Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Menjelang Hari


__ADS_3

Lea menyebar undangan hari ini. Ada yang dibagikan secara langsung, ada pula yang dikirim via ojek online maupun ekspedisi.


Selama beberapa hari ke depan, acara pernikahan ulangnya dengan Daniel akan segera di langsungkan.


Tentu saja ia antusias. Meski ini merupakan acara yang sejatinya tidak penting lagi untuk di selenggarakan. Sebab ia dan Daniel telah menikah secara sederhana sebelumnya.


Daniel hanya ingin membuat kenangan dan Lea menghargai hal tersebut. Lagipula sesekali berkumpul bersama banyak orang, bisa memberikan energi tersendiri.


"Jadi pak acaranya?"


Karyawan Daniel bertanya ketika Daniel melintas diantara mereka. Sebab sebelum itu mereka telah menerima undangan.


"Jadi." jawab Daniel sambil tersenyum.


Ia kemudian berlalu menuju ke sebuah ruangan. Dilain pihak Adisty dan Ariana bersiap. Sebab mereka akan melakukan perawatan bersama Lea. Tampak Vita dan Nina pun bersiap di kediaman mereka, termasuklah Iqbal, Rama, dan Dani.


Ketiga teman laki-laki Lea itu ingin ikut segala kerempongan perempuan. Kebetulan salon dan spa yang dibayar oleh Lea, menerima pengunjung laki-laki dan perempuan.


Jadilah hari itu Lea pergi, dengan membawa Darriel tentunya. Memiliki anak bayi tak menjadikan langkah perempuan itu terhenti. Sebab dia difasilitasi supir, kendaraan, dan juga berbagai hal yang bisa mensupport dirinya ketika kemanapun.


"Hai Darriel."


Dani yang sudah sampai terlebih dahulu di salon spa bersama Iqbal dan juga Rama, kini muncul.


Sontak Lea dan para perempuan tertawa ngakak. Sebab Dani mengenakan handuk di kepala, seperti yang sering dilakukan perempuan apabila habis keramas.


"Panjang ya wak rambutnya." seloroh Vita.


"Uuu, bukan lagi say."


Dani berkata dengan bibir dan jari yang keriting. Hal tersebut mengundang tawa sekaligus toyoran dari tangan Iqbal.


"Baek, baek jadi lo." seloroh Rama.


"Ih Ramse gitu deh."


"Apaan?" tanya Lea.


"Ramse, Iqse."


"Hahaha."


Mereka semua tertawa-tawa. Selang beberapa saat perawatan pun dilakukan. Darriel ditempatkan di sebuah ayunan elektrik yang tadi sengaja dibawa oleh Lea. Ia juga berada di ruangan yang terpisah sekat kaca.


Ruangan tersebut memang khusus dibuat bagi siapapun yang datang membawa anak. Agar anak-anak tak tercium aroma dari produk perawatan, karena dikhawatirkan akan menggangu pernafasan.


***


Daniel mendapatkan lagi surat ancaman. Kali ini disampaikan langsung ke meja kerjanya oleh seorang office boy.


Ketika Daniel bertanya dari mana si office boy mendapatkan surat tersebut. Office boy mengatakan jika hal tersebut berasal dari bagian penerimaan paket dibawah, dekat ruangan sekuriti. Bagian paket pun menerimanya dari ojol dan tak tahu menahu siapa pengirimnya.


"Mundur atau penjara menunggu?"


Begitulah bunyi pesan tersebut. Daniel menyimpannya di laci dan memilih untuk tidak menggubris lebih lanjut. Tetapi ia sengaja tak membuang surat tersebut. Sebab itu bisa saja dijadikan barang bukti suatu saat nanti.

__ADS_1


***


Di hari yang sama.


"Terima kasih pak Ellio, saya mungkin akan memikirkan kerjasama ini dengan baik."


Seorang CEO perempuan yang sangat cantik berbicara pada Ellio, di kantornya.


"Baik bu Daisy, terima kasih." ujar Ellio.


Mereka lalu berjabat tangan. Setelah Daisy berpamitan, Ellio masih menatap tubuh sintal perempuan itu.


"Ehem."


Tiba-tiba terdengar suara dari suatu arah. Ellio kaget, sebab Marsha berdiri disitu sambil menyilangkan tangan di dada. Sontak para karyawan menertawakan Ellio, meski tanpa suara.


"Sha, kamu sejak kapan disini?" Ellio mendekat.


"Sejak kemarin." ujar Marsha dengan nada sewot. Ellio tertawa, ia tau Marsha cemburu pada Daisy.


"Kita cuma partner bisnis dan nggak lebih koq." ucap Ellio.


"Awas aja kalau sampe lebih, ini anak walau udah sembilan bulan, bakal aku tahan di perut. Nggak bakal aku lahirkan."


"Koq ngomongnya gitu sih?" tanya Ellio sambil membelai wajah dan rambut Marsha bagian samping.


"Abis matanya gitu banget. Mentang-mentang itu cewek lebih gede depan belakang."


Lagi-lagi Ellio tertawa.


"Ih, bapak mah nyebelin."


Marsha berbalik dan berlalu.


"Kamu ninggalin aku?" tanya Ellio masih dengan tawanya.


"Iya, laper." jawab Marsha ketus namun menggemaskan.


"Udah pak samperin, temenin."


Para karyawan Ellio mulai menghasut pria itu. Ello tersenyum pada mereka, lalu bergerak menyusul Marsha.


***


Kembali ke salon spa.


"Oeeeeek."


"Oeeeeek."


Darriel menangis.


Lea yang wajahnya masih di masker tersebut segera bergerak dari ruang perawatan. Ia mengurus Darriel dan mengganti popok. Tak lama ia pun memberikan ASI pada bayi itu.


Darriel yang semula menangis, kini menyedot botol susu. Namun kemudian ia tampaknya menyadari sesuatu. Ya, Darriel mulai fokus menatap wajah Lea yang berwarna hijau. Akibat masker greentea yang ia gunakan.

__ADS_1


Lea yang sambil memegang handphone tersebut agak merasa, jika Darriel telah berhenti menyedot botol susu. Maka ia pun memperhatikan dan jadilah kini ia dan Darriel tatap-tatapan.


"Kenapa kamu ngeliatin mana gitu?" tanya nya heran.


Darriel masih diam. Lea kemudian tertawa karena menyadari jika wajahnya saat ini bagaikan hantu.


"Mama adalah ratu lele, Darriel anak ikan lele."


Wajah Darriel berubah hendak menangis.


"Dih jelek banget, anak mama mukanya."


"Hek."


Darriel sudah siap melengking. Namun kemudian Lea buru-buru memasukkan botol susu ke mulut kecil bayi itu.


"Nggak sayang, bukan anak lele. Darriel anak ikan hiu ya."


Darriel tak jadi menangis dan kembali menyedot makan siangnya. Tak lama kemudian bayi itu kembali tertidur dan Lea kini kembali ke ruang perawatan.


***


"Tokonya lancar kan?"


Richard bertanya pada ibu Lea seraya melihat pengunjung yang datang silih berganti.


"Ya seperti yang kamu lihat. Sekarang kalau bikin, bisa dua sampai tiga kali lipat dan saat pertama buka." jawab ibu Lea dan sambil tersenyum.


Richard mengangguk-anggukan kepala. Kemudian ia mulai meminum minuman yang ia pesan.


"Aku mau ikut melayani pembeli dulu, karena sebentar lagi jam kasir istirahat. Kasirnya belum ada shift pengganti." ujar ibu Lea.


"Oke." jawab Richard.


"Kalau butuh apa-apa, bilang aja." ujar perempuan itu lagi.


"Oke." lagi-lagi Richard menjawab dengan kata yang sama.


Tak lama ibu Lea berlalu meninggalkan pria itu dan menggantikan kasir yang istirahat. Richard sendiri lanjut minum dan makan cake. Ia merasa senang berada ditempat tersebut dan rasanya tak apa agak sedikit berlama-lama.


"Hai om."


Seseorang muncul menyapa dirinya. Richard yang kaget itu pun menoleh.


"Cindy?" ujarnya kemudian.


Cindy tersenyum, Richard melihat ditangan gadis itu ada nampan yang berisi minuman serta roti. Cindy lalu hendak duduk di meja samping meja Richard.


"Disini juga boleh." Richard menawarkan.


"Nggak apa-apa nih?" tanya Cindy.


"Oh nggak masalah, silahkan!" ujar Richard.


Maka Cindy pun akhirnya duduk di hadapan ayah dari temannya itu.

__ADS_1


__ADS_2