
Kejadian yang dialami oleh para peserta kompetisi itu dapat dilihat jelas para pengawas kompetisi di dalam ruangan wakil kota itu, yaitu Wakil Kota Kota Boston, Arthur dan pula Thor.
Kekagetan juga terjadi pada diri sang Wakil Kota ini, ia tidak menduga kejadian ini akan terjadi, dan pula tidak mengetahuinya sebelumnya.
"A-apa ini?"
Thor melihat wajah sang Wakil kota itu masih terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini. "Ahaha, ini adalah sihir gabungan aku dan Arthur, seperti namanya sihir ini memang membuat dimensi palsu bagi para peserta itu."
"Dimensi Palsu?"
"Emm ... bagaimana ya ... intinya sihir ini adalah bertujuan membuat para peserta menganggap mereka sedang berada di tempat lain ...."
"Di tempat lain ya ... tapi meskipun tempat itu hanya ilusi saja apakah tubuh mereka juga ikut berpindah?"
"Tentu," jawab Arthur cepat.
"Sihir ilusi yang kami gunakan itu tidak hanya membuat ilusi di pikiran mereka, melainkan membawa tubuh mereka juga ke dalam ilusi sihirnya itu."
Bisa dikatakan sihir yang mereka gunakan itu adalah sihir kelas menengah yang hebat, ilusi sihir akan semakin kuat jika memang dia tidak mempengaruhi pikiran saja melainkan tubuh juga.
__ADS_1
Sebagai contoh, bisa saja sihir dimensi palsu yang dibuat oleh kedua ksatria suci itu hanya berefek pada pikiran mereka saja, tubuh mereka bisa saja tidak sadarkan diri, dan semua kejadian yang mereka alami tidak berdampak apapun selain dalam pikiran mereka masing-masing saja.
"Hebat sekali," gumam Pak Wakil Kota itu.
"Tapi mengapa kalian tidak memberitahukan perihal ini pada para peserta kompetisi ini?"
"Soal perpindahan tempat ini?" Arthur memulai penjelasannya.
"Ini merupakan elemen kejutan yang kami berdua siapkan, jika tidak ada, maka kompetisi ini akan jadi kurang menarik ...."
"Hahaha ... bukankah lebih menarik jika seperti ini Pak Wakil?" tanya Thor sebagai pancingan agar Wakil Kota itu tidak tegang.
Arthur menggelengkan kepalanya. "Tidak ... mereka tidak berada lagi di area hijau luas itu, mereka saat ini tengah berada di dimensi palsu yang telah kami buat."
"A-apa?"
"Seberapa sempurnanya dunia palsu yang kalian buat itu? Apakah dengan ini kalian bisa menjamin keselamatan para peserta kompetisi ini?"
Arthur menyilangkan tangannya di dada sembari tersenyum. "Tidak perlu khawatir, kau sudah tahu siapa yang berada di sini, kami bukanlah orang biasa."
__ADS_1
Nada bicara Arthur sedikit terdengar sombong, Thor menyadari hal ini, namun ia tidak berusaha untuk menegurnya.
Jarang sekali sebenarnya Arthur membanggakan kekuatannya itu, hanya saja kali ini seperti yang telah dikatakan sebelumya, sikapnya telah banyak berubah.
"Te-tenang saja Pak Wakil, ilusi yang kami buat benar-benar aman, jika terjadi sesuatu maka akan menjadi tanggung jawab kami," ujar Thor mendukung Arthur.
Pak Wakil itu akhirnya menjadi lebih tenang, ia sadar memang perkataan Arthur tadi benar, tidak seharusnya ia meragukan kekuatan dan kemampuan dari para ksatria suci.
"Ngomong-ngomong tempat apa ini?" Pak Wakil penasaran aka tempat asing yang tengah ia lihat itu.
"Itu adalah dunia yang aku dan Arthur buat, tempat itu tercipta karena kekuatan imajinasi, maka dari itu tempat itu bisa kami visualisasikan," jawab Thor.
"Jadi tempat ini? Bangunan besi yang menjulang sangat tinggi, tiang-tiang besi aneh sepanjang jalan, serta jalanan hitam besar itu adalah hasil imajinasi kalian? Aku benar-benar merasa asing dengan tempat yang kulihat saat ini, benar-benar berbeda dari dunia kita yang sebenarnya .... "
Thor sedikit tersenyum mendengar komentar dari Pak Wakil itu, lagipula memang benar tempat imajinasinya dan Arthur itu tidak mendasarkan pada keadaan dunianya yang nyata saat ini, sekali lagi dapat dinyatakan bahwa imajinasi itu memang tanpa batas.
"Sudahkan sesi bicaranya? Aku ingin fokus melihat jalannya kompetisi itu ... pertarungannya, wajah-wajah haus akan kemenangan itu, aku ingin lebih memperhatikannya ... jadi ... bisakah kalian tolong diam?" pinta Arthur dengan agak sedikit kesal pada kedua orang itu.
Thor berusaha meredam kekagetannya itu dengan bersikap sebagaimana mestinya, sedangkan Pak Wakil itu tidak mengatakan sepatah kata apapun lagi, ia benar-benar menuruti perkataan Arthur, entah mengapa aura intimidasinya memaksa orang-orang disekitarnya agar mau mengikuti perkataannya itu.
__ADS_1