
Danny benar-benar terkejut dengan apa yang didengarnya, mungkinkah ia salah dengar?
"Tu...tunggu dulu.."
Gadis itu menatap Danny dengan penuh arti seakan memang dirinya tidak bercanda dalam hal ini.
Memangnya kenapa?
Dia ini kan punya kewajiban lain?
Patricia kembali berbicara,
"Huh? tenang saja aku juga sudah punya pengalaman bertualang kok, lagipula sepertinya kita seumuran.."
Hah?
"Bu...bukan begitu.. Bagaimana kalau tujuanmu memang berbeda denganku, lagipula perjalananku ini memang berbahaya jika kau ingin tahu..."
Gadis itu mulai berdiri, tingginya memang sama dengan Danny.
"Lagipula kita juga baru bertemu..." Danny lagu-lagi melayangkan matanya ke arah lain
"...."
Patricia menatap Danny,
"Lho? kalau lagi bicara lihat lawan bicaramu dong..."
Danny memang mengerti, namun setiap kali ia menatap Patricia, ia seperti melihat Cecilia yang telah pergi darinya. Seakan kenangan yang dialaminya kembali berdatangan.
"A..aku..."
"Kukira kamu memang mengalami banyak hal ya?" tanya Patricia
"Kau terus berusaha lari, mengejar targetmu, lupa dengan dirimu sendiri..." Patricia kini mulai berbicara panjang lebar, sepertinya hendak menceritakan kisah hidupnya
"Kau tahu? berjuang sendirian itu tidak enak lho..."
Patrucia menggaruk-garuk pipinya sedikit "Lagipula aku juga mengalaminya kok...Aa...haha..."
"Aku selama ini berpetualang dari desa ke desa, sesekali aku tiba disebuah kota yang tak kukenal sama sekali..."
__ADS_1
"Aku juga seseorang yang payah... aku sama sekali tidak bisa bertarung..."
"Huh?"
"Lantas mengapa kamu bertualang?" tanya Danny
"Aku...."
"Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi..." balasnya dengan senyuman kecil
Danny kemudian melihat Patricia, memang senyuman manisnya itu menandakan ia tidak berbohong, begitu jujur, rasa-rasanya Danny bisa merasakan juga kesendirian yang telah dialami oleh Patricia itu.
"Aku... Keluargaku..."
Patricia terdiam, Danny tidak tahu apa sebabnya, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu namun sesuatu menghalangi dia untuk mengatakannya.
"..."
"Ah! sepertinya itu tidak penting, yang lebih penting, kini aku tidak mau sendirian lagi..."
"..."
Patricia masih saja tersenyum pada Danny, padahal terlihat jelas dia juga menyembunyikan kesedihannya sendiri.
"Perjalananku mungkin dapat berbahaya bagimu..."
Meskipun begitu, wajah Patricia sama sekali tidak menunjukkan keraguan,
"Tak apa! selama aku tidak sendiri..." mata Patricia berbinar
"Dan kau juga...." lanjutnya
"Itu semua tak masalah!"
Danny melihat perempuan yang penuh semangat ini, ia juga dikelilingi kelembutan, padahal mereka baru pertama kali bertemu..
Apakah tidak apa-apa?
Danny memikirkan hal-hal yang menjadi prorioritas Patricia..
*Bagaimana kalau dia dalam bahaya?
__ADS_1
Bagamana kalau aku tak mampu melindunginya?
Bagaimana jika aku*...
"HEI!"
"!"
"Malah melamun begitu!" Patricia sedikit kesal karena Danny mengabaikannya
Ah... mungkin tak apa-apa
Lagipula kini aku....
Tidak sendirian lagi...
"Patricia.... memang kita baru bertemu..."
"Aku juga tak menjamin bisa melindungimu..."
"Dan kau mungkin akan mengalami berbagai hal..."
"Tapi... seperti katamu..."
"Aku pasti akan bersamamu..." Danny tersenyum
"Ah!" Patricia tiba-tiba menunjuk pada wajah Danny
"A..apa? apa ada yang aneh?" ucap Danny sambil meraba-raba wajahnya sendiri
"Ah..ahaha.."
"Bukan begitu... Aku akhirnya bisa melihatmu tersenyum..."
"Huh? Aha..haha..."
Mereka berdua tertawa bersama ditengah sawah yang begitu hijau, nampaknya kini cuaca nampak begitu cerah dan hangat.
Kini perasaan Danny mulai bisa tenang dan lebih terbuka pada teman barunya itu, ia tidak menyangka akan kembali bertemu seseorang yang begitu peduli setelah dia mengalani berbagai macam hal sendirian
Dan juga agaknya, ia mulai bisa mempercayakan hal seiring dengan berjalannya waktu.
__ADS_1
Dan Danny terus berharap hal baik terus berjalan, seakan menuntun mereka, memberikan terus kekuatan untuk melangkah bahkan jika harus melewati kegelapan sekalipun.