Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 358: Merasa Kurang


__ADS_3

Melihat hidangan mewah ini adalah kedua kalinya bagi Danny, dan tentu saja ini merupakan pengalaman yang hebat baginya bisa memakan makanan yang enak dan juga banyak jenisnya.


"Bagaimana mungkin Tuan menyiapkan semua ini dengan cepat?" Tentu saja Danny ingin mengetahui mengenai alasan dibalik hadirnya banyak makanan ini.


"Maksud saya, jika hanya Tuan yang tinggal sendirian di sini, kapan Tuan mempersiapkan semua ini?"


Tuan Housen masih saja terlihat bangga, seakan ada yang memang disembunyikannya dan sepertinya ia akan segera memberi tahu pemuda yang bertanya padanya ini.


"Oh, tentu saja aku hanya tinggal sendiri, aku mempersiapkan semua ini dengan ... cepat." Perkataannya yang ditekankan pada kata cepat, yang menurutnya sudah cukup jelas untuk menjawab pertanyaan pemuda itu.


Danny sendiri yang mendengar dengan jelas perkataan terakhirnya itu akhirnya mengerti akan alasan mengapa Tuan Housen bisa menyiapkan makanan mewah dengan waktu yang singkat, apa lagi kalau bukan dengan menggunakan kekuatan batu permata mulia kecepatan untuk membuat semua ini mungkin terjadi?


"Ah, begitu ya." Danny sudah mengerti mengenai hal ini, meskipun ia masih saja terpikir dengan pertanyaan bagaimana bisa rumah ini mendapatkan aliran listrik padahal ia sendiri tidak mengetahui alasan mengapa bisa seperti itu, dan Danny terus berusaha berpikir bahwa memang hal ini tidak perlu dipermasalahkannya dan tidak begitu penting juga.


Tuan Housen sendiri kemudian melihat Danny yang tertunduk seperti tidak tahu akan suatu jawaban dan sepertinya dari raut wajahnya masih ada yang membuatnya penasaran.


"Apakah ada yang ingin kau ketahui lagi Danny?" Dan Tuan Housen menanyakan kembali apakah ada sesuatu yang masih tidak dipahami pemuda itu, pak tua itu memang ingin agar semuanya menjadi jelas, bahkan ia tidak keberatan untuk menjawab pertanyaan tidak penting sekalipun.


"A-ah?" Danny yang lamunannya buyar karena terus memikirkan bagaimana caranya bisa ada energi listrik yang menyebabkan semua lampu di rumah ini dan tiang lampu di luar bisa menyala, akhirnya tidak bisa lagi menganggap hal ini tidak begitu penting lagi.


Meskipun tidak penting tetap saja Danny penasaran dan ingin tahu mengenai hal ini, ia memang tadinya berusaha untuk tetap tidak penasaran namun yang terjadi malah ia semakin terpikir dan ingin tahu masalah sepele seperti ini.


"Saya penasaran mengapa bisa ada cahaya di rumah ini dan di luar sana, padahal sama sekali tidak melihat adanya aliran listrik di sini." Dan akhirnya Danny menanyakan hal yang awalnya menurutnya tidak penting itu.


"Oh? Rumah ini dan tiang-tiang yang kupasang di sekitarnya pada siang hari menyerap energi cahaya dan kemudian menyimpannya, setelah petang mulai datang lampu-lampu di rumah akan menyala dengan sendirinya, begitupula dengan tiang-tiang lampu disekitaran rumah ini."

__ADS_1


"Wah." Danny terkesan dengan jawaban yang diberikannya itu, ia kira cahaya dapat muncul ketika menggunakan energi listrik dahulu, namun dalam kasus ini, rumah Tuan Housen dan tiang-tiang di sekitarnya menyerap cahaya kemudian menggunakannya pada malam hari, sungguh cara yang tidak terpikirkan olehnya.


"Hebat." Brock juga ikut terkesan soal bagaimana adanya cahaya di rumah di tengah pulau tak berpenghuni itu.


Vincent sendiri tidak benar-benar menyimak apa yang tengah tiga orang ini bicarakan, ia lebih peduli pada makanan lezat yang ada dihadapannya yang semakin lama terlihat menggodanya sampai-sampai ia tidak tahan hanya dengan melihatnya saja.


Perlahan namun pasti tangan kanannya menjulur ke meja makan itu, berusaha untuk tidak diketahui namun tetap saja tindakan terang-terangannya itu akan menyedot perhatian setiap orang yang berada di sini.


Hanya sedikit lagi saja Vincent bisa meraih paha ayam yang berwarna kemerahan dengan bumbunya yang harum bak sekuntum mawar merah yang diberikan, dan itu hanyalah pengandaian saja, karena makanan tidak munkin harum seperti bunga.


Makanan di atas piring yang berupa paha ayam yang besar itu seolah menyihir pikirannya agar melupakan siapapun yang berada di sampingnya dan yang melihatnya, ia hanya perlu untuk berhasil mengambilnya dan setelah itu, voila! Tidak ada yang benar-benar bisa menghentikannya saat itu terjadi.


"Sedikit ... lagi ...."


Begitu tangan kanannya mendekati makanan yang lezat itu, pikirannya yang tengah fokus untuk mengambil apa yang ada di depannya itu langsung buyar karena satu hal.


Brock dengan cepat memukul tangan kanan Vincent dengan tidak keras, namun setidaknya ia dapat menyadarkan temannya itu dari pemikirannya yang dikendalikan oleh makanan itu.


Vincent seketika itu juga kehilangan momen berharga karena temannya sendiri yang menghentikannya. "Brock! Apa-apaan kau ini?!"


"Vincent, bisakah kau tahan nafsu makanmu sebentar lagi? Aku juga sebenarnya sudah hampir mencapai batasku, tapi kita harus menghargai tuan rumah yang menyediakan semua hidangan ini!" bisik Brock pada telinga temannya itu.


"Ah." Akhirnya karena mendapatkan penghentian dari temannya itu, Vincent mau tidak mau harus menunggu dahulu tuan rumah mempersilahkan mereka untuk makan, karena hanya itulah jalan satu-satunya agar dirinya mendapat izin untuk makan makanan di meja makan ini.


Tuan Housen melihat semuanya, dan ia dapat memahami dua pria yang bersama Danny sangat antusias ingin segera mengisi perut mereka dengan berbagai hidangan yang telah disediakannya itu.

__ADS_1


"Ah, maaf menunggu lama, mari kita makan." Tuan Housen akhirnya mempersilahkan para pria di ruangan ini untuk makan bersamanya, dan tentunya ini disambut sangat baik oleh Brock dan Vincent.


Mereka berdua begitu lahap makan apapun yang ada disediakan di meja makan itu, benar-benar cepat dan mereka mengomentari bahwa makanan yang sedang dimakannya ini adalah yang terenak yang pernah dirasakannya.


Melihat Brock dan Vincent begitu lahap dalam makan, ini membuat Danny senang namun nafsu makannya seakan hilang seketika dan ia sendiri makan perlahan, ia merasa khawatir dengan keadaan Patricia saat ini jika saja Patricia berada di sini sudah pastinya dia akan makan dengan lahap juga sama seperti kedua temannya sekarang.


Makanannya terasa enak di mulut, Danny mengakuinya namun semua ini jadi terasa berbeda karena alasan yang telah dikemukakan sebelumnya, meskipun selera makannya terasa meredup ia berusaha untuk makan karena tahu ia butuh energi untuk hidup.


Momen makan berlangsung dengan keantusiasan Brock dan Vincent, tuan rumah senang melihat mereka berdua begitu bersemangat menikmati hidangannya ini.


"Ah! Enak sekali!" Vincent membersihkan sisa makanan yang ada pada mulutnya dengan tisu kecil.


"Oh, ngomong-ngomong aku tidak melihat Patricia kemana dia?" Setelah makan dengan kenyang akhirnya pria berambut sebahu itu sadar ada satu orang yang tidak hadir makan bersama dengan mereka.


"Dia kelelahan dan butuh istirahat." Danny menanggapinya dengan sederhana, Patricia adalah gadis yang kuat, ia sendiri yakin pasti dia segera sembuh dari kondisinya saat ini.


"Begitu ya ...."


"Kita akan memulai latihan setelah gadis itu kembali sehat, kalian bertiga bersiap-siaplah sebelum hari itu tiba." Tuan Housen mengumumkan rencananya ini.


"Apakah dia begitu kelelahan karena perjalanan ini?" Vincent kembali menanyakan mengenai hal ini.


"Ya, kemungkinan besar dia kelelahan karena menggunakan terlalu banyak kekuatan kemampuannya baru-baru ini." Danny mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, kemungkinan yang paling bisa terjadi pada temannya saat ini.


"Terlalu banyak menggunakan kemampuan penyembuhnya itu?" Brock ikut dalam pembicaraan ini.

__ADS_1


Danny mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan teman besarnya itu.


__ADS_2