Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 463: Tidak Sadar


__ADS_3

Bola mata sang setengah elf itu bergulir ke sekelilingnya, mencari apa yang salah dengan tubuhnya sendiri.


Dan tidak ada yang aneh sejauh yang dilihatnya.


‘....’ Padahal sihir perlindungannya aktif seperti biasanya, lantas mengapa tubuhnya jadi berat sekarang?


Apakah dia kehabisan tenaga setelah bertarung dengan targetnya dan dua manusia asing tadi?


Memang kekuatan alam berasal dari pepohonan hijau, terutama hutan, dan di sini yang ada hanyalah kehancuran bangunan tak karuan.


Dengan begitu bukankah seharusnya kekuatan sang setengah elf itu juga berkurang mengingat ia tidak bisa lagi menyerap energi alam yang ada?


Secara umum memang seperti itu cara kerjanya, namun seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, bahwa kekuatan sang setengah elf ini tidak terbatas pada lingkungan sekitar saja, melainkan kekuatan alam yang murni ada dalam dirinya.


Jadi keadaannya tidak seperti yang kita duga sebelumnya. Sang setengah elf ini masih dalam kondisi yang baik.


‘Jangan-jangan... kekuatan pemuda itu?’ Shea tahu serangan sihir angin ini didominasi oleh kekuatan yang gadis itu terima dari luar.


Kekuatan batu permata mulia yang ditransfer oleh targetnya sendiri. Dan kini gadis itu memakainya dalam serangan angin miliknya.


Kekuatan sihir biasa bisa diatasinya dengan mudah bahkan kekuatan leluhur ras lain juga.


Lantas mengapa kali ini berbeda?


Apakah ini karena campuran kekuatan sihir biasa dan juga kekuatan ras lain yang membuat serangan itu bertambah kuat?


Kemungkinan itu bisa saja benar, namun pada kenyataannya kekuatan perlindungan alam Shea seharusnya bisa menangkal sebagian besar jenis sihir yang ada.


Sekali lagi, mengapa kali ini bisa berbeda?


Set.


‘!’


‘....’ Shea meraba lehernya sendiri, ia bisa merasakan dengan jelas ada yang berbeda, seeprti ada yang keluar dari situ. Perlahan ia melihat ke jemarinya dan ada bercak darah di sana.


“....” Shea tahu lukanya seharusnya sudah pulih sejak saat pertama tadi, namun mengapa malah muncul lagi?


Memang serangan di awal tadi membuatnya terluka sebentar dan sekarang luka yang sama muncul kembali.


Bagaimana mungkin dia bisa tahu akan luka yang ada di lehernya itu adalah serangan pertama? Bukankah luka itu bisa saja akibat pertarungan setelahnya?


Kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi, namun sang setengah elf itu tidak mungkin melupakan serengan kejutan yang mengarah ke lehernya itu.

__ADS_1


Dan kini hanya tinggal kekuatan kedua pria itu dan juga senjata yang digunakan yang bisa menjelaskan mengapa lukanya itu bisa muncul kembali.


‘Kekuatan mereka berdua berbeda, namun tidak ada yang aneh dengan itu.’ Shea tidak merasa kesulitan ketika menghadapi dua orang manusia ini dalam segi kekuatan mereka.


“!”


‘Pedang itu.’ Shea tidak sadar sampai dengan sekarang. Pasalnya tidak terlihat bedanya dari tampilan atau segi kekuatannya.


Luka awal yang muncul itu kembali menimbulkan sakit yang berarti, yang membuat kekuatan alam sang setengah elf ini jadi tidak stabil.


Ia tidak curiga sama sekali soal pedang yang digunakan oleh kedua manusia itu.


Dan siapa sangka itu bukan luka biasa? Luka yang bahkan tidak bisa diatasi oleh kemampuan pemulihan?


KREK.


Perlahan namun pasti kekuatan pertahanan alamnya retak, beriringan dengan tubuhnya yang semakin berat.


Shea berusaha memfokuskan kembali tenaganya, namun setelah beberapa saat juga tidak ada bedanya.


Tubuhnya tetap serasa seperti itu dan malah semakin berat.


Kekuatan yang berada di dalam tubuhnya jadi tidak stabil dan tidak bisa dikendalikan sesuai dengan perintahnya sendiri.


SRRRRR!


Tapi sayang seribu sayang, usaha yang dilakukannya itu tidak membuahkan hasil sama sekali, dinding pertahanannya malah semakin retak dan nyaris hancur.


‘Sial.’ Bahkan sang setengah elf tahu akan batasannya sendiri, terkena pengaruh khusus pada senjata ternyata bisa semerepotkan ini.


BUM!


Ledakan besar pun terjadi seketika itu juga, hempasan angin kencang yang luar biasa pun ikut tercipta secara bersamaan.


Membuat sebagian besar reruntuhan bangunan yang besar juga ikut terpental ke berbagai arah. Siapapun yang melihat kejadian ini secara langsung pasti akan ngeri dibuatnya.


Bagaimana tidak? Dengan adanya puing-puing besar yang terbang ke berbagai arah, tidakkah ada kemungkinan siapa yang berada di sana bisa terkena olehnya?


Dan apa yang bisa terjadi jika sudah terkena benda seperti itu? Sepertinya jawaban sudah terlihat jelas di sini.


Sang setengah elf itu terpental jauh ke langit dengan cepat seolah-olah tidak ada yang bisa menghentikannya.


SSHHHHHH!

__ADS_1


Shea melihat serangan berupa burung yang membawanya ke langit, ia terkena telak serangan itu, namun ekspresinya masih tidak berubah dan tetap tenang.


Tidak peduli dengan kekuatannya yang sekarang masih belum kembali seperti biasanya, Shea tetap diam, dan entah sampai mana sihir angin itu akan membawanya.


‘Aku harus menghentikan ini.’ Shea menutup matanya, memfokuskan kekuatannya lagi, dan terus berusaha agar lepas dari efek luka pedang khusus ini.


Ia tahu jika terlalu jauh pergi dari tempatnya semula, maka akan butuh tenaga besar juga untuk kembali ke tempat yang sama.


Daripada seperti itu, mendingan ia hentikan saja serangan angin ini bukan? Dan itulah yang sedang diusahakannya.


‘MUNDUR.’


‘Apa?’ Shea barusan mendengar suara bernada berat yang begitu jelas, di tengah situasinya yang kini berada di antara awan-awan.


Suara berat dan bergema, suara yang begitu kuat yang punya nada perintah keras.


Siapa yang berbicara padanya ini? Ada gerangan apakah ini?


Apakah itu suara hatinya sendiri? Ataukah ada hal lain lagi?


Shea mengambil waktu sejenak sebelum merespon apa yang didengarnya.


‘Kenapa?’ Shea tahu suara ini. Ia tidak mengerti mengapa mendapat perintah seperti ini.


‘Aku bisa mengakhiri rekan targetmu.’ Shea mengutarakan alasan mengapa ia tidak ingin mundur sekarang.


‘MUNDUR.’ Tidak peduli dengan apa yang dikatakannya sebelumnya, tetap saja suara itu memerintahkannya untuk mundur.


Shea sadar ia tidak punya pilihan lain selain menuruti apa kata suara itu. Tidak peduli seberapa ingin ia menjalankan rencana yang ada dalam pikirannya ini.


‘Baiklah Tuan Archifer.’


Perlahan namun pasti luka pada leher sang setengah elf itu mulai menghilang. Kali ini benar-benar menghilang, dan tubuhnya pun sudah tidak berat lagi.


BUM!


Dengan satu kibasan tangan kecil saja serangan angin burung itu hancur seketika itu juga. Efek ‘melemahkan’ pada lukanya itu hanya berlangsung sebentar saja. Dan sebenarnya ia sudah siap kembali melakukan urusannya yang tertunda.


Namun apa daya, ketika pemimpin sudah berkata hal lain, maka tidak ada yang bisa dilakukan selain menurutinya.


SYUT.


Seketika itu juga lingkaran sihir hijau tercipta, Shea menghilang bersamaan dengan sihir itu, meninggalkan urusannya yang masih belum selesai di pusat kota Kerajaan Timur.

__ADS_1


__ADS_2