
"HAH?! KONYOL?! AKU RAGU HARUS MENGATAKAN APA TADI! KARENA SITUASI ROMANTIS INI AKU MENANYAKAN HAL SEPERTI ITU! APA AKU SALAH!? SUDAH SUSAH-SUSAH MASUK PEMBICARAAN INI MALAH DI PUKUL!" Vincent nampaknya marah juga karena ini bukan pertama kalinya ia dipukul seperti ini oleh Brock, tidak terhitung setelah hampir lima tahun lamanya mereka bersama di sel penjara kelompok Dark Shadow jauh sebelum Danny muncul bertemu dengan mereka.
"PUKULANKU INI TIDAK KERAS! TAPI KUHARAP KAU TAHU APA YANG KAU KATAKAN ITU TIDAK SESUAI DENGAN TOPIK YANG ADA SAAT INI VINCENT! KUPIKIR JIWA KEROMANTISANMU PERLU DIKENDURKAN SEDIKIT!" Brock tidak berpendapat bahwa apa yang dikatakan Vincent itu terlalu berlebihan dan seharusnya tidak perlu diucapkan.
"HAH?! MANA BISA VINCENT! GUE KAN ORANGNYA SUKA SAMA HAL-HAL ROMANTIS EMANGNYA LU NGGAK PERNAH NONTON DRA*KOR?!"
"Dara-kor?" Brock bingung dengan apa yang dikatakan oleh Vincent, lagipula apa maksudnya darakor itu?
"...."
"Ah sudahlah Brock." Vincent nampaknya tidak mau memperpanjang pembicaraannya saat ini.
Patricia hanya bisa bengong melihat kedua pria ini berargumen satu sama lain, keduanya berudaha mempertahankan pendapatnya dan tidak mau mengalah satu sama lain; hal ini berujung pada kehebohan yangn tiba-tiba terjadi antara empat orang ini.
__ADS_1
"Sudahlah Danny, abaikan perkataan Vincent tadi- dia memang gitu orangnya." Brock sepertinya sudah lebih tenang saat ini.
"Memangnya apa salahku?" Vincent memasang ekspresi sedikit tersinggung di wajahnya.
"Su-sudahlah teman-teman." Danny berusaha untuk menenangkan kedua pria yang saling berdebat ini.
"Mungkin kalian canggung untuk masuk ke pembicaraan ya? Maafkan aku ... bukan bermaksud untuk mengabaikan kalian tadi."
"Huh? Tidak apa Danny, kau bisa berbicara dengan orang yang kau mau ajak bicara- itu hak semua orang, hanya saja si Vincent ini terkadang terlewat jalur." Brock menyilangkan tangannya di dadanya sembari menutup matanya ketika ia mengatakan hal ini.
Lain halnya dengan Brock yang memandang Vincent, rasanya pria besar itu harus terus-terusan untuk menyadarkan si Vincent ini dari kekonyolan yang dibuatnya itu.
"KAU LIHAT BROCK!? MEREKA BERDUA SAMA SEKALI TIDAK TERGANGGU DENGAN PERTANYAANKU TADI KAU ITU TERLALU BERLEBIHAN TAHU!" Vincent meledakkan kejengkelannya itu pada pria besar itu.
__ADS_1
"Ya-ya terserah." Brock yang saat ini bergantian tidak mau menanggapi omongan Vincent saat ini.
"Hmph!" Vincent menggembungkan pipinya saat ia merasa jengkel, namun ini tidak terlalu cocok untuknya yang notabene adalah seorang lelaki jantan.
"Brock, Vincent, aku tidak akan menarik kata-kataku tentang mengajakku bersamaku- namun saat ini aku disadarkan kembali oleh masa laluku, aku pernah kehilangan teman-temanku dan itu disebabkan karena aku tidak bisa melindunginya ...."
Brock dan Vincent menatap Danny yang tengah berbicara serius itu.
"Ajakanku itu masih berlaku, namun keputusan kalian sewaktu di sel penjara, kutanyakan lagi kali ini. Ini mungkin terdengar berlebihan namun aku tahu risiko bahaya yang akan datang dan jika kalian tetap bersamaku maka ...."
Danny berat untuk mengatakan hal ini, padahal sewaktu di sel penjara ia sangat menggebu-gebu untuk mengajak Brock dan Vincent bertualang bersamanya, namun saat ini ia tidak merasa hal yang sama lagi- ia mengkhawatirkan mereka berdua bilamana mereka ikut dalam perjalanannya itu risiko bahaya tentu saja akan menimpa mereka berdua juga.
"Sebenarnya tujuanmu itu apa Danny?" Vincent masih belum tahu tujuan sebenarnya dari Danny ini, selain daripada mengumpulkan ke-lima batu permata mulia itu.
__ADS_1
"Menyelamatkan dunia? Mengalahkan iblis? Itukah yang sebenarnya hendak kau lakukan Danny?" Vincent tiba-tiba berbicara sangat serius kali ini, ia memang tahu Danny sedang merencanakan melakukan sesuatu, namun sebenarnya ia masih belum mengetahui alasan Danny yang sebenarnya mengapa ia melakukan hal ini.