Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 524: Raja Iblis


__ADS_3

Dia yang dikenal dengan ketegasan dan kekuatannya pada akhirnya menunjukkan sisi yang begitu berbeda.


"Ce.... cilia...." Danny membuka matanya perlahan, menatap lawannya dengan mata yang tulus. Air matanya tidak terbendung.


Sorot matanya menunjukkan sesuatu yang tidak terucap dengan kata-kata.


"...." Mata Shea terbuka lebar, dan kemudian bibir kecilnya yang penuh darah itu tersenyum.


Bahkan di tengah situasinya sekarang, ia seolah jadi orang lain, tidak peduli dengan keadaan dirinya sendiri.


"Jangan... menangis...." Shea tersenyum begitu lembut, yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun selama hidupnya.


Rasanya tidak aneh ketika melakukannya. Ia tidak ingat kapan terakhir kali tersenyum begini.


Yang pasti rasanya sudah lama sekali.


Tidak ada kecanggungan atau senyum palsu, semuanya spontan begitu saja dan tidak direncanakan sama sekali.


Shea tidak pernah merasa sehangat ini sebelumnya. Bahkan rasa sakit seolah sirna daripadanya.


Jadi pemuda itu berkata hal yang benar dari dulu? Padahal ia selalu saja menolaknya dan bersikukuh tidak mengenalnya.


Terlihat jelas perubahan yang begitu berarti pada sang setengah elf ini.


Tidak ada lagi perasaan geram dan penolakan seperti dulu.


Perubahan seratus delapan puluh derajat ini bukan tanpa alasan.


Perasaan yang begitu tulus... yang tidak mungkin ditujukan orang asing.


Tidak ada yang bisa menjelaskan apa yang dirasakannya, kecuali memang dirasakan sendiri.


Kenyataan bahwa pemuda itu berusaha meyakinkannya dari awalpun memang tidak terbantahkan.


Namun butuh waktu lama untuk menyadarinya.


Dan sekarang Shea akhirnya benar-benar sadar soal hal ini.


'Aku... adalah Cecilia....' batin sang setengah elf itu, ia akhirnya ingat bagaimana momen pertama bertemu dengan pemuda ini.


SHHHH....

__ADS_1


Perlahan namun pasti pedang batu permata mulia Danny menghilang, menyisakan tubuh sang setengah elf yang begitu lemas.


Puk.


Danny menahan Cecilia yang lemah dan memeluknya.


"... Danny...." Pemuda itu bisa mendengar bagaimana suara rekan lamanya, mau sekeras apapun ia mengingatnya, namun tetap saja kejadian itu tidak terlupakan.


"Terima kasih...." Cecilia menatap Danny lemah dan kemudian menutup matanya.


Gret.


Danny mengambil momen ini untuk tetap memeluk Cecilia, rekan lamanya yang menyelamatkannya dari kematian.


*


Danny tahu, kenyataan bahwa hal ini tidak terelakkan terjadi, namun ia tidak mungkin berkutat terus dengan perasaannya.


"Tidak berguna."


"!?" Danny mendengar suara yang begitu keras, bak gemuruh disiang hari di dekatnya.


DEG!


Danny membuka matanya perlahan, dan tidak jauh dari hadapannya ada sesosok tinggi besar dengan jubah merah, zirah dan pakaiannya berlapis emas, mewah, memegang pedang kegelapan aura merah yang sangat kuat.


"!" Danny tidak bisa mengarahkan pandangannya lebih atas lagi, seolah ada sesuatu yang menahannya melakukannya.


Tubuhnya bergetar hebat, menolak kehadiran sosok dengan aura kekuatan sehebat ini. Kekuatan tanpa batas yang sangat menakutkan.


"...."


'....' Danny menenangkan dirinya. Ia sadar, kekuatan dunia buatan alam Cecilia memang masih ada berkat kekuatan alam yang belum sepenuhnya menghilang.


Namun mengapa di dunia buatan ini tiba-tiba ada sosok luar yang datang?


Yang seharusnya itu tidak mungkin terjadi, karena kekuatan dunia buatan terpisah dari dunia nyata.


'....' Aura kekuatan gelap yang tidak terbatas yang tidak bisa diperkirakan, hawa kengerian yang sangat kuat membuat Danny merasa tertekan.


Danny meletakkan Cecilia di bawah, dan kemudian maju sedikit ke depan.

__ADS_1


"Harus kulakukan sendiri." Sosok itu kembali berbicara, membuat tanah bergetar hebat, kekuatan alam langsung tidak stabil seketika itu juga.


Danny menguatkan kekuatannya, meski ia tidak tahan untuk melihat wajahnya, namun dari sini ia tahu dengan siapa ia sedang berhadapan.


"Pengganggu...."


Inilah momen yang yang tidak terelakkan, di mana pada akhirnya ia bertemu dengan....


"Archifer." Danny sedikit tersenyum.


'Akhirnya,' batin Danny.


Tidak perlu perkenalan atau pembicaraan panjang lebar, Danny tidak perlu memastikan lagi.


Siapa sangka bahkan sang raja iblis sendiri datang ke sini?


Sang raja iblis tentunya bisa melakukan apapun, bahkan masuk ke dunia buatan sekalipun.


Kekuatan gelap yang tidak terukur ini mengingatkan Danny pada Victoria dan Domer, namun tidak mungkin dibandingkan. Perbedaannya begitu jauh.


Bagai langit dan bumi, kekuatan sosok yang ada di hadapannya itu benar-benar tidak masuk akal.


Mengapa sang raja iblis tidak mengambil nyawa Danny dengan instan? Padahal dengan kemunculannya yang mendadak ini, tentunya mudah sekali melancarkan serangan fatal.


Alih-alih melakukan itu, Archifer malah muncul dan memerhatikannya saja.


Mengapa sang raja iblis tidak berjalan di cara yang mudah saja?


Danny terdiam, ia tahu sosok di hadapannya itu bisa melakukan apapun, bahkan apa yang belum dipikirkan.


Mencabut nyawanya di awal adalah salah satunya.


'Aku belum sempat....' Danny tahu ia menghadapi musuhnya dengan tujuannya yang belum selesai.


Tidak ada senjata buatan penjaga hutan sihir di tangannya. Tidak berjalan sesuai dengan rencananya.


"Bocah." Suara sang raja iblis menggema, membuat semuanya bergetar.


"Aku di sini." Pandangan Danny tertahan hanya pada sebatas zirah dan pakaian berlapis emas saja. Sulit sekali melihat bagaimana penampakan wajahnya.


"Seharusnya aku menghabisimu dari awal."

__ADS_1


'....' Ah, kata-kata klasik. Danny mencoba mengerti apa yang dibicarakan sang raja itu.


"Tapi itu tidak akan menarik...."


__ADS_2