Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 18: Ingatan -Hutan Hujan Kelam-


__ADS_3

Rombongan Rhart akhirnya tiba di hutan yang bernama Dawn Forest ini, hutan yang misterius karena diselimuti energi sihir yang luar biasa.


Burung-burung, binatang melata, serangga, atau segala jenis hewan biasa tidak ada disini yang ada hanyalah berbagai macam binatang aneh yang memiliki kekuatan sihir.


Masing-masing ketua regu adalah : Rhart, Claus, dan Ther, Rhrat membawa tiga ratus pasukan, Claus membawa empat ratus pasukan dan Ther membawa tiga ratus pasukan. Mereka berpencar kesetiap sudut hutan untuk memulai perburuan binatang buas disana.


Rhart ditemani oleh sahabat baiknya Rudolph dengan dua ratus sembilan puluh delapan kesatria lain. Mereka mulai menjelajah terus menjelajah hutan itu, mulanya memang tidak ada yang aneh selain berbagai pohon yang amat besar disana namun keadaan itu tidak bertahan hingga akhir.


Setelah sampai dibagian hutan yang terdalam, pandangan mereka terbatasi oleh besarnya daun dan dahan pohon sehingga mereka tidak dapat melihat dengan leluasa.


Akar-akar pohon besar, daun-daun kering besar yang berserakan, bangkai pohon besar yang telah roboh mereka harus melewati ini semua, hingga tiba-tiba kabut tebal menyelimuti regu Rhart. Ia menyuruh mereka untuk bersiaga, suara seperti harimau mengaum kencang sampai-sampai telinga mereka kesakitan mendengarnya.


"A...apa itu?!" kata salah seorang prajurit


"A..aku tidak tahu..." ucap Rhart


"Sebaiknya kita waspada.." Saran Rudolph


Sret-


Srtet-


Serettt-


"Rwaaarraaarrr!!!"


Tiba-tiba muncul bintang harimau besar yang menghadang regu pasukan tersebut.


"SEMUANYA BERSIAGAAA!!!"


Harimau besar itu berukuran seperti sebuah rumah pada umumnya , ia sangat besar mempunyai taring tajam besar siap untuk menggigit apapun yang ada didepannya.


Salah satu ksatria menyerangnya dari belakang namun serangan pedangnya itu bahkan tidak mengenai tubuh harimau itu hanya mengenai energi sihir merah yang menyelimuti harimau tersebut. Ksatria malang itu dihempaskan secara keras kepohon besar hingga seluruh tubuhnya patah tulang.


Melihat hal itu para ksatria lain tidak tinggal diam, mereka mencoba menyerang bersamaan, namun apa daya serangan bersamaanpun tidak efektif yang ada harimau tersebut membuat cakaran amat besar di tubuh para ksatria itu sehingga mereka terkapar dengan tubuh yang penuh darah.


Rhart mulai memerintahkan pasukkannya


"HEI, BERHENTI MENYERANG SEPERTI ITU!"


"KITA HARUS MENGGUNAKAN SIHIR UNTUK MENGALAHKANNYA!!"


Para Ksatria itu terbelalak mendengar pernyataan itu, karena sebagian ksatria biasa tidak mempunyai kemampuan sihir yang lanjut, mereka hanya memiliki kemampuan sihir dasar saja.


"Hei..hei...."


"Kalau begitu kami semua-"


Kepala prajurit yang tengah berbicara itu hilang dari tempatnya terlempar jauh ke dalam hutan yang gelap karena cakaran besar harimau tersebut.


Ksatria lain yang melihatnya bergidik ngeri dan mencoba melarikan diri dari Harimau besar itu.


"HEENNTTIKAANN!!!" Rudolph berlari maju kedepan menggunakan pedang tipis tajam yang telah diperkuat dengan sihir.


Ketika serangannya hampir sampai tiba-tiba Rhart menyeruduknya dari belakang hal itu sontak membuat serangannya tidak dapat dilancarkan.


Rudolph terjatuh disekitaran prajurit lain yang tengah merasa ketakutan.


"Uuuuh...." Rhart memegang perutnya


"Hah?!" Ia melihat perutnya sudah terukir cakaran besar harimau itu juga


"Ternyata tidak sem..pat ya...", Ia merasakan sakit yang luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya darah mulai mengalir dari perutnya.


"RHART!"


Belum sempat Rudolph pergi ketempat Rhart hempasan kemcang nan tajam cakaran harimau kembali mengincarnya, namun dengan sigap ia menghindarinya.


Ksatria yang melihat hal itu berusaha membawa Rhart ke tempat yang aman menjauh dari bahaya yang mengerikan tersebut. Ksatria tersebut menyandarkan Rhart di balik pohon besar.


"Te...terima kasih..."


"Ya komandan..."


Sementara itu Rudolph bangkit dan terus melawan harimau besar itu beserta dengan ksatria lainnya namun sayangnya kemapuan para ksatria itu tergolong dibawah rata-rata dalam menghadapi makhluk berenergi sihir sehingga satu persatu dari mereka tumbang.


Melihat pembantaian masal yang terjadi didepannya ksatria tersebut mulai berbicara


"Komandan..."


"Apa kita kesini hanya untuk mati ditangan monster itu?"


"..."


Pemadangan tersebut begitu menggilakan pikiran ksatria itu hingga ia mulai tertawa-tawa dalam keputusaasan.


"H-hey!"


"Tenanglah!" Ucap Rhart sembari memegang pundak ksatria itu


"..."


"Hah?!"


"Tenang?! bagaimana mungkin kau bisa berkata bergitu?!"


"Kita....KITA HANYA MENJEMPUT AJAL DENGAN BERADA DISINI!!"

__ADS_1


"APA KAU TIDAK MENGERTI SITUASINYA, KOMANDAN?!"


Begitu kerasnya teriakan ksatria tersebut sehingga harimau besar itu malah menengok ke arahnya.


Suasana dimedan pertempuran kini hanyalah Rudolph, Rhart, serta ksatria itu. Kini Harimau tersebut telah membantai habis seluruh pasukan yang dipimpin Rhart, Rudolph memegang pedang kecil nan tipisnya itu berlumurkan dengan darah kini seluruh badannya penuh luka, karena telah ditarik perhatiannya Harimau itu melesat menerkam ksatria itu, dengan malangnya ksatria itu tidak dapat berbuat apa-apa.


"SIAALLLL!!!!" Rudolph melompat kedepan untuk menghentikan harimau tersebut, belum sempat sampai serangannya ranting disekitar pohon itu terbelah dua hal itu berlaku juga pada Rudolph. Serangan anginnya begitu kuat sampai-sampai tubuh Rudolph tidak mampu menerima serangan yang begitu tajam dan dalam ini, bahkan isi perutnya sudah hampir keluar, namun ia tidak menyerah juga.


"RUDOLPH!!!!!"


Rudolph tersenyum kearahnya dan kembali melawan harimau buas itu serangan demi serangan di lancarkannya namun serangannya tidak bertambah kuat karena stamina yang terus terkuras sepanjang pertarungan ini.


Rhart berusaha bangkit ditengah sakitnya rasa sakit, penderitaannya tidak ada apa-apanya dibanding perjuangan Rudolph demi melindungi dirinya, kepalanya pusing karena tidak mampu menahan sakit pada perutnya itu.


"To....tolong hentikan....."


"Ku...mohon...."


Hujan deras muncul menerpa hutan ini seakan menangisi mereka yang telah meninggalkan dunia ini.


Tiba-tiba lingkaran teleportasi muncul disekitar Rhart, ia kebingungan mengapa sihir ini bisa muncul tiba-tiba.


"A...apa ini?!"


Melihat adanya lingkaran sihir yang melingkupi Rhart yang tengah terkapar, membuat senyuman kecil diwajah Rudolph. Rhart yang tidak mengerti semuanya itu melihat Rudolph dihempaskan begitu keras hingga tubuhnya terpental begitu jauh.


Rudolph yang menyadari ini adalah akhirnya, ia merelakan segalanya bahkan nyawanya sendiri untuk sahabat terbaiknya, ia meneteskan setetes air mata terakhirnya yang bercampur dengan derasnya hujan.


"TIDAKKKK!!!!"


SRING!!!


Lingkaran teleportasi ini membawanya masuk ke ruang kerajaan istana timur, seketika lantai kerajaan penuh dengan darah, Rhart melihat tidak hanya dirinya yang berada disana melainkan dua komandan lainnya juga, Cleus dan Ther mereka berdua juga berada dalam kondisi yang mengerikan.


Sepintas Rhart mendengar sang raja berkata ' Bawa mereka untuk segera diobati'


Dan kesadaran Rhart pun menghilang


--------------


Rhart kemudian bangun ditengah kamar pasien disebuah pusat kesehatan kerajaan timur, kondisinya masih sakit namun tidak seburuk sebelumnya. Disamping kanan dan kirinya terbaring Cleus dan Ther yang dirawat bersamaan dengan dirinya.


Ia sama sekali tidak paham dengan kejadian ini, satu-satunya yang dapat ia tangkap mengapa pihak kerajaan jelas-jelas mengirim mereka ke hutan kematian yang dimana tidak ada seorangpun yang berharap kesana dan juga mengapa pada saat-saat terakhir hanya para komandan regu yang diselamatkan.


Emosi dan amarah menguasai Rhart yang sama sekali tidak mengerti akan situasi ini. Ia harus menunggu beberapa hari sampai ia bisa pulih dan bisa mengetahui semuanya.


Setelah mereka bertiga pulih, Diluar pusat kesehatan Rhart mengajukan pertanyaan mendasar pada mereka berdua


"Apa yang terjadi dengan misi kita?"


"Mi...misi..kita gagal" Ucap Cleus


"Apa yang kau maksud gagal?"


"Dengan mengirimkan seribu prajurit untuk mati di hutan sana hah?!"


Ther mulai ikut berbicara


"Hanya kita yang diselamatkan dari kejadian ini"


"Cih! aku tak mengerti! akan kutanya langsung pada raja"


Rhart meninggalkan mereka berdua dan pergi menuju istana kerajaan. Sesampainya disana ia dilarang masuk lebih jauh ke dalam ruang kerajaan, ia ditahan dipintu masuk oleh dua penjaga kerajaan


"Hey! apa-apan ini?!"


"Biarkan aku masuk!"


Salah seorang penjaga berbicara padanya


""Maaf Tua Rhart, Raja saat ini tidak bisa ditemui"


"Huh?!"


"Mengapa begitu?!"


"Raja tengah mengurus suatu urusan"


"Urusan?!"


"Dibanding hal itu, aku mau tahu alasanmu mengirim kami ke hutan mematikan itu-"


"H-hey!"


Para penjaga mendorong paksa Rhart untuk meninggalkan istana. Rhart yang kebingungan dalam amarah melangkahkan kakinya menjauh dari istana.


Ia pergi rumahnya dan dipintu depan telah menanti Cleus dan Ther yang hendak berbicara dengannya.


"Rhart kami perlu bicara denganmu"


Rhart menyetujui untuk berbicara dengan kedua rekan komandannya itu. Mereka duduk disofa sedangkan Rhart menyiapkan teh hangat untuk mereka.


"Jadi apa yang ingin kalian bicarakan?"


"Ini tentang kejadian di hutan Dawn Forest" Ucap Ther


"?!"

__ADS_1


"Ugh"


"Hey kau tak apa-apa?" Tanya Cleus


Rhart mengingat setiap kejadian mengerikan itu setelah ia tidak memikirkannya selama dirawat.


"A..aku..tak apa-apa"


"Kami tahu, kejadian dihutan itu diluar kendali kita."


"Iya" Ucap Rhart setuju.


"Apa..kita hanya disuruh mati dengan alasan mengabdi kepada kerajaan?" tanya Rhart.


"Kurasa aku tidak dapat memberi pendapat apapun, karena seluruh anggota reguku dan Ther juga telah tewas."


"?!"


"Aku semakin curiga akan pihak kerajaan.."


"Rhart?"


"Cleus, jika memang hal ini tidak disengaja tidak ada dasar untuk hal itu, hal yang bisa kupikirkan hanyalah ini merupakan perbuatan yang sudah direncanakan!"


"Bagaimana mungkin pihak kerajaan mau membunuh ksatrianya sendiri kan?" Sanggah Cleus.


"A...aku tidak tahu... tapi ini yang kurasakan dari kenyataan ini!"


"Kau tidak boleh bergantung pada perasaanmu."


"Itu melanggar kode etik ksatria." ucap Ther


"Kalo sudah begini aku tidak peduli dengan yang namanya kode etik!"


"Itu hanya alasan agar kita tidak membawa lebih lanjut masalah ini!"


"Aku kehilangan sahabat terbaikku, mungkin kalian juga kehilangan seseorang yang berharga!"


"Apa yang harus dilakukan pada mereka yang telah mati?!"


"Apa kita diamkan saja orang-orang tak berdosa itu?!"


Luapan emosi Rhart membuatnya berteriak-teriak dalam ucapannya.


"..."


"..."


"Aku tahu Rhart, seperti yang kau bilang tadi Aku dan Ther juga kehilangan orang terdekat kami." ucap Cleus


"Mungkin kesedihan, kekesalan, amarah kita sama pada saat ini."


"Jadi kami mau mengajakmu melakukan suatu rencana" lanjutnya.


"Rencana?"


"Kami akan memanggil ksatria kerajaan untuk menggelar rapat bersama dengan kita" ucap Ther


"Rapat?"


"Bukankah hal itu harus dilakukan dibawah pengawasan kerajaan?"


"Tidak juga, karena itu kita adakan rapat rahasia dan tertutup di tempat yang tersembunyi juga."


"Hmmm"


"Kita akan bahas apa?"


"Tentang masalah ini.." jawab Ther


"Baiklah."


Akhirnya mereka bertiga sepakat untuk menghelat rapat rahasia dengan para ksatria kerajaan.


**"


Hari rapatpun tiba ketiga komandan itu hadir beserta dengan beberapa perwakilan ksatria kerajaan salah satunya bernama Korthes.


Rapat digelar disebuah rumah kosong yang jauh dari keramaian pusat kota. Rapat dibuka dengan pembahasan tentang masalah misi pada saat misi di hutan Dawn Forest, semua anggota rapat yang saat itu berjumlah enam orang setuju bahwa hal itu adalah salah raja karena memerintahkan menuntaskan misi yang mustahil yang dari awal tidak mungkin bisa diselesaikan. Dan mereka semua sepakat bahwa mereka berencana untuk menggulingkan dan mengganti pemimpin mereka saat ini demi keadilan para ksatria yang telah gugur menuntaskan misi yang sia-sia itu.


Rencana demi rencana mereka siapkan, dan keputusan akhirnya adalah bahwa mereka akan mulai melakukan rencananya di fesfival kota tahun depan tepat saat penutupan acara tersebut. Hari demi hari berlalu tidak ada hal yang janggal namun pada suatu hari Rhert, Cheus, dan Ther dipanggil Sang Raja.


Tak ada angin tak ada hujan, Raja memutuskan untuk memberhentikan mereka bertiga dari keanggotaan ksatria kerajaan, mereka bertiga tidak kaget dan juga tidak menanyakan alasan Raja melakukan hal tersebut. Kebencian dan kemarahan merekalah yang membuat sikap mereka dingin bahkan saat keluar dari ruang kerajaan.


Mereka bertiga tidak peduli dengan hal lain selain menggulingkan kerajaan karena telah berbuat semena-mena pada ksatrianya sendiri. Sejak saat itu mereka selalu bersama agar rencananya itu dapat berhasil, meskipun hubungan mereka dengan ksatria kerajaan sudah putus, namun hasil rapat yang telah mereka gelar tidak mengubah apapun karena rencana, tujuan, dan hasil akhir sudah terencana dengan jelas dalam benak mereka.


Korthes si ksatria muda adalah pemimpin dari rencana penggulingan kerajaan ini, ia berbaur seperti biasa dalam kerajaan layaknya ksatria kerajaan biasa. Namun dirinya mempunyai idealisme yang tinggi dan mampu memegang teguh dengan apa yang dipercayainya, ia tidak segan-segan untuk memakai topeng yang diperlukan demi tercapainya tujuan dan agar pihak kerajaan tidak curiga dan menangkapnya.


Ia diam-diam menyebarkan rencana dan tujuannya pada ksatria yang lain dengan rapi dan tidak diketahui bahkan ia mempersiapkan pencegahan dengan membawa potion penghilang ingatan apabila bujukannya itu tidak berhasil, namun kebanyakan ksatria setuju dan mau bekerjasama dengan Korthes sehingga makin banyaklah prajurit yang berpatisipasi dalam penggulingan kerajaan tersebut.


Waktu demi waktu berlalu, Rhart menyadari sesuatu bahwa ia teringat dengan nasihat yang ia terima dari Rudolph bahwa ia 'Tidak boleh memutuskan sesuatu kalau belum mengetahui kebenarannya'.


Kata-kata tersebut telah lama ia lupakan karena kebenciannya pada Raja Tarnatos, ia lebih sering lagi berdialog dengan dua temannya itu dan jalan pikiran mereka perlahan mulai berubah juga.


Mereka tidak sadar akan akibat dari perbuatan mereka ini nantinya, dengan menggulingkan kerajaan berarti memang secara kasar membela hak-hak para ksatria namun pastilah masyarakat yang akan merasakan teror dari para ksatria.


Mereka memutuskan untuk mengubah rencana mereka namun apa daya hubungan mereka dengan ksatria telah diputus total, sedangkan makin banyak ksatria yang akan melaksanakan rencana tersebut.

__ADS_1


***************


Pilihan yang menguntungkan satu pihak memang menarik, namun untuk memilihnya pastilah dengan keputusan yang sepihak dan egois hanya terlihat baik didepan sebaliknya pilihan yang tidak menguntungkan pastilah diperlukan pengorbanan atau bahkan harga diri yang diinjak demi menciptakan suasana damai dihari esok.


__ADS_2