
"Kau tidak perlu menganggap semua yang kukatakan ini serius Brock, aku sendiri tahu akan keputusanku ini dan aku sama sekali tidak mempunyai tujuan tersembunyi juga ...."
Vincent memang hanya bercanda saja tadi, ia mengatakan apa yang sebenarnya ingin dikatakannya saja, ia tahu kekuatannya itu tidak benar-benar menonjol, maka dari itu ia membuat candaan seolah-olah ia hanya akan peduli pada dirinya sendiri dan mengabaikan orang lain.
"Aku tahu kekuatanku tidaklah seberapa, mungkin butuh waktu yang tidak sebentar agar aku bisa benar-benar berguna; maka dari itu aku mengatakannya dari awal saja, pada kenyataannya mungkin saja ada kemungkinan aku bahkan belum bisa melindungi diriku sendiri nantinya."
Brock terkejut, ternyata Vincent tidak bermaksud mengambil keuntungan apapun dengan mengikuti perjalanan Danny, malah sebaliknya seharusnya ia harus sadar dari awal bukannya dia yang mencari keuntungan, malahan dia mempertaruhkan segalanya, bahkan keselamatannya sendiri demi mengikut Danny.
"Aku melontarkan candaan itu hanya untuk menghibur diriku saja, aku tahu kenyataannya aku tidak lebih baik dari kalian, meskipun begitu tekad awalku tidak akan hilang begitu saja."
Pria berambut sebahu itu mengatakan kejujuran dengan caranya sendiri, ia mengatakan kekurangannya, supaya memang Danny bisa lebih mengerti tentang dirinya itu.
Vincent kembali menjelaskan bahwa memang ia mengatakan keputusannya itu adalah keinginan dari hatinya dan tanpa paksaan dari siapapun juga.
"Keputusanku ini sudah bulat, aku memutuskan untuk mengikutimu Danny, aku akan menghadapi ketakutanku dan menghadapi pula kenyataan yang sudah kuketahui ini."
"Dengan begitu aku tidak akan menyesal lagi karena akan menghabiskan waktu untuk melakukan hal yang baik bersama denganmu Danny."
Danny tersentuh dengan pengakuan Vincent tadi, ia bisa menilai Vincent merendah soal kekuatannya yang ia miliki itu, namun sebenarnya Danny tidak begitu mempermasalahkan soal kekuatan siapapun juga yang akan bersamanya saat ini.
"Aku tahu Vincent, penjelasanmu tadi memberiku gambaran kasar tentang kekuatanmu, tapi tidak perlu khawatir, kita akan bersama-sama berproses agar bisa menjadi lebih kuat lagi, aku juga sudah pernah bilang padamu bukan? Lagipula aku berada di perjalanan ini bukan berarti aku punya kekuatan yang bisa kupakai untuk segalanya atau kekuatan yang begitu luar biasa untuk dipakai; dalam perjalanan inilah kita diproses agar bisa menjadi lebih kuat."
"Jadi tidak perlu khawatir soal apa yang akan kita lakukan nanti, dengan tekadmu saat ini, kau sudah memulai menjalankan keinginan hatimu Vincent." Danny berusaha untuk menenangkan Vincent agar ia tidak terlalu memikirkan kekuatan saat ini.
"Begitukah? Kalau begitu aku akan berusaha agar tidak tertinggal dari kalian berdua haha!" Vincent sepertinya menemukan lagi semangat awalnya, ia merasa lebih percaya diri setelah mendengar masukan yang diberikan Danny itu.
__ADS_1
Vincent berpikir bahwa keputusannya akan juga mengubah apa yang akan terjadi di depannya yang tidak ia ketahui, namun meskipun begitu ia belajar untuk tidak lari dari kenyataan buruk ini dan memutuskan untuk membantu pemuda bernama Danny dalam perjalanannya itu.
"Maafkan aku Vincent, aku sudah berpikiran macam-macam tentangmu." Brock saat ini merasa bersalah karena ia terkesan menghalangi keputusan temannya itu untuk mengikut Danny, ia masih berpikir Vincent akan bertindak konyol ketika ia memutuskan hal ini.
"Hah?! Sudah kubilang tidak perlu terlalu serius Brock, aku tahu sifatmu memang seperti itu, selama hampir lima tahun dan kau tidak pernah berubah CIH!" Vincent membuang ludahnya tepat di saat ia telah berkata pada teman besarnya itu.
Brock merasa ada keanehan lain di sini, mengapa si Vincent ini membuang ludah tepat di saat ia mengomentari sifatnya itu? Apakah ini semacam tindakan jijik dan tidak suka padanya?
"GR! MENGAPA KAU TIDAK BISA MENGHARGAI SIFAT ORANG LAIN VINCENT?! HAH?! MEMANGNYA SIFATKU SEBURUK ITU SAMPAI KAU HARUS MEMBUANG LUDAH SAAT INI JUGA HAAAH?!"
"APAA?! APA YANG KAU BICARAKAN BROCK?! AKU SAMA SEKALI TIDAK- oh tidak ...." Vincent akhirnya sadar apa yang membuat pria itu naik pitam kembali tadi, padahal memang ia tadi tidak bermaksud membuatnya kembali marah.
"APA?! APA ALASANMU BERSIKAP SEPERTI INI VINCENT?! KALAU KAU TIDAK SUKA SIFATKU MENGAPA KAU TIDAK BILANG DARI AWAL HAAH?!"
Namun nampaknya Vincent juga tidak mau terus-terusan disalahkan oleh temannya itu, dan seperti yang biasanya terjadi perdebatan di antara mereka kembali di mulai.
"LALU APA MAKSUDNYA TADI KAU MELUDAH TEPAT SETELAH MENGOMENTARI SIFATKU?! BUKANKAH ITU MENUJUKKAN KAU INI PUNYA RASA TIDAK SUKA PADA SIFATKU?!"
"AAPAA?! MEMANGNYA ADA YANG SALAH DENGAN MEMBUANG LUDAH?! APAKAH MELAKUKAN HAL YANG WAJAR ITU SUDAH TIDAK BOLEH SEKARANG BROCK?!"
"WAJAR MEMANG WAJAR! HANYA SAJA KAU MELAKUKAN ITU SAAT KAU MENGOMENTARI SIFATKU ITU! ITU TERLIHAT SEPERTI KAU MENARUH RASA TIDAK SUKA PADAKU!"
"HAH?! MEMANGNYA AKU SUKA PADAMU BROCK?! AKU INI MASIH SUKA PADA LAWAN JENIS, MANA MUNGKIN AKU MENARUH RASA SUKA PADAMU, KAU ITU PRIA BROCK!"
"YANG KUMAKSUDKAN BUKAN ITU JUGA VINCENT!"
__ADS_1
Patricia kembali terhening melihat kedua pria ini kembali berdebat, padahal ini hanyalah hal sepele, lagi-lagi ia harus mendengarkan dua pria berargumen satu sama lain lagi dengan jeda yang tidak lama.
"Apa selama ini kamu sudah biasa mendengar mereka seperti ini Danny?" Patricia penasaran mengapa Danny selalu bisa bersikap biasa saja ketika melihat dua temannya ini bertengkar satu sama lain.
"Ahaha, sikap mereka ini memang terkesan sulit dimengerti, tapi biarkan saja nanti mereka kembali seperti biasa lagi kok, ahaha."
Patricia entah mengapa mencium bau-bau Danny yang merasa terhibur melihat mereka berdua bertengkar, baginya situasi ini sama sekali tidak nyaman karena harus mendengar dua pria berteriak satu sama lain dengan suara yang keras sekali.
"Patricia jangan terlalu dipikirkan nantinya malah makin tidak nyaman- eh lihat Brock memukul Vincent lagi sampai berasap, huahahaha!" Danny sampai tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kedua temannya itu; ia merasa mereka berdua ini sama saja bahkan ketika mereka sudah bebas sekalipun.
Patricia memang telah mendengar nasihat Danny, ternyata pria itu bisa melihat dirinas kurang nyaman ketika mendengar perdebatan tidak biasa ini; malahan Patricia semakin mengagumi Danny karena begitu memperhatikannya sampai-sampai ia tahu bahwa dirinya itu sedang tidak nyaman saat ini.
Dengan memikirkan bahwa Danny begitu memperhatikannya tiba-tiba ia merasa senang di sini, perasaan gembira di tengah situasi yang seperti ini, tidak ia rasakan perasaan ini sebelumnya.
A-apa yang kupikirkan? Memang sikap Danny selalu baik kok dari awal, lalu mengapa aku merasa ada yang berbeda saat ini?
Patricia sadar ia ternyata merasa senang ketika Danny memperhatikannya, ia menjadi tersipu dan wajahnya terlihat memerah.
Dulu memang ia tidak terlalu merasakan apapun bahkan di saat Danny memperlakukannya baik sekalipun, namun perasaannya kini bertumbuh dan ia mulai merasakan hal yang berbeda dengan apa yang ia rasakan sebelumnya.
Patricia berusaha untuk menyembunyikan perasaan baru itu, ia merasa perasaan gembira ini terlalu meluap hingga akhirnya ia merasa salah tingkah saat ini.
Namun saat ini Patricia berusaha mengusir perasaan gembira sekaligus tersipu itu karena memang jika Danny menyadarinya maka ia tidak mampu untuk menjelaskan mengapa ia terlihat seperti itu.
Ge-gembira, aku merasa senang ketika bersama dengan Danny ... perasaanku menguat dan aku sadar saat ini aku memang selalu ingin bersamanya ....
__ADS_1
Duh! Mengapa perasaan ini tiba-tiba muncul?! Jika Danny menyadarinya apa yang harus kukatakan?!