Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 178: Strategi


__ADS_3

Melihat area alam seperti ini sudah biasa bagi petualang seperti mereka, namun perasaan yang mereka rasakan terkesan berbeda.


Maksudnya adalah setiap tempat yang mereka datangi itu bisa dikatakan memiliki perasaan khasnya, sebuah perasaan yang muncul dari setiap diri mereka masing-masing yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Sebuah perasaan tenang dan damai tengah mereka rasakan saat ini, area itu sepi namun tidak dengan perasaan dan hati mereka.


Hari yang beranjak petang pun menambah suasana di area hijau luas di sana, mereka bisa melihat dengan jelas matahari mulai turun ke bawah perlahan, hal inilah yang mereka nikmati juga.


Kibo akhirnya mengintruksikan kepada seluruh anggotanya itu untuk segera memasang tenda mereka, akan lebih sulit jika cahaya matahari sudah tidak menyinari mereka lagi.


Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka selesai memasang tenda mereka, kuda-kuda mereka sedang berkumpul satu sama lain sambil memakan rumput hijau yang ada di sana.


Kibo mengumpulkan seluruh anggotanya itu, para pria besar itu tentunya, mereka duduk di rumput hijau yang lembut untuk diduduki.


Kibo sebagai pemimpin tentunya menjelaskan kembali tujuan mereka datang ke tempat ini, yaitu adalah untuk menang dan mendapatkan hadiah untuk mewujudkan tujuan awal kelompok mereka.


Setelah sejauh ini, tidak ada lagi jalan untuk kembali, mereka harus tetap maju dan menghadapi rintangan yang ada, dan memang hanya itulah yang dapat mereka lakukan.


Kibo sebagai pembicara memberi semangat pada seluruh anggotanya itu, dan seluruh pria besar yang ada di sana juga mendengarkan dan ikut antusias tentunya.


Hari sudah beranjak malam, sebelumnya mereka telah memasang obor di dekat masing-masing tenda yang mereka dirikan, untuk penerangan sepanjang malan tentunya.


Saat ini terlihat bulan purnama yang besar tepat di atas area itu, itu membantu membuat penerangan yang berarti di tempat gelap ini.


"Kita akan menggunakan strategi apa untuk bisa memenangkan kompetisi ini?"

__ADS_1


Kibo memulai diskusi mereka tentang kompetisi yang akan diadakan esok hari itu, saat ini merupakan hal yang paling penting karena menentukan bagaimana strategi mereka untuk bisa memenangkan kompetisi ini.


Salah satu pria besar yang duduk di sana mengangkat tangannya untuk mengajukan usulan, Kibo mempersilahkan pria besar itu untuk berbicara.


"Jumlah kita adalah tiga puluh satu orang, dan bila kita berhasil mempertahankan masing-masing bel kecil ini maka kita akan mendapat total tiga puluh satu bel ini ... jika kita berhasil melakukan hal itu, Tuan Kibo yang akan menjadi perwakilan memegang semua bel kita," ujar salah satu pria besar itu.


Semua pria besar yang lain mengangguk-angguk setuju akan usulan salah satu pria besar itu, Kibo juga nampaknya sependapat dengan mereka.


Ia sendiri tidak keberatan bila harus memegang semua bel kecil anggota kelompoknya itu, namun permasalahannya bukan terletak di situ.


Kibo berpikir, mungkinkah bagi semua orang yang berada di kelompoknya itu untuk mempertahankan bel kecil yang ada pada mereka masing-masing itu?


Maksudnya adalah, mereka adalah sasaran dari enam puluh sembilan peserta yang lain? Bukankah itu jumlah yang banyak? Setiap individu dalam kelompoknya itu akan mengahadapi musuh yang kemampuannya beragam dan bahkan belum diketahui.


Kibo kembali memikirkan bagaimana kesuksesan dari usulan strategi yang di utarakan oleh salah satu pria besar kelompoknya itu.


Maka dari itu, dengan keterbatasan informasi yang ada, mereka sama sekali tidak tahu kemampuan musuh seperti apa yang akan dihadapi, namun yang pasti mereka pastinya sudah siap akan hal itu.


Kibo kembali berpikir lebih jauh mengenai strategi ini, dan ia pun terpikirkan suatu hal, tentang kelompok!


Harusnya bukan kelompoknya saja yang berada di kompetisi ini, mungkin saja masih ada kelompok lain dengan jumlah yang lebih banyak dan tentu saja dengan kerjasama yang hebat tentunya.


Kemungkinan itulah yang dipikirkannya saat ini, namun belum tentu benar dugaannya ini, ia hanya memikirkan 'kemungkinan' yang bisa terjadi.


Melihat berbagai skenario yang bisa terjadi membuat Kibo sulit untuk mengambil keputusan yang baik, satu hal yang masih ia pikirkan, hal yang sederhana ... untuk menang hanya perlu merebut bel kecil dari para peserta lain bagaimanapun caranya!

__ADS_1


"Kalau begitu, mari kita buat sedikit lebih agresif, kita harus merebut bel kecil yang ada pada peserta lain, hanya itulah yang dapat kita lakukan ... dan lagi jangan sampai kita terlihat bekerja sama satu sama lain, bertindaklah seolah masing-masing dari kita adalah orang asing," ujar Kibo pada semua pria besar itu.


"Tapi bagaimana jika kita tidak bisa merebut bel kecil dari peserta yang lain?" tanya salah satu pria besar yang ada di sana.


Kibo menatap dengan serius untuk menjawab pertanyaan itu. "Kalau begitu setidaknya, jangan sampai bel kecil yang ada pada kalian di rebut oleh peserta yang lain!"


"Hal yang kusampaikan tentang merebut bel kecil mereka memang adalah hal yang penting, suatu hal yang bagus jika memang kalian bisa merebut bel kecil dari peserta yang lain karena itu dapat membuat poin kita semakin bertambah, namun kita jangan sampai lupa untuk terus menjaga bel kecil ini dengan seluruh kemampuan yang kita miliki!"


"Ini bukanlah suatu acara yang biasa kita ikuti selama bertualang ... ini kesempatan sekali seumur hidup kita, dan merupakan langkah akhir dari tujuan kita selama ini ...."


"Kita akan mewujudkan mimpi kita ... demi kelompok Alliance Fight's, kita harus bersatu dan mengerahkan seluruh kekuatan dan pikiran kita pada acara esok hari!"


"Pastikan ... pastikan kita melakukannya dengan semampu kita ... memang benar belum tentu memenangi kompetisi ini, namun setidaknya kita akan mengerahkan semua yang kita bisa saat ini juga!"


"WOOOO!"


"KITA PASTI BISA MEMENANGKAN KOMPETISI INI!"


"AYO KOBARKAN SEMANGAT KALIAN!"


"WUUUHUUU!"


Suara riuh dari kelompok itu bergema di area itu, sebuah luapan semangat yang tinggi dari setiap masing-masing insan yang ada di sana.


Kibo senang karena telah mengatakan apa saja yang ada di hatinya itu, ia tidak boleh mengurangi semangat keoptimisannya itu, hal itu adalah sebuah senjata yang ampuh untuk menghadapi rintangan yang ada.

__ADS_1


Kibo mulai serius, ia benar-benar berapi-api untuk mengikuti kompetini ini esok hari, ia menatap bulan yang tengah bersinar terang itu, ia mencoba untuk selalu mengarahkan pandangannya pada hal yang positif kali ini, dan sambil berharap takdir baik akan bersinar terang padanya dan seluruh anggotanya itu, seperti bulan yang tengah menyinari mereka dengan lembut saat ini.


__ADS_2