
Brock benar-benar serius akan tindakannya itu, dulunya ketika ia sedang mengamuk Hendrik terkadang berhasil untuk menghentikan dan menenangkannya namun situasi kali ini berbeda.
"Brock, kita sudah lama tinggal di kota ini, tanah kelahiran kita… Meskipun ini hanya daerah perbatasan Kerajaan Timur dan Selatan…"
"Aku mengenalmu sejak kecil, dulu kau yang selalu membelaku ketika aku diganggu orang lain…" perkataan Hendrik mengundang nostalgia masa lalu mereka.
"Kau selalu mudah mengamuk, namun aku yakin kau juga punya sisi baik Brock."
Brock terdiam mendengar perkataan Hendrik, kemudian ia mulai berbicara.
"Kau benar dengan perkataanmu Hendrik, Aku memang selalu membelamu ketika kita masih kecil.."
"Tapi kau tidak mengetahui motif ku yang sebenarnya…"
"Kau hanya menilai ku dari pandanganmu saja…"
"!"
Hendrik kaget, ia tidak menyangka sahabatnya sendiri berkata begitu. Ia ingin meluruskan semuanya.
"Apa yang sebenarnya kau ingin lakukan Brock?!"
"Aku hanya ingin menghadapi orang kuat, orang yang benar-benar bisa membuatku puas akan pertarungan yang sengit."
"Apa kau tidak ingat, aku sering berbuat onar di akademi?"
Dalam batinnya, Hendrik mengiyakan pernyataan Brock itu, sejak ia usia 12 tahun ketika masuk akademi sampai pada lulusnya 5 tahun kemudian, ia tidak berubah. Brock merupakan sahabat Hendrik dari akademi.
Brock selalu menantang setiap siswa untuk beradu fisik dengannya. Sejak kecilnya dari umur 10 tahun Brock mulai terobsesi dengan kekuatan. Ia berniat untuk menembus batas kemampuan fisik manusia pada umumnya. Guru-guru di akademi pun habis akal untuk mendidiknya. Kadang Hendrik berhasil menghentikan tindakan liar Brock.
Alhasil 5 tahun pendidikannya di akademi membuahkan hasil, ia makin kuat serta tubuhnya makin besar. Ketika sudah lulus akademi penampilannya benar-benar layaknya pegulat profesional, penuh dengan otot.
Ketika berumur 20 tahunan Brock mulai menantang para penjaga serta ksatria yang berada di kota Willhem itu, ia selalu memenangkan pertarungan itu sampai-sampai dibuat bosan.
Sampai saat ini Brock sudah melakukan 500 kali pertandingan 1 lawan 1, semuanya ia menangkan dengan telak.
Kadang ia suka mengamuk di kota, disitulah Hendrik muncul untuk menghentikannya. Brock yang bosan karena terus mengamuk akhirnya menuruti permintaan Hendrik, bukan karena tunduk padanya.
"Aku ingat Brock, kau memang terobsesi dengan kekuatan, aku tidak bisa menyalahkanmu..."
"Namun tindakanmu sudah diluar batas Brock..."
Brock tersenyum sinis melihat Hendrik yang berkata begitu.
"Lalu, bisakah kau menyingkir dari sana Hendrik? Biarkan aku membawa gadis kecil itu..."
Hendrik melihat gadis kecil dibelakangnya itu ketakutan, tangannya memegang celana panjang Hendrik seakan ingin meminta pertolongan kepadanya.
"Maaf Brock aku tak dapat melakukan hal itu..."
"!"
"Pembicaraan kita sudahi disini..."
Brock mengambil ancang-ancang untuk menyerang Hendrik.
"Tunggu..."
"!"
"Apa lagi Hendrik? kau ingin membuang lebih banyak waktu?"
"Aku menantangmu di gedung pertarungan di kota..."
"?!"
__ADS_1
Brock kaget dengan perkataan Hendrik, ia tidak menyangka Hendrik akan berkata demikian.
"Apa aku tidak salah dengar?" katanya sambil mengorek kupingnya
"Tidak Brock aku serius..."
"Kita akan bertanding disana besok jam 8 pagi..."
"Kalau aku menang kau lepaskan gadis ini, kalau aku kalah kau bisa lakukan semaumu..."
Brock tersenyum
"Baiklah, ini terlihat menarik... Persiapkan dirimu Hendrik, kuharap kau dapat membuatku puas" ucapnya sambil membalikkan badan dan meninggalkan Hendrik.
"...."
Hendrik telah membuat keputusan yang tidak ia pikir matang-matang sebelumnya, rencana untuk bertarung dengan Brock di gedung pertarungan kota Willhem.
Hendrik sudah tahu pasti bahwa ia pasti kalah dari Brock, namun ia tidak bisa mengabaikan gadis kecil yang meminta pertolongan darinya.
"Adik kecil, kau akan baik-baik saja..."
"Kita cari mamamu ya?"
Gadis kecil itu mengusap air matanya dan beranjak dari tempatnya mengikuti Hendrik.
Beberapa saat kemudian ketika mereka sedang berjalan di tengah kota yang sepi, sang ibu gadis kecil itu menemukan mereka berdua, ia segera berlari dan terlihat senang bisa bertemu dengan anaknya kembali.
"Yui!!" sang ibu memeluk anaknya dengan lembut.
"Mama..." Gadis kecil itu menangis bahagia
"Maaf Yui, karena kelalaian mama kamu tersesat..."
"Iya ma..."
"Mama, kakak ini yang melindungi Yui.." ucap gadis kecil itu sambil menunjuk pada Hendrik
"Ah, terima kasih banyak anak muda, kamu telah melindungi anakku.."
Mama Yui memegang tangan Hendrik tanda terimakasih yang teramat dalam padanya. Hendrik tersenyum, lega rasanya ia telah bisa mempertemukan mereka, mereka akhirnya berpisah dengan Hendrik. Namun semua ini belum berakhir.
Hendrik masih punya tanggungan, yaitu ia harus bertarung dengan sahabatnya sendiri Brock, pria keras yang terkenal akan kemenangan beruntunnya. Hendrik merasa ragu akan kemampuannya sendiri.
Hendrik bukanlah seorang pria yang kuat, namun semangat dan kebaikannya itulah yang membuatnya disukai banyak orang, hal itulah yang ingin ia lakukan pada Brock namun ia tidak berhasil menghentikannya bahkan mengubahnya.
---------------
Situasi di kota Willhem kini masih terasa sepi, para penduduk kota bersembunyi dirumah mereka masing-masing takut untuk beraktifitas karena kejadian yang telah terjadi.
Danny masih tergeletak disana sebelum akhirnya Hendrik menemukan dan memberi tumpangan padanya. Hendrik membawa Danny kerumahnya yang tidak jauh dari sana.
Danny sadar ketika hari sudah sore. Mendapati dirinya sudah berada disebuah kamar dengan ukuran kecil bercat biru dengan barang-barang yang umumnya ada di dikamar.
Suara pintu yang cukup terasa di telinga membuat Danny kaget, seorang pria tinggi membawakan teh hangat untuknya.
Danny bingung kenapa ada pria asing yang menolongnya. Pria itu menyodorkan segelas teh hangat itu padanya ketika Danny masih berusaha bangun dari tempat tidurnya.
"Teh hangat, untuk menenangkanmu.." ujarnya sambil tersenyum
"..."
"Ah... terima kasih..."
Danny menyeruput teh hangat itu, hangat terasa ditenggorokannya membuatnya merasa nyaman dan hangat.
__ADS_1
Pria tersebut mulai mengobrol dengan Danny.
"Aku Hendrik, kamu?"
"Saya.. Danny..."
"Tidak udah gugup begitu, anggap saja seperti dirumah sendiri." katanya dengan ramah
"Kenapa kamu menolongku?" tanya Danny
Hendrik terdiam kemudian menjawab pertanyaan Danny.
"Akan terasa aneh bagiku mengabaikan orang yang tergeletak sendirian di tengah jalan kota ini..."
".... Apa aku merepotkanmu?"
"Tidak, aku senang bisa membantumu..."
Dalam pikiran Danny, ia senang bisa bertemu dengan orang sebaik Hendrik, yang pada masa sekarang ini jarang ia temui.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apa yang ingin kau tanyakan Danny?"
"Apa yang sebenarnya terjadi di kota ini?"
"..."
"Sedang terjadi kekacauan di kota Willhem ini Danny..."
"Dan penyebabnya satu, sahabatku sendiri..."
".... Sahabatmu?"
"Ya, ia adalah seorang pria besar yang haus akan pertarungan..."
"Dulu sekali, ia selalu mengalahkan semua orang, baik penjaga maupun ksatria disini..."
"Apakah pihak pusat kota tidak menangani ini?" tanya Danny
"Wali kota saat inipun tidak mampu melakukannya..."
"...."
"!"
Danny teringat akan sesuatu.
"Ada anak kecil yang kulihat sewaktu siang tadi, ia dihampiri oleh pria besar yang terlihat menyeramkan!"
"Bagaimana keadaannya?"
"Tenang saja, dia sudah bertemu dengan ibunya kembali."
Danny menarik nafas lega.
"Syukurlah..."
"Pria besar yang kau lihat itu adalah Brock, ia yang menyebabkan kekacauan di kota ini."
"Ia sahabatku sendiri, dan aku akan bertarung melawannya."
Pria besar menyeramkan yang tingginya diatas rata-rata, seolah-olah kekuatan fisiknya tidak terukur, membuat siapapun merasa gemetar terhadapnya.
"Kau...."
__ADS_1
"Akan melawan sahabatmu sendiri?"