
Brock hanya bisa mempercayai apa yang telah dikatakannya; kini ia tidak bisa berbuat apapun selain percaya pada temannya itu.
Melihat ekspresi kesakitan yang luar biasa dari Vincent membuat Danny juga sedih, ia tahu Vincent harus mengalami hal ini, namun tetap saja melihat orang kesakitan dan tidak bisa melakukan apa-apa bukanlah hal yang mudah.
Patricia tahu proses 'pemunduran' kondisi organ tubuh sudah hampir selesai dijalankan, karena Tuan Vincent menerima banyak luka dalam maka dari itu ini akan menyakitkan lebih daripada apa yang bisa dibayangkan.
Melihat Vincent membuat Danny mengingat kembali akan apa yang telah ia rasakan sebelumnya; ia merasa sangat sakit yang benar-benar tidak bisa dijelaskan, dan kini Vincent agaknya mengalami hal yang sama dengannya.
Namun Brock dan Danny hanya memiliki pilihan untuk terus percaya pada Vincent, dan terus berharap ia dapat bertahan dan kembali seperti semula.
Patricia yang berdiri melihat Danny dan Tuan Brock berada di dekat Tuan Vincent dan ia merasa ada suatu hal yang menghambatnya, dan sejujurnya itulah yang membuatnya agak sulit untuk benar-benar membuat kondisi Tuan Vincent menjadi lebih baik.
"Inilah yang kusebutkan ketika aku harus 'memulihkan' dahulu kondisi otaknya Danny, karena memang ia harus sadar dahulu sebelum proses ini berlangsung."
"Ja-jadi pada akhirnya risiko menaggung kesakitan tidak bisa dihindari?"
Patricia mengangguk. "Perubahan kondisi organ tubuhnya harus disertai kesadarannya, itu bertujuan agar tubuh dan otaknya menjadi sinkron atau tersambung kembali; tidak mungkin bila kita 'memulihkannya' tanpa mengembalikan kesadarannya dahulu, organ dalam tubuh memang bisa saja pulih kembali tapi otak akan terkejut dan tidak bisa menerima apa yang telah terjadi pada organ tubuhnya yang tiba-tiba berubah itu dan pada akhirnya sia-sia saja usaha yang kita lakukan ini."
Patricia menjelaskan begitu berbahayanya 'memulihkan' tanpa lebih dahulu membuat korban sadar, sederhananya -tidak mungkin menghindari rasa sakit yang diakibatkan 'membalikkan' kondisi keadaan organ tubuh itu-.
"La-lalu mengapa Vincent tidak bisa berbicara?! Apa ada yang salah di sini?!" Brock protes karena tidak bisa mendengar hal apapun dari temannya itu, ia hanya bisa melihat raut wajah yang begitu tersiksa itu tanpa tahu apa yang sebenarnya dirasakan olehnya.
"Maafkan aku Tuan Brock, aku menghentikan dahulu saraf yang bisa membuat Tuan Vincent berbicara, maka dari itu ia tidak bisa berbicara saat ini."
"Me-menghilangkan kemampuan berbicaranya?! Mengapa kau melakukan itu Patricia?!" Brock terlihat makin protes karena tidak mengerti apa yang sebenarnya gadis itu lakukan saat ini.
"Menhilangkan kemampuan berbicara Tuan Brock dalam berbicara harus dilakukan, karena jika ia terus berteriak kesakitan hal itu akan membuat staminanya menurun dan tidak bisa maksimal menjalani proses ini; maka dari itu lebih baik Tuan Vincent kesakitan tanpa bersuara demi menjaga proses ini berjalan lancar."
__ADS_1
Patricia menjelaskan bahwa memang hal itu dilakukan demi kebaikan Tuan Vincent sendiri, ia tidak ada niat untuk hal melakukan apapun yang tidak jelas selain memang melakukan apapun yang diperlukan agar Tuan Vincent bisa pulih kembali.
Brock terdiam mendengar jawaban dari gadis itu, ia rasa memang jika berteriak untuk waktu yang lama tentulah membutuhkan tenaga juga; pada akhirnya Brock akhirnya bisa menerima alasan mengapa Patricia melakukan hal itu.
Proses 'penyembuhan' ini masih berlangsung, dan kita bisa melihat sekarang Vincent masih bergumul dengan rasa sakitnya itu, ia hanya menggunakan mimik mukanya sebagai wadah yang menunjukkan bahwa ia memang sedang kesakitan saat ini; ia tidak bisa mengeluarkan suara dan bergerak sedikitpun.
Tidak lama Vincent sepertinya makin tersiksa karena proses ini, tubuhnya menjadi terlihat sedikit merah dengan urat-urat yang menonjol dari kepala, badan, sampai ujung kakinya.
Melihat perubahan yang terjadi ini membuat Brock dan Danny terkejut, mereka tidak punya hal untuk dibicarakan dan memang tidak mengerti mengapa keadaan tubuh Vincent terlihat seperti ini sekarang.
"Vi-Vincent?!" Brock menjadi khawatir akan Vincent saat ini.
"Jangan khawatir Tuan Brock, kondisi otak dan organ dalam tubuh Tuan Vincent sudah mulai sesuai dan membaik dan kini hanya tinggal penyelesaiannya saja; efek ini memang sudah pernah saya lihat sebelumnya," jelas Patricia.
"Be- begitukah?" Brock masih menunggu saat-saat bilamana temannya itu benar-benar pulih, ia merasa was-was dan tegang saat ini.
Danny bisa menduga bahwa memang kemampuan Patricia sudah melakukan kerjanya dengan baik, memang terlihat proses ini nampaknya akan menjadi akhir dari usaha untuk membuat Vincent kembali lagi pulih.
Tidak kusangka akan berjalan seperti ini, keinginan Tuan Vincent untuk hidup memang luar biasa, bahkan setelah mengalami rasa sakit yang telah ia rasa sekalipun tanpa bisa mengatakan apapun dan bahkan ia sama sekali tidak mengeluarkan air mata, ternyata pernyataan Tuan Brock soal Tuan Vincent adalah penahan rasa sakit yang baik bukanlah bualan semata.
Hanya tinggal sedikit lagi saja maka Tuan Vincent bisa kembali seperti sedia kalanya, kuharap dia bertahan sampai saatnya tiba, hanya tinggal sebentar lagi ....
Patricia menyakinkan dirinya bahwa memang orang yang ditolongnya itu sudah merespon dengan baik, kini ia hanya tinggal menunggu sedikit waktu saja untuk memastikan apa yanh telah diyakininya itu.
Tidak berapa lama raut wajah kesakitan Vincent itu perlahan hilang, begitupula dengan warna tubuhnya yang memerah tadi, kini sudah berangsur-angsur normal kembali.
Urat-urat yang menonjol dari kepala, badan, sampai kakinya itu juga mulai menghilang; bisa dibilang tubuh Vincent sudah mulai kembali normal saat ini.
__ADS_1
Vincent menutup matanya perlahan, tidak diketahui sebabnya oleh Danny dan Brock, dan pula bila diperhatikan lebih lanjut, darah bekas luka yang ada pada mulut dan hidungnya sudah sepenuhnya menghilang saat ini.
"Me-mengapa Vincent menutup kembali matanya?!" Brock saat ini tidak mengerti mengapa terjadi hal seperti ini.
"Vi-Vincent!" Danny juga ikut khawatir saat ini melihat Vincent yang tadi menderita kesakitan dan perlahan raut wajah tersiksanya itu menghilang dan kemudian menutup matanya; siapapun akan merasa aneh bilamana melihat kejadian seperti ini.
"Ja-jangan-jangan?!" Brock mulai menduga macam-macam, entah mengapa pikirannya kembali ke arah yang tidak seharusnya ia pikirkan kembali.
"Tenanglah ...." Patricia mengatakan satu hal saja di sini, dan itu bisa berarti banyak hal.
"Tenang?! Aku tidak tahu mengapa dia tiba-tiba seperti ini dan aku harus tenang?!" Brock mulai menjadi tidak tenang saat ini, karena memang ia takut Vincent yang menutup matanya itu adalah suatu pertanda yang kurang bagus.
Aura kehijauan yang meredup itu perlahan menghilang dari tubuh Vincent, saat ini ia terlihat seorang yang tertidur seperti layaknya orang biasa.
"A-apa artinya ini?" Danny bertanya-tanya tentang hal ini, apakah ini tandanya kemampuan Patricia sudah memulihkannya saat ini?
"Tuan Vincent seharusnya sudah pulih saat ini." Patricia menyatakan hal yang sangat ingin didengar Brock dan Danny saat ini.
"Be-benarkah?!" Brock mencoba mendengar detak jantung Vincent, dan benar saja tadinya ia merasa detak jantung temannya itu melemah sebelum ditangani, namun saat ini detak jantungnya sudah kembali normal seperti sedia kala.
Brock tidak lupa untuk mengecek nadi pada leher dan tangan temannya itu, dan ia menemukan bukti bahwa memang Vincent sudah kembali seperti sedia kala saat ini.
"Vi-Vincent seharusnya bangun saat ini ...." Brock sudah mengecek keadaan tubuh temannya itu, dan memang ia menemukan tanda kehidupan memang ada padanya.
"Kondisi tubuhnya jauh lebih baik dibanding sebelumnya, bahkan luka luarnya sudah tidak ada lagi ...." Brock hanya bisa menunggu saat dimana temannya itu membuka matanya.
"Tapi mengapa dia ... masih belum bangun?" Dan tentunya pria besar itu bertanya-tanya mengapa setelah diberikan pertolongan si Vincent ini belum bangun juga.
__ADS_1