Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 142: Perjalanan (2)


__ADS_3

Kembali pada jalan yang mereka lalui saat ini, saat ini jalan besar itu nampak seperti milik mereka saja dalam konteksnya memang terlihat seperti itu.


Jalanan dua arah itu telah di pakai habis oleh gerombolan kuda berikut dengan orang-orangnya menyapu bersih debu yang ada di belakang mereka, momen ini bertahan beberapa saat.


Mengapa begitu? Karena jalan tanah ini juga adalah dataran luas, mirip seperti padang gurun, bahkan tidak ada tanda-tanda pemukiman penduduk, murni hanyalah area luas tandus yang nampak kaktus besar terlihat sesekali di sana.


Area yang begitu luas ini nampaknya bukan satu-satunya jalan untuk menuju ke arah barat, tepatnya ke pusat kota, namun karena mereka telah mengambil jalan ini maka mereka harus melewati semua ini.


Selama gerombolan Alliance Fight's melintasi jalanan tanah yang cukup besar ini, tidak ada satu pun kendaraan lain yang melintas, entah mengapa bisa begitu, meskipun jalan ini cukup mulus untuk di lewati, lantas mengapa sedikit sekali peminatnya?


Tidak ada yang bisa menjawab keheranan yang mereka rasakan selama perjalanan ini, nampak sepi tiada yang menema- maksudnya adalah jalanan ini terlihat ramai hanya karena gerombolan kelompok mereka saja.

__ADS_1


Jalanan lurus yang terkesan tak berujung, padahal ada ujungnya namun belum terlihat, sebuah ketidakpastian tentang begitu panjangnya jalan tanah ini, begitupula dengan ketidakpastian mu.


Terlihat juga terkadang papan yang memberikan informasi seperti promo tempat bar ataupula penginapan lengkap dengan jarak yang tersisa antara mereka dan tempat itu, memang benar panjangnya jalanan ini benar-benar tidak terduga.


Cahaya mentari mulai redup seiring dengan beranjaknya hari menjadi sore, angin sejuk berubah menjadi angin tidak sejuk namun tidak terlalu dingin.


Akhirnya setelah beberapa saat mereka menemukan salah satu penginapan yang iklannya telah mereka lihat jauh sebelum tempat itu ada tepatnya dipinggir jalanan tanah besar itu.


Mungkin sekitar seperempat jam lagi mereka bisa sampai dengan kekuatan penuh lari dari kuda kesayangan mereka tentunya.


Penginapan itu berbentuk bangunan sudah tentu, lumayan besar dan cukup unik mengingat hanya bangunan inilah yang ada di kesunyian area tandus ini.

__ADS_1


Tempat itu bernama 'DonDon Smile' nama yang cukup unik dan tidak terkesan sangar. Sebuah bangunan dengan kayu coklat yang terkesan kuat dengan papan nama di atas langit-langit bangunan, tidak bercahaya di kegelapan namun setidaknya masih ada seni artistik di dalam desainnya itu.


Kibo dan para anggota yang lain meminggirkan kuda mereka di seberang jalanan tanah itu, tepatnya di sebelah bangunan penginapan.


Kemudian mereka semua turun dari kudanya masing-masing, tidak perlu takut kuda itu akan kabur karena kuda mereka sudah terlatih dan setia pada tuannya (untuk saat ini).


Nampak kuda mereka itu kelelahan, sesekali mengeluarkan suara khas kuda yang pasti kalian sudah tahu bagaimana suaranya, terdengar sahut menyahut dengan nyaring, namun suara mereka tidak menimbulkan kebisingan yang berlebih.


Kibo memimpin mereka semua, ramai-ramai, seharusnya saat ini musik khas koboi di putar dan sedikit elemen keren di tambahkan di sini.


Mereka sampai di tempat pintu masuk yang berwarna coklat buram, berharap bahwa tempat ini masih beroperasi dan bisa menampung mereka semua.

__ADS_1


Tok ... Tok ... Tok ....


__ADS_2