Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 91: Harapan


__ADS_3

"Vincent, apa kau tidak salah lihat? Mengapa lawanku malah memiliki statistik yang begitu hebat? Ia juga sudah lama mengikuti kompetisi ini ...."


Vincent menanggapi dengan di tambah oleh nada kebenaran dalam suaranya itu, "Tentu Danny, asal kau tahu saja sistem pertandingan di sini tidak ada yang namanya 'berurut', jadi lawanmu bisa siapa saja dan tidak memandang statistik mereka selama bertarung."


Danny mengerutkan dahinya, rasanya memang sistem pertandingan di sini benar-benar secara terang-terangan tidak mengizinkan siapapun untuk bertengger di posisi nomor satu untuk waktu yang telah di tentukan.


Ia kemudian bertanya-tanya, apakah mungkin untuk keluar dari sini? Lantas bagaimana nanti dengan tujuan utamanya selama ini?


"Danny, aku mengerti akan apa yang kamu pikirkan, aku lihat keoptimisanmu menurun drastis ketika mengetahui hal ini, tapi ketahuilah jika kamu berniat menang, pasti saja ada jalan. Dan keuntungan dari sistem itu, jika kau menang maka akan langsung menempati posisi di mana petarung tertinggi berada yang telah kau kalahkan, dalam hal ini kesempatanmu untuk naik ke peringkat lima ratus adalah hal yang cukup besar."


Danny mengerti akan perkataan Vincent, memang jika itu adalah keuntungannya, tapi jika kalah maka hal itu akan sia-sia, ditambah pengalamannya itu kalah jauh dibanding dengan Petarung yang akan ia lawan itu.


Danny kemudian tertunduk, ia mengambil posisi duduk membungkuk melingkarkan tangannya pada kakinya di sebelah jeruji sel itu, nampaknya ia sendiri tengah mengambil waktu untuk merenung.


Vincent sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang, ia mengerti Danny sekaranglah yang harus berjuang, pikirannya kali ini adalah lawannya sendiri sebelum pertarungan benar-benar di lakukan.


Vincent akhirnya merebahkan diri, ia memandang langit-langit yang sama untuk lima tahun, meragukan apa yang sebenarnya ia lakukan selama ini di sini, memikirkan hal apa yang akan di lakukan 'jika' ia berhasil keluar dari sini yang memang nampaknya oleh dirinya pun kurang lagi percaya akan kemungkinan itu, namun hal yang harus dilakukan adalah memang ia harus mulai berharap- bahkan jika sekecil apapun peluang yang ada untuknya.

__ADS_1


***


Malam haripun tiba, pertandingan kembali dilakukan, riuh penonton yang bersorak-sorai, para petarung yang mantap siap untuk kembali menunjukkan kebolehannya itu.


Sepuluh menit pertandingan akan segera di mulai namun Danny malah belum muncul di arena itu, " Hei Vincent apa kau tahu di mana Danny? Ini sudah sepuluh menit menuju pertandingan, aku takut bilama dia harus didiskualifikasi karena tidak datang untuk bertanding."


Vincent hanya bisa menngalihkan pandangan kesana-kemari tanpa menemukan petunjuk apapun tentang batang hitung Danny, "Aku tidak tahu Brock, mungkin saja dia lagi diare, atau mungkin mulas karena gugup?"


***


Danny sendiri nampaknya tengah berada di sebuah toilet khusus dekat arena pertandingan itu, lagipula ia telah siap sedia dengan pakaiannya, bertelanjang dada dan memakai celana pendek.


Entah mengapa sejak berada di sini, Danny merasa kekuatan fisiknya tidak sekuat dulu, ia sempat curiga mungkinkah ini akibat penetralan sihir yang berada di tempat ini.


Danny juga menduga bahwa kekuatan fisiknya itu juga merupakan bagian dari kekuatan sihir juga, jadi mereka berkesinambungan atau dalam kata lain saling terkait satu sama lain.


Namun memikirkan tentang hal itu tidak akan memberikan jawaban apapun, Danny harus bisa menemukan sendiri jawabannya dengan kembali bertarung secara sungguhan, setelah itu mungkin saja ia akan menemukan suatu hal yang belum ia ketahui sampai saat ini.

__ADS_1


Danny harus bisa memecahkan misteri ini, agar dapat membantunya keluar dari sini, perlahan namun pasti, ia memang harus segera keluar dari sini.


***


Sementara itu, waktu benar-benar menipis, satu menit tersisa, kedua orang itu malah panik satu sama lain.


"ASTAGA BROCK, DI MANA SEKARANG DANNY?!"


"HAH?! MANA KUTAHU! KUKIRA KAU AKAN SELALU BERSAMA DENGANNYA!"


"SEHARUSNYA KAU BROCK YANG SELALU MENGAWASINYA!"


"ENAK SAJA! VINCENT KAU SENDIRI YANG BIASANYA MEMBERI ARAHAN PADANYA!"


"Eee, kalian mencari aku?" Danny muncul di tengah keriuhan dua orang yang tengah ribut itu.


Kedua pria itu kembali menoleh bersamaan pada suara yang mirip Danny.

__ADS_1


"Oh! Ternyata kamu Danny, aku sempat khawatir kau tidak akan datang ke sini," ujar Vincent sambil memeluknya, Brock merasa lega pula kerena telah melihat Danny berada di sini.


__ADS_2