Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 77: Kehidupan Terbelenggu (6)


__ADS_3

Makhluk bayangan itu kembali muncul di tengah-tengah mereka secara tiba-tiba dan tidak terduga.


"DEMI DEWA DI ATAS SEGALA DEWA!"


Dan skenario yang sama terjadi kembali, namun yang terkejut hanya Vincent yang lain sama sekali tidak.


"Vincent kau sama sekali tidak belajar ya?!" Makhluk hitam itu melihat Vincent yang berulah kembali.


"Hei hantu! Jangan tiba-tiba muncul, kau tahu aku orangnya kagetan kan?!"


" ...." Nampaknya makhluk itu mulai lelah karena ulah Vincent.


"Coba lihat sekelilingmu, konsekuensi dari apa yang kau perbuat ...."


Vincent yang tengah emosi karena kehadiran makhluk itu secara tiba-tiba akhirnya melihat sekitarnya.


"...."


"Hei hantu, apakah ini hanya perasaanku atau memang orang-orang ini tengah menatap padaku? Dan lagi mengapa tatapan mata mereka itu berwarna merah?"


"Kau baru sadar sekarang, perbuatanmu itu membuat orang lain tidak nyaman, lihat kau membuat makanan yang tengah di makan menjadi berantakan."

__ADS_1


"... As ... ta ... ga ..."


Brock menepuk dahinya sendiri, ia tidak menyangka Vincent dapat berlaku sangat keluar dari jalur karena masalah yang sepele.


"Hei ... pria bonyok! Lihat makanan kami malah berantakan!"


"Kau bisa jaga sikap tidak?!"


"Kau mau aku suapi hah?!"


"Tu-tunggu, aku bisa makan sendiri kok," tolak Vincent dengan halus, lagipula ia sudah besar tidak perlu di suapi segala.


Akhirnya keriuhan terjadi di sana, rasanya dalam hitungan detik akan terjadi baku hantam di sana.


Namun tidak sekeren itu sih hanya saja memang bentuknya yang hitam membuatnya terlihat keren.


"Kau pikir aku akan membiarkan kalian baku hantam di sini?!"


"KALIAN MAU AKU KELUARKAN DARI SEL DAN MASUK KE RUANGAN KARANTINA?!"


Begitu Makhluk hitam atau sekarang yang telah menjadi robot itu berbicara, suasana mulai kondusif secara perlahan, mungkin mereka tidak mau dihukum dengan cara yang telah dijelaskan sebelumnya.

__ADS_1


Sudah hidup di sel saja terasa bagaimana, apalagi harus berada di ruangan karantina, pastinya akan semakin terasa bagaimana.


"Hmmm, robot kau telah menyelamatkanku dari amukan massa, kau memang hebat ...." Kata Vincent sembari memegang pundaknya ternyata kali ini bisa di pegang.


"Kau harusnya mengucapkan terima kasih Vincent, astaga ...." Brock lagi-lagi menghela nafas akan kelakuan temannya itu.


Lalu robot itu akhirnya memandu mereka bertiga untuk mendapatkan kursi, namun ternyata semua penuh, akhirnya mereka harus makan di lantai.


Mereka bertiga duduk di pojokan dinding ruangan itu, menikmati makanan yang tersedia di mangkuk mereka, kebetulan menu kali ini adalah 'Mie Kuah Lezat Super Pedas Extreme Hot Spicy Food'.


"Astaga, mie ini benar-benar membuatku panas," ujar Vincent sembari berusaha mengelap cucuran keringatnya menggunakan tangannya dari wajahnya.


"Kau benar Brock, Ini benar-benar situasi yang panas, tidak tertahankan... aaaahh ...."


Melihat Brock yang mengerang seketika membuat selera makan Vincent berkurang drastis, ia segera menghabiskan makanannya karena rasa pedasnya tiba-tiba lenyap dari indera perasanya.


***


Mereka bertiga memiliki waktu istirahat sebelum kembali ke sel mereka masing-masing, Vincent memutuskan untuk mengajak Danny melihat suatu papan pengumuman yang tertempel di dinding ruang makan itu.


"Vincent, apa ini?" Danny melihat sebuah papan pengumuman, di sana terdapat berbagai macam pengumuman, namun yang paling mencolok adalah bagian tentang 'Best Fighter' di sana terdapat sepuluh petarung terhebat yang berada di tempat ini.

__ADS_1


"Kau harus mengetahui tentang hal ini Danny," ujar Vincent dengan serius.


__ADS_2