Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 296: Menjadi Mantap


__ADS_3

"Oh ya, mengapa tiba-tiba aku di sini?" Vincent yang mengambil jarak dari Brock, Danny, dan Patricia penasaran mengapa ia sadar di tepi sungai kecil yang mengalir ini.


"Ka-kau terluka karena serangan Yizi Vincent, mulanya kau tidak menunjukkan gejala yang serius, namun saat kita tengah berbicara beberapa saat yang lalu, kau terjatuh dan tidak sadarkan diri." Danny mulai mencoba untuk menjelaskan apa yang telah terjadi saat ini.


"Serangan ... oh ... serangan apa ya?" Vincent masih belum menyadari serangan apa yang dimaksud oleh Danny saat ini.


"Serangan meleset dari Yizi, kau terkena dan kemudian harus tidak sadarkan diri beberapa jam setelahnya," jawab Danny.


"Apa yang dikatakan Danny itu benar dan ini cukup aneh, sebelumnya kau tidak terlalu terlihat terluka ketika menerima serangan Yizi itu, namun setelah beberapa lama kau pada akhirnya tumbang Vincent." Brock mendukung apa yang telah dikatakan Danny itu.


"Tu-tumbang?! Ah ... akhirnya aku ingat, aku memang terkena serangan pria bernama Yizi itu- dan rasanya ... sangat tidak enak." Vincent tahu ia tidak bisa menjelaskan bagaimana rasanya terkena pukulan sekuat tenaga yang meleset itu.


"Sudah pastinya." Brock mengangguk setuju akan apa yang dikatakan temannya itu; memang siapapun jika terkena sembarang pukulan sudah pasti tidak akan merasakan enak (kecuali tipe orang tertentu).


"Tapi saat ini kau sudah pulih Vincent, mulanya kami memang bingung ketika melihat kau tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri dalam kondisi yang buruk, namun tenang saja kau sudah berada di kondisi yang baik saat ini." Danny tersenyum ketika mengatakan hal ini, ia harap temannya itu dapat lebih tenang dan rileks.


"Ba-bagaimana aku bisa sadar di sini? Apa kondisiku secara ajaib pulih seketika? Ya ampun ternyata aku punya kemampuan terpendam yang hebat." Vincent meng-klaim dia bangun sendiri dari kondisi buruknya itu, ia terlihat bangga saat ini.


"Tidak ada hal yang semudah itu di dunia Vincent, kau sebaiknya jangan terlalu percaya diri, gadis inilah yang telah memulihkanmu." Brock menunjuk pada arah Patricia.


Vincent seketika itu juga melihat Patricia, dan gadis itu tersenyum lembut padanya; hal itu membuat hati Vincent tergugah dan ia memutuskan untuk mendekati Patricia.


"Kau yang telah menyembuhkanku?" Vincent menatap Patricia dengan tatapan yang tidak biasa, tatapan kagum dan tenang yang mendalam kini terlihat dari pria berambut sebahu itu.

__ADS_1


"Um ... apa kau merasa sudah sadar sebelumnya? Atau merasa sakit sebelumnya?" Patricia ingin memastikan apakah Vincent benar-benar masuk ke 'proses pembalikkan kondisi organ tubuh' oleh kemampuannya itu.


"Karena kau mengatakan hal itu, ya ... aku merasa sadar namun tidak sepenuhnya tahu apakah nyata atau tidak dan pula aku merasa sakit yang benar-benar sakit." Vincent mengaku ia merasa sakit namun merasa tidak yakin dengan kesadarannya sendiri.


"Apa kau melihat sekitar atau bisa mendengar seseorang?" Patricia ingin lebih mengetahui apakah Tuan Vincent ini benar-benar memyadari rasa sakitnya atau tidak.


"Ya ... tunggu dulu, apa yang tadi kualami itu bukanlah mimpi atau semacamnya? Rasa sakit itu? Dan seterusnya?" Vincent mulai sadar soal apa yang telah ia alami saat ini.


"Tidak, rasa sakit yang Tuan Vincent rasakan benar-benar nyata dan Tuan benar-benar mengalaminya; itu bukanlah mimpi."


Vincent kira apa yang telah ia lihat dan dengar adalah mimpi, karena memang ia merasa terbaring sakit dan melihat temannya namun tidak dapat meminta pertolongan pada siapapun karena memang tidak bisa berbicara .


"Saya menggunakan kemampuan saya untuk membuat Tuan Vincent pulih, namun dalam proses mengembalikkan kondisi keadaan Tuan, Tuan Vincent harus mengalami rasa sakit."


"Hm begitukah? Meskipun aku orang yang banyak menerima rasa sakit ... tapi tetap saja aku tidak benar-benar terbiasa atau bahkan suka pada rasa sakit itu." Vincent memegang kepalanya saat ini, ia mengaku bahwa sudah berpengalaman menerima rasa sakit itu bukan berarti ia sudah terbiasa dalam kondisi tersebut.


"Syukurlah satu-satunya cara yang kita punya bisa memulihkan Tuan Vincent secara penuh saat ini." Patricia tersenyum lembut kembali saat ini.


Vincent seketika itu juga memegang tangan Patricia. "Aku-aku tidak tahu harus mengucapkan apa atas jasamu ini." Ia nampak serius dan tidak ada indikasi akan merayu gadis itu.


"Ah, itu semua bukan atas jasaku sepenuhnya, Tekad Tuan Vincent lah yang kuat dan pantang menyerah karena hal itulah Tuan bisa kembali bangun saat ini."


Patricia senang akan orang yang ditolongnya itu benar-benar bisa pulih kembali, mulanya ia mengira Tuan Vincent tidak akan bangun, namun ternyata ia memang harus lebih meyakini apa yang telah ia percayai sebelumnya, apapun yang terjadi.

__ADS_1


"Aku mengerti kau berterima kasih pada Patricia saat ini, tapi hei Vincent apakah kau harus memegang tangannya selama itu?" Brock yang melihat Vincent terlalu lama memegang tangan gadis itu mulai terganggu ketika melihatnya.


"Oh, kau benar Brock ... sekali lagi terima kasih Patricia." Vincent akhirnya melepaskan tangannya juga dari gadis itu.


"Aku bersyukur kau kembali lagi Vincent." Danny menghampiri Vincent dan kemudian memeluknya; ia merasa Vincent adalah temannya yang berharga juga, maka dari itu melihat temannya kembali adalah suatu hal yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.


Vincent menerima pelukan Danny. "Terima kasih Danny, aku pikir meninggalkanmu setelah mengungkapkan tekadku adalah hal yang tidak lucu, maka dari itu aku kembali lagi hehehe."


Danny melepaskan pelukannya pada Vincent, saat ini sepertinya ia harus segera melanjutkan perjalanannya untuk mencari tiga batu permata mulia yang tersisa.


Namun sebelum itu, Danny ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Brock saat ini karena memang ia belum tahu apa yang akan dilakukan pria besar itu ke depannya.


"Jadi kau akan menjalani hidupmu kembali bukan Brock? Kau berencana kemana saat ini?"


"Hm." Brock memasang raut wajah yang serius saat ini, berbeda dari saat ia ditanya pertama kali oleh Danny, eskpresi yang penuh keyakinan ini seakan membuat dia mampu menjawab pertanyaan apapun yang ditanyakan padanya."


"Izinkan aku ikut bersama dengamu Danny." Brock berkata dengan singkat, padat dan jelas.


"A-apa?" Danny yang mendengar ini juga tidak meyangka pria besar itu akan memutuskan untuk ikut bersama dengannya, padahal sebelumnya ia terlihat ragu dan tidak mau ikut campur dengan apa yang akan Danny lakukan itu.


"Ya Danny, aku sadar aku telah takut untuk mengambil keputusan, aku terlalu takut akan risiko dan hal-hal mengerikan yang ada; namun alasanku tidak jauh berbeda dari Vincent, aku tidak bisa hidup bebas dengan mengetahui kenyataan mengerikan ini."


"Pada akhirnya aku tahu, jika aku bisa melakukan hal yang benar meskipun menghadapi hal yang mengerikan, itu lebih baik dibanding hidup bebas namun terpenjara dalam ketakutan seumur hidup."

__ADS_1


__ADS_2