
Nada yang indah, yang bahkan mewakili semua perasaan Danny semua ini, tidak ada lagi yang bisa dibendungnya semuanya tumpah ruah bersamaan dengan jatuhnya air hujan.
Segala kesusahan, ketakutan, kekhawatiran kini melebur tumpah tidak dapat tertahankan lagi. Memang kini dirinya sudah tidak memiliki siapapun lagi, hal itulah yang membuatnya terbebani dalam perjalanannya.
Segala hal nampaknya berlalu begitu cepat, saking cepatnya sampai-sampai dirinya sendiri tidak sadar dengan perasaannya sendiri.
"Aaah...."
Meskipun ia berusaha untuk menghentikan air matanya namun ternyata usahanya sia-sia, kini air mata itu benar-benar tidak dapat ditahan lagi.
"Siapa yang peduli?"
"*Hanya karena aku tiba tiba mengalami kejadian aneh? lantas mengapa aku?"
"Tidakkah saja aku bersama kakekku sekarang*?"
"He.. hei..." suara lembut itu seperti memanggilnya
"....Eh?" Danny terkejut
"Tidak apa, tidak usah kau tahan..." ujarnya sambil tersenyum
Lantunan melodinya telah selesai,
"Kau bisa tumpahkan semuanya..." Gadis itu mendekati Danny, duduk percis disampingnya
"...."
Akhirnya Danny mengambil waktu untuk menenangkan dirinya, terlebih pikirannya selama ini.
Gadis itu mulai berbicara padanya
"Kau tahu? sedih itu boleh..."
"Tapi kau tidak boleh berlarut didalamnya..."
"Aku... tidak tahu apa yang kau alami selama ini... lagipula kita juga baru bertemu..."
"Setidaknya layaknya hujan, kadang ia muncul, dan iapun reda..."
Ia memang benar, hujan perlahan berhenti..
"Kau harus tetap melangkah maju...."
Gadis itu nampaknya sedang memberi semangat pada Danny, meskipun ini baru kali pertama mereka bertemu.
"Ah... ya kau benar..." Balas Danny yang sudah mulai tenang
"Kau tahu begini-begini aku juga seorang petualang lho!" ujarnya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Pakaian petualang...
Ah iya dia seorang petualang...
"Pakaianmu cukup bagus..." komentar Danny
"Benarkah? syukurlah.." timpalnya dengan senyum
__ADS_1
Memang itu terlihat bagus, baju coklat padat, disertai dengan celana panjang yang coklat juga, sepatu boot yang terlihat gagah sekali.
"Namamu?"
"A...ah.. Namaku Danny"
"Aku Patricia..."
"Kau tahu, ngobrol tanpa tahu nama lawan bicara itu terasa aneh lho..."
"Huh?"
Nampaknya Patricia ini memang tipe gadis yang mudah bergaul dengan siapapun.
"Ah iya kau benar..."
KRUUK..
Hm?
Suara apa itu?
"Ah..." Patricia nampak memegang perutnya tanda ia sedang lapar
Danny kemudian bergegas membuka barang bawaannya yang ia bungkus dengan kain itu, selain baju dan uang, nampak ada beberapa roti dan minuman disana.
"Mau?" Danny menawarkan sebuah roti padanya
"Wah... Terima kasih..." sahutnya sambil mengambil roti dari tangan Danny
"Iya..."
Akhirnya mereka berdua makan bersama, setidaknya roti itu lumayan besar untuk dimakan dan cukup untuk mengganjal perut.
"Waah.. perutku jadi terisi..." ucap Patricia setelah menggak minuman yang diberikan Danny
"Syukurlah..." Ujar Danny sembari merapikan barang bawaannya itu.
"Kau tinggal disini?" Tanya Danny
"Hmm, tidak.. Aku kan petualang tentu saja aku melewati berbagai tempat..."
"Wah benar juga haha..."
"Kalau begitu kau akan singgah sebentar disini?" tanya Patricia
"Oh? sebenarnya kini energiku sudah mulai pulih untuk melanjutkan perjalanan..."
"Eh... tunggu sebentar" Secara tiba-tiba Patricia menyentuh kening Danny yang memang disana terdapat luka bekas pertarungannya dengan Brock.
"Apa ini tidak sakit?" Tanyanya
"Hm? Luka itu sudah kering kok.." Dan Patricia malah memencet-mencet bagian luka tersebut.
"Aduh....Aduduh..." Danny mulai bisa merasakan sakitnya kembali.
"Tuh kan..." Setelah itu Patricia mengambil sebuah perban dan alat penghilang rasa sakit dari tas kecil miliknya
__ADS_1
"Itu tasmu?"
"Iya.. kenapa?"
"Kenapa tidak membawa makanan?"
"Tidak muat..."
Bahkan didalan tasnya terdapat banyak obat-obatan dan peralatan lain, tidak tersedia adanya ruang untuk makanan disana.
Setelah mengambil gulungan perban yang telah ditetesi obat antiseptik, akhirnya Patricia menggulungkan perban itu ke dahi Danny, menutup bekas lukanya tersebut.
Mata biru indah yang begitu peduli, tindakannya yang hangat dan mementingkan orang lain, mirip sekali...
"Lho? kenapa kamu memerhatikanku sebegitunya?" tanyanya setelah menggulungkan beberapa helai perban itu padanya.
"Ah.. tidak..." Ucap Danny sembari melayangkan matanya ke arah yang lain
"Nah, sudah selesai!"
"Ooo..." Danny meraba-raba perban yang kini menutupi dahinya
Perban putih itu menutupi dahinya sekarang.
Patricia memerhatikan Danny secara seksama
"Kau terlihat keren Danny.."
"HAH?!"
Danny terlihat kaget karena mendengar pujian darinya
"Itukan pendapatku..." ucap Patricia sambil tersenyum
"Te..terima kasih atas bantuanmu..." ujar Danny
"Ah.. tidak bukan apa-apa..." katanya sambil mengibas-ngibaskan tangannya
"Itukah kemampuanmu?"
"Kemampuanku?" Gadis itu melihat pada seruling bambu yang nampak kokoh itu
"Ah, iya kau bisa bilang begitu..." lanjutnya
"Hebat sekali..."
"Ah..tidak juga kok haha..."
"Selanjutnya bagaimana?" tanya gadis itu
"Aku akan melanjutkan perjalananku..." Danny berdiri bersiap-siap memulai perjalanannya kembali
"Apakah aku boleh ikut?"
"..."
"HAH?!"
__ADS_1