
Kreeek....
Terlihat nenek tua dengan pakaian sederhana membuka pintu rumah.
“Oyah, ada apa pagi-pagi buta datang ke sini?” Nenek tua itu menggosok matanya, ia terlihat kurang tidur dan memicingkan matanya. Suaranya terdengar parau namun masih terdengar jelas.
“Sekarang sudah siang Nek.” Gill menunjuk ke belakang, memang begitu terik dan panas sekarang ini..
“Oh?” Nenek tua dengan rambut panjang itu membuka matanya lebih lebar dan sedikit tersenyum.
“Heheh, ada apa kalian anak muda kemari?” Nenek tua itu menanyakan maksud dari Jack dan Gill yang mengunjunginya sekarang.
“Maaf menganggumu Nek, tapi kami ingin tahu suatu hal.” Jack menagatakan maksudnya.
“Ah? Kalau begitu masuk saja....” Nenek tua itu terlihat sedikit terkejut dan tidak percaya dengan apa ia dengar tadi.
Tanpa berlama-lama lagi Jack dan Gill akhirnya masuk ke rumah tua kecil itu dan suasana di dalam memang seperti yang mereka duga sebelumnya.
Ruangan rumah yang tidak terlalu terawat, dinding yang retak, lantai yang pecah, kaca yang tertutup debu, semua situasi ini pasti tidak akan mengenakkan bagi siapapun yang mencintai kebersihan.
Ini bukan pertama kalinya kedua bersaudara ini mengunjungi tempat seperti ini, namun pada akhirnya mereka bisa mengerti mengapa kediaman beliau bisa jadi seperti ini.
Apalagi kalau bukan karena kini banyak orang yang sudah meninggalkannya?
Jack bisa mengerti itulah alasan yang paling bisa menjelaskan mengapa bisa jadi seperti ini.
“Duduklah, jangan anggap seperti di rumah sendiri.” Nenek tua mantan peramal itu mempersilahkan Jack dan Gill untuk di tengah ruangan. Tidak ada apapun selain meja kecil dengan bola hitam di atasnya dan kedua buah alas duduk yang sudah lapuk di sana.
Jack dan Gill langsung tahu bahwa itu adalah tempat penting dari nenek tua mantan peramal ini.
Jack dan Gill langsung duduk di kedua tempat yang sudah disediakan, tidak terlalu nyaman, namun lebih baik ketimbang harus duduk di lantai yang penuh serpihan lantai keramik yang pecah.
“Dua gelas minum untuk kalian.” Tak berselang lama akhirnya nenek tua itu datang dan membawa dua gelas air putih, meletakannya di samping bola besar dan kemudian duduk.
Jack terdiam, sedang Gill langsung mengambil segelas air putih, mengingat dia cukup haus karena cuaca panas sekarang ini.
“Terima kasih nek.”
Gluk.
Gill langsung menenggak air itu sampai tidak bersisa lagi. Dan seketika itu juga raut wajahnya berubah cukup drastis.
“Segar sekali!” Gill terlihat masih terkejut sekaligus penasaran soal minuman yang diminumnya itu.
“....” Jack tidak mengira adiknya akan bereaksi seperti itu, padahal biasanya juga tidak seperti itu.
“Hehehe, kau juga minumlah.” Nenek tua itu tertawa kecil dan mempersilahkan Jack.
Jack yang melihat itu hanyalah minuman biasa pada akhirnya mengambil gelas, dan meminumnya sedikit.
Gluk.
Dan Jack terdiam sejenak, perlahan namun pasti ekspresinya berubah.
“Hm.”
Gluk.
__ADS_1
Gluk...
Setelah jeda singkat Jack menaruh gelas kosong di meja, entah mengapa ia merasa berbeda sekarang.
“Ini bukan air biasa.” Jack menatap nenek tua yang tersenyum kecil, ia tahu dari apa yang telah diminumnya tadi, rasa segarnya mengalahkan minuman apapun, bahkan es krim sekalipun.
Gill tidak tahu bagaimana pembuatan minuman air putih tak dingin namun segar itu, tapi yang pasti ini jadi membuatnya lebih semangat lagi sekarang.
“Hehe, syukurlah kalau kalian suka, hanya itu yang bisa kusajikan untuk kalian.” Nenek tua tersenyum melihat kedua tamunya menerima apa yang disuguhkannya.
“Masa mudaku sebagai ahli herbal memang tidak sia-sia, haha!” Nenek tua itu kini tertawa cukup kencang, sungguh energi besar yang keluar dari sana.
“Nenek bukan peramal?” Gill langsung sadar akan hal ini, apa mereka salah rumah?
“Gill.” Jack melihat adiknya dengan serius, bisa terlihat jelas apa yang dikatakannya melalui tatapan matanya itu.
“Kalau kalian mencari mantan peramal, kalian tidak salah. Aku hanya memberi tahu kalian soal minuman itu saja." Nenek tua itu akhirnya bicara cukup panjang, menjelaskan maksud dari perkataannya tadi.
“Kami baru tahu nenek juga ahli tanaman.” Jack tidak pernah mendengar ini dari orang sebelumnya.
“Tidak semua orang harus tahu tentang dirimu bukan?” Nenek tua itu menatap Jack dan Gill dengan penuh arti.
Yang di mana bisa ditangkap Jack dan Gill dengan cepat, jadi itu alasannya mengapa nenek tua ini bisa menyuguhkan minuman air putih yang segar dan penuh tenaga ini.
Apalagi kalau bukan karena keahlian nenek itu dari masa lalu? Tidak sulit bagi beliau untuk membuat minuman berkhasiat tak mencolok.
“Aku tidak mengira akan meramal lagi.” Nenek tua itu menatap bola besar yang ada di mejanya dengan tatapan penuh arti, seolah benda itu punya banyak arti baginya.
“Kami tahu sedikit soal ceritamu Nek.” Jack melihat nenek mantan peramal itu dengan penuh perhatian.
Jack dan Gill tahu soal popularitas nenek peramal ini menurun drastis sejak beberapa waktu, dan itu adalah penyebab beliau berhenti meramal, tepat di peristiwa yang tidak pernah diketahui orang.
“Nenek adalah peramal terhebat di daerah Selatan.” Jack mengeluarkan nada yang bisa membuat siapapun yang mendengarnya jadi merasa yakin.
Sebagian besar orang tahu, ketika seorang peramal sudah berhenti maka itu tandanya jasanya sudah tidak relevan lagi digunakan, namun tetap saja kedua pemuda ini datang ke tempatnya.
“Peramal terhebat di daerah selatan tidak mungkin berhenti tanpa alasan.” Jack terus mengeluarkan pernyataan yang membuat siapapun yang mendengarnya jadi ingin bercerita panjang lebar, dan itu berlaku bagi nenek peramal ini.
Nenek tua sedikit tertunduk, di balik penampilannya yang sudah senja, namun pada akhirnya aura semangatnya yang kuat tidak bisa menipu orang.
“Percayalah Nek.” Gill juga membantu meyakinkan nenek mantan peramal itu, karena memang untuk itulah ia menjalankan rencana ini dengan kakaknya.
Nenek mantan peramal itu mengangkat wajahnya setelah beberapa saat tertunduk.
“Aku tidak berniat menyimpan ini sampai mati, setidaknya aku bisa menceritakannya pada kalian.... Jack, Gill.”
Akhirnya Jack dan Gill mendengarkan cerita nenek tua itu beberapa saat.
“Hm....” Gill menyilangkan kedua tangannya setelah mendengar cerita nenek tua peramal itu.
“Gadis bertudung hitam, Olivia....” Jack mengulang poin penting dari cerita yang didengarnya itu.
“Dia sudah pasti bukan orang biasa kak.” Gill menyatakan pendapatnya dengan tegas.
“Danny adalah targetnya. Kenapa Nenek tidak memberi tahu padanya?” Jack penasaran akan hal ini, seharusnya tidak sulit bagi seorang peramal melacak keberadaan seseorang.
Nenek itu terdiam sejenak, dan berkata pelan, “Aku tidak bisa melakukannya.”
__ADS_1
“Tapi gadis itu tetap memaksaku.” Nenek tua itu terdengar meyakinkan, karena memang itulah yang terjadi.
“Sejak saat itu aku tidak bisa meramal lagi,” lanjut sang nenek.
“Olivia pasti melakukan sesuatu pada bola sihirmu Nek.” Dari pengakuan dan cerita nenek itu, inilah kesimpulan yang diambil Jack.
“....” Nenek tua itu menatap bola sihir itu dengan penuh arti, ia tidak menyangkal kesimpulan yang dibuat salah seorang pemuda yang datang ini.
“Karena dia tidak dapat apa yang diinginkannya.” Gill berkomentar kembali, raut wajahnya berubah jadi tidak senang sekarang.
Kenapa perempuan bernama Olicia sampai-sampai berbuat seperti ini? Tidak cukupkah dia dengan pernyataan nenek tua ini?
“Nenek benar-benar tidak bisa melacaknya?” Jack memastikan lagi akan hal ini.
Nenek tua itu mengangguk kecil. “Benar, seperti ada sesuatu, kekuatan aneh yang membuatnya sulit diketahui.”
Jack mengangguk kecil juga, ia mengerti apa yang dikatakan oleh nenek itu.
Kekuatan aneh yang dimiliki Danny, yang menyelamatkannya dan adiknya dari situasi sulit ketika berhadapan dengan iblis dahulu.
Kini dengan pengakuan nenek tua peramal yang kini sudah pensiun itu, Jack dan Gill tahu kini Danny adalah incaran iblis.
Firasat Jack tidak salah dari awal, dan kini ia tidak bisa meminta pertolongan pada nenek tua ini.
“Tunggu dulu anak muda, mungkin aku masih bisa melakukan sesuatu,” kata sang Nenek membuyarkan pikiran Jack.
Dengan segera nenek tua itu mengangkat kedua tangannya ke sekitaran bola besar itu dan selama beberapa waktu tidak terjadi apapun.
“Kami baik-baik saja Nek, jangan paksa dirimu.” Gill bersimpati bagaimana nenek peramal bisa seyakin itu, sementara ia dan kakaknya tahu kemampuan bola sihir itu sudah dimatikan Olivia.
“....” Jack sendiri masih menunggu apa yang akan terjadi.
Sring....
Tak berselang lama kemudian akhirnya sesuatu terjadi, bola hitam besar itu mulai bereaksi dan memancarkan cahaya putih.
Jack dan Gill maju ke depan untuk melihat apa yang dimunculkan oleh bola besar itu, yang ternyata adalah senuah kota besar yang tak asing bagi mereka.
“Tempat ini.” Gill menaruh tangannya di dagu, memang ia tahu akan lokasinya, namun mengapa bola ramalan menunjukkan tempat ini.
Syut.
Tak lama berselang bola itu kembali ke situasinya yang awal, dan terlihat nenek tua kelelahan sekarang.
“Hah, aku masih bisa menggunakan tenaga terakhirku.” Sang nenek bangga dengan apa yang telah ia lakukan.
“Sudah kuduga! Nenek memang peramal yang hebat! Bahkan setelah pensiun sekalipun!” Gill menyatakan kekagumannya, ia terkesan dengan usaha yang dilakukan oleh orang tua ini.
Jack setuju dengan adiknya, kemampuan meramal nenek tidak tergantung pada benda, bahkan setelah bola hitamnya dimatikan oleh orang, tetap tidak bisa membendung usaha yang telah dilakukannya.
“Terima kasih atas bantuanmu, Nek.” Jack kini tahu apa yang akan lakukan setelah ini, ia bangkit berdiri diikuti oleh adiknya.
“Orang tua sepertiku masih bisa berguna, aku ucapkan terima kasih.” Nenek tua mantan peramal begitu rendah hati dan merasa senang bisa membantu kedua orang yang datang ini, yang adalah pengunjungnya yang terakhir.
“Selamat jalan, Jack, Gill.” Nenek tua peramal itu berdiri di dekat pintu dan melambaikan tangannya, sedang Jack dan Gill juga melakukan hal yang sama dan perlahan namun pasti langkah mereka semakin jauh....
“Kedua cucuku... ternyata sudah besar....” Nenek tua peramal itu perlahan menghilang dan senyumannya yang hangat masih teringat jelas dalam kedua pemuda yang telah datang ke tempatnya ini.
__ADS_1