Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 461: Heh Ini Belum Berakhir


__ADS_3

“Haaah... haaah....”


“Brock! Dua orang tadi larinya cepat sekali!” Vincent terengah-engah berlari sekuat tenaganya, gerakannya lemas yang berarti apa yang dikatakan benar adanya, saking lelah sampai-sampai ia ingin istirahat tidur saja.


“Kita yang terlalu lambat,” timpal Brock yang juga kondisinya tidak jauh berbeda dari Vincent, namun sorot matanya menandakan ia tidak akan berhenti apapun yang ada di depannya.


Pria besar itu tidak memedulikan bagaimana kondisinya sendiri dan tetap semangat tidak peduli apa yang terjadi.


“Pyuh!” Vincent mengibaskan rambut panjangnya dengan segala keringat yang ada dengan adegan yang diperlambat, ia berharap terlihat seperti seorang pria tampan yang memesona banyak wanita, yang pada kenyataannya tidak ada satupun di sini.


Pertarungan yang terjadi sebelumnya-lah yang membuat kondisi Vincent dan Brock jadi menurun cukup hebat.


Meski mereka telah menjalani latihan yang lama dan keras sebelumnya, namun pada praktek lapangannya, mereka hanyalah manusia biasa dengan segala keterbatasan yang ada, jadi kekuatan hasil latihan itu harus tertahan di batas itu.


Melawan iblis dengan kekuatannya yang besar itu membuat mereka makin sadar dengan kemampuan yang mereka miliki, dan orang yang berpikir jernih pasti tahu apa yang harus setelah ini.


Lari dari pertempuran dan mencari tempat aman? Pikiran seperti itu tidak terbesit sama sekali di benak Brock, dan juga Vincent.


Maksudnya Brock dengan segala kesadarannya tetap mau untuk berlari ke arah tempat pertarungan, dan Vincent juga sama, meski tidak sebesar tekad Brock.


Tapi itu tak apa, Vincent tetap memegang pendiriannya di tengah kepribadiannya yang santai seperti ini, ia tidak ambil pusing dengan apa yang sudah terjadi dan yang akan terjadi.


Lagipula dorongannya jadi pribadi yang kuat sebelumnya masih ada, aura keseriusan tidak hilang pada pria berambut sebahu ini.


Modal itulah yang membuat Vincent dan Brock berlari dengan semua kekuatan yang mereka miliki. Memenuhi panggilan mereka sebagai seorang yang memegang teguh tujuan hidupnya yang sekarang.


Sret.


“Apa....” Raut wajah Vincent berubah drastis ketika ia melihat kehancuran yang luar biasa ini, terlalu hebat sampai-sampai ia tidak mengenali lagi tempat apa ini.


“....” Sedang pria besar teman Vincent ini terdiam, seolah sudah tahu akan jadi seperti ini.


Zrah....


Suasana pagi indah yang diharapkan orang-orang tidak ada di sini, yang ada hanyalah sesuatu yang tidak ingin diihat.


Kehancuran yang sudah sulit lagi bagaimana menjelaskannya, yang pasti ini membuat ekspresi Vincent tidak karuan.

__ADS_1


“Dimana Danny?!” Suaranya serak dan keras, entah mengapa ia tidak merasakan hawa keberadaan pemuda itu di sekitar sini.


“Kita harus lebih mendekat!” Brock kembali berlari kecil, karena hanya sebatas itu saja kekuatannya yang tersisa, ia tahu dari jarak yang jauh seperti ini masih ada berbagai kemungkinan yang terjadi... termasuk di mana keberadaan Danny saat ini.


*


“.... khhh... Hhhh....” Terlihat gadis berambut panjang coklat, yang tak lain tak bukan adalah Patricia sendiri, tengah menghadang kedua pria besar yang kini sudah tumbang.


Menghadang dalam arti dia saat ini melindungi kedua orang asing yang tiba-tiba datang dan pada akhirnya sudah terpojok seperti ini.


“Haah, bosan... apa kau selanjutnya?” Shea menguap kecil, entah mengapa ia malah berharap lebih dengan kedatangan kedua manusia ini.


Kini ia menatap gadis yang melindungi dua orang itu, ia hanya tertarik dengan kekuatan yang diberikan targetnya itu padanya.


“Nah, nah... apa yang akan kau lakukan sekarang?” Shea berjalan mendekati Patricia yang kini aura merah itu tidak hanya melindunginya saja, melainkan juga, melebar sampai ke sekitaran dua pria besar yang terluka cukup parah ini.


‘Kh... kenapa begini? Kenapa aku tidak bisa berbuat apapun....’ Gadis itu mengerang dalam batinnya sendiri, tidak menyangka ia tidak punya kekuatan untuk membantu temannya sendiri.


‘Aku tidak bisa merasakan hawa keberadaannya....’ Patricia menyadari ini dari tadi, yang ada malah kini ada dua pria asing yang datang ke pertarungan ini.


‘Mereka berdua bukan musuh, aku harus melindunginya!’ Sadar ia tidak bisa melakukan apapun, kini Patricia kembali menguatkan tekadnya, ia tidak mau membiarkan musuhnya ini dengan mudah melakukan sesuatu!


Namun Patricia sadar, ia tidak mungkin bisa menemukan jawabannya di sini, mengingat kini musuh sudah semakin mendesak dan bisa melakukan apa saja pada yang lemah.


‘Apa yang bisa kulakukan?!’


Tidak ada waktu untuk memikirkan rasa penasaran ini, Patricia tidak tahu apa yang akan terjadi, namun pada akhirnya ia masih mengangkat kepalanya dengan perlahan.


“Kau... tidak akan bisa menemukannya,” ujar Patricia dengan sangat pelan dan tidak terdengar jelas, mengeluarkan kekuatan untuk bicara pun sudah cukup sulit.


Namun suara sekecil itu masih bisa terdengar jelas oleh sang setengah elf ini, mengingat indra yang dimilikinya tidak biasa adanya.


“Hm? Kau sombong dengan kekuatan pinjaman ini ya?” Shea sedikit tersenyum, ia senang akan sikap kuat yang ditunjukkan seperti ini, hanya untuk menyembunyikan kerapuhannya.


Dan itu ada baiknya juga sih, karena akan membosankan bilamana gadis ini merengek dan meminta pengampunan, yang jika itu terjadi sang setengah elf ini tidak akan segan-segan melakukan kebalikannya.


‘Dia... mengulur waktu....?’ Patricia masih bisa melihat musuhnya, meski samar-samar. Ia heran karena musuhnya itu belum juga mengakhiri semuanya.

__ADS_1


Padahal sangat mudah baginya melakukannya, dan setelah itu dia bisa melanjutkan kembali misinya, begitulah menurut gadis muda ini sekarang, yang di mana kemungkinan terburuk inilah yang sedang dipikirkannya.


Karena memang di situasi seperti ini, rasanya sangat sulit percaya pada api harapan, karena itulah Patricia berpikir seperti ini.


Terlalu melihat kenyataan yang sebenarnya dan tidak mampu lagi melihat hal lain. Patricia sadar memang dia masih lemah dan tidak mampu diandalkan di situasi yang dibutuhkan.


Namun temannya tidak sekedar pergi saja, melainkan memberinya kekuatan besar yang bisa membuatnya bertahan sampai sejauh ini.


‘Jika saja bukan karena kekuatan ini....’ Patricia yang kondisinya sudah lemah ini sudah pasti tidak bisa sampai di titik ini, semuanya karena pertolongan temannya.


‘Aku... tidak bisa melakukan apapun... aku tidak bisa membantunya sampai saat terakhir....’


‘Sesak....’ Patricia menyentuh dadanya, terasa sesak dan menyakitkan, bahkan lebih dari yang seluruh tubuhnya alami.


Gadis itu lebih terluka pada hatinya ketimbang luka fisik yang sekarang dialaminya, membuat semua yang dirasakannya tidak membaik sama sekali.


“Oh?”Shea sadar akan hal ini, apakah keputusasaan ini baru saja dimulai?


DEG!


‘Tidak... bukan seperti ini....’


‘Danny memberiku kekuatan bukan untuk seperti ini....’


‘Bukan untuk berakhir memalukan....’


‘Tapi untuk mengakhirinya dengan bagus!’


Patricia mendapatkan semangatnya kembali, ia sadar akan tujuan rekannya memberi kekuatan padanya bukan untuk kalah dengan biasa.


Tapi untuk memperjuangkannya sampai akhir!


Alis gadis itu menurun tajam dan sorot matanya memancarkan kekuatan, seketika itu juga lingkaran sihir biru kemerahan tercipta, membuat Shea makin tertarik melihat apa yang terjadi.


“APA LAGI YANG KAU PUNYA?! TUNJUKKAN!” Shea begitu puas melihat lawannya masih saja berjuang meski tak ada kesempatan sekalipun.


“Sihir Angin: RAJAWALI!!”

__ADS_1


BLAR!


Seketika itu juga muncullah burung besar bersinar biru terang yang keluar dari lingkaran sihir itu, menabrak sang setengah elf itu dengan keras.


__ADS_2