
"Hentikan? Kita baru saja akan mulai!" Forhan berseru dengan suara keras dan terdengar tidak percaya.
"Apa?!" Danny tercengang ketika melihat pedang besar temannya yang telah hancur itu kemudian menyala terang dan setiap potongan kecil senjata itu kembali menjadi utuh dalam genggaman pria besar itu dengan cepat.
"Urgh." Danny merasa ada yang tidak beres dengan tangannya sekarang, terasa sedikit panas.
"A-apa?!" Danny terkejit melihat tangannya yang kini berwarna merah— tidak, tidak hanya berwarna merah tapi juga mengeluarkan darah, tidak salah lagi tangannya terbakar dengan hebat sampai-sampai melepuh!
"Hmmm, sudah kubilang ini baru saja permulaan, jika kau mengalahkanku dengan cepat itu pastinya membosankan bukan?"
Seolah pria besar itu merasa Danny akan bisa cepat mengalahkannya, namun ternyata yang terjadi tidaklah seperti itu.
Forhan menatap Danny dengan serius, kini ia tengah memegang pedang besarnya yang kini sudah terbentuk kembali di punggungnya, dan berubah penampilannya seperti banyak garis merah darah di setiap lekukan pedang besar itu.
"Danny pakai ini!" Vincent berteriak dari jauh sambil melemparkan sesuatu pada Danny yang tengah terdiam itu.
Dengan sigap pemuda itu mengangkat tangannya ke atas dan menerima pemberian temannya itu, tentunya itu adalah botol kecil potion pemulih.
Danny sadar barang bawannya sudah lepas dari tubuhnya, ia tidak tahu lagi ke mana tas yang ia bawa yang di mana ia menyimpan berbagai macam barang pemberian Tuan , padahal isinya adalah berbagai macam potion yang bisa membantunya dalam situasi seperti ini.
Tanpa berlama-lama Danny segera meneguk potion pemulih yang diberikan oleh temannya itu, cairan hijau dalam botol kecil itu akhirnya sudah memasuki tubuhnya.
"Ke- kenapa ini?!"
"Huahahaha! Danny kau pikir dengan meminum potion, luka bakar pada tanganmu itu akan hilang? Sayangnya itu bukanlah luka biasa!" Forhan tertawa puas melihat Danny yang keheranan karena potion pemulih yang seharusnya bisa memulihkannya itu malah tidak berdampak apa-apa.
Tangannya masih basah dan kemerahan, tetesan darah tidak bisa terbendung lagi dari kedua tangannya, rasa sakit dan ngilu beriringan dan semakin lama rasa sakit itu malahan bertambah.
Danny yang tidak tahu alasan mengapa lukanya itu tidak pulih hanya bisa menduga satu hal, serangan Forhan yang berkekuatan demi human ini adalah serangan yang tidak bisa dipulihkan dengan cara biasa.
"Pedang itu ...." Fokus Danny kini terarah pada pedang kemerahan yang dimiliki Forhan, aura jahat tidak hanya terasa dari temannya itu saja melainkan dari pedangnya itu juga.
Dan pada akhirnya ia sadar, pedang Forhan bukanlah senjata biasa, ia seperti benda yang memiliki keinginan membunuh yang luar biasa, yang bahkan aura jahatnya sampai-sampai menyamai orang pemegang pedang tersebut.
"Kerajaan Timur kah? Sudah beberapa waktu berlalu saat aku berada di sini ... Haaah keadaan kacau seperti ini jarang sekali kulihat." Forhan melihat sekitarnya dengan pandangan mata yang tenang, seakan menikmati setiap pemandangan di mana bangunan hancur dan teriakan orang-orang ketakutan yang bercampur adalah hal yang baik.
Danny kini sudah tidak bisa lagi menganggap temannya itu adalah teman yang dulu ia kenal, orang yang sama namun terasa berbeda; keinginannya untuk bertemu teman berpetualangnya ketika pertama kali dengan baik malah berakhir seperti ini.
"Kehancuran ini yang kau inginkan Forhan? Inikah jati dirimu yang sebenarnya?"
"Hm?" Forhan menatap Danny dengan kembali serius, alis matanya menunduk tajam ke bawah dan mukanya muram.
"Menghancurkan tempat ini adalah cara termudah untuk menarik perhatianmu Danny, aku tidak perlu susah-susah lagi mencarimu."
HUSH!
Forhan beranjak dari tempatnya berdiri dengan sangat cepat, bahkan menghancurkan apa yang berada di bawah pijakan kakinya dengan mudah..
"Nah sekarang kembalikan kekuatan yang kau pinjam itu Danny!"
SYUUUT!
ZUUUNGG!!!
Danny bisa melihat dengan jelas bagaimana Forhan menyerang dengan pedanhnya ke arahnya, dengan cepat ia juga maju ke depan dan meninju keras pria besar itu selama maaih dalam gerakan yang lambat itu.
BUAKKK!!!
__ADS_1
HUUUSH!
Angin bertiup kencang sebagai akibat dari serangan tinjuan yang dilancarkan oleh Danny itu, Forhan yang tidak sempat menyadari apa yang terjadi barusan dan hanya terheran mengapa ia sedang terpental cukup jauh sekarang.
Sama seperti sebelumnya, demi menghentikan dirinya dari hempasan ini, Forhan dengan cepat berkelit dan menancapkan pedangnya ke arah jalan beton dan bersamaan dengan pedangnya beradu dengan jalan itu, akhirnya perlahan demi perlahan ia bisa menghentikannya.
Kini jaraknya dan Danny cukup jauh, pria besar itu memegang wajahnya sendiri dan mengetahui dengan pasti bahwa memang darah keluar dari wajahnya itu, serangannya itu tidak terlalu dirasakannya, hanya saja ....
"Danny, dia tidak hanya telah mengumpulkan satu kekuatan rasku itu saja, sebenarnya seberapa banyak yang telah ia peroleh?" Forhan bergumam memikirkan hal ini.
Di sisi lain Danny yang telah mendapatkan jarak aman karena temannya itu sudah berada cukup jauh merasa pertarungan ini sama sekali tidak ada gunanya, lagipula bagaimanapun juga Forhan adalah temannya dan itu sama sekali tidak berubah meskipun sifatnya sendiri sudah berubah.
"Apa yang harus kulakukan?"
***
Sementara itu Vincent, Brock dan Patricia melihat semua kejadian ini dari jauh, mereka tegang dan sama sekali tidak mengerti mengapa Danny dan pria asing lain yang besarnya mirip dengan Brock itu berseteru satu sama lain.
"Hei Brock kau mengenal orang yang menyerang Danny?" Vincent memulai percakapan dengan maksud ingin tahu lebih jelas siapa sebenarnya orang besar berbulu yang berpenampilan tidak biasa itu.
"Jangan pikir jika aku berpenampilan besar sepertinya maka secara otomatis aku mengenalnya, aku sama sekali tidak tahu apa hubungan orang itu dengan Danny." Brock pun penasaran dengan orang asing yang membuat kekacauan di tempat yang notabene adalah pusat kerajaan timur sendiri.
"Hei, apakah kamu sudah lebih tenang adik kecil?" Patricia masih mendekap gadis kecil yang sebelumnya merasa takut karena kejadian ini, dan sepertinya ketakutannya belum sepenuhnya sirna.
Gadis kecil itu muncul sedikit dan berkata pelan, "Te-terima kasih kak ...."
Dan setelah mengatakan itu ia kembali menenggelamkan wajahnya di dekapan Patricia.
Patricia mengelus lembut kepala gadis kecil itu seraya berkata, "Jangan khawatir, kita akan segera menemukan orang tuamu."
***
Danny melihat Forhan berjalan santai menuju ke arahnya kembali, wajah yang semula telah dipukulnya itu berasap seperti sedang terbakar, namun Danny sudah menduga bahwa serangan yang dilancarkannya itu jauh dari cukup untuk menghentikan Forhan.
"Aku telah membiarkanmu terlalu lama Danny, dan juga sepertinya kau tidak mau memberikan apa yang kuminta ...." Forhan kini tahu benda yang dicarinya, kekuatan dari ras demi human sudah jatuh ke tangan yang salah.
"Forhan, kekuatan yang kupinjam ini bisa menghapuskan kejahatan di dunia ini, bahkan aku sudah mendapat kepercayaan dari ras-mu, aku tidak bisa memberikannya padamu." Danny berkata dengan sedikit berat, kini ia seolah telah merebut kekuatan dari ras lain, namun sebenarnya kekuatan yang dipinjamnya ini harus digunakan untuk melawan ras iblis.
"Kepercayaan? Aku tidak bisa menyangkalnya Danny, namun aku memerlukan apa yang ada padamu untuk suatu hal, jika aku tidak bisa mendapatkannya maka jangan salahkan aku jika tidak hanya batu permata mulia saja yang hilang." Forhan memberikan peringatan yang dalam, tatapan matanya kosong dan gelap seolah ia melihat musuh bebuyutan yang sudah lama ingin ia hancurkan.
Danny yang belum tahu pasti alasan Forhan ingin memiliki kekuatan permata mulia kini hanya bisa menganggapnya sebagai ancaman, sama seperti yang telah diperingatkan oleh Tuan yang telah melatihnya beberapa waktu lalu, kekuatan batu permata mulia tidak hanya diincar oleh iblis saja, dan sepertinya itu terbukti dengan adanya kejadian ini.
"Aku mengerti Forhan." Danny hanya bisa melihat satu alasan jelas untuknya bertarung dengan teman lamanya itu, demi melindungi kekuatan yang susah payah dikumpulkannya ini, meskipun ia masih merasa tidak layak bahkan ketika harus meminjam kekuatan ras lain ini, namun tidak ada pilihan lain baginya.
"Maaf Forhan, aku tidak akan pernah menyerahkan batu permata mulia padamu, apapun yang terjadi." Danny menatap tajam Forhan, ia didesak untuk bertanggung jawab atas tiga kekuatan yang ada padanya sekarang ini, dan pastinya tidak akan pernah membiarkan orang lain tanpa tujuan jelas mengambilnya.
Sssshhhhh ....
Begitu asap di sekitaran wajah Forhan hilang, luka pada wajahnya sudah sirna, kini keadaannya sama persis seperti pada awal tadi.
Danny tahu ia membutuhkan kekuatan lebih untuk mengalahkan sisi lain dari teman lamanya ini.
***
Sementara itu di pusat kerajaan timur sendiri, sang raja yaitu Tarnatos sedang terbaring sakit, di usianya yang lanjut ini— sama seperti pemimpin kerajaan lain yang juga berusia lanjut namun jarang sekali para raja kerajaan ini sakit.
Selama beberapa hari terakhir, ketika Danny sampai ke tempat ini, anggota dewan-lah yang mengurus segala urusan kerajaan, ketiga dewan kerajaan timur ini adalah para prajurit senior dari tempat ini dengan kepemimpinan dan keterampilan mereka, kerajaan timur bisa mempertahankan kestabilannya.
__ADS_1
Rhart, Cleus dan Ther adalah penopang di mana kerajaan timur ini bisa stabil meskipun sang raja sedang dalam keadaan sakit seperti ini.
Kini sang raja beristirahat khusus di ruangan kamar kerajaan dan hanya ditemani salah satu dari ketiga dewan tadi.
"Rhart, suara apa itu?" Sang raja bertanya dengan suara berat dan lemah terbaring di kasurnya itu.
"Sepertinya ada orang jahat yang sedang membuat kekacauan di sana, tenang saja Tuan Tarnatos Cleus dan Ther sudah beranjak untuk melihat kejadian di luar."
Tarnatos, raja kerajaan timur yang sudah berumur lanjut ini menatap Rhart dengan penuh arti, wajah lesunya sangat terlihat sebagai bukti bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.
Rhart yang tahu kondisi pemimpin wilayah ini tidak tahu harus berbuat apa lagi, pasalnya ia sudah mengerahkan berbagai cara agar Tuan Tarnatos bisa kembali pulih, namun tidak ada satu cara pun yang berhasil menyembuhkannya.
Kini dengan berbagai usaha yang telah dikerahkannya, ia hanya bisa menyerahkan semuanya kembali pada Tuan Tarnatos ini sendiri, dengan banyak harapan akan ada keajaiban yang bisa membuatnya kembali sehat.
"Rhart, ada apa dengan wajahmu itu?" Tarnatos menyadari anggota dewannya ini sedang melamun seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ah tidak Tuan, saya hanya berharap Tuan Tarnatos bisa segera pulih dan bisa memimpin kembali kerajaan timur ini."
Tarnatos menatap ke langit-langit ruangan kamarnya yang tinggi itu, entah mengapa ia kembali teringat akan masa-masa permerintahannya dahulu seolah-olah dalam pikirannya kembali muncul kilas balik kisah hidupnya selama menjadi raja wilayah kerajaan timur ini.
"Rhart, jangan pernah bergantung pada seseorang hanya karena hebatnya atau apapun, bagaimanapun juga seringkali kau bisa berakhir kecewa."
Rhart mengerti dengan cepat apa maksud dari rajanya itu, ia sendiri memang masih sangat berharap Tuan Tarnatos bisa kembali memimpin kerajaan ini, namun mengingat perkataan raja seperti ini, maka Rhart sedikit melonggarkan harapannya itu.
"Kau tahu? Aku pikir aku sudah cukup lama memimpin daerah timur ini, banyak kejadian yang sudah terjadi dan setiap kejadian selalu kuingat ...."
Tarnatos sepertinya akan berbicara tentang bagaimana kepemimpinannya selama ini.
"Kejadian berbahaya seperti ini pernah terjadi dahulu, anak muda itu ... bagaimana kabarnya sekarang?"
Tarnatos berbicara mengenai anak muda, Rhart sendiri butuh waktu beberapa saat sebelum akhirnya ia tahu siapa sebenarnya yang dimaksud oleh raja.
"Kejadian pemberontakan karena pengaruh iblis ... Danny ...." Bagaimanapun juga Rhart tidak pernah melupakan jasa Danny dalam membantu menghentikan pemberontakan di kerajaan timur dahulu, sekaligus mengungkap dalang dibalik masalah pada saat itu.
Kini setelah ia teringat, akhirnya ia pun memiliki pertanyaan yang sama kemanakah Danny sekarang ini?
***
BUG!
BRAK!
Kini Danny dan Forhan bertabrakan satu sama lain, menciptakan hembusan angin yang hebat disekitaran pusat kota kerajaan timur ini.
Danny yang memakai tangan kosong itu sudah menghancurkan pedang Forhan berkali-kali tadi, namun setiap kali pedang itu hancur, pecahan kecilnya langsung membentuk kembali pedang besar tersebut, dengan kekuatan yang bertambah besar.
"Danny sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku! Aku adalah ras demi human yang kuat!" Mata Forhan menatap tajam ketika pedang besarnya itu bergesekan dengan tinjuan tangan Danny.
Krrriiiittt!!!
"Ugh!"
Kondisi Danny tidak sama seperti yang tadi, lebih tepatnya ia sekarang menderita banyak luka yang disebabkan oleh pedang khusus yang dimiliki oleh teman lamanya itu.
Sedang dalam pikirannya Danny tidak menemukan jalan bagaimana cara agar membuat temannya ini berhenti, terlebih lagi jika diteruskan dan ia tetap seperti ini batu permata mulia akan jatuh ke tangan orang lain.
Sial! Aku sudah menggunakan kekuatan fisik dan daya tahan sekaligus! Tapi kekuatan Forhan sangat besar!
__ADS_1
Danny hanya bisa menatap balik mata Forhan yang beringas itu dengan tekad yang masih menyala, sedang di dalam batinnya ia sudah terdesak memikirkan bagaimana cara agar ia bisa keluar dari situasi ini.
Apa ini saatnya aku menggunakan kekuatan kecepatan juga?!