
Merasa dunia seakan berakhir adalah sebuah perasaan wajar bilamana seseorang telah kehilangan orang ataupun apapun yang dianggapnya berharga; Yizi sedang merasakan perasaan ini sekarang, namun di saat yang bersamaan ia berusaha untuk bertindak tidak sesuai keinginannya kali ini.
"Me-mengapa ... kau tidak membunuhku Yizi?" Arthur masih heran mengapa Yizi tidak mengakhirinya sekaligus dengan serangan pamungkasnya tadi.
Padahal ia sudah menyiapkan hati untuk menerima apapun yang terjadi karena serangan Yizi itu.
Hilir angin berhembus menerpa mereka dengan lembut, hangatnya mentari mulai terus terasa saat ini.
Yizi menunggu saat dimana air matanya itu berhenti, dan setelah ia agak tenang ia mulai bisa untuk memikirkan kembali secara jernih tentang apa yang dia putuskan itu.
"Arthur ... saat ini aku tidak bertindak karena keinginanku sendiri ...."
"Aku tahu kau sebagai ksatria suci telah melakukan banyak hal terutama dalam pemberantasan kejahatan di wilayah barat, aku selalu berpikir bisa menemuimu dengan sahabatku ...."
"Namun setelah mendengar dan melihat sifatmu yang seperti ini, bahkan kelompokku yang tak bersalah tak luput dari tindakan burukmu, pandanganku padamu berubah total ... kau ini idola yang kubenci ...."
"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu seperti apa Arthur- kau adalah contoh sempurna dari setiap kemampuan dan kebaikan yang kau miliki, semua orang mendambakan dan mengidolakanmu sebagai acuan mereka untuk mencapai apa yang telah kau capai saat ini ...."
"Kau berkharisma, berkemampuan hebat, kau mampu mengundang perhatian orang banyak bahkan tanpa kau sadari sekalipun, namun aku tetap tidak bisa paham mengapa kau bertindak kejam seperti ini."
"Aku bisa mengakhirimu di sini, mengakhiri perasaan kesal dan marahku padamu ... namun aku tidak melakukan itu karena melakukan hal itu sama dengan meninggalkan masalah yang telah kau buat ini ...."
Yizi mengambil keputusan yang sama sekali berbeda dengan tujuan awalnya saat ini.
"Aku tidak bisa bertanggung jawab akan setiap hidup yang kau perlakukan tidak adil Arthur, aku sama sekali tidak memiliki kekuasaan layaknya sepertimu ...."
"Membiarkanmu pergi dari dunia ini dengan meninggalkan masalah yang ada bukanlah tindakan yang baik, setidaknya menurut sahabatku yang telah kau bunuh itu."
Yizi mengambil keputusan ini secara tiba-tiba meskipun berat rasanya, namun tetap ia lakukan karena perasaannya sendiri tidak sebanding dengan akibat yang terjadi apabila ia membunuh sang ksatria suci itu.
Arthur hanya terdiam ketika mendengar perkataan Yizi saat ini, secara tidak langsung pria berpenampilan ke bapak-an itu memberinya kesempatan untuk memperbaiki apa yang selama ini salah dilakukannya.
Dan pula Yizi tidak mementingkan perasaannya sendiri, ia lebih mementingkan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri.
"Ka-kau ... memberikan ... ku kesempatan untuk ... memperbaiki tindakanku?"
"Arthur, aku tidak bisa membandingkan amarahku yang sementara ini dengan membunuhmu dibanding dengan banyaknya hidup orang lain di luar sana yang telah kau perlakukan tidak adil ...."
"Aku tidak bisa membiarkan orang-orang yang kau perbuat seenaknya itu tetap menerima apa yang seharusnya tidak mereka terima ... hanya kaulah yang mampu untuk memperbaiki ini semua ...."
"Keputusanku ini bukanlah kehendakku Arthur ... sahabatkulah yang telah mengingatkanku agar memikirkan hal yang paling penting dibanding balas dendam ...."
Yizi tahu bilamana ia tetap membunuh ksatria suci itu maka ia tidak punya kesempatan agar Arthur yang sudah berubah itu memperbaiki apa yang sudah dilakukannya selama ini.
Maka para korban tetap akan terus menjadi korban tanpa sedikitpun tahu akan bagaimana Arthur berubah untuk menyelesaikan masalah ini.
"K-kau peduli seperti dia Yizi ...."
Yizi menatap Arthur dengan cepat. "Dia?"
Arthur tersenyum lembut. "Sahabatmu sendiri ... Kibo, dia merelakan nyawanya sendiri saat berusaha menutupi identitas Thor agar ia tidak terlibat masalah denganku ...."
"Dia berhasil menghentikanku untuk membongkar penyamaran Thor yang berusaha untuk membebaskan kelompok ini ...."
Yizi terdiam ketika mendengar hal ini, seperti sebelumnya ia telah mendengar hal ini dari para pria anggota kelompoknya itu.
"Begitu ya ... dia memang lebih suka membantu orang bilamana ia tahu ia bisa untuk membantu ...."
"Aku yakin Kibo akan senang apabila kau berubah dan memperbaiki apa yang salah ... kau masih bisa menyelamatkan hidup orang yang seharusnya bisa bahagia saat ini ...."
Ketika mendengar perkataan Yizi, Arthur merasa semakin yakin ia harus memperbaiki kesalahannya itu secepat dan sebaik mungkin agar tidak ada orang yang terluka lagi.
__ADS_1
"Aku pasti menyelesaikan masalah yang kubuat ini." Arthur mengatakannya dengan serius, keseriusannya itu sedikit nampak dari wajahnya yang babak belur itu.
Yizi telah melihat kesungguhan Arthur saat ini, ia berusaha untuk percaya dengan ksatria suci itu mengingat memang dia sudah mengakui kesalahan dan mau untuk berubah.
"Yi-Yizi ...."
Yizi berusaha untuk menekan emosinya sampai titik terendah yang ia bisa saat ini; terus termakan emosinya hanya akan membuatnya sulit untuk mengerti keadaan dan sama sekali tidak memberinya keuntungan.
Bukannya ia ingin melupakan apa yang telah Arthur lakukan pada kelompoknya itu, namun dengan terus menyalahkan akan sikap jahat Arthur tidak akan membuat situasi menjadi lebih baik juga.
Yizi berusaha untuk menilai dan berpikir sebagaimana Arthur telah melakukan tindakan yang diluar dugaannya itu; ia berusaha untuk memahami Arthur dibanding dengan kembali menyalahkannya.
Yizi segera beranjak dari atas tubuh Arthur, setelah ia berdiri ia mengulurkan tangannya untuk membantu Arthur berdiri juga.
Namun Arthur sendiri sadar kekuatannya telah hilang dengan drastis dan hanya bisa tersenyum kecil ketika melihat uluran tangan Yizi itu, karena memang saat ini untuk menggerakkan badannya saja sudah sulit karena begitu banyaknya energi yang terbuang.
Tinjuan Yizi memang paling banyak mengenai kepalanya, namun efek dari tinjuan ke kepalanya itu memicu rasa sakit yang sama pada tubuhnya ketika Yizi mengeluarkan pukulan beruntunnya itu.
Atau jika dipermudah dan secara sederhananya adalah, akibat serangan Yizi yang bertubi-tubi pada wajah Arthur, tubuhnya yang telah diserang lebih dulu itu ikut bereaksi hingga akhirnya menjadi kaku dan tidak mampu untuk bergerak.
Yizi yang mengulurkan tangannya hendak membantu itu sadar bahwa Arthur masih belum bisa ia ajak berdiri, maka akhirnya ia memilih untuk duduk di samping sang kstria suci itu.
"Kibo adalah satu-satunya orang yang paling berharga dalam hidupku ... jika aku tidak bertemu dengannya aku tidak yakin akan hidupku sekarang akan bagaimana."
Yizi duduk dengan tangan yang terdapat bercak darah itu, tangannya melingkar di lutut yang di tekuknya itu, ia duduk di samping tubuh Arthur yang tengah tergeletak di tanah karena ketidakberdayaan sang ksatria suci itu, ia mulai bercerita tentang sahabatnya, Arthur melihat dan mendengarkannya.
"Dia pasti adalah orang yang ... sangat ... baik ...." Suara Arthur yang berat nampak mulai membaik meskipun nada bicara yang dikeluarkannya tidak terlalu keras.
Arthur tersenyum kecil. "Kau benar ... dia sangat baik, dia memang tidak terlalu pintar ataupun berpenampilan menarik, hanya saja sifat pantang menyerahnya itu yang membuatku kagum dan di saat yang bersamaan ia baik dan terbuka pada orang lain ...."
Arthur saat ini melihat Yizi yang tersenyum lembut, ia masih belum tahu apakah Yizi masih marah dan benci padanya ataukah tidak.
Namun pada akhirnya Yizi masih menyayangkan nyawanya karena memang ia percaya masih ada yang perlu ksatria suci lakukan di dunia ini.
"Aku sudah lelah dengan semua perasaan ini ... membenci dan marah padamu tidak akan membuat Kibo kembali, yang ia ingin adalah agar kau memperbaiki kesalahan yang pernah kau buat itu ...."
Arthur tahu meskipun ia sudah memutuskan untuk memperbaiki situasi ini namun sekali lagi keraguan menyerang dirinya tiba-tiba.
"A-aku ... sudah terlalu jauh berbuat jahat pada kalian ... aku tidak pantas untuk menerima belas kasihan kalian ...."
"Meminta maaf padamu tidaklah cukup untuk mengganti semua kehilangan yang ada padamu ...."
Arthur merasa terbebani karena berpendapat bahwa seharusnya orang yang sudah berbuat lama jahat sepertinya harus dihukum dengan hukuman yang paling bisa diterima oleh hukum itu sendiri, sebelum ia memutuskan untuk memperbaiki situasi ini.
Ia memang berpikir untuk mengembalikan kembali situasi ketimpangan hukum ini, namun mengingat dirinya sudah terlalu banyak mengeluarkan darah dan emosi; ia merasa tidak layak untuk memperbaikinya.
"Aku tidak akan membiarkan kau mati sebelum kau memperbaiki apa yang salah selama ini ...."
"Jika kau mati maka keadaan hukum di negerimu sendiri akan tetap sama seperti ini; lihatlah orang-orang terus mencontohmu dalam banyak hal, jika kau terus biarkan hukum timpang ini berlangsung maka kau akan menyebabkan lebih banyak kesedihan dan kesengsaraan di masa depan nanti ...."
"Aku tidak akan mengatakan hal ini terus menerus Arthur, kau harus berhenti untuk mendengarkan dirimu yang memberi pikiran negatif itu."
Ucapan Yizi memang terlalu bijak, namun dalam penampilan kebapak-annya itu membuatnya pas untuk mengatakan hal seperti itu.
Arthur rasa ucapan itu adalah tamparan keras yang yang juga di sampaikan Thor ketika mereka bertemu di alam bawah sadar; mau bagaimanapun juga pilihan dia adalah untuk tetap hidup dan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuatnya itu.
Tiada lagi selain dirinya yang bisa untuk memperbaiki hal ini.
"K-kau percaya padaku Yizi?" Arthur memastikan apakah memang benar Yizi mempercayainya.
"Sepanjang apa yang kau perbuat sampai kali ini, aku bisa mempercayaimu ... dan kuharap perbubahanmu ini tetap berlangsung; menjadi Arthur yang baik sampai kapanpun dan menjadi idola banyak orang ...."
__ADS_1
"Kau mendapatkan maafku- tidak ... dari seluruh anggota kelompokku yang tersisa ini, jika kau memutuskan untuk memperbaiki semua kesalahanmu ini."
Arthur terdiam mendengar kata-kata Yizi, ia semakin yakin jika memang ia telah menyadari kesalahannya maka yang harus dilakukan adalah memperbaikinya, bukan lari daripadanya.
"Arthur, melihat tindakanmu tadi aku sempat berpikir bahwa kau hanya pura-pura merendahkan dan meledekku karena aku berusaha untuk menemui ajalku dengan bertemu denganmu ...."
"Namun yang terjadi malah kau membiarkan dirimu terus-terusan kuserang tanpa perlawanan sedikitpun, di sanalah aku mulai berpikir ... mengapa aku melihat Arthur yang berbeda daripada sejak malam tadi ...."
Arthur tersenyum. "Sahabatku juga yang telah menyadarkanku ...."
Yizi menoleh pada Arthur. "Apakah ada ksatria suci lain di sini? Temanmu ada di mana?"
Yizi tidak tahu keberadaan sahabat Arthur itu, apakah memang ia belum menyadarinya?
"Dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan aku dan teman-temanku dari bahaya ...."
Yizi merasa sedikit aneh ketika mendengar jawaban seperti itu dari ksatria suci itu.
"Mengorbankan diri? K-kau bertemu dengan orang yang sudah meninggal?" Yizi sampai tersentak dibuatnya.
Arthur mengangguk pelan. "Y-ya ... dialah yang juga membantu pelarian kelompokmu ini juga, jika tidak ada dia ... mungkin kelompok Alliance Fight's sudah musnah dan aku masih terjebak dengan pemikiran egoisku."
Mendengar hal ini membuat Yizi sedikit bingung, bertemu dengan manusia adalah hal biasa, namun bertemu dengan orang yang sudah tiada? Ternyata dia belum mengetahui banyak hal-hal seperti ini.
"Tuan Thor kah? Aku tidak mendengar banyak tentangnya ... namun aku tahu dia adalah salah satu ksatria suci juga. Namun baru pertama kali ini aku mendengarnya telah tiada." Yizi telah mendengar bagian cerita ini dari para pria besar anggota kelompoknya itu.
Kesepuluh pria besar botak itu mendekati Yizi dan Arthur karena mendengar suatu hal tentang Tuan Thor.
Salah satunya pria besar itu berkata pada Arthur merasa tidak percaya dengan apa yang ksatria suci itu katakan. "Tuan Thor telah tiada?"
Arthur yang melihat banyak dari anggota kelompok itu mengarah padanya yang tengah tergeletak itu; setelah mereka cukup dekat Arthur akhirnya memberi penjelasan sekali lagi."
"Sewaktu kami berada di sebuah misi di gurun barat ... kami menghadapi pasukan makhluk merah yang begitu kuat, Thor mengorbankan nyawanya demi menyelamatkanku dan teman-temanku."
Para pria besar itu terdiam ketika mereka mengetahui tentang hal ini; seketika itu juga mereka merasa sedih karena teringat akan kebaikan ksatria suci Thor itu pada mereka.
"Dia berusaha meyakinkanku dan menghentikan tindakan egoisku ... namun tidak berhasil dilakukannya; ia kemudian memakai cara nekad ... dengan membebaskan paksa tahanan kelompokmu itu, dengan menyamar memakai topeng."
"Dan kau menghentikannya?" Yizi mendahului perkataan Arthur dengan tepat tanpa menunggu sang ksatria suci itu mengatakan hal selanjutnya.
Arthur mengangguk pelan kembali. "Aku dibutakan oleh ambisi palsuku dan bahkan membunuh sebagian besar anggota kelompokmu itu ... namun ada sebagian lain yang berhasil diselamatkannya ... tanpa membongkar identitasnya saat itu."
"Ketika mengetahui ... sahabatku sendiri yang benar-benar melakukan apapun untuk bisa membebaskan kelompok kalian dan juga Danny yang juga membela kelompok kalian ... maka aku bisa melihat dengan jelas kelompok kalian sama sekali tidak bersalah ...."
Karena menyinggung soal Danny, Yizi juga mengetahui sedikit soal dari pemuda sepertinya; ia juga sudah pernah bertarung dan berbincang bersama dengannya, dan pendapat Yizi tentang dia adalah: dia anak yang baik.
Karena dialah yang membelanya ketika harus mengadapi Arthur yang berambisi kuat itu; hal itu membuat Yizi ingin bertemu dengannya, setidaknya mengucapkan terima kasih dan mengajaknya melihat Arthur yang sudah berubah pandangannya ini.
"Danny ... apakah kau tahu sekarang dia ada di mana?"
Sejujurnya Yizi tidak melihat Danny atau bisa dibilang ia tidak begitu sadar akan apa yang terjadi malam itu karena pertarungan berat bersama dengan Arthur itu.
Mengingat ia sadar sepenuhnya ketika berada di ruangan bekas penjara (bukan berarti masuk ke ruangan sel jeruji besi kembali) beserta dengan para tahanan lain; ia sama sekali tidak melihat keberadaan Danny di antara para tahanan lain yang ikut berlindung malam itu.
Arthur merasa berat untuk mengatakan ini, namun pada akhirnya ia harus mengatakan pada Yizi tentang keadaan yang sebenarnya yang terjadi pada Danny.
"Danny ... telah tiada ...." Arthur akhirnya mengatakannya dengan sedih.
"...."
"Apa?"
__ADS_1