Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 250: Keputusan Bercabang


__ADS_3

Ketika hendak mengarahkan serangan tangan kanan yang penuh dengan aura kekuatan merah yang kekuatannya melebihi pukulan biasa itu, Yizi melihat Arthur menutup matanya dan air keluar dari matanya yang tengah tertutup itu, ksatria suci itu nampak telah siap menerima apa yang akan ia lakukan itu.


Sebenarnya ia juga tidak terlalu peduli akan hal itu; mau dia menangis, jungkir balik, guling-guling, itu semua tidak mengubah pandangan marah dan bencinya pada sang ksatria suci itu.


Namun bila dilihat lebih jelas Yizi bisa melihat raut wajah penyesalan yang dalam dari sang ksatria suci itu, terlihat pasrah dan menerima apapun yang akan terjadi.


Yizi tiba-tiba teringat dengan kenangannya kembali dengan Kibo, sebuah potongan memori kecil ketika masa kecilnya bersama dengan Kibo; ia bahkan sudah melupakannya namun saat ini tiba-tiba ia kini mengingatnya dengan jelas.


'Meskipun orang lain berbuat jahat padamu, apakah dengan membalasnya perasaanmu akan jadi lebih baik?'


Itulah kata-kata penenang yang dikatakan oleh Kibo ketika dirinya menangis karena diejek teman-temannya ketika mereka kanak-kanak dulu.


Hal itulah juga yang menjadikan pribadinya itu tidak suka untuk membalas apa yang oleh orang lain lakukan padanya; ia lebih suka tidak terlibat masalah lebih jauh dengan membuat masalah dengan cara membalas orang-orang bersalah itu.


Namun ketika ia hendak membalaskan dendam sahabat yang dekat dengannya itu, entah mengapa hal ini tiba-tiba muncul di kepalanya saat ini.


Yizi bertanya-tanya mengapa potongan ingatan kecil itu terbesit kembali dalam pikirannya itu, ia sama sekali sudah lupa akan perkataan sahabatnya itu karena memang ia mendengarnya ketika masih anak-anak dan setelah berpuluh-berpuluh tahun tiba-tiba ia ingat kembali, malah ingatan itu jelas sekali muncul ketika ia tidak berusaha mengingatnya sekalipun.


Ketika ingatan itu muncul Yizi seketika berpikir, bilamana memang ia akan mengakhiri hidup ksatria suci yang telah berubah ini apakah akan membuat dirinya puas? Apakah itu akan menyelesaikan semua masalah yang ia alami? Terlebih lagi apakah Kibo senang akan perbuatannya ini?


Serangan itu masih melayang dengan targetnya yaitu kepala Arthur, jika mengenai dengan tepat maka tidak mustahil kepala sang ksatria suci itu hancur karena begitu besarnya energi yang diserangkan padanya.


Yizi kembali mengingat mengapa Arthur bisa berubah sedemikian drastisnya, hanya karena ia telah menyadari kesalahannya; ia telah berusaha untuk meminta maaf dan menyesal akan apa yang telah ia perbuat selama ini.


Yizi juga tahu dari perkataan Arthur tadi, tidak hanya dirinya yang mengalami perbuatan seenaknya Arthur, ternyata banyak juga yang bernasib sama sepertinya.


Suatu kemungkinan terpikirkan kembali oleh Yizi, jika memang Arthur telah berubah maka bukan tidak mungkin ia akan memperlakukan seseorang dengan baik dan tidak seenaknya lagi, apalagi seseorang yang ia cap sebagai penjahat dengan tidak mempertimbangkan apapun.


Yizi bisa melihat berubahnya Arthur adalah suatu hal yang patut untuk dilihat kembali bagaimana ia dapat menangani masalah yang terjadi saat ini; jika memang saat ini Yizi bisa mengambil nyawa Arthur dengan mudah, namun pertanyaannya siapa yang akan membereskan masalah ini kecuali dirinya itu yang telah membuatnya?


Apakah orang lain lebih mengetahui masalah daripada orang yang telah berada di dalam masalah itu?


Suatu pertanyaan besar kini ada di pikiran Yizi saat ini; disamping ia ingin mengakhiri penderitaannya dan ingin merasa lega karena membalaskan dendam sahabatnya itu, namun akhirnya suatu keputusan lain yang lebih berat bisa ia pilih.


Apakah ia akan mengambil jalan tercepat dan merasa tenang dengan terbalaskan dendamnya itu? Ataukah ia akan kembali menanggung penderitaan karena membiarkan orang yang telah membunuh sahabatnya itu tetap hidup?


Namun ... untuk siapa ia melakukan ini? Untuk orang lain yang bernasib sepertinya? Atau demi dirinya? Atau demi sahabatnya yang telah meninggalkannya itu?

__ADS_1


BUARG!


Yizi terengah-engah karena terlalu memikirkan banyak hal dalam waktu yang singkat, ia tidak menyangka satu tindakan yang ia rencanakan dengan pasti sebelumnya akan menghasilkan berbagai pemikiran yang belum pernah ia pikirkan saat ini.


Arthur hanya mendengar suara pukulan jatuh ke tanah dengan keras di samping kepalanya, ia kemudian menoleh ke samping dan terlihat tinju kepalan tangan kanan Yizi biasa tepat berada sebelah kiri kepalanya dan itu agak meretakkan tanah di bawahnya.


Yizi ternyata memutuskan untuk menghilangkan kekuatan yang telah ia kumpulkan sebelumnya dan dengan sengaja mengarahkan jalur pukulannya ke arah yang lain.


"A-apa?"


Arthur heran mengapa Yizi tidak melakukan serangan yang penuh kekuatan untuk mengakhirinya saat ini.


Yizi terlihat tertunduk, perasaannya sedang kacau karena berusaha untuk memutuskan apa yang paling tepat saat ini.


Ia bukan seorang pemikir yang baik, hanya saja jika memang ia harus berpikir maka saat ini menuruti pikirannya sendiri bukanlah hal yang baik untuk dilakukan.


"Me-mengapa ... kau menghentikan seranganmu?" Arthur melihat Yizi yang masih tertunduk sedang bergelut dengan emosi yang ada pada badan dan pikirannya itu.


Yizi berusaha untuk menghentikan hasrat ingin memberi pelajaran pada sang ksatria suci ini, ia terus berjuang untuk berfokus pada pemikirannya yang mengatakan bahwa pembalasan bukanlah hal yang baik untuk dilakukan.


Dan lagi apakah orang jahat dengan diberi pelajaran akan secara ajaib bisa menjadi orang baik dalam sekejap? Jika tetap jahat apa yang harus dilakukan?


Dalam kasus ini apakah Arthur benar-benar berubah atau hanya sementara? Hal ini juga mengganggu bagaimana Yizi akan mengambil keputusannya itu.


Yizi berusaha untuk melawan badannya yang menyuruhnya untuk membalas setiap perbuatan jahat Arthur yang ia tahu bukan hanya dirinya dan kelompoknya saja yang mengalaminya dan ini sangat memengaruhi pikirannya saat ini.


Secara sederhana ada dua hal yang ia pikirkan saat ini; membunuh Arthur atau membiarkan Arhur tetap hidup.


Masing-masing dari keputusan itu punya konsekuensinya masing-masing, Yizi telah memikirkan hal itu sebelumnya.


Arthur yang kebingungan karena melihat Yizi terdiam agak lama itu kemudian kaget karena Yizi mengeluarkan air dari matanya.


Dan Yizi pada akhirnya melimpahkan setiap apa yang ada di dalam hatinya itu.


Ia berbicara dalam kejujuran yang terasa menyakitkan sekaligus membuatnya sedih sangat dalam.


"Arthur ... aku sangat membencimu ...."

__ADS_1


"Kau ... kau merebut hal yang paling berharga yang kumiliki di dalam hidupku ...."


"Tempatku untuk pulang ... semua kenangan indah yang kumiliki dengan mudahnya kau hancurkan ...."


"Aku ... aku tidak tahu jalan pikiranmu kali ini Arthur ... meskipun dengan sikapmu yang berubah ... namun rasa marah dan benciku padamu tetap sama ...."


"Aku tidak mengerti ...," Kibo berusaha untuk menahan ingusnya ketika ia sedang berbicara itu "dengan apa yang kau pikirkan ...."


"Aku ingin ... melukaimu lebih jauh sampai aku ... merasa puas dan membalaskan dendam sahabatku padamu ...."


"Namun aku sendiri tidak yakin ... dia mempunyai dendam padamu ... karena memang dia sama sekali tidak peduli dengan perbuatan semena-semenamu! Dia menerima apa yang menjadi jalan hidupnya dengan mati sebagai orang yang tidak bersalah!"


"Jika kau tahu ... sahabatku itu sama sekali tidak punya salah apapun padamu ... dia ... dia ...."


"... Dia hanyalah orang baik yang berusaha semampunya!"


"Aku tahu itu! Dan aku yakin kau tidak mau mengetahui tentang itu ...."


"Semua yang kami katakan hanyalah sampai di telingamu saja! Kau hanya melakukan apa yang menurutmu baik saja! Kau sama sekali tidak mendengarkan orang yang berusaha berbicara padamu!"


"Lalu kali ini ... dengan tindakanmu seperti ini? Dengan semua yang kau katakan tadi ... apakah aku ... apakah aku perlu untuk mendengarkanmu?"


Yizi tidak mampu menahan kesedihan bercampur amarahnya akibat kematian sahabatnya itu, air mata terus mengalir seiring ia berbicara dengan sang ksatria suci itu.


Meskipun penampilannya saat ini tidak begitu mencerminkan bahwa dia pria lemah, namun untuk kali ini ia meledakkan emosinya setelah sekian lama ia telah menjadi orang yang dikenal sebagai orang 'tanpa ekspresi'.


Dengan penampilan ke bapak-annya itu, wibawanya naik drastis hingga orang tidak begitu bisa mengenali suasana hatinya dengan mudah; namun kejadian yang paling ditakuti dan tidak diinginkannya ini membuat sebuah eskpresi kesedihan yang mendalam tergurat di wajahnya itu.


Air mata menetes melalui kumis, dan janggut tebal kebanggaannya itu, begitu deras dan tidak tertahankan.


Ia masih manusia seperti biasa, bukan robot yang tanpa eskpesi; seseorang yang pandai menyembunyikan perasaannya memanglah bisa tidak cepat dengan mudah diketahui bagaimana perasaannya saat ini, namun pada satu waktu ada saatnya kepandaian menyembunyikan perasaan itu hilang seketika dari diri seseorang itu.


Yizi adalah contohnya, ia memang tidak memiliki banyak kenangan berharga ketika ia masih kecil; bahkan kenangan dalam keluarganya sendiri tidak dipunyainya, ia hanya memiliki Kibo sebagi orang yang peduli padanya dan mau bersama-sama dengannya tanpa peduli kekurangannya.


Jadi apakah memang mungkin ada sebuah hubungan pertemanan lebih dari sahabat? (bukan hubungan laki-laki dan perempuan ataupula bukan hubungan aneh laki-laki dengan laki-laki) Jika iya, maka sedekat itulah mereka satu sama lain.


Kehilangan sahabatnya itu bagai ia sudah kehilangan arah dan tujuan dalam hidupnya, bukan bermaksud berlebihan namun ada saja seseorang yang peduli satu sama lain dan saling berjuang meraih tujuan bersama; ketika ia sudah kehilangan partnernya maka dengan ucapan yang tidak berlebihan juga: mampukah dia beranjak dari titik terpuruk yang ada di dalam hidupnya itu?

__ADS_1


__ADS_2