Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 324: Pertemuan Tidak Sengaja


__ADS_3

Pak Pedagang itu tersenyum, sambil mengajak dengan paksa namun lembut dengan mendorong-dorong Danny dan kawan-kawannya itu.


"Tentu saja, ayo ayo naik saja."


Vincent dengan antusias naik ke kereta yang berisi barang-barang dagangan milik bapak ini, tidak ia kira akan mendapat bantuan kedua kalinya dari orang yang sama seperti ini, tentu saja ini membuat hatinya senang.


"Ayo teman-teman! Jangan sampai kalian tertinggal!" Vincent bersikeras agar teman-temannya itu bergerak lebih cepat, karena memang ia ingin menuruti apa yang di katakan oleh bapak pedagang itu.


Karena memang bapak pedagang yang ingin membantunya juga kali ini, maka Danny, Brock, dan Patricia mengikuti Vincent untuk menaiki kereta barang itu, namun mereka masih heran dan belum mengerti akan apa yang sebenarnya dimaksud oleh pak pedagang itu.


Setelah menutupi kembali wajahnya, pak pedagang itu memacu kuda yang menarik kereta barang beserta dengan orang-orang yang hendak dibantunya itu.


Mereka meninggalkan kota bersama-sama dan pergi dengan cukup cepat menyusuri jalanan tanah setelah mereka meninggalkan gerbang keluar kota itu.


Danny masih diliputi rasa penasaran tentang siapa sebenarnya bapak pedagang yang saat ini memberinya bantuan itu, apakah ini benar hanya sekedar bantuan biasa saja?


"Vincent apakah memang kita harus percaya pada Tuan Pedagang ini?" Danny bertanya pada Vincent, pasalanya Danny merasa ada yang disembunyikan dari tuan pedagang itu, entah apa namun ia bisa merasakannya.


Brock juga merasakan hal yang sama dengan Danny, ia merasa ada yang pak pedagang ini tutupi, dan tanpa alasan yang jelas bapak ini menyembunyikan alasan yang sebenarnya dengan cara ingin membantu mereka untuk keluar dari kota saat ini.


"Aku juga merasa begitu, Vincent, bukanlah bapak pedagang itu hanyalah pedagang biasa bukan? Lantas mengapa dia membantu kita bahkan sampai-sampai tidak pergi untuk berdagang kembali hanya karena menunggu kita beristirahat?" Brock mengungkapkan hal yang sama, ia menjadi penasaran sama dengan Danny, rasanya memang ada alasan yang jelas dibalik pak pedagang yang ingin membantu mereka itu.


"Hah? Apa yang kalian bicarakan? Bukankah ini adalah keberuntungan tidak terduga yang menghampiri kita? Lantas mengapa kalian berpikir seperti itu terhadap bapak pedagang ini?" Vincent tidak tahu apa yang dimaksud oleh Danny dan Brock, sudah jelas-jelas ia tahu bahwa bapak pedagang itu berbaik hati ingin menolong mereka untuk kedua kalinya, lantas mengapa harus memikirkan hal lain selain itu?


Danny mengerti akan alasan yang ucapkan oleh Vincent, memang ia tahu bapak pedagang yang baru ditemuinya itu terlihat ramah dan ingin membantu dengan tulus, namun rasanya jika ada yang disembunyikan dari bapak pedagang itu maka sudah pasti perasaannya tidak enak juga saat ini.


"Begitukah? Sebuah keberuntungan yang kembali lagi pada kita, kau benar Vincent, kita sangat beruntung! Hahaha!" Brock dapat langsung memahami apa yang dikatakan temannya itu, sepertinya kecurigaannya sudah menurun hingga hilang sepenuhnya, cara berpikir Vincent langsung mengena pada pada Brock saat ini; jadinya Bcock juga berpikir bapak pedagang ini memang tulus membantu mereka dalam perjalanan ini.


"Benar 'kan?! Untuk apa kita mencurigai bapak pedagang sebaik dia?! Semoga keberuntungan tetap ada bersama kita Brock! Hahaha!" Vincent merasa sudah se-frekuensi dengan temannya itu, jadinya ia menjadi lebih heboh dibanding dengan sebelumnya.


"Hahaha! Kau benar Vincent!" Brock juga ikut senang dan heboh saat ini.


Danny tidak mengira Brock akan berubah pandangan begitu cepat ketika mendengar penjelasan Vincent, namun ia pikir tidak ada salahnya juga untuk memercayai apa yang mereka percayai, bagaimana jika memang benar keberuntungan sedang ada dipihak mereka saat ini? Bukankah hal itu patut untuk disyukuri?


Sedangkan di balik kereta barang itu, pak pedagang yang sedang duduk mengontrol kudanya itu memasang tatapan yang cukup tajam dibalik wajahnya yang tersembunyi itu.


Sementara ia terlihat memikirkan suatu hal, yaitu orang-orang yang sedang dibawa menggunakan kereta barangnya itu.

__ADS_1


Pemuda bernama Danny, aku merasakan kekuatan permata mulia begitu kuat dari dirinya ... apakah dia yang ditakdirkan untuk memiliki seluruh batu permata mulia ini?


Dan aku merasa ada dua kekuatan batu di dalam dirinya, kekuatan batu permata mulia fisik, dan kekuatan batu permata mulia daya tahan, tidak salah lagi, dia adalah orang pertama yang memegang kekuatan batu yang dimiliki ras demi human.


Yang itu berarti memang ada suatu hal yang menyebabkan ini bisa terjadi, takdir menyebutkan bahwa akan ada seseorang yang memegang kekuatan batu permata mulia ini, seluruh ke lima kekuatan batu akan dikuasainya untuk melawan hal yang jahat, ancaman yang besar ... sudah pasti adalah iblis yang mulai menujukkan keberadaannya di dunia ini.


Namun mengapa dia tidak merasakan hawaku sebagai salah satu pemegang batu permata mulia? Seharusnya dengan instingnya ia bisa langsung mengenaliku sebagai orang yang sedang ia cari saat ini.


Apa lagi tujuan mereka selain mencari ke lima batu permata mulia ini? Saat ini pemuda itu baru memiliki kedua di antaranya, dan hanya tinggal menghitung waktu dia pasti akan menyadari bahwa akulah orang yang sedang dia cari.


Aku sendiri tidak yakin apakah ada orang yang bisa menguasai sepenuhnya potensi satu kekuatan batu permata mulia ini, namun bagaimana dengan ke-limanya sekaligus? Apa yang menjadi acuan anak muda ini bisa mengendalikan kekuatan yang begitu besar ini? Apakah dia benar-benar hanya manusia biasa?


Pak Pedagang yang identitasnya masih belum diketahui itu memikirkan tentang seorang pengguna kekuatan batu permata mulia yang bernama Danny yang kini sudah memiliki dua kekuatan batu permata tersebut.


Apa yang sebenarnya dimaksud dalam tujuannya itu adalah menemukan seorang yang akan mengendalikan seluruh kekuatan batu permata mulia sesuai takdir yang ia ketahui dari para leluhur ras demi human; ini berarti pencariannya pada orang yang cari itu sudah tercapai saat ini, ia sudah menemukan pria yang akan mengendalikan seluruh kekuatan batu permata mulia yang bernama Danny.


Pak pedagang itu memiliki alasan yang kuat dibalik ia ingin berbicara dengan mereka semua, namun ia juga waspada karena memang ancaman iblis yang bisa membaur sudah pasti akan menyusahkan dia dan Danny dengan kawan-kawannya juga.


Maka dari itu ia ingin membawa mereka ke sebuah tempat di mana mereka bisa berbicara dengan mereka tanpa diketahui siapapun, karena memang pembicaraan ini sensitif dan tidak seharusnya ada orang luar yang tahu juga.


Pak pedagang itu memang tidak menyangka akan menemukan pria pemegang batu permata mulia sekaligus teman-temannya itu dengan ketidaksengajaan; di saat bertemu pertama kali dengan Danny yang tidak sadarkan diri, pak pedagang itu sudah tahu dengan pasti bahwa dia adalah orang yang selama ini ditakdirkan untuk menerima kekuatan dari batu permata mulia yang ia pegang saat ini.


Jadi prioritas utama yang harus dilakukan oleh pak pedagang itu adalah ia saat ini harus menemukan sebuah tempat yang hening dan tidak banyak orang untuk mengatakan semua kebenaran ini pada mereka berempat.


Pak Pedagang itu juga percaya dengan orang-orang yang berada di sekitar Danny, ia yakin mereka adalah orang baik yang menemani Danny dalam perjalanannya itu, jadi tidak ada alasan baginya untuk menyembunyikan hal ini dari mereka juga.


Butuh waktu sekitar dua jam agar mereka menjauh dari keramaian kota kecil itu, dan tidak lama berselang mereka menepi ke arah hutan sedikit dan berhenti di dekat gua kecil yang berada di sana.


Sepanjang jalan mereka menanjak dan terkadang ada kerikil batu yang menghamtam roda kereta hingga akhirnya semua barang dan sekaligus orang di kereta ikut terguncang juga.


Bapak pedagang itu melihat area di sekitarnya, ia rasa di tengah hutan dan di dekat gua kecil adalah tempat yang cukup sepi dan tidak ada orang di sana, tempat itu berbatu dan ada tebing juga yang mengarah ke bawah, ternyata selama ini mereka berjalan menaik menjauhi area kota yang tadinya mereka singgahi itu; terlihat dari sini pemandangan indah kota kecil itu, sebuah tempat yang tepat untuk mengamati keindahan kota itu.


Pak pedagang itu turun dari kursi kendalinya itu dan pergi melihat bagaimana keadaan Danny dan teman-temannya itu.


"Huek!" Vincent terlihat menutup mulutnya sendiri, wajahnya pucat dan terlihat juga ia menahan sesuatu yang seharusnya dikeluarkannya itu.


Begitu Vincent tahu kereta barang yang ditumpanginya ini berhenti, dengan segera ia melompat keluar dan berlari ke arah tebing itu kemudian mengeluarkan apa yang selama ini ia tahan tadi, terlihat cairan berwarna pelangi (sensor) keluar dari mulutnya, ia memuntahkan segala sesuatu yang membuatnya perutnya tidak enak itu.

__ADS_1


Pak pedagang itu tidak menyangka juga Vincent akan mabuk perjalanan seperti itu, yah tidak heran juga karena memang sedari tadi mereka menanjak dan terkadang tersandung batu-batu kerikil hingga akhirnya guncangan demi guncangan pada kereta barang itu tidak terhindarkan lagi.


"Kita sudah sampai?" Danny melompat keluar, begitupula dengan Brock dan Patricia.


Patricia kemudian berlari dan mendekati ke arah tebing itu, ia terkesan bisa melihat pemandangan indah kota tadi di dataran tinggi seperti ini.


"Danny lihat! Kita sebelumnya singgah di kota itu bukan?! Tidak terasa kita sudah berada jauh dari sana dan di sini terlihat kota itu memang kecil namun begitu indah!" Patricia senang melihat pemandangan yang memanjakan matanya itu.


Danny ikut juga menghampiri Patricia untuk melihat apa yang dia lihat saat ini, dan memang setelah Danny melihat dengan mata kepalanya sendiri, pemandangan di sini terlihat begitu indah karena dapat langsung melihat seluruh kota yang telah disinggahinya itu.


Brock sendiri menghampiri Vincent yang masih mengalami mual karena perjalanan yang cukup mengguncang itu, ia menenangkan temannya yang masih merasa mual itu.


Danny saat ini memang menikmati pemandangan indah yang ditawarkan tempat ini padanya, namun meskipun begitu ia masih ingin tahu apa yang sebenarnya pak pedagang sembunyikan dengan membawanya dan teman-temannya ke tempat sepi seperti ini.


Sementara Patricia masih melihat keindahan pemandangan itu dan Brock serta Vincent yang masih bersama-sama juga, Danny membalikkan badannya dan melihat sang pak pedagang sedang berada di dekat kudanya, terlihat sedang mengelus-elus kudanya sendiri.


Danny menghampiri pak pedagang itu, ia merasa bapak yang telah lanjut umur ini bukanlah orang biasa yang memang ingin benar-benar membantu mereka, danny yakin pasti dengan perasaan yang ia rasakan ini.


Danny bisa merasakan bahwa memang bapak pedagang ini memiliki aura berbeda, terasa dengan jelas adanya tujuan tersembunyi yang belum diungkapkan oleh pak pedagang itu.


"Apakah Tuan benar-benar hanya seorang pedagang biasa yang membantu kami?" Danny kembali menanyakan hal yang membuatnya penasaran itu, ia ingin tahu siapa sebenarnya bapak pedagang ini.


Pak pedagang itu menyingkapkan kain yang menghalangi wajahnya, bahkan saat ini wajahnya sudah tidak tertutup apapun lagi, Danny bisa melihat dengan jelas rambut pendek yang mayoritas berwarna putih ada pada bagian kepala pak pedagang ini, keriput memang ada pada wajahnya yang memang menandakan ia sudah berumur lanjut, namun adanya keriput tidak benar-benar membuat wajahnya terlihat berumur, tatapan matanya berwarna kuning keemasan, memang terlihat sangat berbeda dibanding orang kebanyakan dan tidak lupa juga ada bulu-bulu halus berwarna putih disekitaran pipi sampai dagunya.


Ketika Danny melihat dengan jelas wajah bapak pedagang ini, entah mengapa ia merasa atmosfir menjadi berbeda, ia merasa adanya perubahan pesat yang terasa ketika ia melihat wajah bapak pedagang secara jelas ini.


Danny merasakan aura kekuatan yang luar biasa yang bergejolak di dalam bapak pedagang ini, sensasi ini memang baru saja dirasakannya namun ia merasa tidak asing dengan perasaan seperti ini.


Pak pedagang tersenyum melihat Danny yang nampak begitu waspada dan tidak percaya akan apa yang telah dirasakanya saat ini, namun dengan begini ia mengira bahwa Danny sudah merasakan hawa bahwa memang dirinya itu adalah salah seorang pemegang batu permata mulia.


"A-anda?!" Danny tidak bisa lagi menahan perasaan ini, bahwa memang yang saat ini dihadapannya itu ia merasa kekuatan batu permata mulia saling tarik menarik saat ini; ia merasa kekuatan batu yang berada di dalam dirinya bergejolak dengan cukup besar ketika mengetahui bahwa ada batu permata mulia yang lain sedang berada di dekatnya.


"Kau akhirnya sadar Danny?" Bapak pedagang itu memasang raut wajah yang tetap tenang dan ramah, ia terlihat senang karena Danny sudah menyadari bahwa memang dia adalah salah seorang pemegang batu permata mulia.


Danny memang saat ini baru sadar akan kenyataan bahwa ia merasakan sensasi di mana di hadapannya ini adalah orang yang memang sedang ia cari, namun ia masih bertanya-tanya mengapa ia tidak menyadari bahwa pak pedagang ini adalah salah seorang pemegang batu permata mulia dari awal?


"Tu-tuan adalah pemegang batu permata mulia yang saya cari, mengapa saya baru menyadarinya sekarang?" Danny tidak paham akan hal ini, padahal seharusnya ia tahu instingnya sudah tajam sejak ia memegang kedua batu permata mulia, bahkan ia sudah sadar sebelumnya mengenai hal ini.

__ADS_1


Danny tidak menyangka akan bertemu dengan pemegang batu permata mulia seperti ini, dengan ketidaksengajaan ia bisa bertemu dengan cepat salah seorang yang ia cari itu.


__ADS_2