
Danny melihat ruangan hampa gelap ini, hanya ada empat cahaya bersinar yang meneranginya dari jauh, dan masing-masing cahaya yang terpancar berbeda satu sama lain.
‘Tidak salah lagi....’ Danny memang tidak merasa asing dengan tempat yang saat ini ia lihat, ia perlahan berjalan ke arah empat cahaya yang bersinar itu.
Danny tidak mengerti mengapa kini ia bisa berada di tempat ini, padahal sebelumnya ia berada di tengah pertarungan yang begitu penting.
Danny memegang kepalanya sendiri, semuanya ini terasa nyata, namun di saat yang bersamaan tidak masuk akal.
Mengapa ia kini bisa ada di tempat ini? Apa sebabnya? Itulah yang kini ada dalam pikiran Danny.
‘Memang tidak asing.’ Danny semakin yakin akan hal ini di setiap langkahnya.
Sebuah tempat begitu gelap dan hanya ada sumber cahaya dari jauh, dan sekarang keadaannya sudah kembali seperti biasanya, apalagi kalau bukan....?
‘Alam bawah sadar....’ Danny sadar akan hal ini, dan berbagai kemungkinan alasan pun akhirnya mulai bermunculan di benaknya.
Tempat di mana ia bisa melihat langsung batu permata mulia yang ada dalam dirinya.
Dan tidak lama berselang, ia sampai juga ke tempat di mana ada keempat batu permata mulia yang bersinar masing-masing pada tempatnya, hanya tinggal menyisakan satu saja tempat tersisa.
‘Batu permata regenerasi....’ Danny tahu yang sekarang jadi tujuannya adalah untuk menemukan satu batu tersebut.
Ia belum sempat mencari informasi tentang batu ini, dan berakhir di situasi yang seperti ini.
Di tengah keheningan ruang gelap dan hanya ditemani empat cahaya batu permata mulia, membuat Danny bisa berpikir lebih dalam lagi.
Perjalanan yang telah ia lalui kini mengarah pada masa lalunya sendiri, yakni bagaimana ia bertemu dengan Cecilia kembali.
Setengah elf yang tidak segan menolongnya dengan tulus dan memutuskan untuk ikut perjalanannya.
Waktu itu Danny tidak tahu akan adanya ras lain selain manusia, sementara tidak bisa dipungkiri bahwa memang ilmu sihir adalah kemampuan yang biasa.
Jadi apa yang mustahil ketika tahu adanya ras lain selain manusia? Danny sudah lama bisa menerima fakta ini.
Kenyataan berkata lain ketika Danny tahu, Cecilia punya sisi yang lain, Forhan, temannya menghilang, dan pada saat terakhir pun, itu bukanlah murni kesalahan iblis.
__ADS_1
Rentetan peristiwa yang terjadi seolah kembali terputar di ruangan hampa ini, membuat Danny jadi tidak karuan.
‘Aku gagal sebagai teman mereka....’ Danny tidak pernah mengira kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat setelah kejadian aneh. Di mana ia bisa tetap hidup, sudah....
Sampai sekarang juga ini masih jadi pertanyaan baginya, yang pada akhirnya terus ada dalam hatinya.
SRRIINGGG....
Kini Danny bisa melihat keempat batu permata mulia bersinar makin terang, seolah memberikan kekuatan bagi Danny untuk melakukan sesuatu....
Sesuatu yang sama sekali tidak bisa ia lakukan....
‘Tidak ada pilihan lain... tapi aku tidak mau....’ Danny sadar akan keberadaannya saat ini, pilihan terakhir yang bisa ia lakukan ada di depan matanya.
Semuanya perjuangannya dipertaruhkan di sini, entah ia berhenti di sini, atau berjuang akan apa yang akan terjadi.
Danny menutup matanya, alis matanya menurun tajam, tidak tahan dengan apa yang ada dalam hatinya sekarang, kedua pilihan yang ada di hadapannya ini sama menyakitkannya dan ia tidak mampu untuk memilih.
Keberadaannya sampai di sini tidak lain tidak bukan adalah untuk menuntaskan misi yang sudah diembannya sejak dulu, dan jika ia berhenti di sini, lantas apa artinya semua perjuangan yang telah ia lakukan?
Bahkan Danny melihat pilihan ini seperti pedang bermata dua, tidak ada jaminan semuanya akan sesuai dengan yang diharapkannya. Bisa saja jika ia memutuskan ini, apa yang akan terjadi selanjutnya bisa lebih buruk dari yang sekarang.
Danny merasa tubuhnya makin berat, dan dari situ ia sadar wakunya di sini sudah tidak lama lagi.
‘Apa... yang harus kulakukan....?’ Danny hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri sekarang, benaknya tidak mampu untuk memutuskan apa yang akan ia lakukan sekarang.
Danny yang kini murni dalam batinnya sendiri kini tidak berpihak pada tujuannya lagi, melainkan bisa memahami diirnya sepenuhnya.
Ia tidak mau menjadi wadah untuk kekuatan bisa mengamuk dalam dirinya, namun di saat yang bersamaan yang bisa menolongnya hanyalah dirinya sendiri.
‘Aku tidak bisa melakukan apapun... tanpa kekuatan ini....’
Danny sadar akan perjalanannya selama ini memang tidak terlepas dari kekuatan batu permata mulia yang ia gunakan.
‘Salahku sendiri aku tidak bisa mengendalikannya....’ Berbagai rangkaian latihan pun masih belum cukup untuk mengatasi kekuatan yang ada dalam tubuhnya ini.
__ADS_1
Dan jika dipikir secara logika pun, kekuatan leluhur ras demi human yang sudah ada sejak dahulu memang tidak bisa dianggap remeh.
Suatu keajaiban juga Danny bisa menjadi pemegang batu permata mulia meski tidak bisa mengendalikannya secara penuh.
‘....’ Dari awal pun Danny tahu ini adalah misi yang mustahil, namun ia sampai di sini bukanlah kebetulan adanya.
Tujuannya yang kuat dan perasaan hatinya memang berlawanan satu sama lain, dan satu yang harus ia pilih saat ini.
Apakah ia akan melanjutkan misi yang diembannya dengan risiko besar yang sudah dijelaskan Freiss? Ataukah ia berhenti di sini dan memilih keputusan hatinya? Yang itu berarti kegagalan mutlak yang menantinya?
Danny tahu keputusan cepat yang bisa diambilnya sekarang adalah untuk kembali menggunakan kekuatan batu permata mulia, yang harus dibayar dengan kesadarannya sendiri, karena pada dasarnya Danny tahu menggunakan kekuatan kedua batu permata mulia fisik dan daya tahan secara bersamaan sebelumnya adalah batas kesadaran yang bisa dipertahankannya.
Dan untuk selanjutnya Danny tahu ia tidak punya kekuatan lagi untuk menggunakan kekuatan batu permata mulia dengan kesadarannya sendiri.
‘Itu lebih baik daripada iblis menang....’ Danny merasakan keraguannya sendiri mulai menghilang, setelah berpikir beberapa saat, akhirnya ia mendapatkan pencerahan juga.
‘Teman-temanku, aku percaya pada mereka.’ Danny ingat bagaimana teman-temannya mau mengikuti perjalanannya dan bahkan tidak segan menghadapi bahaya, semuanya itu mereka lakukan karena percaya dengan apa yang ia lakukan.
Jikalau ia berhenti sekarang dengan alasan, ‘aku tidak mau menyakiti kalian’, maka apakah itu sepadan dengan berbagai macam bahaya yang telah mereka hadapi sebelumnya?
‘Aku rasa tidak....’ Danny tahu rasa kuatirnya itu memang tidak sepenuhnya hilang, namun setidaknya itu tidak menguasainya lagi.
‘Kedamaian dunia dipertaruhkan, dan mereka bahkan tidak sayang nyawa untuk mencapainya.’ Danny tidak tahu soal politik, namun ia ingat pembicaraanb dengan Tuan Rhart, Ther, dan Cleus yang merupakan komandan Kerajaan Timur yang semakin memperjelas misi yang tengah diembannya ini.
Ngomong-ngomong, di mana ketiga orang hebat itu ya sekarang?
‘Aku tidak melihat mereka....’ Danny tidak begitu memperhatikan hal lain selain lawannya, dan kini setelah teringat, Danny hanya bisa berharap Tuan-tuan itu berada di tempat yang aman.
‘Begitu pula dengan Raja dan warga....’ Danny masih bisa berharap soal ini, terlepas dari kenyataan bahwa area pusat Kerajaan Timur sudah luluh lantah, namun siapa yang bisa menghalangi seseorang berharap?
Danny kini sadar sekecil apapun kesempatan yang ada, maka itu sudah cukup untuk membuat harapan kembali ada. Ia tidak bisa memperbaiki masa lalu dengan menyesal dan tidak lagi mengambil risiko.
Yang bisa ia lakukan sekarang adalah tetap berjuang, apapun konsekuensinya, karena itulah yang akan membuat sesuatu yang mustahil akan menjadi mungkin.
Sriiiingg....
__ADS_1
‘Kalau begitu... aku sendiri yang akan menanggungnya.’ Danny membuka matanya, keputusannya sudah mantap sekarang, ia mengangkat tangannya meraih cahaya yang makin bersinar terang itu, membuat semuanya penuh dengan cahaya....