Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 105: Harapan Yang Hilang


__ADS_3

Yizi sendiri mengakui Danny sebagai petarung yang hebat, dengan kecerdikan dan pantang menyerahnya itulah yang membuatnya benar-benar tidak bisa di remehkan.


Bertarung dengan Danny membuat Yizi akhirnya sedikit sadar karena ia tidak hanya memukul bagian luarnya saja, tetapi sekaligus membuat Yizi membuka pikirannya untuk sekali lagi.


"Teknik yang kau pakai itu hebat, aku merasa seperti dikalahkan dari dalam," ujar Yizi sembari memegang bagian dadanya.


Danny tertawa kecil. "Ahaha, itu hanya pukulan biasa, sama seperti yang kau bilang- tubuhku juga memang seperti diremukkan oleh mu juga, ahaha ...." Tertawaan kecil yang dikeluarkan Danny bahkan masih menimbulkan rasa sedikit perih karena tawanya itu sedikit mengguncang badannya juga.


"Bagaimana dengan AlliFight?" tanya Danny dengan penasaran, sebenarnya ia juga ingin lebih tahu soal kelompok tersebut, jadi ini adalah kesempatan terbaik untuk mengetahuinya.


Yizi hanya terdiam dan berpikir, mungkin saja memang kelompoknya belum se-terkenal itu, buktinya ada yang salah menyebutkan nama kelompoknya.


"Mungkin yang kau maksud Alliance Fight's ?" terang Yizi membenarkan.

__ADS_1


"Oh? Aduh maaf aku malah salah menyebut nama kelompokmu ...." Danny terlalu percaya diri bahwa ia tahu tentang kelompok Yizi itu, kalau belum pasti mengetahuinya seharusnya bertanya terlebih dahulu saja.


Situasi jadi kurang mengenakkan sekarang, "Alliance Fight's aku sudah tidak mendengar kabar mereka selama tiga tahun ini ...."


Yizi mengungkapkan hal itu, karena memang dalam dirinya sudah tidak ada lagi yang dapat disembunyikannya.


Danny mengerti, itu karena memang tertahannya Yizi di sini sehingga membuatnya terpisah dari kelompoknya sendiri, Danny kembali melihat wajah Yizi, ekspresinya sulit dijelaskan, entah apa yang mera- eh, entah apa yang dipikirkannya saat ini.


Danny tidak bisa menilai bagaimana sekarang kondisi perasaan Yizi, ia sangat sulit ditebak dari luar, tidak diketahui dia sedang sedih, marah, kecewa, senang, bahagia, kesal atau berbagai macam emosi lainnya, Danny sama sekali tidak bisa menilainya.


Terlebih lagi sosok teman baiknya, yang telah menyelamatkan dirinya, sehingga dia bisa ada sekarang ini, saat ini Yizi benar-benar merindukannya.


Entah apa yang dipikirkan orang lain padanya, memang benar sangat sulit untuk menilai emosi seseorang, begitupula dengan Yizi sekarang.

__ADS_1


Nampaknya semakin lama dia berada di sini, semakin 'mendekat' pula masa lalunya yang bahkan bisa menyeretnya kembali pada masalah yang sama ketika ia kecil dulu.


Yizi tidak memiliki seorang pun yang lebih dekat darinya selain kibo, dan lagi tentang kelompoknya itu, kini dua hal itu telah hilang dalam hidupnya yang di mana itu adalah alasan hidupnya selama ini.


"Yizi apakah kamu berencana menemui kelompok mu jika bebas nanti?"


Yizi terdiam sejenak, pertanyaan yang dilontarkan oleh Danny seakan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab saat ini, "Aku tidak tahu ... lagipula memang aku sudah lama di sini ... dan aku ... mungkin saja ...."


Tidak diterima lagi .... Batin Yizi dalam hatinya.


Ia merasa tidak berdaya bila terus-terusan memikul beban dari kelompoknya itu, ia merasa sendiri, perasaan buruk masa kecilnya kini perlahan mulai menghantuinya.


Ia pikir kelompoknya itu memang telah membuangnya, karena dirinya yang telah membuat susah mereka.

__ADS_1


Ditambah lagi kebebasan para petarung sebagai perjanjian kelompok ini di bentuk, mungkin saja Alliance Fight's sudah tidak ada lagi.


Kini ia telah kehilangan dua hal yang paling berharga dalam hidupnya, sekarang apa lagi yang dapat diperbuatnya?


__ADS_2