
Kibo memegang rambut keritingnya itu, "Maksudmu apa Yizi?" ia sama sekali kurang paham dengan apa yang di bicarakan temannya itu.
Kibo penasaran akan mengapa saat ini Yizi berkata aneh tentang kelompok yang tak lama mereka bangun itu.
Mereka berdua tengah duduk tepat di hamparan rumput hijau yang luas, di tengah teriknya panas matahari namun itu sama sekali tidak menggangu mereka yang tengah mengobrol satu sama lainnya.
Yizi kemudian membaringkan tubuhnya di rerumputan hijau itu, terasa enak, hilir angin yang besar menerpa mereka itu seakan mengaburkan panas yang dipancarkan oleh matahari terik yang berada di atas mereka.
Kibo melihat Yizi di sebelah kanannya yang tengah menutup matanya, ia sepertinya ingin merilekskan tubuhnya itu, tak ada ucapan sepatah kata pun darinya, "Yizi, apa kau tidak setuju dengan hal ini?"
Mendengar perkataan Kibo itu membuat Yizi sedikit kurang enak, mereka adalah orang yang beranjak dewasa yang seumuran dan lagi sudah lama mereka berteman hingga akhirnya sampai pada titik ini.
Akhirnya Yizi memutuskan untuk mulai berbicara, "Entahlah Kibo, aku pikir memang kita telah berusaha untuk mengumpulkan seluruh petarung atau orang-orang besar atau kuat itu, tapi selanjutnya apa? Tidakkah kamu berpikir kemungkinan buruk apa yang akan terjadi pada kita?"
__ADS_1
Setelah Kibo mendengar hal yang diucapkan oleh Yizi, ia sendiri memang telah memikirkan hal ini dari awal, yaitu kemungkinan terburuk mereka, atau bisa dibilang risiko yang kemungkinan dapat terjadi ketika mereka mendirikan kelompok ini.
Tujuan kelompok ini adalah untuk mengumpulkan para petarung yang hebat, dan tentu saja yang terkuat di antara yang terkuat. Tetapi sebenarnya keuntungan apa yang akan di dapat oleh kedua belah pihak? Dari pihak petarung dan dari pihak kelompok itu sendiri.
Kibo adalah otak di balik semua ini, ia bertujuan ingin mewujudkan impiannya itu dan itu juga berarti bahwa memang ia harus berusaha demi mewujudkannya.
Penampilan Kibo sendiri seperti pemuda biasa, bahkan bisa dibilang wajahnya unik dan terkesan sulit untuk serius, hal itu mengundang berbagai pertanyaan ketika ia sedang berusaha merekrut para petarung itu.
Hal itulah yang membuat Kibo mengajak Yizi, yaitu teman yang dikenalnya sejak kecil, bahkan dari sejak kecilnya penampilan Yizi benar-benar biasa- entah bagaimana menjelaskannya.
Bukannya Yizi 'tua' sebelum waktunya, namun memang raut wajahnya itu terkesan dewasa, dan jauh sekali dari kata 'biasa' atau bisa di bilang penampilannya itu 'sangat dewasa'.
Sejak kecilnya Yizi selalu di acuhkan oleh teman-temannya, namun ia sendiri tidak mengambil pusing karena hal itu.
__ADS_1
Sejak itulah Kibo mulai mengajak bicara dengan Yizi, dulunya Yizi sangat tertutup sekali maka dari itu Kibo sangat sulit sekali untuk berteman dengannya.
Pertemanan mereka ketika kecil tidak berlangsung dengan cepat, dan Kibo sendiri tidak memaksa Yizi untuk menjadi temannya sendiri.
Tetapi yang pasti Kibo akan selalu mempedulikan dan memperhatikan Yizi bahkan ketika orang lain tidak melakukannya.
Masa lalu Yizi sangatlah tragis, dari sejak kecilnya karena penampilannya itu ia diasingkan oleh keluarganya sendiri, ia tidak diakui bahkan oleh orang yang telah membawanya ke dalam dunia ini.
Yizi kecil hidup di jalan tanpa tahu arah atau bahkan tujuan hidupnya, namun Kibo juga menyadari hal itu, maka dari itu ia meminta kedua orang tuanya untuk mengurus Yizi, menjadikan orang tuanya untuk menjadi orang tua Yizi juga.
Orang tua Kibo tahu, dan tidak serta merta mengizinkan Yizi untuk tinggal bersama mereka, namun Kibo tidak berhenti di situ- ia seakan mengetahui langkah apa yang harus di lakukannya saat ini, nah sebenarnya apa yang dia lakukan?
Kibo kecil mengancam ia akan keluar dari rumah, ia tidak akan tinggal lagi bersama orang tuanya jika memang Yizi tidak diizinkan tinggal bersamanya.
__ADS_1