Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 163: Mengambil Risiko


__ADS_3

Para anggota dari Alliance Fight's bertatapan satu sama lain, mereka sedikit heran karena mendengar pemimpinnya itu meminta pendapat untuk pertama kalinya pada mereka.


Memang karena dulunya mereka dengan selalu setuju dengan apa yang menurut pemimpinnya baik, hal ini membuat mereka sedikit keheranan.


Salah satu dari mereka berkata padanya. "Kami akan mengikuti keputusan Tuan Kibo ...."


Namun Kibo menggelengkan kepalanya, ternyata para anggotanya ini masih belum memahami apa yang dimaksudnya.


"Bukan begitu, aku hanya meminta pendapat kalian. Kali ini keputusan berada di antara kalian masing-masing, kita ambil suara terbanyak."


"Apakah kalian mau melanjutkan perjalanan ini dan memilih jalan berbahaya demi mengikuti kompetisi atau berhenti saja di sini, dan tidak mengambil risiko?"


"Aku akan memungut suara terbanyak, bagi kalian yang ingin melanjutkan perjalanan ini, silahkan angkat tangan kanan kalian ke atas, dan bagi yang tidak mau mengambil risiko yang berbahaya dan berhenti di sini, angkat tangan kiri kalian ke atas. Mengerti?"


Kibo membuat sebuah pemilihan suara di antara mereka semua, ia ingin mengetahui bagaimana pendapat mereka semua tentang persoalan pemilihan keputusan yang akan mereka ambil itu.


Para anggota terdiam, nampaknya mereka sedang memikirkan apa yang akan mereka pilih, tetap lanjut atau berhenti di sini.


Kibo nampaknya sekarang bersikap netral, ia tidak akan memaksakan keinginannya untuk tetap melanjutkan perjalanan ini, ia sadar kali ini memaksakan risiko hanya akan membuat pikirannya terbebani pula. Kini ia menyerahkan keputusan pada masing-masing dari mereka.


Suasana hening terasa, sinar matahari mulai meredup menandakan sore hari telah tiba, awan yang berada di langin serasa berwarna kekuningan kali ini.


Beberapa saat kemudian, satu persatu dari anggota Alliance Fight's mulai mengangkat tangannya, Kibo mulai memperhatikan begitupula dengan orang-orang desa ini.


Setelah dihitung-hitung, ternyata ada sebanyak— tunggu sebentar! Mereka semua mengangkat tangan kanan mereka!.


Kibo hanya bisa terdiam melihat hal ini, ia sama sekali tidak menyangka bahwa ketiga puluh orang anggotanya secara kompak bisa memiliki pilihan yang sama.

__ADS_1


Padahal di antara mereka tidak ada yang berusaha untuk berbuat curang seperti memaksa seorang yang lain untuk mengangkat tangannya, pilihan yang mereka buat itu murni keputusannya sendiri.


Keputusan mereka sejalan dengan rencana yang telah di sepakati sebelumnya, tidak peduli apa yang sebenarnya mereka dengar saat ini.


"A-apa kalian serius?" Kibo masih belum mempercayai keputusan yang diambil oleh anggotanya itu, ia mencoba memikirkan kembali mengapa hasil voting yang ia lakukan menghasilkan hasil yang tidak sama sekali ia duga.


Salah satu dari pria besar itu berkata pada Kibo, "Ini adalah keputusan kami Tuan ...."


Kemudian masing-masing dari mereka berkata.


"Ya benar Tuan! Ini adalah keputusan kami!"


"Kami ingin terus melanjutkan perjalanan ini apapun yang terjadi!"


"Ayo menangkan kompetisi itu!"


"Kita akan wujudkan impian kita bersama-sama!"


Terdengar keriuhan yang saling bersahut-sahutan di sana, mereka benar-benar semangat ingin terus melanjutkan rencana awal mereka.


Reaksi yang ditunjukkan oleh para anggota Alliance Fight's itu diluar perkiraan Kibo, ia tidak menyangka mereka sampai sebegitu inginnya meneruskan rencana mereka itu.


Kini perlahan keraguannya pun sirna, keputusan telah jelas terlihat dan telah benar-benar di pilih saat ini.


Kibo menoleh ke arah orang-orang desa itu sambil tersenyum penuh keyakinan. "Kami akan ambil jalan kedua!"


Orang-orang desa sedikit terkejut akan keputusan para petualang yang ada di hadapannya itu.

__ADS_1


Mereka sendiri telah mengingatkan akan bahaya yang menanti bila memakai jalur kedua itu, namun mereka juga tidak melihat keraguan dari para petualang itu.


Sang Kakek Kepala Desa hanya bisa tersenyum melihat tekad yang besar dari para petualang itu, ia kemudian menatap sang Bapak brewok sebagai tanda ia mengatakan 'tolong jelaskan lebih lanjut mengenai jalur kedua itu pada mereka'.


Sang Bapak yang mengerti maksud dari tatapan Kakek Kepala Desa akhirnya mulai menjelaskan lebih lanjut tentang jalan kedua itu.


"Tuan-tuan akan meneruskan jalan ke luar desa dan mulai memasuki area hutan, setelah berjalan beberapa saat akan ada dua cabang, satu menuju sebuah jalan setapak yang beralaskan tanah dan cahaya matahari bisa bersinar di sana, dan satu lagi di sebelah kiri bersebelahan dengan jalan yang telah saya sebutkan tadi, di sana masih banyak rerimbunan tangkai pohon yang masih menghalangi, namun dibalik rerimbunan pohon dan dahan yang menutupi, di sanalah akan ada jalan setapak yang akan menuntun Tuan-tuan sekalian agar bisa sampai ke dekat pusat kerajaan barat."


Penjelasan yang diberikan sang Bapak cukup jelas, Kibo mulai mengerti akan arahan yang diberikan Bapak desa brewokan itu.


"Namun kondisi di jalan sebelah kiri itu penuh dengan banyak pepohonan, daun, dan akar yang menjalar yang bisa menghambat Tuan-tuan semua, dan lagi sinar matahari susah untuk sampai ke tempat itu," ujar Bapak itu kembali menjelaskan.


Kibo sedikit merasa keberatan dengan semua ini, namun pada kenyataannya jalur kedua itu memang adalah satu-satunya cara agar mereka bisa sampai ke dekat pusat kota kerajaan barat, meskipun harus mengetahui begitu sulitnya untuk berjalan di jalur itu.


Kibo mengangguk-angguk, hari sudah mulai sore dan sinar matahari sudah redup, pasti akan lebih sulit lagi bila melewati jalan tersebut di malam hari jika memang benar di saat matahari bersinar pun cahaya matahari tidak sampai ke sana.


"Kami akan mengambil risiko itu, karena itu adalah satu-satunya cara agar kami bisa lebih cepat sampai ke dekat pusat kerajaan barat," ujar Kibo, kali ini ia menginstruksikan agar seluruh anggotanya menyiapkan dirinya dan seluruh kudanya, segera bersiap-siap untuk memulai perjalanan mereka kembali.


Kibo tahu bahwa tidak mungkin baginya untuk mengendarai kuda di jalan setapak yang penuh halangan itu, yang pasti mereka semua harus menuntun kuda mereka masing-masing sebelum akhirnya mereka sampai di tempat yang agak besar agar bisa kembali mengendarai kuda supaya bisa lebih cepat tentunya.


Beberapa saat kemudian akhirnya persiapan mereka telah selesai, mereka berpamitan dengan orang-orang desa itu, dan akhirnya mereka memulai kembali perjalanannya.


Mereka kembali menyusuri area pepohonan yang rindang, jalan setapak yang mengarahkan mereka ke dua cabang jalan yang telah mereka dengar sebelumnya.


Dan benar saja setelah beberapa saat berjalan mereka menemui dua jalan yang berbeda.


Satu di sebelah kanan adalah jalan setapak tanah yang diterangi dengan cahaya matahari sore, sedangkan disebelah kiri mereka hanyalah ada rerumputan besar dan akar yang menutupi arah jalan itu, malah tidak terlihat seperti jalan bagi mereka.

__ADS_1


"Kita akan mengambil jalan kiri, pastikan kalian menyingkirkan setiap halangan yang ada di depan!" perintah Kibo pada seluruh anggotanya.


"Siap!"


__ADS_2