Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 522: Percaya


__ADS_3

Masa mau membiarkan musuh berada di atas angin terus? Kalau begitu bisa bosan bukan?


Ah, maksudnya tentu saja membuat posisi mereka tergerus dan terus tertekan dan bahkan bukan tidak mungkin sang setengah elf itu bisa mengakhiri pertarungan dengan cepat.


Tidak mungkin Raven terus membiarkan lawannya keenakan seperti itu.


Karena itulah mau bagaimanapun ia harus melakukan hal ini juga.


Tanpa persetujuan atau apapun, semuanya demi mencegah lawannya mengakhiri pertarungan dengan cepat.


Dan di sisi lain juga ada kemungkinan kekuatan gelap gagal ter-transfer, yang itu seperti yang dikatakan, Danny tidak bisa menerima kekuatan gelap itu.


Apakah artinya? Sederhana saja, kekuatan gelap tidak bereaksi apapun dan Danny tidak bisa memanfaatkan kekuatan yang ditransfer itu.


Kemungkinan seperti itu paling bisa terjadi.


Energi sihir Danny menolak energi yang datang sebagai bentuk pertahanan diri.


Raven pada awalnya tidak berharap banyak cara ini berhasil juga, karena memang belum pernah dilakukan sebelumnya.


Gagal juga masih masuk akal.


Dan yang terjadi adalah yang tidak masuk akal.


Memikirkan ini lama-lama membuat Raven jadi kepikiran juga soal apa yang akan terjadi pada Danny.


Memang sejauh ini ia terlihat baik-baik saja setelah menerima energi gelap, meski kekuatannya tidak sempurna.


Namun itu sudah lebih cukup, karena buktinya kekuatannya sihirnya mulai bisa mengusik lawan.


Dan apakah berhenti di situ?


Terkadang ada hal yang terlihat sederhana namun sebenarnya rumit.


Raven mengakui Danny bukanlah manusia biasa saja, melainkan manusia dengan kekuatan ajaib dari ras lain, atas dasar itu juga ia meneruskan rencananya sebelumnya.


Namun kembali ke awal, kekuatan gelap adalah bukanlah kekuatan sederhana.

__ADS_1


Raven tidak tahu efek pasti yang akan terjadi pada Danny, dan jika ada efeknya maka tentunya tidak bicara soal hal baik.


Raven tahu ia tidak bisa menyepelekan akibat sesudah tindakannya ini, namun terkadang tidak ada pilihan yang benar-benar terbaik.


Tidak ada keputusan yang benar-benar sempurna, dan jika ada tentunya ia tidak akan melakukan ini.


Raven tidak akan merasakan apa yang Danny rasakan, namun ia tahu Danny bukanlah pria loyo yang ingin enak saja.


Konsekuensi memang ada, cepat atau lambat pemuda itu pasti menyadarinya.


'Tadi sepertinya ada kejadian bagus!' Raven ingat akan detik-detik terakhir ia melihat Danny.


'Apa dia berhasil?' Setelah pertunjukan pelepasan aura kekuatan hebat, Raven bisa merasa ada yang berbeda dari pemuda itu.


Selain energi kekuatannya yang meningkat drastis dan juga kekuatan gelapnya yang bereaksi baik, ada hal lain juga yang terasa.


Dari raut wajahnya terlihat keseriusan yang tidak main-main. Memang dari awal juga dia bersikap seperti itu sih.


Namun sekarang lebih pada aura kekuatannya juga yang benar-benar berbeda.


'Apa itu kekuatannya yang sebenarnya?'


Sayangnya saat situasi mulai menarik ia malah harus terhempas seperti ini.


Dan masih seberapa jauh lagi?


'....' Raven malah jadi bosan.


Apakah tidak ada teknik yang bisa digunakannya sekarang? Misalnya teleportasi atau apapun yang bisa membuatnya berhenti terhempas?


Sebenarnya banyak rencana yang ada di kepalanya, namun tidak memungkinkan jika dilakukan sekarang.


Sorot mata merah Raven melihat ke sekitarnya, ada aura alam yang ada disekitaran tubuhnya.


Aura berwarna hijau terang itu mencegahnya melakukan apapun.


Ia ternyata tidak hanya sekedar 'terhempas' melainkan si setengah elf itu juga melakukan sesuatu padanya.

__ADS_1


'Dia mengunci kekuatan dan membuangku.' Raven sadar akan kenyataan ini. Pantas saja ia merasa seperti terbelenggu dan tidak bisa melakukan apapun.


Bahkan yang terlihat seperti hempasan biasa seperti ini malah benar-benar merepotkan juga.


'Kenapa dia tidak menyerangku saja?' Raven terpikir akan hal ini. Dibanding dengan hanya 'menghempaskannya' saja, sang setengah elf itu bisa saja melancarkan teknik yang lebih fatal bukan?


Setelah serangan dadakannya terbaca, bukankah itu saat yang tepat bagi musuhnya untuk membalas?


Raven belum tahu akan mengapa sang setengah elf itu hanya melakukan teknik ini.


Namun pasti ada jawaban dibalik pertanyaan.


Asumsi awalnya adalah Shea bisa saja belum cukup mengumpulkan energi alam, mengingat sebelumnya ia menyerang Danny dengan kekuatan besar juga.


Jadi alih-alih tidak menggunakan kekuatan alam untuk serangan yang besar juga, dia hanya 'menghempaskannya' saja.


'Yah, benar juga dia bisa saja sedang menghemat energi.' Mungkinkah itu alasannya?


Lagipula sang setengah elf itu pasti punya perhitungan sendiri, ia tidak mungkin menyerang tanpa memastikan lawannya benar-benar kalah.


Jikalau ia melakukan serangan balik dengan kekuatan besar sekalipun maka ada kemungkinan makhluk hitam yang bersangkutan bisa bertahan dan sia-sia saja serangannya.


Jadi pilihannya menyingkirkan saja pengganggu dan berurusan dengan target utamanya.


'Boleh juga.' Memang harus diakui kekuatan sang setengah elf itu ternyata lebih merepotkan dari yang dikira.


Padahal Raven sama sekali tidak merencanakan berpisah dengan Danny, setidaknya sebelum tujuan yang diemban ini tercapai.


Namun apa daya, terkadang apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.


'Astaga.' Semakin lama terhempas membuat Raven yakin, apa yang ia lakukan sebelumnya menandai bagiannya sudah selesai.


Ya mau bagaimana lagi? Sekarang ia melayang terhempas tanpa henti dan ditambah lagi tidak bisa melakukan apapun.


Dunia ini adalah dunia buatan lawannya dan Raven tidak punya clue ia akan berakhir di mana.


Jadi itulah mengapa ia tahu bagiannya sudah selesai.

__ADS_1


'Danny... aku percaya padamu.'


*


__ADS_2