
"Jangan cerita sama Lea, bro. Gue nggak mau dia jadi kepikiran."
Daniel berujar pada Richard, ketika mereka telah selesai memberikan keterangan di kantor polisi.
"Iya, ngapain juga gue cerita soal beginian. Yang penting lo jaga Lea dengan baik. Hati-hati kalau lagi di jalan sepi."
Daniel mengangguk. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pelataran kantor polisi.
***
"Kenapa lo menjudge gue yang melakukan itu semua?"
Frans ayah Hans bertanya pada Daniel, ketika Daniel dan Richard tiba di kantor pria itu.
"Karena cuma lo yang terakhir bermasalah dengan Daniel. Gara-gara soal Hans sama Lea." ujar Richard.
Frans menghela nafas dan menatap keduanya.
"Gue memang marah soal waktu itu, tapi sekarang gue udah udah biasa aja. Lagipula Hans juga udah move on koq, dia sedang dekat dengan perempuan lain saat ini. Ngapain gue mencelakakan orang sampe sejauh itu, sedang anak gue nggak kenapa-kenapa. Cuma sakit hati sebentar, abis itu dia udah lupa."
Daniel dan Richard menatap Frans. Sepertinya memang tak ada kebohongan dimata pria itu.
"Sorry Frans, gue cuma pengen tau siapa dalang dibalik semua ini. Karena kalau akar masalahnya nggak dicari, bisa-bisa ini akan terulang terus. Atau justru bisa ikut membahayakan orang-orang terdekat gue." ujar Daniel.
"Lo nggak ada masalah sama siapapun akhir-akhir ini?" tanya Frans.
Daniel menggeleng.
"Soal bisnis, salah paham atau dengan keluarga?" lanjut Frans lagi.
Daniel kembali menggeleng.
"Paling bapak gue, soal gue yang ngebelain Grace. Tapi dia nggak mungkin mau mencelakakan gue, semarah-marahnya dia sama gue. Gue anak laki-laki dia satu-satunya saat ini."
Frans kembali menghela nafas.
"Coba nanti lo ingat-ingat lagi. Kalau lo butuh menyelidiki lebih dalam, gue punya kenalan yang bergerak di bidang itu."
"Ok." ujar Daniel.
Kemudian ia dan Richard meminta maaf pada Frans, Frans pun tak masalah. Obrolan lalu berlanjut ke ranah yang lain. Mereka kembali membicarakan bisnis mereka yang sempat terputus, akibat masalah yang terjadi diantara Hans dan juga Lea.
__ADS_1
***
"Koq bisa sih mas, hampir mau kepleset di toilet. Terus hidung kamu ngehantam dinding?"
Lea bertanya, saat melihat biru lebam di wajah dan area sekitar hidung suaminya. Daniel berdusta jika ia hampir terpeleset di kamar mandi.
"Iya kan licin, aku mau berusaha berdiri malah menghantam ke depan."
"Berarti kocak dong jatuhnya." ujar Lea sambil tertawa.
"Kamu ngebayangin ya?" tanya Daniel.
Lea kian tertawa. Daniel pun ikut melebarkan bibirnya demi agar Lea tak jadi curiga.
"Tapi mas nggak bohong kan?"
Tiba-tiba raut wajah Lea berubah, dari yang cengar-cengir menjadi serius. Daniel kini mendadak dag, dig, dug. Benar kata-kata yang sering ia lihat di postingan sosial media orang. Bahwasannya perempuan, apalagi ketika sudah menjadi istri. Maka ia akan sangat sulit untuk dibohongi.
Hampir semua perempuan mendadak menjadi cenayang ketika menikah. Mereka mampu meramalkan masa lalu dan masa depan.
"Iya, masa aku bohong."
Daniel masih berusaha meyakinkan, namun Lea memberi tatapan yang seolah menembus ke hati serta otak suaminya itu. Ia tak yakin 100% dengan ucapan Daniel.
"Awas ya mas, kalau mas sok hebat. Berantem sama orang atau temen. Aku lagi hamil loh, ingat-ingat. Aku nggak mau jadi janda di usia muda, apalagi harus membesarkan anak sendirian. Walaupun warisan kamu udah pasti banyak, tapi kasian anak kita kalau nggak punya bapak.
"Iya Lele, orang emang beneran kepleset koq. Tanya aja sama Richard, ku ke toiletnya bareng dia."
"Emang toilet kalian nggak ada OB nya?. Nggak dibersihin gitu?"
Daniel terdiam dan berpikir cepat.
"Di toilet SPBU. Tadi kan aku service mobil, pulang aku dianterin Richard. Kami sempat stop di SPBU." Ia mendapatkan alibi yang brilian.
"Oh, emang sih toilet SPBU tuh parah banget. Udah gitu bayar lagi." ujar Lea.
"Emang."
Daniel senang karena akhirnya Lea berhasil di kelabui pikirannya.
"Ya udah deh aku ambil air dingin dulu, biar aku kompres."
__ADS_1
Lea beranjak.
"Makasih ya Le." ujar Daniel."
"Sama-sama." jawab Lea.
Tak lama Lea kembali dengan satu baskom stainles air dingin berikut es batu. Ia pun mulai mengompres bagian wajah dan hidung Daniel yang biru lebam.
Usai dirasa cukup, ia memberikan tablet pain killer pada suaminya itu. Daniel lalu meminumnya dan segera beristirahat.
***
"Kenapa bisa ketahuan sih?. Kan mama udah bilang, main bersih. Jangan sampai baik Nina maupun Imelda tau, soal apa yang sedang kamu jalani saat ini."
Suami Nina dan Imelda akhirnya bercerita di hadapan ibu dan juga saudara perempuannya. Ibunya marah dan menganggap ia telah lalai dalam menjaga rahasia.
"Terus aja salahin aku, ma. Aku udah nurutin semua maunya mama."
"Loh koq kamu nyalahin mama secara sepihak gitu?. Bukannya di awal kamu juga yang mengeluh dan bilang ke mama pengen punya anak. Sementara Imelda belum tau kapan bisa hamil." Ibunya membela diri.
Suami Nina dan Imelda tersebut diam. Memang pada awalnya dia sendirilah yang bercerita pada sang ibu, jika ia menginginkan seorang anak. Lalu kemudian ibunya menyarankan ia untuk menikah siri, dengan perempuan manapun yang bisa memberikan keturunan.
Tetapi ibunya juga tak ingin kehilangan Imelda, yang merupakan sumber pundi-pundi keluarga mereka.
"Terus sekarang Imelda gimana?" tanya sang ibu.
"Dia minta cerai."
"Hah?. Ya jangan dong, nanti kamu kerja di perusahaan siapa?. Udah bagus bapaknya kasih kamu jabatan tinggi di perusahaan mereka."
"Ya abis gimana, udah ketahuan begini. Nina nya udah ketemuan sama Imelda."
"Hhhh, dasar perempuan kampung. Udah diangkat derajatnya, masih aja nggak tau terima kasih."
Ibu dan saudara perempuan dari laki-laki itu kini terlihat gusar. Mereka semua terdiam dan tak bisa berpikir jernih. Seakan ada kabut yang menyelimuti otak mereka semua.
Sementara di sisi lain hidup Nina mulai tenang. Tak ada yang menggangu di apartemen barunya. Ia mengatakan pada pihak keamanan untuk memberitahu terlebih dahulu jika ada yang mencarinya.
Dan sampai saat ini tidak banyak yang tau jika ia tinggal ditempat tersebut, kecuali Vita dan Lea. Ia juga sudah memberitahu ibu dan ayah tirinya mengenai apa yang ia alami. Sang ibu dan ayah tirinya mengatakan jika Nina berhak mengambil keputusan apapun itu. Selama itu membuat Nina merasa bahagia.
Hanya saja orang tua Nina meminta ia untuk berhati-hati kapanpun dan di manapun. Karena mereka semua tidak tau, apa yang bisa dilakukan oleh suami Nina kedepannya.
__ADS_1
Pria itu bisa saja berbuat jahat, karena ia juga memiliki uang dan bisa membayar siapapun untuk melakukannya.