Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 387: Waktunya Bersenang-Senang!


__ADS_3

Melihat situasi yang bergulir begitu cepat membuat Danny harus mengganti rencananya ini, ia tidak bisa lagi lagi dengan bergerak cepat bersama dengan teman-temannya ini, lagipula jika ia melakukannya belum tentu juga makhluk laba-laba raksasa ini akan melepaskan dirinya dan teman-temannya begitu saja.


Danny memastikan Patricia berada di belakangnya, sepertinya teman perempuannya itu masih shock dengan apa yang telah dilihatnya sebelumnya, dan ia sendiri belum tahu apakah Patricia punya ketakutan tertentu pada hewan buas seperti yang tadi dilihatnya.


"Ada apa dengannya Danny?!" Vincent juga cukup perhatian pada teman perempuannya itu, setidaknya jika ia tahu apa yang membuat dia seperti itu mungkin saja pesonanya bisa membantu menyadarkannya bukan?!


"Aku tidak tahu, sepertinya dia tidak terlalu bisa untuk melihat binatang buas dan makhluk aneh seperti tadi," jawab Danny pelan.


"Hisssssh" Makhluk laba-laba raksasa itu tidak diam saja ketika sudah mendekati sekumpulan orang yang sudah dianggapnya sebagai santapannya itu, kini ia terlihat semakin agresif dan hawa jahat yang keluar dari dalam dirinya benar-benar hebat.


Brock kini benar-benar bersiaga, meskipun ia tahu Danny akan melakukan sesuatu yang hebat, namun setidaknya ia akan melakukan usaha kecil yang akan dicobanya untuk manyerang laba-laba berukuran jumbo itu.


"Sihir Api-" Brock seketika itu juga mengangkat kedua tangannya, dan terciptalah lingkaran sihir berwarna merah, namun sebelum ia benar-benar mengeluarkan serangan sihirnya itu, lagi-lagi ia harus dikejutkan dengan Vincent yang tiba-tiba melakukan hal yang sama.


"Sihir Api: Nafas Api!" Vincent hanya mengumpulkan nafasnya kemudian menghembuskan ya untuk menciptakan api yang luar biasa besar untuk menyerang laba-laba raksasa itu.


"Gorrroaaah!"


Sayangnya semburan api besar itu hanya mengenai bagian luar dari dinding sihir warna merah yang tiba-tiba dari laba-laba raksasa itu.


"Sudah kuduga!" Danny memang pernah melihat binatang buas dari tempat ini sebelumnya, sama seperti dulu memang binatang-binatang buas penuh energi jahat ini diperlengkapi dengan pertahanan sihir yang tidak main-main.


SHHHH!!!!


Vincent melihat semburan api yang dikeluarkan olehnya itu memang hanya mengenai dinding sihir laba-laba raksasa itu, itu membuatnya sedikit kesal dan berusaha untuk terus menyemburkan nafasnya yang berubah menjadi api yang sangat panas itu, sebisa yang ia mampu.


Brock melihat temannya yang sedang sangat serius menyemburkan kekuatan yang hanya dimilikinya itu, dengan dorongan yang muncul tiba-tiba, Brock pun berinisiatif untuk menambah daya panas dari sihir yang sedang dikeluarkan temannya itu.


Ia pun kembali mengarahkan angannya ke arah laba-laba raksasa itu, memfokuskan pikirannya dan muncullah lingkaran sihir berwarna merah cerah, kini ia akan melancarkan serangan sihir yang tadi sempat tertunda karena melihat temannya itu.


"Sihir Api: Hempasan Api!"


Api yang besar kemudian muncul dari lingkaran sihir yang dipunyai oleh pria besar itu, kini serangan apinya bergabung dengan serangan api temannya masih menabrak dinding sihir laba-laba raksasa itu.


Danny kemudian melihat bagaimana kedua temannya itu mengambil langkah yang tepat, ia yang sebelumnya berpikir melakukan semuanya sendiri kini harus agak bisa mempercayai kekuatan temannya yang sudah berlatih bersamanya itu.


"Huaaahrh!"


Krak!

__ADS_1


Setelah beberapa saat yang melelahkan, tepat bersamaan dengan habisnya nafas Vincent dan juga sihir api Brock, serangan api ganda yang mereka lakukan membuahkan hasil, dinding sihir berwarna merah dari laba-laba itu sudah hancur namun sayangnya serangan mereka tidak sempat mengenai laba-laba raksasa itu.


"Baiklah!" Danny beranjak meninggalkan Patricia yang ada di belakangnya, kemudian meminta bantuan pada kedua temannya untuk melindungi Patricia, ia maju untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukannya tadi.


"Serangan kalian cukup hebat, Brock, Vincent." Danny melihat sekilas ke belakang, terlihat mereka telah mengerahkan tenaganya tadi, mereka kelelahan dan berkeringat namun sempat untuk memberikan jempol padanya saat ini.


Krek ....


Danny menyiapkan tangannya, kini ia akan mengeluarkan hasrat penghancur yang sedari tadi ditahannya, ia benar-benar merasa geli dan tidak tahan lagi untuk menghancurkan apa yang ada di depannya sekarang.


"Hisssshhh!" Laba-laba itu mengeluarkan beberapa serangan jaring yang besar, namun Brock dan Vincent sigap melindungi Patricia, mereka kemudian membawanya ke tempat yang agak jauh agar tidak terkena dampak serangan makhluk mengerikan itu, dan dampak serangan yang akan ditimbulkan temannya juga.


Tap!


Tap!


Danny berhasil menghindari dengan mudah serangan jaring laba-laba itu, tipe serangan yang mudah ditebak dan lamban jika dilihat dengan matanya kini.


"Ggrrr ... ini hari burukku ... kenapa aku harus bertemu dengan seseorang yang punya ... tiga kekuatan besar ... sepertinya ...."


"!"


Danny ingat makhluk buas penghuni hutan Dawn Forest memang memiliki kekuatan sihir dan juga tidak heran jika makhluk binatang seperti mereka bisa berbicara dengan bahasa yang mudah dipahami oleh manusia.


"Kau masih punya kesempatan untuk lari."


Danny memberi peringatan pada makhluk laba-laba raksasa itu, ia sangat serius memperingatinya makhluk seperti itu, karena memang ia sendiri tahu apa yang akan dilakukannya jika makhluk itu tidak berbuat seperti yang diinginkannya saat ini.


Kreekk ....


Danny semakin tidak tahan dengan kekuatan baru permata fisik yang tengah ia gunakan itu, entah mengapa kekuatan ini sangat menggodanya untuk dikeluarkan sepuasnya, namun Danny terus berusaha untuk tidak terbawa perasaan seperti ini.


"Jangan salah palam ... aku tidak akan membuang harga diriku ... meskipun aku bertemu denganmu ...." Makhluk laba-laba itu seolah meyakinkan dirinya sendiri, bahwa bertemu dengan manusia aneh yang memiliki tiga kekuatan yang luar biasa dalam dirinya merupakan hal yang sama sekali tidak pernah diduganya sebelumnya.


"Waktumu sudah habis."


HUSH!


BUAAAAKKKK!!!

__ADS_1


CRAAATTT!!!


Danny yang bergerak dalam aura merah yang membara mengizinkan dirinya sendiri untuk mengeluarkan seluruh kekuatan yang dari tadi ditahannya ini, dan sebagao hasilnya makhluk laba-laba raksasa itu hancur seketika ketika dipukul hanya oleh tangan kanan pemuda itu.


Darah pun membanjiri tempat itu, makhluk laba-laba raksasa yang menyeramkan itu seolah hanya kue yang dilemparkan anak kecil kebawah dan hancur sehancur-hancurnya seketika itu juga.


"Harga dirimu tidak bisa menyelamatkan dirimu ...." Danny yang bersimpuh darah bekas laba-laba raksasa itu berusaha untuk mengendalikan dirinya kembali, ia memang tadi sudah mengeluarkan sedikit kekuatan yang ditahannya, namun sekarang biarlah ia tidak terus dikendalikan oleh kekuatan ini, melainkan ia akan mengendalikan kekuatan batu permata fisik ini seperti pada awalnya.


Brock dan Vincent yang melindungi Patricia dengan bersamaan dari jarak yang jauh dan aman hanya bisa terdiam melihat apa yang dilakukan oleh temannya ini, tidak terduga oleh mereka bilamana kekuatan Danny sebesar itu, bahkan untuk mereka menghancurkan dinding sihir makhluk laba-laba raksasa itu sudah menyusahkan, namun pemuda ini malah menghancurkan makhluk mengerikan itu hanya dalam satu serangan saja.


"Baiklah, sepertinya perkataan Danny tadi harus kupercaya." Brock akhirnya melihat bagaimana temannya itu berkembang begitu hebat, kini ia tidak perlu khawatir lagi bilamana tidak melakukan sesuatu, lagipula ada temannya yang bisa diandalkannya dalam situasi seperti ini.


"Tapi percikan darah ini menjijikan! Bagaimana kalau ada racun di dalamnya?!" Vincent malah protes akan darah makhluk laba-laba raksasa itu yang mengenai banyak tempat.


Patricia sendiri sudah tidak sadarkan diri sejak ia berada dalam kekagetannya itu, kini ia menutup matanya dan tidak tahu akan apa yang terjadi saat ini.


Di sisi lain ini bisa dilihat sebagai Danny mengubah makhluk laba-laba raksasa itu menjadi sekumpulan darah yang bahkan potongan-potongan tubuh makhluk ini menghilang entah kemana.


Danny tahu ketika ia mengaktifkan kekuatan batu permata mulia fisik ini, yang sebenarnya bisa dikendalikan kekuatannya olehnya, namun tidak berhenti di situ ada harga yang harus dibayar yakni bagaimana Danny mengatasi nafsu menghancurkan yang begitu besar yang muncul sebagai akibat dari penggunaan kekuatan batu permata mulia fisik ini.


?!


Danny merasa semakin banyak aura jahat yang kini mengarah pada tempat di mana ia ada saat ini, begitu memuakkan begitulah ketika ia merasakan banyak aura jahat yang makin lama makin dekat itu.


Brock dan Vincent merasakan hal yang sama, yang itu membuat mereka tidak tenang juga akhirnya.


Danny berbalik dari sana setelah sedikit membersihkan dirinya dari cipratan darah makhluk laba-laba raksasa yang telah dikalahkannya itu.


Mata merahnya yang membara membuat Brock dan Vincent sedikit ragu apakah yang dilihatnya ini adalah masih temannya ataukah orang lain?


"Danny?" Vincent melihat Danny begitu serius dan tidak seperti biasanya, ia membara dan sepertinya semangat dan keseriusannya itu tidak akan padam hanya dalam waktu sebentar saja.


"Aku butuh waktu untuk membereskan apa yang datang, pastikan awasi keadaan sekitarmu dan jangan ragu meminta bantuan!" Danny memberikan perintah keras pertama kali pada teman-temannya ini, ia tahu akan lebih banyak lagi makhluk-makhluk yang beraura jahat itu menuju ke mari, maka dari itu ia ingin agar teman-temannya itu lebih waspada dari yang seharusnya.


"Kami akan mengawasimu dari jarak aman Danny, tenang saja kami akan tetap bersama sampai kau menyelesaikan urusanmu." Brock menanggapi dengan serius juga akan peringatan yang diberikan temannya itu.


Danny mengangguk kecil sebagai tanda ia akan pergi kembali ke area di mana ia akan menemui makhluk buas yang lain, ia tidak akan membiarkan makhluk jahat itu menyakiti teman-temannya, dan pula ia tidak akan membiarkan kejadian lama terulang kembali.


"Ini bagus, aku bisa mengamuk sepuasnya bersama dengan makhluk liar di hutan ini." Senyuman kecil terukir dari Danny, ia sama sekali tidak merasa tertekan karena akan ada banyak musuh yang mendekat padanya, melainkan sebaliknya.

__ADS_1


__ADS_2