
DRRRTTTT!
DUAR!!
“Kekuatan macam apa itu?!” Vincent tidak bisa menyembunyikan kekagetannya, rambut sebahunya terbang ke sana ke mari tidak karuan sembari melihat ledakan energi yang hebat ini.
Hempasan angin begitu kencang, sampai hampir membuatnya dan temannya terbang ke belakang.
Ketika lemas dan ada dorongan besar? Maka sudah pasti posisinya tidak akan ada di tempat yang sama lagi, begitulah kasus yang terjadi pada Vincent dan juga Brock.
Dan sudah cukup pembahasan tentang posisi yang berubah ini, hempasan angin yang kencang itu juga terasa keras, seperti ada tekanan kuat di antara angin yang tidak kelihatan ini.
Tekanan kuat yang setara dengan tekanan hidup, atau bahkan lebih berat lagi.
Pria berambut panjang itu tidak mengira gadis kecil yang ada di regunya itu punya kekuatan sehebat ini, apa dia menyembunyikannya sampai sekarang?!
Pria berambut sebahu itu masih ingin pamer akan kekuatannya yang sekarang dan membuat orang lain, terutama gadis-gadis terkesima, namun apa daya apa yang ia inginkan masih belum terwujud.
Sedang Brock terdiam, melihat kekuatan serangan dan hempasan yang luar biasa ini mengingatkannya akan kekuatan Danny yang seringkali meledak-ledak, dan tidak berhenti di situ, ia rasa kekuatan yang terpancar dari Patricia ini memang terasa berbeda.
Rasanya ada kekuatan lain yang ada dalam dirinya yang menyebabkan ia bisa mengeluarkan kekuatan semacam ini. Brock tidak hanya asal menilai saja di sini, karena ia cukup tahu karakteristik kekuatan yang dikeluarkan Danny.
“Brock, kita salah mengambil keputusan....” Vincent mengutarakan apa yang dirasakannya, karena memang itulah yang ia rasakan.
“....” Brock terdiam, mengerti apa yang dimaksud rekannya.
Ia dan Vincent sudah cukup dekat dengan Patricia, namun pada akhirnya keputusan yang dibuat ini memang tidaklah terlalu bagus.
“Apa boleh buat.” Brock terdengar memakluminya. Ia bisa merasakan seluruh tubuhnya tertekan dari berbagai arah, seperti sedang diremas jadi satu.
Perasaan inilah yang dimaksud oleh pria berambut sebahu itu. Aura kekuatan serangan rekan perempuannya itu benar-benar kuat.
Andai saja mereka tidak terlalu dekat ke lokasi pertarungan Patricia ini, maka sudah pasti efek aura serangan ini tidak akan terlalu mengganggu mereka.
__ADS_1
Makin lama efeknya makin terasa. Bilamana kondisi mereka fit dan setidaknya tidak banyak kehabisan energi, maka efek seperti ini bukanlah masalah yang besar.
Keputusan mereka berdua untuk mendekat tanpa rencana yang pasti ini membuat keadaan malah jadi tidak bagus. Padahal mereka berharap bisa membantu meskipun hanya sedikit, yang pada akhirnya tidak bisa mereka lakukan.
Jika mereka tetap memaksa untuk maju lebih dekat lagi, maka itu sama saja sudah tidak sayang nyawa lagi.
Dengan begini, mereka berdua tidak bisa mundur, apalagi maju, yang akhirnya membuat Vincent dan Brock tidak punya pilihan lain selain menerima apa adanya.
*
SHHHHH!!
ZZZRRRRTTTT!
Terlihat dengan jelas Shea menerima serangan lawannya itu hanya dengan mengandalkan sihir perlindungan alam miliknya, yang kini saling beradu dengan hebat.
Kekuatan perlindungan alam itu benar-benar kokoh menutupi seluruh area tubuh Shea, seolah tidak ada hal apapun yang bisa mengganggunya dari luar, termasuk serangannya saat ini.
‘Serangan kedua pemuda tadi bisa mengenaiku, mereka pasti punya cara khusus,’ batin Shea, ia sebelumnya memang tidak menyangka akan hal ini.
Apakah itu berarti kekuatan manusia sudah berkembang pesat? Ataukah karena hal lain?
Shea tidak mau pusing memikirkan apa yang telah terjadi, namun harus diakui juga kejadian tadi membuatnya jadi sadar bahwa umat manusia ternyata tidak seperti dulu lagi.
Terlepas dari apa yang bisa terjadi, bahkan terluka pada bagian tubuh pun bukan masalah baginya,karena dengan kekuatan alam yang ada padanya, tidak sulit untuk memulihkan kondisinya dengan cepat. Lain halnya jika yang terluka adalah bagian tubuh vital.
Yang membuatnya jadi mengganggap pertarungan ini tidaklah seru jika diakhiri terlalu cepat.
‘Apa batu ini ada gunanya?’ tanya Shea dalam batinnya , mengingat ia punya kekuatan alam yang bisa melakukan banyak hal, merebut benda berisi kekuatan ras lain rasanya tidak diperlukan.
Namun apa daya? Meski merebut batu permata mulia ini bukanlah misi utamanya, namun tetap saja ia harus menuruti pada siapa yang memberinya misi ini.
Olivia? Tentu saja bukan, melainkan Archifer sendiri.
__ADS_1
Ya benar, Raja Iblis sendirilah yang memberi perintah langsung ini padanya.
Mengesampingkan misi utamanya memang merepotkan, tapi apa yang bisa dilakukannya ketika yang memberi perintah adalah pimpinan sendiri?
‘Yah, ada baiknya pemanasan terlebih dulu, orang tua pemegang batu ini tidaklah terlalu buruk.’
Sang setengah elf itu mengakui kekuatan demi human pemegang batu permata mulia hijau itu, memang cukup merepotkan melawan musuh yang bisa beregenerasi, rasanya seperti melawan kemampuan sendiri, tidak bisa diakhiri dengan cepat seperti biasanya.
Namun pada akhirnya sang setengah elf itu bisa mengatasi lawannya dan menyelesaikan misinya.
‘Raja iblis tidak perlu benda seperti ini.’ Shea heran mengapa pimpinannya itu menginginkan agar ia merebut kekuatan ras lain, padahal jika perlu, dia bisa langsung menyuruhnya mengakhiri targetnya, maka dengan begitu ia langsung saja mencari pemuda bernama Danny ini.
Yang pada kenyataannya para iblis sulit melacaknya, dan malah menyuruhnya menggagalkan misi pemuda ini.
Meski punya pendapat yang berbeda, Shea bukanlah setengah elf yang arogan dan terlalu percaya diri. Ia memang kuat, namun tidak sebodoh itu untuk menentang rencana iblis.
‘Pemuda itu belum tahu batunya berada padaku, dan sekarang dia melarikan diri.’ Shea merasa geli dalam hatinya, padahal sebagai seorang pria sejati dia seharusnya tidak melarikan diri dari pertarungan.
‘Payah,’ batin Shea. Kesempatan untuk menangkap dan mengeliminasi tergetnya hilang begitu saja.
Namun di sini Shea bisa melihat mengapa Archifer ingin agar ia merebut kekuatan batu permata mulia regenerasi ini.
‘Tentu saja dengan begini, aku tidak perlu mencarinya lagi. Dia sendiri yang akan datang padaku.’ Shea sadar akan hal ini. Raja iblis ternyata sudah memprediksi hal ini dan menyusun rencana yang sesuai.
‘Kalau begitu, apa jadinya jika dia tahu rekannya sudah mati?’ Ide menarik tiba-tiba muncul, apakah dengan begitu akan membuat pemuda itu lebih cepat muncul lagi?
‘Hm....’ Shea tidak merasa salah dengan rencananya ini, misinya ini melenyapkan pemuda bernama Danny, tidak lebih tidak kurang. Jadi apapun yang tidak berhubungan dengan misinya ini... bukankah ia bebas melakukan apapun?
Tidak ada salahnya ber-improvisasi di tengah apa yang sedang dilakukan bukan?
‘....’ Sudah cukup main-mainnya. Sang setengah elf ini sudah cukup puas melihat tekad orang dalam kesesakan, yang artinya ini adalah saat yang tepat untuk mengakhirinya.
DDDRTTTT....!
__ADS_1
‘!’
‘Kenapa tubuhku.... berat?!’ Shea merasa tubuhnya jauh lebih berat sekarang, padahal tadi baik-baik saja. Ini aneh sekali.