Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Akhir Dari Sebuah Keegoisan


__ADS_3

Langit terus memuram, Nina sadar dari pengaruh obat bius total yang diberikan padanya. Lea tak kuat menghadapi semua itu, maka ia hanya berdiri di dekat pintu ruang rawat. Sementara Vita dan Thalia menatap Nina.


Nina mempertanyakan perihal bayinya, namun tak ada yang menjawab. Vita dan Thalia tak kuasa untuk mengatakan hal tersebut. Akhirnya mereka membiarkan dokter yang memberitahu. Tangis Nina pecah, disaat bekas luka operasi masih terasa begitu sakit di bagian perutnya.


Ia histeris, Daniel masuk dan memeluk Nina dengan erat. Sementara Lea berada di pelukan ayahnya. Ellio serta Marsha mencoba menenangkan Vita dan juga Thalia yang ikut tersedu-sedu.


Semua orang hancur bersedih di ruangan itu, termasuk dokter dan perawat yang menangani Nina. Keegoisan seorang laki-laki bodoh telah menghancurkan segalanya. Dalam Isak tangis yang seolah tak akan pernah reda tersebut, Nina sempat berkata jika orang yang memaksanya masuk ke mobil tadi adalah orang suruhan suaminya.


Sebab salah satu dari mereka sempat berkata jika mereka harus membawa Nina, agar dibayar oleh suami Nina. Kini perempuan muda itu kian histeris dan Daniel terus memberikan pelukan padanya. Selang beberapa saat berlalu, dokter memberi Nina obat dan akhirnya Nina pun tertidur.


"Richard."


Daniel menatap Richard dan menyampaikan maksud lewat tatapan matanya. Richard mengangguk dan segera bersiap.


"Lo berdua mau kemana?"


Ellio tampak menghalangi, karena ia tau mau pergi kemana kedua sahabatnya itu.


"Please, jangan membahayakan nyawa lo berdua." ujar Ellio lagi.


"Lo tunggu disini, jaga Lea dan yang lainnya."


"Tapi, Dan."


"Tunggu disini...!"


Richard menimpali perkataan Daniel, dengan suara yang tegas dan dalam. Ellio menarik nafas lalu mengiyakan saja, karena ia sendiri tak bisa berbuat apa-apa.


Daniel dan Richard kemudian berjalan cepat penuh kemarahan, menuju ke area pelataran parkir.


***


"Goblok...!"


Sebuah suara berteriak menggema di bekas warehouse yang terbengkalai.


"Kenapa bisa sampai gagal?"


"Saya kan sudah bilang, kalau mau dibayar ya bawa dia ke hadapan saya. Dia itu istri saya, dan yang dia kandung itu anak saya. Saya mau dia kembali pada saya."


"Dor, dor, dor."


"Dor, dor, dor."

__ADS_1


Terdengar suara pintu di gedor dengan keras. Salah seorang mendekat dan membuka pintu tersebut. Dan ketika pintu itu dibuka,


"Buuuk."


Daniel muncul bersama Richard dan menonjok wajah si pembuka pintu itu. Sekelompok orang yang diteriaki dengan kata goblok tadi menghambur. Daniel sadar mereka adalah orang-orang yang pernah mencegatnya di jalan, saat ia hendak menservice mobil waktu itu.


Darah kian naik ke ubun-ubun pria itu. Dari pintu ia bisa menyaksikan suami Nina yang berdiri ketakutan menatapnya. Dalam sekejap perkelahian pun tak dapat dihindarkan. Daniel dan Richard menghajar orang-orang itu.


Suami Nina hendak kabur, namun dengan sigap Daniel mengejar, menangkap, kemudian menghajarnya.


"Brengsek."


"Buuuk."


"Buuuk."


"Buuuk."


Daniel menghajar pria itu tanpa ampun. Sedang suami Nina, karena terdesak. Ia berusaha untuk melawan.


"Buuuk."


Daniel juga terkena pukulan. Tapi Daniel tak gentar begitu saja. Apalagi suami Nina bukanlah lawan yang sepadan baginya.


"Lo apain istri lo sendiri, bangsat?"


"Buuuk."


"Buuuk."


"Itu bukan urusan lo, dia istri gue."


"Anak lo matiiii."


Daniel berteriak, seketika waktu pun membeku. Suami Nina baru mengetahui akan hal tersebut. Tadi orang-orangnya tanya memberitahu jika Nina tak berhasil di rebut, karena keburu ada warga yang ikut campur.


"Lo bunuh anak lo sendiri bangsat."


Suara Daniel menggema, memberi kesakitan tersendiri bagi suami Nina yang mendengar. Untuk selanjutnya pria itu tak lagi bergeming, tak ada lagi perlawanan yang ia berikan. Ia hancur sekaligus syok berat. Sementara Daniel terus membabi buta memukulnya.


Tak lama terdengar suara sirine mobil polisi. Karena ditengah perjalanan menuju ketempat ini tadi, Richard menghubungi salah satu temannya yang bekerja di instansi tersebut. Mereka segera bergerak dan sekarang mereka telah tiba.


Polisi menyergap, suami Nina dan komplotannya segera diamankan. Sementara Richard dan Daniel coba di tenangkan oleh mereka.

__ADS_1


***


Beberapa menit sebelum kejadian tersebut berlangsung. Saat Daniel dan Richard masih berada dalam perjalanan. Ellio tampak gusar memikirkan dua sahabatnya itu, ia takut terjadi apa-apa pada mereka. Sedang ia tau tujuan mereka tidaklah baik, mereka tengah menempatkan diri dalam bahaya.


"Le, kamu nggak khawatir sama Daniel?"


Ellio yang tak tahan akhirnya mendekat ke arah Lea, yang tengah terpaku di kursi ruang tunggu.


"Telpon gih, Le. Barangkali kalau sama kamu, dia mau nurut. Soalnya dia sama Richard lagi pergi buat menemui suami Nina. Mereka pasti berantem di sana, pasti pukul-pukulan."


"Biarin aja om, kali ini aku mendukung mereka."


Lea berujar dengan suara dingin dan penuh dendam.


"Biar laki-laki sialan brengsek itu dikasih pelajaran. Mati bila perlu sekalian, nggak ada gunanya juga dia hidup." lanjutnya lagi.


Ellio diam, Lea sepertinya benar-benar tak bisa lagi memaafkan kelakuan suami Nina.


"Ya sudah kalau begitu, kita berdoa aja semoga Daniel sama Richard bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik."


Lea menghela nafas lalu mengangguk. Ia memejamkan matanya sejenak dan berharap ini mimpi. Ia tak kuasa membayangkan Nina bersedih.


Berbulan-bulan ia lalui bersama Nina. Mereka sering berbicara mengenai bagaimana nanti cara mereka mengasuh anak. Bahkan sudah jauh memikirkan masa depan mereka kelak.


Selang beberapa saat kemudian, Adisty dan Ariana datang. Ariana mengesampingkan dulu urusan rasa tak enak hatinya pada Lea. Mengenai ia yang berjalan bersama Hans tempo hari.


Ia datang kesini karena mendengar kabar tak mengenakan dari Nina. Mereka semua cukup akrab belakangan ini.


"Le, Nina gimana?" tanya Adisty pada Lea.


Lea hanya diam dan menatap sahabatnya itu. Tak lama keduanya berpelukan.


"Semoga Nina diberi kesabaran. Dan semoga suaminya yang nggak tau diri itu masuk penjara." ujar Adisty.


Benar saja, tak berselang beberapa saat setelah kedatangan Adisty dan Ariana. Daniel serta Richard tiba di tempat dimana suami Nina berada.


Tak sulit bagi Daniel menemukan persembunyian orang seperti dia. Sebab banyak informan yang dimiliki oleh ia dan juga Richard.


Kini suami Nina telah dibawa ke kantor polisi. Daniel serta Richard turut dibawa untuk menjadi saksi. Saat ditanyai penyidik, suami Nina hanya bengong. Seperti orang yang mentalnya sedikit terganggu.


Bagaimana tidak, ia telah mencelakai istri sekaligus menghilangkan nyawa anaknya sendiri.


Melihat suami Nina yang lebih banyak diam, Daniel dengan berapi-api melontarkan segala tuduhan dan juga kemarahan pada laki-laki itu.

__ADS_1


Ia juga turut memberatkan suami Nina, dengan kasus pencegatan serta percobaan pengeroyokan yang dialaminya tempo lalu. Richard turut mengupayakan segalanya, ia juga menyewa pengacara untuk mendampingi Nina, meski Nina belum meminta tolong apa-apa pada dirinya dan juga Daniel.


Teman Richard yang bekerja di kepolisian memastikan, jika suami Nina akan di jerat dengan pasal berlapis. Sebab yang ia lakukan terhadap Nina maupun Daniel, sudah direncakan terlebih dahulu.


__ADS_2