia kini menongolkan kepalanya di pintu kamar.
"Liat deh, Le. Sini!" ucap Daniel.
Lea pun masuk ke dalam dan melihat apa yang telah diperbuat Daniel kepada Darriel.
"Ih lucu." ujarnya kemudian.
Tampak Darriel tersenyum.
"Gitu dong senyum, kan cakep." ucap Lea lagi. Darriel malah tertawa, membuat Daniel dan Lea menjadi lebih senang lagi.
"Kamu beli dimana sih mas ini?" tanya Lea kemudian.
"Ada pesan sama temen. Jadi ntar pas acara kita, dia pake yang tuxedo kemaren sama yang ini." jawab Daniel.
Lea terus memperhatikan Darriel. Kini bayi itu tampak memain-mainkan kaki dan tangannya. Sementara Daniel mengambil handphone dan mengambil foto sang anak.
"Cekrek."
"Cekrek."
Lagi-lagi Darriel tertawa. Lea menowel bibir serta pipi anaknya itu. Hingga menyebabkan Darriel memberi lirikan tajam ke arahnya.
"Mama jahil ya?" tanya Daniel pada Darriel.
Darriel kembali menatap sang ayah lalu tersenyum.
"Dia kalau sama kamu kayak nggak ada dendam ya mas?" ucap Lea seraya tertawa.
"Kan aku nggak nakal sama dia. Kalau kamu suka gangguin, makanya dia ingat." ujar Daniel.
Lagi-lagi Darriel tertawa.
"Iya mama suka ganggu Darriel ya?" tukas Daniel lagi.
Darriel makin kencang menggerak-gerakkan kaki serta tangannya. Entah mengapa hari ini dia seperti full of energy.
Usai mencoba baju tersebut pada Darriel. Lea dan Daniel duduk di sofa kamar sambil melihat desain undangan, yang sudah dikirim oleh pihak yang ditunjuk oleh Lea. Darriel sendiri sudah di kembalikan kedalam box karena memang disitulah wilayah teritorialnya.
"Gimana mas desainnya, suka nggak kamu?" tanya Lea.
"Daniel memperhatikan secara seksama. Lalu membandingkan dengan desain-desain yang dikirim sebelum serta sesudahnya.
"Kenapa nggak pake foto yang aku kasih seserahan. Yang isinya Darriel." tanya Daniel pada Lea.
"Oh iya." Lea tampak seperti baru teringat akan foto tersebut.
"Itu lebih lucu kayaknya ya mas." ujar Lea lagi.
"Iya, coba deh kamu email ke percetakannya." tukas Daniel.
"Aku WA aja deh." ucap Lea.
__ADS_1
Ia kemudian mengirim WhatsApp kepada pihak desain dan percetakan sambil mengirimkan foto yang dimaksud. Pesan tersebut langsung dibaca dan owner-nya segera menanggapi.
Selang beberapa saat kemudian, pihak mereka mengirimkan desain terbaru dengan foto yang dinginkan.
"Ih iya mas, lucu banget."
Lea memperlihatkan hasil desain tersebut pada sang suami. Daniel pun ikut menilik ke layar handphone.
"Bagus kan, apa ku bilang." ujar Daniel sambil tertawa kecil.
"Ya udah deh ini aja undangannya, gemes." ujar Lea lagi.
Kemudian ia menyampaikan kepada pihak yang bersangkutan, bahwa ia menginginkan desain yang terakhir tersebut. Maka mereka pun akhirnya mencapai kesepakatan.
***
Turn down the lights.
Turn down the bed.
Turn down these voices inside my head.
Lay down with me, tell me no lies.
Just hold me close, don't patronize.
Don't patronize me.
Daniel dan Ellio menilik ke rooftop kantor mereka, sesaat setelah jam kantor berakhir. Namun belum banyak karyawan yang pulang dan memilih untuk tetap berada di sana. Sebab berdasarkan informasi, telah terjadi sebuah kemacetan yang panjang. Di beberapa titik yang seiring mereka lalui.
Jika malam tempat itu akan dipenuhi lampu-lampu. Sejatinya para karyawan tahu dan diperbolehkan mengakses tempat tersebut. Dan di hari-hari biasa sering dipakai oleh mereka yang belum menikah, untuk pacaran.
Lea sendiri belum pernah diajak Daniel ke atas sana. Namun Lea pernah diceritakan oleh Daniel mengenai tempat tersebut.
Cause I can't make you love me if you don't
You can't make your heart feel something it won't.
Richard terus menyanyikan lagu bertajuk I Can't Make You Love Me tersebut. Yang belakangan kembali di populerkan oleh salah satu personel Westlife yakni Shane Filan.
"Kayaknya lagi galau dia." Ellio berspekulasi. Hari ini atas izin Marsha, ia bisa kembali ke kantor.
"Richard bisa galau gitu?" tanya Daniel pada Ellio.
"Playboy sad boy dia mah." seloroh Ellio sambil tertawa. Mereka terus memperhatikan Richard.
Here in the dark, in these final hours.
I will lay down my heart and I'll feel the power.
But you won't, no you won't.
Cause I can't make you love me, if you don't.
"Tapi dia nggak ada cerita sama lo, kenapa?" tanya Daniel lagi.
"Kagak ada." jawab Ellio.
__ADS_1
"Dia mau jadi cool man yang sok misterius kali. Yang merahasiakan semua kesakitan di balik senyuman." lanjut pria itu.
"Sok puitis lo, anjay."
Daniel menoyor kepala Ellio dan Ellio pun makin tertawa. Besarnya suara Ellio membuat Richard sadar jika dirinya tengah diintip oleh Bambang dan juga Junaedi.
"Lo berdua ngapain disitu?" tanya Richard tanpa menoleh.
"Tau aja, kayak di film-film." seloroh Ellio.
Ia dan Daniel kemudian mendekat sambil cengar-cengir.
Richard menghisap batang rokok lalu menghembuskan asapnya ke udara. Daniel dan Ellio lalu duduk dihadapan sahabat mereka tersebut.
"Lo ngapain, Chard?. Mikirin utang perusahaan?" tanya Ellio seraya memakan nastar yang ada di hadapan Richard. Ia, Daniel dan juga Richard merupakan nastar lovers. Dimana pun tempat mereka selalu sedia kue kering dengan isian selai nanas tersebut.
"Perusahaan gue utangnya nggak gede kayak perusahaan lo." ujar Richard.
Daniel hampir tersedak nastar ketika mendengar semua itu. Sebab kini ia juga ikut makan.
"Enak aja." ujar Ellio.
"Utang perusahaan gue masih standar kali." lanjutnya kemudian.
"Richard menarik sudut bibir dan tertawa kecil, kemudian ia kembali menghisap batang rokoknya.
"Lo mikirin Dian ya?" Ellio langsung menjudge Richard, sementara Daniel kini memperhatikan.
"Galau kan lo?" tanya nya lagi.
"Ngapain gue galau mikirin dia, orang nggak ada apa-apa."
"Bokis, orang gua baca insta story nya Dian. Isinya kayak nyindir lo gitu."
"Emang iya?"
Kali Ini Daniel bertanya pada Ellio, sebab hidupnya tak sekepo itu terhadap orang lain.
"Lo liat aja di Instagramnya dia."
"Kagak, nggak ada apa-apa." ujar Richard lagi.
"Lo aja yang terlalu cepat menyimpulkan." lanjut pria itu.
"Terus lo ngapain disini sendirian sambil nyanyi-nyanyi galau gini?" tanya Ellio lagi.
"Ya emang gue nggak boleh gitu, duduk di suatu tempat menikmati waktu. Terus gue sambil main musik dan nyanyi. Siapa yang melarang orang untuk berbuat hal demikian?"
"Nggak ada sih." ujar Ellio.
Tapi gue curiga aja." lanjutnya kemudian.
Richard mematikan sisa rokoknya di asbak. Namun kemudian Ellio mendekatkan kepalanya hingga hanya sekitar 5cm meter saja dari wajah Richard.
Ia masih belum yakin dengan jawaban sahabatnya itu. Dan tentu saja hal tersebut membuat Richard refleks menoyor kepala Ellio.
***
__ADS_1