
Danny menidurkan Patricia di bawah rerumputan hijau yang masih enak untuk diduduki dan ramah bagi punggung, kemudian ia membuka peralatan kantong yang ada di punggungnya itu dan mengambil bantal kecil dan meletakkannya di bawah kepala Patricia serta selimut kecil yang berwarna hitam untuk menyelimuti tubuh temannya itu.
Brock dan Vincent mempersiapkan sendiri peralatan tidur mereka, ini adalah kesempatan mereka untuk mengistirahatkan tubuh dan mengisi ulang energi sihir yang telah banyak dipakai itu.
"Istirahatlah Brock, Vincent."
"Kau tidak istirahat juga Danny?" Vincent bertanya dengan cukup lemas, rasa lelahnya memang sudah tidak bisa dikompromi lebih lama lagi.
"Aku baik-baik saja."
Setelah mendengar balasan dari temannya itu Vincent langsung menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
Danny melihat Brock dan Vincent tertidur dengan cukup dalam, bisa dibilang waktu memang masih dini hari, istirahat sebentar merupakan hal yang paling tepat untuk dilakukan di tengah perjalanan panjang ini.
__ADS_1
Danny masih berdiri di sana, melihat bulan yang menerangi mereka dengan indah, ia sama sekali tidak merasa lelah karena penggunaan kekuatan batu permata mulia kecepatan tadi; ini menunjukkan bahwa batu kekuatan tersebut sudah dekat dengannya, malahan ia sendiri merasa bertambah kuat setelah menggunakan kekuatan batu permata mulia ini.
Ini menunjukkan kekuatan tubuhnya meningkat dengan pesat hingga akhirnya menjadi pantas untuk memakai kekuatan batu permata mulia, berbeda dengan ketika awal-awal ia menggunakan kekuatan ini yang membuatnya merasakan kesakitan yang sulit dijelaskan bahkan lebih dari itu.
Danny mengepalkan tangannya sendiri, sudah sejauh ini ia bertualang dan mengalami cukup banyak hal, tujuannya untuk mengumpulkan seluruh batu permata mulia masih di depan mata, dan sebenarnya Danny masih penasaran akan bagaimana makhluk iblis jahat itu akan memulai penyerangan besarnya itu.
Rencana tersembunyi iblis benar-benar bisa berupa apapun, Danny hanya bisa berharap agar dirinya bisa menjadi kuat dan mampu untuk menghentikan pergerakan dan penyerangan iblis pada orang-orang yang tidak bersalah.
"Danny?! Mengapa tidak menggunakan potion pemulih kekuatan saja? Bukankah kita tidak boleh berlambat-lambat di sini?!"
Patricia menegur Danny yang kini tengah bersandar di pohon besar masih di tempat yang sama, meskipun nada bicaranya keras namun kedua temannya, Brock dan Vincent sama sekali terpengaruh dalam tidur mereka itu.
Hari sudah beranjak pagi, dan matahari benar-benar bersinar dengan cerah saat ini, Danny sempat tertidur di sana sebentar sampai akhirnya dibangunkan oleh teman perempuannya ini.
__ADS_1
Danny mengucek matanya, rasanya ia tertidur hanya sebentar, malahan Patricia yang tadinya terlihat sangat lemas tiba-tiba menjadi sangat berenergi setelah beristirahat sebentar juga itu.
"Ada apa?" Danny mengumpulkan nyawanya, yang berarti ia sedang menunggu kesadarannya benar-benar bangun lagi, harap maklum karena tidak semua orang yang bangun dari tidur dapat langsung beranjak dari tidurnya.
Danny melihat Patricia sedang membungkuk sembari menaruh kedua tangannya di pinggang, tipikal orang yang sedang marah.
"Kita berada di mana?" Patricia mengubah haluan pembicarannya, ekpresinya juga berangsur-angsur berubah dari tadinya seperti marah menjadi biasa saja.
Danny beranjak dari sandaran pohon besar itu, Patricia cukup kaget dan mundur karena tidak mau terhantam kepala Danny yang sedang bangkit itu.
"Huahhh!" Peregangan pagi dilakukan oleh pemuda itu, ini membantunya untuk rileks dan siap untuk menjalani hari yang baru.
"Kau baik-baik saja Patricia?" Bukannya menjawab pertanyaan teman perempuannya itu, Danny balik bertanya padanya tentang kondisinya saat ini.
__ADS_1