
"Katakan pada kami sekarang juga, dimana Clarissa?"
Beberapa orang sengaja mendatangi toko bunga milik Clarita, kakak Clarissa. Di dalam toko tersebut Clarita di bentak-bentak hingga mengundang perhatian sekitar.
"Hei."
Ada apa ini?"
Para pemilik toko di sederet maupun yang berseberangan, mulai berkumpul.
"Kami sedang mencari Clarissa. Ini perintah bos kami. Jangan ikut campur!"
"Ya tapi nggak bisa kayak gini dong. Main datang, marah-marah, dan intimidasi aja ke toko orang."
Para pemilik toko itu mulai naik pitam. Sebagian yang lain merekam wajah orang-orang yang menekan Clarita tersebut.
"Udah, laporin aja polisi." teriak yang lainnya.
Orang yang menekan kakak Clarissa itu mulai panik. Mereka menggunakan ancaman terakhir mereka yakni senjata tajam. Lalu mereka pun buru-buru meninggalkan tempat itu.
"Kamu nggak apa-apa?"
Salah seorang yang juga memiliki toko disana bertanya pada Clarita. Wanita itu menggeleng, namun pucat.
Ia kemudian dibawa dan ditenangkan oleh karyawannya. Orang-orang sekitar mulai berjaga. Para pelanggan di berbagai toko kini bertanya-tanya ada keributan apa. Dan suasana pun seketika menjadi heboh.
***
"Apa?"
"Kamu di bentak-bentak seperti itu?"
Sugar daddy Clarita, kakak Clarissa kini marah. Mendengar jika sugar baby atau istri simpanannya itu usai diintimidasi oleh orang lain di toko.
"Iya mas."
Clarita berujar sambil berurai air mata. Membuat sugar daddynya itu menjadi kian bertambah murka.
"Orang itu mencari Clarissa." ujar Clarita lagi.
Sang sugar daddy diam, namun dengan nafas yang memburu naik turun. Tak lama ia pun menelpon beberapa orangnya dan menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa Clarita.
"Saya mau orang itu di cari dan di usut siapa yang menyuruh. Saya mau buat perhitungan dengan orang itu." ujar sang sugar daddy.
Maka orang kepercayaannya pun menyanggupi hal tersebut. Ia kini mencoba menenangkan sang sugar baby alias istri mudanya, Clarita.
"Maaf ya aku datang terlambat. Kalau aku datangnya tadi, sudah aku habisi mereka semua."
Clarita mengangguk seraya menyeka air matanya dengan tissue.
"Sudah, kamu jangan nangis lagi." ucap sang sugar daddy.
***
"Masa udah di tekan tapi masih nggak dapat juga alamatnya."
Marvin marah pada orang-orang suruhannya, yang kembali gagal menemukan keberadaan Clarissa.
__ADS_1
"Kami terhalang orang-orang sekitar bos. Mereka jumlahnya banyak dan ada yang mengancam lapor polisi."
Salah seorang dari orang suruhan itu mencoba membela diri dan kelompoknya.
"Kalian itu terlalu lembek, padahal saya yang menjamin kalau misalkan kalian berurusan dengan polisi. Saya yang akan mengeluarkan kalian. Asal kalian bisa menekan kakaknya dia dan mendapatkan alamat si Clarissa sekarang."
"Maafkan kami bos, tapi tadi benar-benar sulit."
"Ya sudah, sana!"
Marvin mengusir mereka semua dari hadapannya. Sebab ia makin bertambah pusing dan gusar kali ini.
Mengapa menemukan satu perempuan hamil saja, begitu sulit. Seperti berusaha menemukan buronan kelas kakap dari sebuah kasus besar. Marvin benar-benar tak habis pikir.
Tiba-tiba handphone Marvin berbunyi. Dan itu telpon dari sang ayah. Marvin tak bisa tak mengangkat telpon tersebut, sebab sang ayah akan terus menelponnya bahkan hingga ratusan kali.
"Hallo, pa." ujarnya kemudian.
"Gimana, sudah kamu bereskan?. Papa lihat beritanya masih beredar. Masa mengurus hal seperti ini saja kinerja kamu lambat sekali."
"Mmm, iya pa. Ini sebentar lagi beritanya hilang koq." ujar Marvin.
"Oke, papa tunggu. Tolong gerak cepat!"
"Iya pa."
Ayah Marvin kembali menutup sambungan telpon, sementara Marvin bertambah sakit kepala.
***
Lea mendapat kabar dari orang maklon, jika pesanan face oil miliknya akan segera jadi. Tentu saja Lea senang mendengar hal tersebut. Sebab ia telah lama ingin memiliki bisnis skincare sendiri.
Namun baru kali ini ia bisa merealisasikan hal itu. Sebab semenjak hamil dan melahirkan, ia jadi sibuk fokus mengurus anak. Belum lagi mengurus kuliahnya yang juga sama penting.
Tapi sekarang secara perlahan, semuanya mulai berjalan. Meski baru deal satu produk saja dengan maklon tersebut. Lea ingin membaca dan mengadakan tes pasar terlebih dahulu. Kira-kira produknya bisa meraih tempat atau tidak.
"Baik bu, terima kasih atas informasinya." ucap Lea pada si orang maklon.
"Sama-sama."
Mereka lanjut berbincang sejenak kemudian saling berpamitan satu sama lain.
"Yeay, Darriel. Akhirnya mama punya bisnis sendiri."
Lea curhat pada sang anak, lantaran hanya ada mereka berdua saja di penthouse.
"Heee."
"Heee."
Darriel tertawa-tawa sambil menggerakkan tangan dan kakinya.
"Kalau gitu mama butuh selebrasi nih. Mama mau beli sayap ayam Korea plus tteokpokki dan Odeng." ujarnya lagi.
Darriel masih sama seperti tadi, antusias dan tertawa-tawa. Lea kemudian meraih handphone dan membuka laman aplikasi ojek online.
Untuk kemudian mencari makanan Korea yang di jual di sekitar. Beruntung ia pun langsung mendapatkan hal tersebut.
__ADS_1
"Klik."
"Pesan."
"Yeay Darriel. Pesanannya bentar lagi sampai." ujar Lea.
"Heheee."
"Kamu mau susu?"
"Hiyaaa, Heee."
"Lah ada suara yang begitu?"
Lea kaget sendiri. Sebab ia memang mengikuti setiap jengkal perkembangan sang anak.
"Coba ulang lagi, mama mau dengar!"
"Heheee."
"Yah, nggak di ulangi." ujar Lea.
Selang beberapa saat kemudian pesanan Lea pun tiba. Ia meninggalkan Darriel sejenak, lalu turun ke bawah untuk mengambil pesanan itu. Tak lama ia kembali dan makan di dekat Darriel.
"Kres."
Bunyi gigitan Lea terhadap sayap ayam krispi berbumbu Korea itu, terdengar di sekitar kamar.
"Hmmm, sangat mengguncang jiwa raga." ujar Lea seraya terlihat begitu menikmati.
"Kres."
"Kres."
"Kres."
Ia kembali mengambil gigitan, namun kemudian ia menyadari sesuatu. Bahwa kini Darriel melihat ke arah dirinya, dengan wajah yang bengong serta sesekali memainkan lidahnya. Seperti seseorang yang turut menghendaki.
"Ya ampun, nak. Masa segitu ngertinya liat orang makan. Nggak tega mama liat muka kamu."
Lea agak merasa bersalah. Sementara Darriel terus memperhatikan dan menggerakkan mulutnya.
"Nih, Darriel minum susu aja!"
Lea memasukkan botol susu yang telah berisi sejak tadi ke mulut sang anak. Namun Darriel mengeluarkannya dan menolak.
"Ya ini makanan Darriel. Darriel kalau mau makan kayak mama, harus gede dulu syaratnya."
Darriel beralih pandangan sejenak, Lea kembali makan. Namun kemudian bayi itu kembali menoleh.
"Gue tau sih nih anak nggak mungkin ngerti. Tapi koq gue nggak enak aja ya liat mukanya, kayak sedih gitu nggak dikasih. Padahal mungkin dia nggak gitu." gumam Lea kemudian.
"Udah ah, mama makan di luar aja." ujar Lea.
Tak lama perempuan itu pun jadi pindah makan di luar, sebab tak tega melihat wajah Darriel.
"Hekheee."
__ADS_1
Darriel menangis, Lea menghentikan makan lalu mencuci tangan. Ia buru-buru ke kamar Darriel dan memberi susu. Tak la Darriel tertidur, dan Lea juga ikut tertidur.
Saat pulang kerja Daniel bingung, ada banyak makanan Korea di meja. Tapi orang-orang Di rumah seakan tak ada suaranya.