
“!” Danny tidak bisa menahan eskpresinya, ia pikir sang ksatria suci itu tidak akan setuju semudah dan secepat ini.
Bisa saja Arthur memasang syarat agar mau ikut dengan rencananya itu, entah itu dengan menghukumnya dahulu karena menentangnya atau karena hal lain.
Yang ternyata tidak seperti itu adanya.
“Hei kau bercanda?” Worther terdengar bertanya-tanya akan perkataan Arthur itu.
Arthur memandang rekannya, ia tidak terlihat bercanda juga sebenarnya. “Ini adalah keputusan pribadiku, kalian tidak perlu mengikutiku.”
Danny tidak tahu seberapa ketat aturan harus dipatuhi para ksatria suci, yang di mana orang-orang dengan status tinggi itu tentu punya tolak ukur yang jelas untuk mengambil suatu keputusan.
Terbukti dari pernyataan Arthur yang menegaskan itu adalah keputusan pribadinya.
“Tuan Arthur.” Danny tidak tahu mengapa sang ksatria suci ini kini terlihat berbeda dari pertama kali mereka bertemu di tempat ini.
“Panggil saja Arthur.” Arthur memasang wajah ramah nan hangat. Ia tidak keberatan dipanggil nama saja.
“....” Danny terdiam, ia sadar memang sebelumnya ia terbawa emosi dan memanggil sang ksatria ini hanya dengan nama saja.
Tapi sekarang sang ksatria suci itu merendahkan diri dan mau untuk disebut nama depannya saja, ini adalah suatu kehormatan.
“Aku juga percaya padamu.” Hellen maju ke depan dan menatap Danny dengan terbuka, yang menandakan ia memang serius mengatakannya.
“Kau juga?” Worther heran mengapa rekan-rekannya ini dengan mudah menerima ajakan pemuda itu.
Dimulai dari Arthur yang paling mengerti prinsip ksatria suci dan pada akhirnya menyebar ke rekannya yang lain.
“Kau tidak setuju?” tanya Jessica, ia penasaran mengapa rekannya ini masih bersikeras dengan peraturan yang mengikat sebagai ksatria suci.
“Arthur, kau pemimpin kami, setuju dengan orang luar sepertinya berarti kau menentang raja.” Worther mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
Meski pemimpin kerajaan seringkali berunding satu sama lain, dan menyepakati berbagai macam hal, namun bukan berarti masing-masing di antara mereka tidak punya tujuan tersendiri.
Tetap saja masih ada jarak yang memisahkan antar kerajaan yang ada, yang membuat pemimpin kerajaan masing-masing waspada.
Worther tidak tahu banyak soal pemuda dan makhluk hitam ini, itulah alasannya mengapa ia menentang Arthur yang dengan cepatnya menerima permintaan mereka.
Siapa yang bisa menjamin mereka berdua tidak punya tujuan tersembunyi yang bisa merugikan para ksatria suci?
__ADS_1
Taruhlah mereka memang mengatakan hal sebenarnya, tapi apakah itu saja? Bagaimana jika terjadi suatu hal yang tidak diinginkan dan pada akhirnya merugikan ksatria suci?
Apa keuntungan yang bisa didapat dengan bergabung dengan rencana mereka? Apa mereka hanya ingin memeras tenaga para ksatria dari Kerajaan Barat saja?
Karena itulah Worther begitu patuh pada aturan yang ada, karena memang dibuat untuk meminimalisir hal buruk terjadi.
Dan soal keputusan Arthur ini, seberapa besar pengaruh para ksatria suci, namun tetap saja mereka harus melapor dan tunduk pada perintah raja, yaitu atasan mereka yang tertinggi.
“Kalau begitu jangan panggil aku ksatria suci lagi.” Arthur menatap rekan-rekannya dengan penuh arti, ia tidak peduli lagi dengan aturan ksatria yang mengikatnya selama ini.
Arthur tahu betul bagaimana ketatnya aturan kerajaan yang tidak membiarkan ikut campur dengan urusan luar. Namun di sisi lain Arthur sendiri semakin sadar mengikuti aturan di saat seperti ini tidaklah masuk akal.
Apa arti dari ‘ksatria suci’ yang sesungguhnya? Itulah pertanyaannya sekarang, jika jawabannya terletak di gelarnya itu, maka Arthur tidak keberatan melepasnya.
“Jika manusia mati, lantas untuk apa peraturan itu berdiri?” Arthur tidak melihat bekerja sama adalah kesalahan di sini.
Di saat dunia sudah penuh teror dengan serangan iblis, untuk apa menyusahkan diri dengan peraturan yang ada?
Worther terdiam sejenak dan raut wajah seriusnya yang masih ada. Ia bisa merasakan Arthur yang berbeda dari yang ia kenal selama ini.
“....” Danny sendiri tidak menyangka situasi akan mulus, yanh pada akhirnya memang sesuai saja seperti dugaannya.
Danny lega karena Arthur sudah tahu maksud tujuannya dan mau untuk bekerja sama demi masa depan yang lebih baik, namun pada akhirnya keputusan sang pemimpin ksatria suci itu bukanlah keputusan seluruh anggotanya.
Karena masih ada kesempatan memikirkan ini dua kali dan memantapkan apa yang jadi pilihannya.
“Aku bukan ksatria suci lagi, panggil aku Arthur.” Arthur menatap Danny penuh arti tanpa menjawab pertanyaannya.
“....” Dari sini Danny tahu bahwa memang keputusan yang dibuat Arthur memanglah tidak main-main.
“Haaah....” Worther menghela nafas panjang, ia tidak berusaha mempertanyakan apapun lagi pada Arthur.
“Kau yakin dengan ini Hellen?” Arthur tidak mau memaksa orang lain mengikuti apa yang telah ia pilih.
Hellen mengangguk pelan. “Aku percaya padanya.” Ia tidak mungkin menganggap seorang yang merisikokan nyawanya membunuh iblis itu adalah orang yang tidak pantas dibantu, sebaliknya pemuda itu malah memberikan kesempatan penting pada Arthur.
“Hoah, kau punya tiga pengikut sekarang.” Jessica sedikit menguap, ia agak bosan dengan pembicaraan yang berlangsung cukup lama ini.
“HM!?” Worther terdiam dalam kaget. Ia tidak menyangka Jessica juga memilih ini.
__ADS_1
“Heh, kini hanya ada satu anggota ksatria suci saja.” Jessica menatap Worther, ia terlihat membuat guyonan dengan tatapan mata yang seperti itu.
Ke-tiga orang ini sudah membuat pilihannya sendiri, mereka meninggalkan gelar dan nama kehormatan, memutuskan untuk mengikuti pemuda yang bernama Danny.
“Hah, jangan lupakan aku ada.” Nada suara Worther terdengar lemah, entah mengapa ia terdengar tidak mau ditinggalkan sebagai satu-satunya anggota ksatria suci yang tersisa
“Jadi sekarang ksatria suci tinggal kenangan.” Entah mengapa Hellen malah terdengar semangat.
Bukankah seharusnya mereka ini merefleksikan ini dan menganggap yang terjadi sekarang bukanlah peristiwa yang biasa-biasa saja?
Pasalnya ini menandakan akhir dari orang-orang terhebat yang terkenal di dataran Hello, Ksatria Suci.
Meski akhir yang dimaksud bukanlah akhir dramatis yang mungkin dipikirkan orang, namun tetap saja dengan keputusan yang dibuat tidak ada jalan untuk menjadi ksatria suci lagi.
“Hm misi sukses.” Raven menyilangkan tangannya, ia senang tidak perlu ada lagi pertarungan perbedaan pendapat seperti yang terjadi di awal tadi.
Danny tidak tahu mengajak orang-orang hebat ini akan membuat ksatria suci menghilang dari dunia ini, rasanya ia sudah jadi musuh bagi banyak yang mengidolakan ksatria suci dari seluruh dunia.
Terkadang ada yang harus dikorbankan demi sesuatu yang baik.
SIIINGGGG....
Entah mengapa Danny merasa telinganya berdengung, apakah ini efek lain dari kekuatan batu permata mulia?
“Kau tak apa?” Hellen melihat pemuda di depannya itu menutup kedua telinganya seolah ada sesuatu yang bising.
Yang pada kenyataannya tidak ada suara keras yang didengarkan oleh orang lain di sini.
‘Tunggu sebentar....’ Danny berusaha tidak terdistraksi dengan suara dengungan ini, pasti ada alasan jelas mengapa ia mendengar suara dengungan keras seperti ini.
“Kupikir hanya aku yang merasakannya.” Suara berat Raven malah terdengar tidak terima dengan Danny yang bisa menyadari sesuatu juga di sini.
“Hm.” Arthur memfokuskan hawa kekuatannya demi mendeteksi lingkungan sekitar.
“Ada yang datang.” Jessica terlihat serius, sementara sejujurnya ini hanya dugaannya saja, bukan sesuatu yang pasti.
“Memang benar, dia sedang berdiri di sana.” Raven menunjuk ke satu tempat, di mana di sana perlahan namun pasti muncul sosok berjubah merah.
“Akhirnya kutemukan.” Suara wanita terdengar jelas dari seorang berjubah merah itu.
__ADS_1
“Shea belum mengakhirimu ya.” Seorang berjubah merah itu menyingkapkan tudung jubahnya, dan seketika itu juga terlihatlah iblis perempuan yang bisa sampai ke tempat ini tanpa hawa kehadiran yang tak terasa sedikitpun.
“....” Entah mengapa Danny bisa merasakan kekuatannya begitu mirip dengan iblis perempuan yang pernah dilawannya, Victoria.