Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 322: Lanjut


__ADS_3

Daerah ramai yang bisa ditemukan setelah perbatasan dengan hutan yang luas, kota kecil namun ramai yang bernama 'Dorma' tempat yang sempurna bagi pedagang yang melancong dan berjualan di sini.


Rombongan Danny di bantu oleh seorang pedagang yang kebetulan akan singgah di Kota Dorma ini, dan pula pedagang itu berbaik hati memberi mereka sejumlah uang untuk menyewa penginapan selama beberapa hari di kota itu.


Suasana yang cerah di mana orang banyak berlalu lalang menjalankan aktivitasnya masing-masing, tidak ada yang berbeda di kota ini dengan hari yang biasanya ada, seperti biasa kota kecil ini ramai dan banyak pula anak-anak kecil yang bermain-main di pasar dekat para pedagang yang sedang jual beli.


Di hari yang sama setelah Patricia memutuskan untuk meninggalkan Danny agar ia bisa beristirahat, saat menuruni tangga ia berpapasan dengan kedua orang yang merupakan Tuan Brock dan Tuan Vincent.


"A-ah, Tuan Brock? Tuan Vincent? Kalian mau menjenguk Danny?" Patricia menanyakan hal yang sudah pasti, tentu saja mereka berdua akan mengunjunginya saat ini.


"Oh, ya tentu saja kami akan pergi ke kamarnya sekarang, kau sudah dari sana Patricia?" jawab Vincent cepat.


"Hm ... mengapa kau begitu cepat di sana? Kukira kau akan sedikit lebih lama berada di sana," sambung Vincent dengan cepat pula.


"Ah, hahaha Tuan Vincent benar, ada suatu hal yang harus kulakukan, aku ke bawah dulu ya ...." Patricia dengan tingkahnya yang cukup aneh pergi dari tangga meninggalkan Vincent dan Brock yang heran di sana.


Brock dan Vincent akhirnya sampai di kamar Danny, Brock mengetuk pintunya dan Danny mempersilahkannya masuk.


Kebetulan Brock membawa keranjang buah-buahan untuk diberikannya pada Danny, buah-buahan yang segar di mana ia harap dapat membantu memulihkan kondisi dan energi Danny secara cepat.


Ketika Brock dan Vincent sampai di kamar Danny, mereka melihat Danny sedang termenung duduk di pinggir tempat tidurnya, ia seperti tengah memikirkan hal yang serius saat ini.


"Danny?" Vincent melambai-lambaikan tangannya di depan mata Danny untuk menyadarkan temannya dari lamunannya itu, Vincent rasa Danny tidak perlu memikirkan hal yang berat di tengah kondisinya yang harus beristirahat itu.

__ADS_1


"O-oh?" Danny akhirnta berhenti melamun dan menatap teman yang menyapanya itu.


"Kami bawakan sedikit buah untukmu Danny," ujar Brock sembari memberikan keranjang buah itu padanya.


"Wah terima kasih banyak Brock, Vincent ...." Danny senang menerima pemberian yang diberikan oleh kedua temannya itu.


Vincent mengamati dengan cermat, ia merasa ada hal yang sedikit mengganggunya dan harus menanyakan sesuatu pada Danny demi menjawab rasa panasarannya itu.


"Danny, kau terlihat memikirkan sesuatu, apa yang sebenarnya kau pikirkan?"


Danny menatap Vincent, pada akhirnya teman-temannya juga tahu apa yang saat ini mengganggunya. "A-ah, aku hanya memikirkan masa laluku Vincent, aku rasa saat-saat ini adalah waktu di mana kita masih diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu, sebelum akhirnya kesempatan itu hilang dari kita."


"A-apa kau berbicara mengenai iblis?" Vincent berusaha menerka apa yang sebenarnya Danny bicarakan itu.


Brock akhirnya ikut juga berbicara padanya saat ini. "Kami tahu Danny, kenyataan seperti ini yang membuat kita merasa takut, namun kita tidak sendiri ingat? Bukankah kau yang mengatakan hal itu?"


Danny akhirnya ingat juga akan apa yang pernah dikatakannya bahwa ia tidak sendiri di dalam masalah ini.


"Y-ya kau benar Brock, tidak seharusnya aku memikirkan hal yang berlebihan seperti ini." Danny akhirnya mendaat pencerahan bahwa memang ssat ini ia harus tenang menghadapi situasi seperti ini.


Vincent melihat ke arah jendela di samping kasur Danny, cerah sekali cahayanya sampai menembus dan menerangi ke arah Danny saat ini, ia melihat adanya harapan yang tumbuh dari sorot mata Danny, terlihat ia menjadi lebih kuat dan memiliki tekad yang benar-benar teguh.


"Kau harus beristirahat dengan cukup Danny, sebelum kita melakukan perjalanan kembali, pastikan kondisi tubuhmu sudah kembali seperti semula." Brock memberi nasihat pada temannya itu.

__ADS_1


"Jangan terlalu memikirkan hal yang berat Danny, ingat berpikir positif adalah kekuatan kita untuk maju!" Vincent tidak kalah semangat untuk memberi dukungan pada Danny, ia ingin agar temannya itu bisa ceria juga dan tidak terlalu memikirkan hal yang tidak perlu.


Brock dan Vincent meninggalkan Danny di kamarnya setelah kunjungan singkat itu, di situ Danny sadar bahwa memang teman-temannya begitu peduli padanya maka dari itu ia ingin menaruh harapan pada tujuannya itu dan selalu berpikir hal yang baik selama ia mengemban misi ini, seperti yang Vincent katakan dan pula ia setuju akan hal itu, kekuatan percaya dan berpikir positif adalah kekuatan yang tidak terkalahkan.


***


Beberapa hari kemudian, akhirnya Danny sudah pulih kembali seperti semula, bersama dengan Brock, Vincent, dan Patricia, mereka meninggalkan penginapan itu dengan tujuan kembali menjalankan misinya itu.


Pagi-pagi benar mereka memulai perjalanan mereka itu, meskipun masih pagi tetap saja suasana tidak sepi seperti yang mereka kira sebelumnya.


"Kota ini kecil, namun begitu ramai tidak hanya siang hari, bahkan di malam dan di.pagi hari juga!" Vincent merasa kota ini memang selalu aktif tidak peduli waktu yang ada, selama seluruh aktivitas masih berjalan di kota itu, maka keramaian sudah pasti akan ada di sana, apalagi kota ini adalah salah satu kota perbatasan yang ideal bagi para pedagang yang melancong.


"Kau benar Vincent, kita benar-benar beruntung bisa singgah di tempat yang seperti ini untuk beristirahat selama beberapa waktu." Brock juga sependapat dengan Vincent, ia merasa kota ini memang ramai, dan selalu ramai.


Danny yang hanya memiliki kesempatan untuk keluar kamar hanya saat ini saja, setelah beberapa terakhir ia memang istirahat dengan cukup dalam maka dari itu ia bisa pulih kembali setelah beberapa hari setelahnya.


Beberapa saat kemudian Danny dan kawan-kawannya hendak meninggalkan kota itu, mereka melihat seorang pria yang membereskan barang-barang yang diangkut kereta kudanya itu.


"O-oh? Tuan? Tuan yang menolong kami sewaktu beberapa hari lalu bukan?!" Vincent menunjuk pada pria yang berprofesi sebagai pedagang itu, ia rasa orang itulah yang sudah menolongnya dan teman-temannya sewaktu beberapa hari yang lalu.


Pedangang itu memakai baju berlapis-lapis berwarna coklat dan juga memakai kain penutup kepala juga, syal yang cukup menutupi wajahnya, namun entah mengapa si Vincent ini mampu untuk tetap mengenalinya.


Pedagang itu kemudian berhenti membereskan barang-barang di dalam kotaknya miliknya itu dan melihat seorang yang berbicara padanya itu.

__ADS_1


__ADS_2