Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Sebuah Cerita


__ADS_3

Daniel masih sibuk mengurusi urusan kantor, kadang ia terlihat mondar-mandir kesana kemari. Seperti hari ini, banyak sekali pekerjaan karyawannya yang dirasa kurang. Ia pun harus mengarahkan mereka satu persatu.


Daniel melangkah dari satu divisi ke divisi lainnya, sampai kemudian ia terdiam. Lantaran matanya menangkap sesosok yang sudah tak asing lagi. Ya, Clarissa. Gadis itu tampak duduk di salah satu meja kerja pada sebuah divisi.


"Yovie."


Daniel memanggil salah satu karyawan yang ada di dekatnya.


"Ya pak."


"Kenapa dia ada disitu?" tanya Daniel pada Yovie seraya melirik ke arah Clarissa. Clarissa sendiri tengah sibuk dengan laptopnya.


"Oh, itu orangnya pak Johanes, pak."


"Suruh Johanes menghadap saya." ujar Daniel.


"Baik, pak." jawab Yovie.


Tak lama Daniel pun kembali ke ruangannya. Beberapa saat kemudian, Johanes datang ke ruangan tersebut.


"Ira resign, sisa Stefan lagi yang kerja di bagian design grafis. Dia keteteran, makanya saya rekrut karyawan baru pak. Saya mau ngomong soal ini, tapi bapak sibuk terus. Sementara pekerjaan sudah menunggu."


"Ok, nggak apa-apa. Yang penting kalian kerja bener aja." ujar Daniel kemudian.


"Bapak nggak ada masalah kan sama itu karyawan?" tanya Johanes.


Daniel diam, ia tidak mungkin menceritakan perihal dirinya yang pernah dekat dengan Clarissa.


"Mm, nggak. Saya cuma kaget aja, koq bukan Ira yang di sana."


"Baik pak, berarti nggak ada masalah lagi kan?"


Daniel menggelengkan kepalanya.


"Silahkan kembali bekerja." ujarnya kemudian.


"Permisi pak."


Daniel mengangguk, Johanes segera pergi meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba Lea menelpon.


"Mas Dan."


"Iya, kenapa Lea?"


"Mas, uang cash di atas kulkas punya mas ya."


"Oh iya, tadi aku lupa." jawab Daniel.


"Boleh nggak aku ambil, ATM dibawah lagi gangguan semua. Aku nggak punya cash, mas."


"Ya udah nggak apa-apa, pake aja."


"Makasih ya mas."


"Iya sama-sama, kamu mau berangkat ke kampus?"

__ADS_1


"Iya, ini lagi siap-siap."


"Ya udah, hati-hati dijalan ya. Jaga anak aku yang di perut kamu."


"Mas, aku belum hamil loh."


"Ya nggak apa-apa dong, latihan ngingetin kamu. Biar aku terbiasa nantinya."


Lea tersenyum, hatinya berbunga-bunga.


"Iya mas, aku sama dedek pergi dulu ya." ujar Lea sambil mengusap perutnya sendiri.


"Iya, hati-hati ya kalian."


"Iya papa, dadah papa."


"Bye, love you."


"Love you too."


Lea menutup telpon, Daniel kini tertawa bahagia. Hingga kemudian ia tak sengaja menoleh dan mendapati Marsha sudah ada di dekatnya.


"Marsha, sejak kapan kamu ada di situ?" tanya Daniel penuh keterkejutan.


"Mm, baru aja pak." ujar Marsha.


"Ada perlu apa?" tanya Daniel lagi.


Marsha mendekat lalu menjelaskan beberapa hal yang ia tak mengerti tentang pekerjaannya. Daniel pun kemudian keluar dan beralih ke meja Marsha, untuk membantu gadis itu.


***


"Lea."


Seseorang mengejutkan Lea, perempuan itu mengerutkan keningnya.


"Arsenio?"


Lea mencoba mengingat nama pemuda itu.


"Lo masih inget nama gue?" tanya Arsenio sambil tersenyum.


"Iya, bener kan?"


Lea balik bertanya, kemudian ia dan Arsenio sama-sama melangkah. Arsenio mengajaknya mengobrol, Lea pun menanggapi dengan sangat baik.


Sementara di sudut lain.


"Kamu itu aku pungut dari agency yang menjual kamu sebagai pelacur, jadi jangan banyak tingkah."


"Tega banget kamu ngomong kayak gitu." teriak Vita.


"Emang itu kenyataannya koq, terus kenapa sekarang kamu protes kalau aku dekat dengan perempuan lain. Kamu aja aku ambil dari tempat nggak bener."


"Karena aku nggak berusaha dekat dengan laki-laki lain, aku setia sama kamu. Walaupun aku berasal dari tempat yang nggak bener."

__ADS_1


Sugar daddy Vita tersenyum sinis.


"Perempuan seperti kamu membicarakan soal kesetiaan. Kamu aja nggak perawan pertama aku tiduri."


"Ya tapi kan itu masa lalu aku, mas. Aku yang sekarang, ya sama kamu."


"Harusnya kamu bersyukur, kamu masih tinggal di tempat mewah, di belikan mobil, di kasih fasilitas yang tidak terbatas."


"Apa arti semua ini, kalau batin aku tersiksa. Apa artinya kalau aku harus melihat kamu sama perempuan lain, aku cinta sama kamu mas. Aku cintaaa."


Vita berteriak, namun sugar daddy nya seperti memiliki hati beku. Ia kini telah menunjukkan jati dirinya yang asli, sementara Vita masih bertahan karena mengingat semua hal manis di awal. Ia belum bisa menerima dan sadar jika semua telah berubah. Sugar daddy nya sama saja dengan lelaki brengsek lainnya, yang hanya baik saat ingin mendekati.


"Aku akan mempertahankan siapa yang duluan hamil."


Sugar daddy Vita berujar, dan berlalu meninggalkan tempat itu. Sementara Vita, terduduk lesu dan air matanya mulai mengalir.


***


Beberapa saat berlalu.


Sebuah mobil melaju kencang di jalan raya sisi timur kampus. Dimana di jalan tersebut jarang terdapat mahasiswa ataupun mahasiswi. Karena mereka biasanya lalu-lalang dan keluar-masuk di bagian jalan sisi barat.


Namun ada sebuah warung rokok di sisi timur tersebut, dan Arsenio sering mendatanginya. Arsenio melihat mobil yang melaju kencang tersebut dan juga melihat seseorang yang tengah menyeberang jalan ke arah kampus. Arsenio terkejut, pasalnya orang tersebut menyeberang dengan tatapan mata yang kosong.


"Vitaaa."


Arsenio berteriak, Vita terus melangkah seperti tuli. Sementara mobil semakin dekat.


"Tiiin."


Terdengar suara klakson yang di tekan cukup kencang, Arsenio berlarian dan langsung menangkap tubuh Vita. Vita terkejut, Arsenio membanting tubuh mereka ke pinggir jalan. Hingga mobil tersebut berlalu dan mereka selamat, meski harus merasakan sakit akibat beradu dengan pinggiran trotoar.


"Vit, lo gila ya?"


Arsenio membentak Vita, namun gadis itu kemudian menatap matanya. Membuat Arsenio seketika terdiam. Tak lama tangis Vita pun pecah dan Arsenio memeluk gadis itu.


"Lo kenapa, Vit?"


Arsenio bertanya pada gadis itu, ketika ia sudah sedikit tenang. Mereka kini duduk di warung rokok, Arsenio membelikan Vita air mineral dan menyuruh Vita untuk minum.


"Gue...."


Vita menghentikan ucapannya, suara gadis itu masih terdengar terisak di telinga.


"Kenapa Vit, cerita sama gue."


Pinta Arsenio dengan sangat. Vita melemparkan pandangan ke suatu sudut, lalu menggelengkan kepalanya. Ia kembali menangis, Arsenio merangkul gadis itu dan mencoba menenangkannya.


"Kalau punya masalah, sebaiknya lo cerita. Kalau nggak percaya sama gue, lo bisa cerita ke orang yang lo percayai. Jangan disimpan sendiri, dan jangan lakukan hal bodoh kayak tadi. Jangan sampai masalah, malah merenggut nyawa kita sia-sia. Semua pasti ada jalan keluarnya, asal jangan dipendam sendiri. Mungkin sekitar lo bisa bantu, jangan pesimis duluan."


Vita menatap Arsenio.


"Kalau gue cerita, apa lo nggak akan illfeel sama gue?" tanya nya kemudian.


"Gue mau illfeel kenapa Vit?. Seburuk apapun cerita lo itu, gue temen lo. Gue akan menerima lo seperti biasanya, gue janji. Lo cerita aja sama gue. Percaya sama gue, Vit."

__ADS_1


Vita menunduk, dan bibirnya mulai bercerita secara detail. Tentang apa yang ia alami kini, apa penyebabnya dan bagaimana kronologinya.


__ADS_2