
Setelah beberapa saat mereka berkuda pada akhirnya mereka menemukan ujung dari tempat tanah kosong luas bekas bebatuan tadi.
Ada sebuah gapura agak besar yang terpasang setelah mereka keluar dari area itu, dan pada bagian atas gapura itu tertulis 'Rock Valley' yang nampaknya adalah nama dari tempat ini, dan pula ada di sisi dekat gapura itu sebuah papan kayu yang cukup kokoh namun tidak terlalu besar, nampaknya itu adalah papan informasi mengenai daerah ini.
Kibo melihat dengan seksama papan informasi itu, meskipun pada akhirnya ia harus menyipitkan matanya karena tulisan yang ada pada papan kayu coklat itu agak kecil, seharusnya pembuat papan informasi ini membuat papan kayu ini sedikit lebih besar karena memang info yang disampaikan terkesan banyak.
Tulisan-tulisan kecil pada papan kayu coklat itu adalah penjelasan mengenai tempat yang bernama 'Rock Valley' ini, mulai dari asal usul sampai mitos-mitos yang tersebar.
Nampaknya dugaan Kibo tenyata benar, hal itu juga diperkuat dengan adanya infomasi dari papan itu, bahwa memang area Rock Valley ini bisa muncul batu-batu tajam pada malam hari dan berangsur-angsur hilang saat sinar matahari menyinari tempat itu.
Bahkan tertulis di sana ada beberapa korban yang pernah mengalami kecelakaan di sana mulai dari luka ringan sampai meninggal hanya karena medan batu itu, dan lagi penyebab mereka yang meninggal sangat mengenaskan, mulai dari terjatuh pada bebatuan tajam itu, dan kebanyakan kehilangan keseimbangan saat melintasi area itu hingga pada akhirnya kembali pada poin pertama tadi.
Dan juga disebutkan di sana di akhir penjelasan ada sebuah huruf merah yang ditulis agak besar dibanding tulisan yang lain, berbunyi 'Area Berbahaya'.
Kibo sendiri sangat setuju soal area berbahaya dan lagi memang kenyataannya seperti itu, terlihat juga saat ini tidak ada warga sekitar yang terlihat di sekitar area ini, karena sepertinya mereka ingin menjauhi area berbahaya ini.
Kibo dan seluruh rombongannya itu akhirnya kembali menancap gas untuk segera pergi dari area ini, kini di depan mereka, ada sebuah turunan jalan setapak yang cukup mulus dan beberapa belokan di jalan, kira-kira mereka harus melalui sekitar sepuluh lahan persawahan yang tersebar di sana, setelah mereka melalui itu semua di ujung jalan ada sebuah gerbang kota yang cukup besar dan pastinya itu adalah kota dekat kerajaan barat yang selama ini mereka tuju.
Mereka dengan bersegera mungkin, sambil melihat-lihat area sekitar di area persawahan hijau itu, tidak terlihat ada petani di sana ataupun warga yang sedang berjalan-jalan, keadaan di sini terkesan sepi namun tetap suasana alam yang damai tetap ada saat ini.
Pada akhirnya mereka sampai di gerbang kota, cukup besar namun tidak sebesar pada kota pusat kerajaan biasanya, biasanya para wakil negara bagian akan bertugas di sini, dan bisa dibilang organisasi Alliance Fight's akan bertemu dengan wakil negara kerajaan barat di sini.
Ada satu penjaga bertubuh besar di sana berbaju zirah besi lengkap dengan tombak di tangan kanannya menatap dengan tajam dan curiga pada rombongan pria keriting dan banyak pria besar di sana.
__ADS_1
Tanpa berusaha untuk menanyakan apapun penjaga gerbang itu terlihat acuh tak acuh tentang keberadaan orang banyak ini, mungkin saja saat ini ia tidak ingin memperhatikan banyak hal.
Kibo segera turun dari kudanya dan bergegas menghampiri penjaga gerbang berbaju zirah itu, Kibo tidak bisa melihat apapun selain matanya karena memang penjaga ini memakai baju zirah full pada seluruh badannya.
Ia berdiri tepat di hadapan penjaga itu, ukuran badannya hampir sama dengan para pria besar yang ada di kelompoknya itu, mungkin ada perbedaan beberapa centimeter.
"Selamat pagi Tuan Penjaga, saya mau bertanya apakah inu adalah kota dekat kerajaan barat?"
Mata penjaga yang terarah ke depan itu sedikit bergeser ke bawah dengan maksud untuk melihat siapa lawan bicaranya itu, dan nampaknya ia sedikit malas menanggapinya.
"Maaf, di sini adalah Kota Boston, saya tidak tahu kota dekat kerajaan barat mana yang anda maksud," jawab penjaga besar berbaju zirah lengkap itu, suaranya sedikit berat dan terkesan hanya memutar di helm atau penutup kepala yang tengah ia pakai itu.
Kibo sekarang ini kebingungan bagaimana harus bertanya dengan benar, pasalnya ia hanya tahu soal kompetisi yang akan ia ikuti itu berada di dekat kerajaan barat, dan ... tunggu dulu, bukankah lebih baik kita tanyakan saja soal kompetisi itu pada penjaga kota itu?
"Tu-tuan, maafkan sekali lagi bila mengganggu waktunya, kami berencana akan mengikuti kompetisi pertarungan, apakah tuan tahu soal itu?"
"Oh, apakah maksud kalian kompetisi pertarungan 'Hadirilah Kompetisi Bertarung di Kota Boston! Dengan hadiah seratus keping uang koin emas!' yang tersebar di brosur-brosur?"
"Ah! Ya kau benar Tuan penjaga, apakah Tuan mengetahui sesuatu soal kompetisi itu?"
Kibo akhirnya teringat bahwa saat ia melihat selebaran brosur yang tersebar itu ia tidak melihat pada kota tempat kompetisi itu diadakan, malah melihat tulisan kecil di bawah Kota Boston itu, yang bertuliskan 'dekat kerajaan barat' jadi pada akhirnya persepsinya sedikit bergeser dengan menyebutkan 'dekat kerajaan barat' dan bukan 'diadakan di Kota Boston'.
Penjaga besar itu menghela nafasnya kemudian mulai berbicara kembali, nampaknya untuk banyak berbicara sambil memakai penutup kepala dari besi memerlukan energi yang ekstra.
__ADS_1
"Benar sekali, yang dimaksud anda adalah Kompetisi Pertandingan di Kota Boston, ini merupakan acara yang spesial karena di hadiri oleh dua orang dari ksatria suci, yaitu Thor si Pertahanan Suci dan Arthur si Pedang Suci ...."
"A-apa?"
Kibo terkaget ketika mendengar acara kompetisi itu di hadiri oleh ksatria suci yang tersohor dari kerajaan barat, sosok yang paling di segani olah seluruh kerajaan barat dan yang merupakan orang-orang dengan kemampuan terbaik.
Kibo sama sekali tidak menyangka akan hal ini, mungkinkah ia tidak teliti dalam membaca brosurnya? Apakah ada sesuatu yang terlewat ketika dirinya sedang membacanya?
"Tapi yang aku tahu siapapun yang akan berpartisipasi dalam kompetisi ini haruslah datang sebelum jam sembilan pagi ...."
"Kalau begitu bukankah waktunya masih ada? Bi-bisakah kau bukakan gerbangnya agar kami bisa lewat untuk mengikuti kompetisi itu?"
Sang Pria penjaga gerbang Kota Boston itu melirik pada sela-sela jeruji gerbang itu, ia melihat ke arah jam besar yang berada di pusat kota, penglihatannya lumayan tajam karena bisa melihat sejauh itu. Lalu ia menoleh kembali hendak menjawab pertanyaan dari Pria Keriting ini.
"Hhhh ... sekarang sudah jam 09.01 kalian sudah terlambat ...."
"?!"
"A-apa? Hanya lebih satu menit? Bukankah masih bisa ditolelir?"
"Peraturan dibuat agar semua bisa menaatinya dengan baik, dan kurasa dalam peraturan tidak semua ada kelonggaran." Sang Pria penjaga mulai berbicara untuk menjelaskan.
"Maksud anda?" Kibo makin penasaran akan apa yang dimaksud oleh pria besar penjaga gerbang Kota Boston ini.
__ADS_1
"Peraturan adalah peraturan, akan ada konsekuensi bila melanggar ataupun tidak taat, dalam hal ini kalian sudah tidak bisa mengikuti kompetisi pertarungan yang diadakan di kota ini ...."
"A-apa?"