Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kebahagiaan Kecil


__ADS_3

Alergi Daniel mulai mereda, bengkak di sekujur tubuhnya pun kini sudah menunjukkan perubahan yang signifikan. Pagi ini ia tak lagi merasakan panas dan nyeri di area yang terdampak.


"Pagi mas."


Lea masuk dan membawakan sarapan. Daniel sedikit terkejut, namun ia akhirnya tersenyum.


"Pagi, Lele." ujarnya pada sang istri.


Lea meletakkan sarapan di meja samping tempat tidur, lalu kini ia duduk di dekat suaminya itu.


"Look aku gimana?" tanya Daniel.


"Better sih pagi ini, udah nggak kayak Baymax lagi." jawab Lea.


Daniel tertawa.


"Kamu bikin sarapan apa buat aku?"


Itu ada nasi, sayur bening bayam, tempe bacem sama semur tahu mas."


"Jadi vegetarian ya aku?" Daniel kembali melontarkan pertanyaan seraya tertawa.


"Nggak ikan dan ayam dulu ya mas, apalagi seafood. Kecuali kamu mau jadi Daniel gelonggongan lagi."


Daniel tersenyum dan menggenggam tangan istrinya itu.


"Mau di suapin dong, boleh nggak?" tanya nya kemudian.


"Boleh mas, aku udah nggak ada kerjaan juga di bawah. Semua udah rapi dan beres. Mas makan ya?"


Daniel mengangguk, Lea lalu menyuapi suaminya itu.


***


Kemarin saat Richard membawa Citra ke sebuah butik, Citra akhirnya mendapatkan baju yang ia rasa pas. Kemudian memakainya di ruang ganti.


Wanita itu pun lalu keluar dan berjalan ke arah Richard. Richard yang awalnya tengah sibuk mondar-mandir tersebut, akhirnya terdiam cukup lama.


Pasalnya Citra terlihat sangat berbeda dari yang tadi. Ia begitu cantik jika di pakaikan baju dengan benar. Seketika ingatannya pun melayang, pada sekitaran 18 atau 19 tahun lalu. Dimana ia juga terpesona pada Citra malam itu, meski dalam kondisi sehabis menenggak minuman beralkohol.


Kini ia mengerti, mengapa di malam itu ia bahkan sampai tidur dengan Citra. Di usia segini saja Citra masih terlihat cantik. Hanya saja selama ini, ia tidak di urus oleh suaminya dengan baik.


"Gimana?" tanya Citra pada Richard.


"Mm, a..."


"Hhhh." Richard menarik nafas dan tersenyum.


"You look so beautiful." ujarnya kemudian.


Citra pun tersenyum. Pertama kali dalam hidup, ada seorang pria yang memuji dirinya.


"Udah selesai semua kan?" tanya Richard.


Citra mengangguk.


Richard lalu menyelesaikan pembayaran. Setelah dari sana mereka mampir ke sebuah salon, untuk lebih menyempurnakan penampilan wanita itu.


***


Kembali ke hari ini.


Lea telah selesai menyuapi Daniel. Meskipun terbilang tengah sakit, namun kali ini Daniel tetap saja makan banyak. Terbukti apa yang Lea sediakan, semuanya habis tak bersisa.


"Lele, makasih ya. Enak banget masakannya."


Lea tersenyum lalu memberikan segelas air putih pada Daniel.


"Sama-sama mas." jawabnya kemudian.


"Kamu kuliah hari ini?" tanya Daniel usai menghabiskan minumnya.


"Iya, tapi mau ke dokter kandungan dulu."


"Oh iya, aku lupa. Aku mandi dulu, ntar aku anterin."

__ADS_1


"Nggak usah mas, mas istirahat aja dulu."


"Terus kamu gimana?. Masa ke dokter sendirian."


"Aku udah minta tolong ayah buat anterin. Ayah mau katanya."


"Oh ya udah kalau gitu." Daniel lega mendengar hal tersebut.


"Tapi mas kalau mau mandi, ya mandi aja."


"Males ah, orang nggak pergi kemana-mana."


"Ye, bau tau mas."


"Aku nggak bau badan ya, Le. Nih sini kamu cium ketek aku...!"


"Dih ngapain, nggak mau." ujar Lea seraya tertawa.


"Emang aku nggak bau badan."


"Ya tetap aja, ngapain nyuruh aku nyium ketek kamu?"


"Kali aja kamu penasaran."


Lea makin terkekeh.


"Udah ah, aku mau ke bawah. Mau mandi sama siap-siap."


"Ok, hati-hati ya. Kabarin aku kalau ada apa-apa."


"Iya." Lea beranjak.


"Gosok gigi mas, kalau belum mau mandi."


"Iya bentar lagi." ujar Daniel.


Lea pun menghilang di balik pintu lift.


***


Pagi itu, Lea pergi ke dokter kandungan dan menjalani serangkaian pemeriksaan dengan ditemani oleh Richard. Awalnya mereka bersikap biasa saja, sampai kemudian mereka mengetahui sebuah perkara. Saat itulah mereka terlihat bahagia, tak lama Lea pun mengabari sang suami.


"Iya mas, laki-laki." ujar Lea tak kalah senangnya.


Maka selanjutnya percakapan pun dipenuhi rasa haru yang demikian besar. Kabar ini juha di beritahukan Lea kepada teman-temannya dan mereka turut berbahagia.


"Gimana kalau namanya, gabungan nama gue bertiga." ujar Iqbal.


"Iqbal Ramadani." lanjutnya lagi.


"Kalau sekarang sih masih ok, nama lo dipake anak muda." Adisty nyeletuk.


"Iya, kalau jamannya tuh anak gede nanti, kayaknya ketuaan deh." timpal Ariana.


"Ah nggak juga koq, anak tetangga gue ada yang sekarang masih bayi namanya Sukirman." celetuk Rama.


"Hahaha." Mereka semua tertawa geli.


"Anjir Sukirman." ujar Dani.


"Eh serius Dan, beneran Sukirman namanya."


"Emak bapaknya apa nggak punya pilihan lain ya?" tanya Iqbal.


"Iya siapa kek, Azka kek, Nathan gitu. Atau Kevin deh yang paling pasaran." ujar Ariana.


"Sukirman, anjir." ujar Adisty.


"Itu pas ada bayinya gimana ya?. Cukilman, Cukilman lucu banget." lanjutnya membuat tawa semua orang kembali pecah.


"Hahahaha."


"Hahahaha."


"Baby Sukirman." ujar Ariana.

__ADS_1


"Hahahaha."


"Hahahaha."


"Kalau lo sendiri rencana mau kasih nama apa Le, ke anak lo?" Dani bertanya serius pada Lea.


"Supriadi." celetuk Rama.


"Hahaha." Lagi dan lagi mereka semua tertawa.


"Tau ah, serah bapaknya aja ntar. Lagian masih lama berojolnya." jawab Lea.


"Haikal Sanusi aja, Le." ujar Dani.


"Itu bapak gua, anjay." Iqbal sewot diikuti pecah tawa yang mereka semua, untuk yang kesekian kali.


"Hahahaha."


"Hahahaha."


***


"Anak gue juga cowok, Le."


Nina berujar ketika akhirnya ia dan Lea bertemu dan makan bersama siang itu.


"Nggak jadi besanan kita." ujarnya lagi.


Lea tertawa.


"Kan bisa jadi temen." ujarnya kemudian.


"Iya sih." Nina lalu menyedot minumannya.


"Ada orang ngaku notaris dan menghubungi gue Le, semalem."


"Oh ya?" Lea menatap Nina.


"Iya, katanya pengacara bapak gue."


"Ma, maksud lo, bapaknya si Sharon?" tanya Lea dengan nada ragu-ragu.


"Iya." jawab Nina.


"Ngomong apa emangnya dia?" tanya Lea lagi.


"Ngomongin soal warisan."


"Warisan?"


"Iya, katanya bapak gue mewariskan sesuatu buat gue."


"Berupa?"


"Rumah, tanah, mobil, saham dan lain sebagainya."


"Hah?" Lea kaget mendengar hal tersebut.


"Lo aja kaget kan, apalagi gue Le. Gue bingung harus ngasih tanggapan apa atas semua itu."


"Kalian udah ketemu?" tanya Lea lagi.


"Belum sih, tapi dia nanyain waktu gue. Kapan gue bisa ketemu sama dia."


Lea menghela nafas.


"Menurut lo gimana Le?" Nina balik bertanya.


"Kalau menurut gue sih, lo temuin aja. Soalnya itu hak lo dan udah di wariskan atas nama lo."


"Tapi Le, dia nggak pernah ngurus gue selama ini. Hati gue sakit tau nggak."


"Sakit hati itu urusan lain, ini bukan gue ngajarin lo mata duitan ya. Tapi yang namanya hak, ya ambil. Siapa tau lo butuh suatu saat. Kita nggak bisa terlalu ngandelin suami Nin."


Kali ini Nina menatap Lea.

__ADS_1


"Tau sendiri kan, kasus yang belakangan merebak. Banyak dari sugar baby jebolan SB Agency yang diperlakukan tidak adil. Intinya laki-laki kaya itu nggak selamanya bisa di andalkan. Kita harus punya pegangan sebagai pertahanan. Kita nggak tau nasib, Nin."


Seketika Nina pun teringat, pada suami dan keluarga suaminya yang belakangan ini mulai bersikap aneh.


__ADS_2