Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 380: Aku Berada Dipihakmu


__ADS_3

"Apa ini hanya alasan ini yang kau percayakan padaku untuk kuketahui?" Danny menagih pada Feyra untuk mengungkapkan siapa sebenarnya sosok asli dibalik penampilannya yang seperti ini.


"Kau akan tahu jika sudah saatnya tiba." Feyra menjulurkan tangan robot hitam beraura hitam juga, kemudian menunjukkan sesuatu dalam genggaman tangannya.


"Ini kukembalikan benda milikmu." Benar saja Feyra menyerahkan batu permata mulia kecepatan yang berkilau berwarna kuning itu, sebuah alasannya untuk mengejarnya dan juga sebagai perantara di mana akhirnya Danny bisa mengetahui alasan dibalik Feyra melakukan semua itu di masa lalu.


Danny kini tahu ternyata memang Feyra, nama asli dari pemimpin kelompok Dari Shadow memang hanya berniat untuk hanya mengajaknya bicara saja, tidak lebih dari itu, dan tidak pula terjadi hal yang Danny khawatirkan.


"Jika aku manusia biasa aku tidak akan selamat dari amarahmu itu." Feyra ternyata sedikit mengeluh karena memang perkataannya dari awal tidak dipercayai oleh pemuda ini, padahal memang tinggal percaya apakah sesulit itu?


"Maafkan aku karena telah berburuk sangka padamu Feyra meskipun akan lebih baik jika aku mengetahui sosokmu yang sebenarnya, namun melihat kau ternyata punya kebaikan dalam dirinya setidaknya itu adalah hal harus dilihat orang lain."


Makhluk hitam itu terdiam, ia melihat bahwa pemuda ini berkata suatu hal yang mendukungnya, yang memang ia sedang membutuhkan ya saat ini.


"Akan kupastikan orang-orang tidak akan salah paham lagi padamu, terutama Tuan Arthur, apapun yang terjadi kau bisa percaya padaku." Danny berkata dengan sangat serius, sejujurnya ia memang masih mengetahui kebenaran yang mengejutkan ini dan sesuatu yang sudah salah arah ini harus diluruskan agar tidak menjadi kebenaran yang tidak benar.


"Apakah aku bisa percaya pada anak muda sepertimu? Kita lihat nanti, Danny semoga kau bisa mengatasi akan apa yang terjadi di depanmu dan ingatlah, aku selalu memgawasimu."


Setelah Feyra mengatakan hal itu, perlahan namun pasti tubuh robotnya itu perlahan menjadi bayangan hitam dan kemudian menghilang layaknya asap di tengah angin yang berhembus siang ini.


Danny yang kini sudah menggenggam batu permata mulia kecepatan yang adalah tujuannya berlatih selama ini pada akhirnya ia layak untuk menerima kekuatan ini.

__ADS_1


Danny memejamkan matanya, memfokuskan pikirannya dan kini ia menggenggam erat batu pertama mulia kecepatan itu dan seketika itu juga muncullah cahaya kuning terang yang keluar dari genggamannya itu.


"Ini tidak akan sakit, seharusnya." Danny pikir setiap kali ia menerima kekuatan baru dari batu ras demi human ini, ia harus merasakan kesakitan yang luar biasa.


Sriiiinggg!!!


Cahaya kuning itu makin lama makin terang dan bahkan sampai membuat Danny tidak bisa melihat apa-apa, terlalu silau untuk melihat apa yang terjadi saat ini.


Setelah beberapa saat berlalu, cahaya kuning itu mulai menghilang dan kini Danny membuka matanya kembali perlahan hendak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi tadi.


Ia membuka genggaman tangannya, dan dilihatnya tidak ada batu yang tadi digenggamnya, itu berarti batu permata mulia kecepatan sudah benar-benar masuk ke dalam dirinya untuk sementara, sebuah tempat tersembunyi yang aman untuk batu permata mulia.


"Haaah!" Danny yang tadinya berpikir akan menderita kesakitan sama seperti yang dialaminya ketika pertama kali memegang batu permata mulia fisik dan juga batu permata mulia daya tahan.


Kini Danny merasakan sudah bersahabat dengan ketiga batu permata mulia yang ada di dalam tubuhnya itu, memang ia belum bisa serta merta menggunakan dua kekuatan besar ini secara sekaligus, namun setidaknya ia mulai merasa bisa untuk mengendalikan kekuatan ini, dan kemungkinannya untuk berakhir dengan cara tidak kuat menahan kekuatan ini pun menurun drastis.


Danny kemudian melihat lubang yang telah dibuatnya sendiri, sebuah serangan yang tidak tanggung-tanggung, karena kemarahannya itu kekuatannya pun ikut menyesuaikan dan karena hal itu terciptalah pemandangan yang seperti ini.


"Tuan Housen tidak sering melihat sekeliling pulau 'kan? Apalagi di tempat seperti ini?" Danny malah khawatir dengan apa yang telah diperbuatnya itu, ia sudah membuat lubang di mana membuat pemadangan menjadi kurang bagus.


Danny memfokuskan dirinya ia hendak mencoba kekuatan yang baru masuk ke dalam tubuhnya itu, kini kita akan lihat seberapa jauh Danny berkembang dalam kekuatan kecepatan batu permata mulia ini.

__ADS_1


Aura kuning mulai melingkupi tubuh Danny, perlahan namun pasti mata Danny yang tadinya hitam perlahan menjadi menguning, mirip seperti mata kucing dan ini adalah perubahan sempurnanya ketika ia benar-benar menguasai kekuatan ini.


***


Hari sudah mulai beranjak sore, waktu yang tidak terasa terus berjalan Patricia, Brock, dan Vincent yang sudah mengakhiri sesi latihannya secara lebih awal itu menunggu di dekat rumah besar Tuan Housen, dan pula beliau pun terlihat menunggu bersama mereka di sana.


Sebelumnya mereka di hampiri oleh Tuan Housen yang kemudian memutuskan untuk mengakhiri sesi latihan dan menyuruh mereka untuk kembali berkumpul di rumah.


Dengan alasan yang tidak begitu dijabarkan dengan detil, kini ketiga orang ini masih bingung mengapa gurunya itu terlihat bersikap tidak seperti biasanya.


"Apakah benar sedang ada hal yang tidak baik terjadi Tuan?" Patricia menduga akan apa yang telah diperintahkan gurunya adalah memang karena ada suatu hal, dan tentunya jika hal yang baik terjadi latihan mereka tidak akan diakhiri secepat ini.


Brock dan Vincent sama herannya, mereka berdua tidak benar-benar tahu apa alasan guru mereka bersikap seperti itu, yang juga ini merupakan kali pertama latihan mereka dihentikan seperti ini.


"Jika ada sesuatu Tuan boleh bercerita pada kami." Vincent mendekati Tuan Housen yang memang hanya sedang menatap ke arah pehohonan luas itu, Patricia yang sudah berusaha untuk berbicara dengannya itu tidak digubris, dan ini membuat semuanya menjadi tidak jelas adanya.


"Latihan kalian sudah selesai, selamat." Tuan Housen kemudian mengalihkan pandangannya dari area pepohonan luas itu dan memandang ke arah ketiga muridnya yang berekspresi tidak percaya itu.


"Benarkah?!" Patricia terkejut dengan apa yang dikatakan oleh gurunya itu, tidakkah ini adalah berita yang menyenangkan karena memang ia dan teman-temannya sudah berhasil melalui semua latihan yang dijalaninya selama ini?


Vincent mengibaskan rambu sebahunya itu. "Huh, sepertinya kita memang perbedaan kekuatan kita dan Danny tidak terlalu jauh, dia tidak akan terlalu menarik pesona gadis sekarang, kini ini waktunya aku bersinar!"

__ADS_1


Dan untuk sekali lagi Vincent merasa ia sudah berkembang dengan baik, dengan begini kepercayaan dirinya juga meningkat mengingat sebelumnya memang menurun karena melihat pesona temannya yang terlalu tinggi itu.


"Aku hebat benarkan Patricia?!"


__ADS_2