Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 318: Tempat Aman


__ADS_3

Danny membuka matanya, ia merasa seluruh tubuhnya masih lemas, dan entah mengapa ia tidak merasa berada di tanah kering, yang memang seharusnya ia masih dalam perjalanan dari hutan bersama teman-temannya itu.


Ia butuh beberapa saat, mengumpulkan kesadarannya sendiri dan perlahan melihat dengan seksama tempat di mana ia bangun itu, namun yang pasti ini bukan sensasi berada di alam yang seharusnya dirasakannya.


Dan benar saja apa yang ia duga tadi, pantas saja ia merasa nyaman ketika tertidur, Danny sedang berbaring di kasur kecil di sebuah kamar, di sampingnya ada sebuah jendela kecil yang menunjukkan cahaya yang cerah menyusup menerangi kamar tempat ia bangun itu.


Perlahan Danny membuka selimutnya dan melihat sekilas pada jendela untuk melihat keadaan di luar, ia sedikit melindungi matanya akibat silau cahaya, karena ternyata cuaca sangat cerah hari ini, ia berada di lantai atas dan melihat orang-orang sedang berlalu lalang di bawah sana.


Danny mengucek matanya sekedar untuk membuat penglihatannya tidak terhalang oleh sesuatu karena ia tertidur cukup dalam dan nyenyak tadi. "Su-Sudah sampai di kota?"


Danny kembali melihat sekelilingnya, ruang kamar yang tidak begitu kecil dan tidak begitu banyak barang yang berada di sini, ada semacam meja kecil dan lampu di samping tempat tidurnya, latar warna coklat kayu kental terasa di ruangan ini, Danny bisa merasa penginapan ini cukup mewah untuk orang sepertinya bisa beristirahat di sini dan sudah pasti ia berada di lantai atas, dan itu berarti penginapan ini cukup besar serta memiliki banyak kamar.


Sejak terakhir ia sadar, ia digendong oleh Brock pada saat mereka masih di hutan setelah mereka meninggalkan rumah misterius berwujud penjahat berkekuatan supranatural itu.


Danny sadar pertama kali saat ini, dan ia menemukan dirinya sudah berada di tempat tidur seperti ini, ia tidak begitu ingat kejadian sebelum ia sampai ke tempat ini.


Sudah pasti ini adalah sebuah bangunan penginapan, ternyata tanpa sepengetahuan Danny ia sudah sampai di sebuah kota di daerah selatan.


Rasanya begitu cepat, sudah sampai kembali ke sebuah kota, ternyata ada kota juga ya setelah melewati daerah hutan tadi, apakah teman-teman berada si sini juga, aku ingin menemui mereka.


Ia juga sudah mengenakan baju kaos berwarna putih saat ini, ia bersyukur karena pada akhirnya ada sesuatu yang bisa ia kenakan untuk menutupi tubuhnya itu, tidak hanya pakaian atas yang berganti ia juga saat ini berganti celana menjadi celana polos hitam yang ringan untuk digunakan.


Danny penasaran akan di mana teman-temannya saat ini, ia berpikir untuk mencari mereka; siapa tahu mereka ada di lantai bagian bawah penginapan ini.


Begitu Danny akan beranjak dari tempat tidurnya, ia mendengar ketukan pintu dan setelah itu seseorang masuk ke dalam ruangan kamarnya.

__ADS_1


"Oh? Kamu sudah bangun Danny?" Suara seorang perempuan terdengar menyapa Danny di pagi hari yang cerah ini.


Danny memerhatikan dengan seksama, memang tubuhnya masih lemas namun tidak separah pertama kali ia sadar ketika ditolong oleh Patricia.


"Patricia?"


Patricia memakai kaos berwarna coklat dan celana selutut berwarna kecoklatan juga, Danny pikir memang karena Patricia menyukai warna seperti itu, maka ia mengenakan pakaian berwarna kesukaannya.


Rambut panjang hitamnya terurai ke bawah, terlihat begitu lembut dan indah, melihat ini sedikit mengingatkannya pada temannya yang dahulu pertama kali menyelamatkan nyawanya.


Patricia terlihat membawa nampan kecil berisi roti dan segelas air susu, sepertinya ia ingin memberikan makanan itu pada Danny saat ini.


Ada meja kecil di samping tempat tidur Danny, Patricia meletakkan nampan berisi makanan itu di sana tepat di samping lampu kecil, lalu ia mengambil kursi yang berada di sudut ruangan dan menempatkannya di dekat tempat tidur Danny, lalu ia duduk dan menatap Danny.


Mata birunya bersinar terang dan menatap Danny dengan dalam, tatapannya itu seakan mencemaskan dan mengkhawatirkan kondisinya saat ini.


"Bagaimana kondisimu Danny?" Patricia menanyakan dengan singkat, ia hanya ingin tahu bagaimana kondisi temannya itu saat ini.


"Ah." Danny memegang rambutnya dan bahunya, sedikit peregangan kembali membuatnya lebih baik.


"Aku lebih baik dibanding yang sebelumnya, tidak usah khawatir," ucap Danny sembari tersenyum.


"Begitukah? A-anu ... Danny ...."


"Hm? Ada apa?" Danny merasa Patricia ingin mengatakan suatu hal padanya, namun entah mengapa dia seperti ragu-ragu untuk mengatakannya.

__ADS_1


Patricia masih menatapnya dengan cemas. "Aku menyusahkanmu sewaktu kau berhadapan dengan sosok mistis jahat rumah itu kemarin malam 'kan?"


"Hm?" Danny tidak menyangka Patricia masih memikirkan hal yang sudah lalu itu, dan karena perkataannya itu juga Danny jadi tahu bahwa ternyata ini adalah pagi hari setelah malam yang berbahaya yang sudah dilewatinya bersama dengan teman-temannya itu.


"Mengapa kau berpikir seperti itu Patricia?"


"Ah, tidak ... aku hanya berpikir kau terluka begini karena khawatir dengan keadaanku yang sama denganmu karena pengaruh kemampuan jahat itu bukan?" Patricia jujur mengatakan perasanmya yang sebenarnya pada Danny, ia merasa telah merepotkan sahabatnya itu karena ia juga ikut terjebak oleh kemampuan jahat sosok supranatural malam tadi.


"Kau benar Patricia, namun tidak sepenuhnya seperti itu juga, luka yang membuatku seperti itu memang sudah kualami sejak awal, kau juga bisa melihatnya sebelum terjebak bukan?" Danny ternyata tahu Patricia mengkhawatirkan dirinya sewaktu berhadapan dengan sosok mistis jahat rumah itu; buktinya Patricia harus mendekatinya demi mengetahui keadaannya secara lebih dekat


"Ah iya, kamu benar Danny, tapi menurutmu tidak seharusnya aku pergi ke bahaya seperti itu kan? Itu hanya akan membuatmu berada di keadaan yang lebih bahaya lagi." Patricia tidak berpikir lebih lanjut lagi, dan bisa membuat Danny berada di kondisi yang berbahaya ketika berhadapan dengan sosok jahat supranatural itu.


Danny tersenyum, ia bisa tahu Patricia merasa bersalah karena ia pikir merepotkan Danny dengan ikut terjebak dan ia menyangka telah membuat situasi lebih buruk dari yang sudah ada sebelumnya.


"Patricia, tidak usah memikirkan hal seperti itu, malahan dengan adanya kau yang peduli dan bahkan mau melihat keadaanku di tengah kemampuan sosok mistis jahat penunggu rumah itu, aku yakin kau punya alasan yang kuat yang kau percaya untuk mendekati rumah itu hanya sekedar untuk melihat keadaanku itu." Danny percaya Patricia tidak hanya sekedar mendekati bahaya saja, melainkan ada hal lain yang pastinya penting juga yang tidak Danny ketahui, namun ia percaya Patricia memang mempedulikan dirinya di tengah situasi itu.


"Kau benar Danny, aku sangat khawatir saat kamu terjebak di rumah misterius itu, maka dari itu aku memutuskan untuk mendekatinya demi mengetahui keadaanmu dengan jelas Danny, namun ketika melakukan itu aku juga malah ikut terjebak, ahaha." Patricia ingin bertindak apa yang menurutnya benar dengan mengetahui bagaimana kondisi temannya itu, namun keadaan berubah dengan cepat malah ia sendiri yang harus ditolong; gadis itu kemudian tertunduk dan masih merasa tidak enak padanya.


Danny tersenyum kembali, dugaannya memang benar bahwa Patricia benar-benar memedulikan dan mengkhawatirkannya saat itu, Danny juga yakin Patricia pasti menentang apa yang Vincent dan Brock peringatkan malam tadi, karena memang begitu pedulinya dia terhadap dirinya.


"Kau juga sudah diperingatkan Vincent dan Brock bukan? Kau tidak seharusnya mendekati rumah itu, namun kau tetap mau mendekatiku untuk mengetahui kondisiku?" Danny bertanya agar apa yang telah ia pikirkan itu cocok atau tidak dengan kenyataan yang terjadi.


Patricia mengangguk kecil, ia membenarkan perkataan Danny tadi, bahwa memang ia lebih mementingkan bagaimana cara menyelamatkan temannya dibanding dengan memikirkan bagaimana keselamatan diri sendiri.


Danny menepuk kecil kepala Patricia. "Kau hebat Patricia."

__ADS_1


"Ah?" Patricia yang sedikit tertunduk itu melihat ke atas Danny yang sedang memegang kepalanya sambil tersenyum lembut, untuk beberapa saat ia memerhatikan Danny, temannya itu benar-benar memesona di saat-saat tertentu dan untuk saat ini Patricia sadar dan menikmati momen ini.


Setelah menepuk kepalanya, Danny kemudian akan menjelaskan begitu pentingnya peran Patricia saat malam tadi ketika ia berhadapan dengan sosok misterius jahat supranatural rumah usang tidak terawat itu.


__ADS_2