
Tanpa di sangka dan tanpa diduga oleh siapapun bagian bawah kaki Kibo tiba-tiba terjepit antara dua celah batu yang lumayan besar, mengakibatkan setiap pria besar yang ada di sana merasa kaget karena teriakan pemimpinnya itu.
"Tu-tuan!"
"Tuan baik-baik saja?"
Kini para pria besar itu masih dibelakangnya, masih belum mengetahui bahwa kaki Kibo bagian kanan sedang tersangkut di antara celah bebatuan yang cukup sempit, namun yang pasti mereka tahu bahwa pemimpinnya itu tidak berada dalam kondisi yang baik.
Sial!
Bahkan seseorang yang telah memberi perintah pada semuanya itu pun tidak luput dari jebakan-jebakan yang berada di area ini.
Kibo melihat pada kaki kanannya itu, ternyata kakinya itu sedikit terperosok di antara celah batu yang agak besar, ia sama sekali tidak menyangka akan ada celah untuk tersangkut di sini.
Ia kira semua area ini rata dan sama tingginya, namun ternyata tidak, dan di sisi lain Kibo pikir memang kejadian ini terjadi karena ia sedikit melamun tadi.
"Hati-hati! Area sekitar sini ada bagian celah di antara dua batu yang dapat membuat kaki kalian tersangkut!" Kibo kembali memberikan peringatan pada semua anggotanya itu, ia tidak ingin yang lain mengalami hal seperti yang ia alami.
Kaki Kibo tersangkut tidak terlalu dalam, namun entah mengapa meskipun tidak dalam, cengkraman antar celah itu seakan tidak mudah untuk bisa dilepas.
Seperti pas dengan ukuran kakinya, bisa kau umpamakan seperti ketika kau berusaha untuk memakai sepatu yang terlihat kecil, namun pada akhirnya bisa dan untuk sesaat dipakai kemudian tanpa diduga kau kesulitan untuk melepaskannya.
Kibo berusaha untuk menarik kaki kanannya kembali ke atas, bahkan dengan sekuat tenaga dibantu oleh kedua tangannya, namun kakinya itu belum juga bisa terlepas dari celah batu itu.
Para anggota yang lain mengerti akan apa yang harus mereka lakukan, mereka meningkatkan kewaspadaan kembali dan segera berupaya agar bisa menyusul pemimpinnya yang ada di depannya itu.
Namun tetap saja dengan perlahan dan tetap memperhatikan jalan, jikalau mereka terburu-buru menyusul pemimpinnya itu maka pastinya akan terjadi hal yang tidak diinginkan.
Kalau begini ....
Kibo berusaha memikirkan bagaimana caranya agar kakinya yang tersangkut itu supaya bisa keluar kembali.
Sudah ia coba berkali-kali menghentakan badannya dengan keras dengan tujuan agar ia bisa lepas dari kedua celah batu yang sempit itu namun pada akhirnya usahanya itu tidak membuahkan hasil.
Para anggota Alliance Fight's telah berhasil menyusul Kibo yang saat ini tengah berjuang keras agar bisa kembali terus berjalan maju, namun saat ini harus terhenti karena kakinya tersangkut.
__ADS_1
Para anggota itu pun mulai melakukan berbagai macam hal untuk membantu tuannya itu, mulai dari membantu memegangi kakinya agar bisa lepas serta membantu menarik badannya, namun semua yang mereka lakukan untuk membantu tuannya itu sama sekali belum membuahkan hasil.
Ba-bagaimana ini?
Bahkan sekarang kakiku terasa sakit ... meskipun aku berusaha untuk mengeluarkan kakiku ini, pada akhirnya hanya menambah rasa sakit yang kurasakan sejak dari tadi kakiku terjebak di sini.
"Hei! Bantu Tuan Kibo! Coba kau pindahkan batu di dekat kaki Tuan, mungkin saja batu itu bisa dicopot!"
"Aku tengah berusaha melakukan hal itu!"
Kibo melihat para sahabatnya itu tengah berupaya keras agar bisa melepaskan kakinya dari celah sempit batu itu. Melihat hal itu membuat dirinya merasa bersalah karena hilang fokus dan pada akhirnya menghambat perjalanan mereka.
Kibo tahu bahwa mereka tidak mungkin melepas batu yang menempel di tanah itu, ia sudah tahu dari awal ini bukanlah batu biasa, area ini adalah area yang unik di mana belum pernah mereka jumpai sebelumnya.
Salah satu dari pria besar itu berupaya mengangkat batu yang menjepit kaki tuannya itu, urat-urat tangannya sampai menonjol sebagai tanda bahwa ia mengerahkan seluruh tenaganya demi membantu tuannya itu.
Kibo menyadari bahwa memang usaha yang tengah pria besar sahabatnya itu lakukan adalah hal yang sia-sia, namun ia tetap menghargai usaha yang tengah dilakukannya dengan tidak menghentikan aksinya itu.
"Sial! Mengapa batu-batu ini tidak mau bergerak?! Ini batu biasa kan? Harusnya aku sudah bisa memindahkannya ...."
Pada akhirnya setelah beberapa kali percobaan, pria besar itu tetap tidak mampu mengangkat batu itu, yang terjadi malah ia tidak menyadari kaki Kibo sampai berdarah dari dalam, ia tidak mengetahuinya karena memang Kibo memakai celana panjang sampai ke bawah.
Namun pada akhirnya salah satu pria besar itu akhirnya menyadari bahwa tindakan yang tengah dilakukan temannya itu tidak tepat untuk saat ini.
"He ... hei hentikan itu, tidakkah kau lihat celana bagian kanan Tuan Kibo mulai berdarah?"
"Apa?"
Akhirnya pria besar itu melihat apa yang dikatakan temannya itu, dan benar saja darah mulai terlihat dari celana coklat tuannya itu.
Lalu ia segera menghentikan tindakan itu, memang dia benar-benar tidak mengetahui dan memperhatikan bagian kaki dari tuannya itu, ia selama ini fokus untuk melakukan hal yang ia percaya dapat melepaskan tuannya itu.
"Ma- maafkan saya Tuan ... saya benar-benar tidak menyadarinya," ujar pria besar yang berusaha untuk mengangkat batu itu.
Kibo menyembunyikan ekpresi sakit yang lumayan menyiksa itu dengan senyum kecil. "Tak apa, tidak usah kau pikirkan."
__ADS_1
Kini Kibo mulai berpikir, apa yang harus ia lakukan agar bisa terlepas dari celah batu sempit ini.
Yang pasti semakin lama ia membiarkan kakinya seperti itu semakin ngilu dan sakit pula kakinya itu, namun yang pasti ia tidak ingin kakinya itu mati rasa, karena jika sampai seperti itu ia harus berjalan dengan satu kaki saja.
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Mereka tidak bisa terus-terusan menunggu pemimpinnya yang sedang terjebak ini, dan untuk sekali lagi waktu mereka terbuang di sini.
Kibo benar-benar tahu akan hal itu, namun pada akhirnya ia tidak tahu harus bagaimana caranya agar ia bisa lepas dari antara celah batu sempit ini.
"!"
Hanya ada satu jalan.
Meksipun pada akhirnya aku pikir bisa lepas tanpa melakukan hal itu ... namun rasanya mustahil.
Hanya inilah satu-satunya cara agar aku bisa cepat keluar dari jerat batu ini!.
Kibo menyiapkan mentalnya, ia kemudian berpaling pada para pria besar anggota Alliance Fight's sekaligus sahabatnya itu.
Terlihat para pria besar itu masih terlihat khawatir dengan keadaan pemimpinnya itu, mereka bahkan sama sekali tidak mempedulikan tentang kompetisi itu—mereka lebih peduli pada tuannya.
Kibo sadar akan hal itu, karena memang merekalah yang selalu ada bersamanya selama kelompok ini ada.
Namun pada akhirnya, Kibo tidak bisa mementingkan urusannya sendiri dan meninggalkan tujuan yang selama ini mereka ingin capai itu.
Dan untuk mewujudkan hal itu ...
Aku harus bisa segera lepas dari batu-batu menjengkelkan ini!
"Aku punya permintaan, bisakah kalian mendengarkan aku?"
Para pria besar heran dan bingung akan apa yang hendak dikatakan oleh tuannya itu.
"A-ada apa Tuan?" ujar salah seorang pria besar di sana.
__ADS_1
"Potonglah pergelangan kaki kananku, agar aku bisa keluar dari celah batu ini."
"A-apa?"