Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 482: Terbuka


__ADS_3

Sementara itu, di area padang gurun asli, terlihat para ksatria suci sedang berkumpul.


Arthur duduk di bawah, sementara Hellen fokus memulihkannya, Jessica dan Worther berdiri berjaga, melihat situasi yang sedari tadi tidak berubah.


“Sampai berapa lama lagi kita menunggu?” Worther terlihat bosan, sudah beberapa lama ia hanya menatap hamparan padang pasir saja.


“....” Arthur terdiam, anggota ksatria suci yang lain pun tidak ada yang menanggapi.


Kenyataan bahwa pemuda dan iblis itu menghilang adalah hal yang tidak terduga.


‘Danny....’ Arthur terdiam, ia tidak menyangka pemuda itu begitu bersikeras melawannya. Dan sekarang malah menghilang dengan musuhnya.


“Sudah beberapa lama, kh... haah... sejak aku bertemu dengannya.” Arthur mengambil nafas disela perkataan singkatnya, yang menandakan kondisinya belum pulih sepenuhnya.


“Bocah tadi pernah bertarung denganmu?” Worther memulai percakapan demi mengusir kebosanannya.


“Hm.” Arthur mengangguk kecil, ekspresinya tidak seganas sebelumnya, meski tekadnya untuk membalas temannya masih kuat.


“Aku datang terlambat waktu itu.” Worther jadi penasaran akan bagaimana pertarungan Arthur dan bocah itu dahulu.


“Jangan bilang dia mengalahkanmu juga.” Jessica menatap Arthur dengan serius, ia belum percaya ketua kelompok ksatria suci malah kalah dengan bocah tadi.


Tapi inilah kenyataannya. Arthur terdiam namun tidak tersinggung dengan perkataan rekannya, ia menerima akhir pertarungan ini apa adanya.


“Jadi?” Jessica tidak suka ketika ada rekannya yang menyembunyikan sesuatu.


Setelah melihat pertarungan yang sebelumnya terjadi, tentu saja membuat anggota ksatria suci ini penasaran ada hubungan apa ia dengan pemuda tadi.


“Arthur tidak kalah, aku sendiri yang melihatnya.” Worther menjawab tegas pertanyaan Jessica. Ia sendiri masih ingat akan bagaimana Arthur dalam kondisi yang baik-baik saja setelah ia mengecek keberadaannya.


Worther pertama kali tahu tentang pemuda ini dari misi pencarian Arthur yang dilakukannya dulu, Jika Arthur kalah oleh pemuda itu tentu keadaannya tidak akan baik-baik saja.


“Hm.” Jessica tidak lagi mengatakan apapun, pengakuan dari orang lain adalah bukti kuat dibanding mengakui sendiri.


Tentu saja pertanyaan tidak berhenti di sini, mengapa dulu Arthur bisa mengalahkan pemuda itu namun malah sekarang yang terjadi adalah sebaliknya?


Tidak ada kesimpulan yang lebih jelas selain bahwa pemuda bernama Danny itu memang bertambah kuat.


Mengapa ada orang biasa yang bisa menandingi kemampuan seorang ksatria suci? Tentulah ini jadi pertanyaan besar di antara Worther, Jessica dan juga Hellen.


Arthur menatap ke langit, ia belum pernah menceritakan siapa pemuda bernama Danny itu pada mereka bertiga, dan sepertinya ini adalah saat yang tepat.


“Dia terlihat seperti bocah, tapi kekuatannya berasal dari lelehur demi human.” Arthur yakin ketiga rekannya ini sudah tahu garis besarnya, mengingat aura kekuatan pemuda itu sudah mereka ketahui.


Tidak ada rahasia yang tersembunyi dari pemuda bernama Danny itu sekarang, kekuatannya memang di luar nalar dan bahkan bisa membuat Arthur jadi seperti sekarang.


Meski rekan-rekannya sudah tahu akan kekuatan pemuda bernama Danny itu, namun Arthur masih tetap ingin menceritakannya lebih lanjut.


Beberapa saat ke depan Arthur menceritakan secara padat dan jelas mengenai pemuda bernama Danny itu. Ketiga rekannya mendengarkan dengan seksama.


“Yah, sepertinya kau tidak membual soal dia hidup lagi.” Worther jadi lebih tahu mengenai pemuda bernama Danny ini. Melihat kenyataan manusia biasa seperti dia mengeluarkan kekuatan yang besar memang sulit dipercayai namun nyata adanya.

__ADS_1


Apa bedanya dengan pernyataan Arthur di awal tadi yang menegaskan pemuda itu sudah mati dan malah hidup lagi? Suli dipercayai tentunya.


“....” Hellen terdiam, ia sedari tadi fokus mengarahkan tangannya ke tubuh Arthur, aura hijau terang bersinar dari tangannya.


Ekspresinya tidak terlihat baik-baik saja, pada akhirnya Hellen hanya diam dan fokus melakukan apa yang jadi tujuannya saja.


Sihir pemulihan bekerja lambat pada Arthur, meski begitu Hellen tetap dengan sabar mengerahkan apa yang ia bisa agar rekannya kembali pulih.


Arthur biasanya bisa pulih dengan cepat, namun kali ini entah mengapa lukanya lambat pulih. Hellen duga ada hal yang menyebabkan ini terjadi.


Yang tak lain tak bukan adalah beban yang telah ia keluarkan tidaklah main-main. Arthur serius dalam menghadapi anak muda tadi, yang pada akhirnya keseriusannya itu tidak berbuah manis.


Kekuatan Arthur sudah keluar terlalu banyak, yang pada akhirnya membuat pemulihannya jadi berjalan lambat, namun syukurlah musuhnya undur dari tempat ini.


Hellen tidak tahu apa yang terjadi bilamana Arthur terus melanjutkan pertarungan ini, karena kondisinya saja sudah begini. Ia bukannya meremehkan kekuatan rekannya sendiri, ia mengenal sang ksatria suci itu dari dulu.


Seorang pria yang diberkahi dengan kekuatan besar nan hebat, yang pada akhirnya menjadikan dirinya panutan bagi orang banyak, tidak hanya di tempat asalnya sendiri, namun juga bagi seluruh dataran Hello.


Pengalaman demi pengalaman dijalaninya, beragam teknik bertarung, berpedang, menghadapi berbagai macam musuh. Semuanya berperan penting yang menjadikan Arthur seperti sekarang.


Namun ketika dia harus kalah dengan pemuda berkekuatan aneh itu, maka itu bukanlah masalah. Hellen tahu ada maksud baik dibalik kekalahan rekannya ini.


Arthur adalah tipe orang yang begitu berambisi dan akan melakukan apapun agar tujuannya tercapai, tidak peduli apapun rintangan dan halangan, ia akan terus menerobos selama ia masih mampu.


Ketika ia gagal bukan berarti dia lemah dan tidak lagi sama seperti dulu, melainkan memang itu pertanda suatu hal di sini.


Dengan meredanya Arthur yang berapi-api, maka itu adalah waktu agar dia bisa berpikir baik-baik dan kembali merenung akan apa yang sedang dilakukannya, yang tidak mungkin ia lakukan saat melakukan urusannya.


“Dia pasti punya alasan yang jelas.” Hellen melanjutkan perkataannya, ia mengatakan apa yang ada dalam hatinya sendiri.


Dari perkataannya memang ia terdengar memihak pemuda tadi dibanding rekannya sendiri. Tentu ini membuat Worther dan Jessica jadi memperhatikan kemana arah obrolan ini.


“....” Arthur terdiam mendengar perkataan rekannya, ia mulai membuka hatinya dan tidak lagi membiarkan ambisi mengusai dirinya. Beberapa saat kedepan suasana hening dan tenang, membuat Arthur bisa melihat ke dalam hatinya sendiri.


Pertemuan yang tidak terduga ini harus berakhir dengan perbedaan pendapat dan tidak menguntungkan siapapun, malahan musuh mereka, iblis yang diuntungkan karena kejadian ini.


Danny tidak akan bersikeras menghalangi jalannya jikalau dia tidak punya alasan jelas. Arthur sadar ia tidak memikirkan ini sebelumnya, yang ia pikirkan hanyalah cara agar menyingkirkan pemuda itu.


Lantas atas alasan apa Danny sebegitu keras menghentikannya? Mengapa ia tidak diam dan menyerahkan urusan ini pada para ksatria suci?


Apakah karena iblis itu berkata hanya punya urusan dengan dia? Apa dia ingin menunjukkan seberapa kuat kekuatannya sekarang ini?


Banyak alasan yang bisa menjelaskan mengapa Danny menghentikan langkahnya, dan alasan yang muncul di kepala sang ksatria suci ini lebih condong ke bagaimana keegoisan Danny melihat hal ini.


Tunggu dulu....


Arthur merasa ada yang salah... jika Danny sebegitu inginnya membuktikan kekuatannya, lantas apa bedanya dengan yang ia lakukan?


Sudah jelas-jelas ia menyerang Danny dan tidak membiarkannya melawan musuh yang jelas-jelas punya urusan dengan dia.


Bagaimana dengan keegoisan dirinya sendiri yang ingin membalaskan dendam temannya itu? Apakah itu berbeda dengan apa yang dilakukan Danny?

__ADS_1


Apa yang dilakukan Danny tidaklah egois, karena dia punya hak berurusan dengan iblis bernama Domer itu, dan jika ia memutuskan untuk mengatasinya sendiri, bukankah ia juga berwenang akan hal itu?


“....” Arthur makin sadar dengan hal ini, pada akhirnya ia yang hanya memakai alasan ‘membalas dendam’ tidaklah cukup untuk membuatnya bisa melawan iblis itu juga dan bertindak seenaknya. Sederhananya ia hanya termakan oleh omongan makhluk merah itu saja.


“Kau benar, Danny tidak salah.” Setelah beberapa saat merenung, Arthur akhirnya sampai pada kesimpulan ini.


Ia tidak bisa seenaknya bertindak sesuai emosinya sendiri dan melakukan apa yang ia anggap benar, pada akhirnya ada sisi lain yang harus dilihat tiap kali ada suatu hal terjadi.


Hellen terdiam, ia tidak menyangka juga Arthur akan sadar secepat ini, mungkinkah pertarungan tadi memang benar-benar membuka pandangan baru pada hatinya itu?


“Kau lupa akan bagaimana Thor berkorban untuk kita? Aku bisa saja menyingkirkan pemuda itu jikalau kau mau.” Nada Worther naik ke atas yang menandakan ia bertentangan dengan pendapat Hellen.


Bagaimanapun juga apa yang dilakukan Arthur adalah untuk rekannya sendiri, dan tidak ada yang salah dengan hal itu. Worther mendukung penuh pembalasan untuk iblis itu demi rekannya yang sudah tiada.


“Hah....” Sementara itu Jessica hanya menghela nafas, ia tidak berpihak pada siapapun sekarang, netral.


Pada kenyataannya setiap anggota ksatria suci punya pendapatnya masing-masing, meski Arthur adalah pemimpin, namun tidak semua pandangannya benar menurut rekannya yang lain.


Yang dalam hal ini Worther dan Hellen punya pendapat yang berbeda. Arthur tidak keberatan jikalau ada orang yang sepemahaman dengannya, malahan itu bagus.


Tapi untuk sekarang....


“Terima kasih pembelaanmu Worther, tapi aku sadar akulah yang salah.” Arthur merasa tidak sendiri ketika rekannya itu mendukung rencananya, namun pada kenyataannya itu bukanlah pemikiran yang benar.


Meski Worther bisa bergabung menghadapi Danny, tapi untuk apa? Jikalau ia menang apakah mereka berdua bisa membalaskan dendam teman mereka?


Percaya diri memanglah baik, namun pada saat yang tepat.


Arthur sadar akan hal ini, ia terlalu percaya diri bahkan ketika apa yang dilakukannya salah, ini sungguhlah tidak mencerminkan sosok pemimpin yang patut diteladani.


“Aku sungguh ingin membuat iblis itu menerima akibatnya... tapi lihat sekarang, aku jatuh karena ulahku sendiri.” Arthur tidak berharap Worther akan menerima pendapat barunya, namun setidaknya ia kembali belajar melihat hal dari sisi lain.


Jika ia tidak terbawa emosi dan memilih untuk melihat kembali situasi, tentu Danny juga tidak akan langsung menghentikannya. Pasti ada jalan yang lebih baik yang bisa diambil saat itu.


Yang sayangnya waktu tidak bisa diputar kembali, jadi seberapa banyak menyesal pun tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi.


Worther terdiam, ekspresinya jadi lebih tenang sekarang. Tadinya ia mengira Arthur malah kehilangan tujuannya dan tidak peduli akan rekan yang sudah mendahuluinya, namun ternyata tidak seperti itu.


Perjuangan Arthur untuk membuktikan tekadnya sudah terlihat jelas di sini, jadi jika sekarang dia berubah pikiran, maka tentunya itu bukan karena plin-plan, melainkan karena sesuatu yang lebih serius.


“Thor pasti tidak mau kita berselisih seperti ini.” Arthur kini mulai bisa menggerakan badannya dan tidak terasa berat seperti sebelumnya.


Sihir pemulihan Hellen memang hebat, setelah beberapa saat kemudian, Arthur perlahan berdiri, masih sembari dibantu Hellen.


Bagaimana jika ada alasan tersembunyi yang tidak sempat diungkapkan Danny?


Arthur malah terpikir akan kemungkinan ini, meski terkesan kecil kemungkinannya, namun tidak mustahil adanya.


Bagaimana jika pemuda itu bertarung karena alasan yang sama, demi Thor?


“Baiklah, sekarang kita tahu pemuda itu bukanlah musuh, lantas apa yang akan kita lakukan dengannya?” Worther menatap tajam ke samping, karena tak jauh dari tempat mereka berdiri, ada makhluk hitam bermata merah yang sedari tadi mengamati mereka.

__ADS_1


“Ah, yo.” Makhluk hitam itu malah mengacungkan tangan kanannya, seperti pose orang saling menyapa saja.


__ADS_2