Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 492: Bermain Trik


__ADS_3

“Ugh!” Tanpa bisa disangka siapapun, Olivia tiba-tiba menghilang dan muncul cepat di belakang dan menusuk Arthur seketika itu juga.


Padahal Arthur sudah yakin benar serangannya itu akan mengenai lawannya. Ia bahkan bisa merasakan hawa kehadiran musuhnya di detik terakhir.


Namun siapa sangka prediksinya itu malah salah dan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


‘Tidak mungkin dia membiarkan celah sebesar ini!’ Sudah terlambat untuk menyadarinya sekarang, Arthur terlalu yakin ia sudah cukup cepat untuk memberi serangan fatal pada musuhnya.


Namun pada kenyataannya yang dihadapinya adalah iblis yang punya kekuatan yang tidak terprediksi.


HUSH!


Serangan pedang Arthur hanya menimbulkan hempasan kuat saja, tanpa sedikitpun mengenai lawannya.


“Arthur!” Hellen tidak bisa menahan kekagetan mengenai apa yang dilihatnya.


Perut Arthur benar-benar tertusuk pedang aura hitam kuat, yang membuat darah segar mengucur dari lukanya itu.


Bahkan aura kekuatan kuning yang dipancarkan Arthur tidak kuasa untuk menahan kuatnya kekuatan gelap iblis perempuan ini.


Padahal aura kekuatan berperan penting juga dalam pertahanan, meski tidak sampai benar-benar menahan serangan musuh, namun setidaknya meminimalisir efek serangan yang diterima.


Padahal sebelumnya ia bisa menghancurkan teknik perlindungan iblis itu dengan mudah, lantas mengapa sekarang ia tidak bisa menahan serangan lawannya itu?


Tentu saja ada alasan dibalik ini bukan? Kenyataan bahwa kekuatan Arthur sudah melebihi iblis perempuan itu dibuktikan dengan serangan pedang yang kuat, jika kekuatannya masih sama bukankah seharusnya ia bisa mengatasi serangan balik Olivia, atau setidaknya menghindarinya?


Ini hanya berarti ada satu hal, apa lagi kalau bukan kekuatan iblis perempuan itu sudah melebihi sang mantan ksatria suci ini?


“Bagaimana rasanya terkena trik-mu sendiri?” Olivia tersenyum puas melihat trik yang sama berhasil diaplikasikan pada musuhnya.


Pria pirang itu bukan satu-satunya yang bisa menggunakan teknik bayangan.


Mesi teknik bayangan bukanlah teknik populer yang biasa ada di pertarungan, namun sekalinya digunakan dengan efektif, maka hasilnya bisa memuaskan.


Perlahan namun pasti aura kekuatan hitam mulai menimbulkan efek yang tidak bagus, Arthur merasa kekuatannya terbuang, tersedot percuma, dan ditambah lagi kekuatan sihirnya jadi tidak stabil.


‘Serangannya,’ batin Arthur, kini tubuhnya terasa kaku karena energi gelap mulai mencemari dirinya.


Kekuatan gelap punya efek khusus, berbeda dari sihir biasanya, kekuatan jenis ini bisa merasuk dan mengacaukan kekuatan sihir seseorang dari dalam.

__ADS_1


Yang sangat merugikan bagi siapapun yang terasuki energi gelap ini. Pasalnya dengan begitu korbannya tidak akan bisa melakukan apapun, energi sihirnya terkunci bersamaan dengan kondisi fisiknya. Jika sudah begitu apa lagi yang bisa dilakukan?


‘Kenapa dia tidak langsung mengakhiriku?’ Arthur tahu bisa saja iblis perempuan itu menyerang ke titik vitalnya, bukankah itu yang diinginkan iblis itu?


Satu serangan ke titik vital sudah cukup untuk mengirimnya ke dunia lain, dan dengan menyingkirkan penghambat yang ada tentunya akan menguntungkannya bukan?


Lantas mengapa iblis itu tidak melakukannya?


“Jadi mau mengatakan yang sebenarnya?” tanya sang iblis perempuan itu, meminta penjelasan pada Arthur, mengingat ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang didengarnya sebelumnya.


Arthur terdiam, inikah yang dirasakan orang lain ketika tidak percaya dan tetap meminta bukti?


Arthur merasa melihat gambaran sifatnya sendiri, tidak dapat dipungkiri ia sering mendengar ini dari rekan-rekannya, soal bagaimana sifat keras kepalanya itu seringkali kambuh.


Tidak bisa dipungkiri kepercayaan memang bukanlah hanya sekedar kata-kata saja. Jauh lebih serius lagi tentang arti yang sesungguhnya.


Dan pertanyaannya adalah, apa arti sebenarnya dari rasa kepercayaan itu?


Mengapa seringkali suatu hal tentang percaya berubah menjadi rumit dan bahkan sulit dipahami?


Sekarang Arthur bisa merasakan untuk meyakinkan seseorang tidak semudah mem-balikkan telapak tangan, tidak peduli apa yang ia katakan sebelumnya.


‘Baiklah....’ Arthur pikir ia bisa menunjukkan kebenaran dengan kekuatan sendiri, yakni menyadarkan iblis itu soal kekuatan manusia yang sebenarnya, dengan begitu itu akan jadi bukti kuat tentang pernyataannya yang sebelumnya.


Namun pada akhirnya tidak bisa dilakukan dengan mudah.


Krrrttt....


“Panah Sihir: Cahaya Kebenaran.”


SYUT!


Jlrb....


Seketika itu juga Jessica menembakkan panahnya lagi, hanya saja bukan pada lawannya, melainkan pada rekannya sendiri.


Panah itu menancap pada kaki kanan Arthur, sedang Olivia sadar dan malah tersenyum geli.


“Rekanmu seharusnya menolongmu.” Begitulah komentarnya dengan nada gelinya.

__ADS_1


Apa gadis pemegang busur itu sebegitu gugupnya sampai-sampai serangannya malah meleset?


Apakah itu akibat dari kekuatan Olivia yang sekarang seperti ini?


Karena tidak dapat dipungkiri kekuatan Olivia naik drastis dengan cepat, bukankah wajar saja jika lawannya jadi salah tingkah?


Arthur terdiam, ia bisa melihat panah yang tertancap di kaki kanannya itu berubah menjadi putih, perlahan menghilang dari kakinya, dan tak lama kemudian tubuhnya tidak terasa kaku lagi.


‘Kerja bagus Jessica!’ Arthur merasakan kekuatan sihirnya mulai stabil, dan ini adalah hal yang bagus.


“Panah itu.” Olivia merasakan ada kekuatan yang muncul dari panah yang tiba-tiba hilang itu.


SSHHHHH!


Seketika itu juga Arthur mengeluarkan aura kuningnya sampai membuat hempasan angin yang hebat, membuat sang iblis perempuan ini agak goyah mempertahankan pedang aura hitam yang tertancap pada Arthur.


“!” Olivia tidak menyangka untuk tujuan itulah panah diarahkan pada pria pirang ini, padahal ia menyangka serangan itu tertuju untuknya.


Gret.


Olivia menguatkan kekuatannya gelapnya agar pria pirang itu tidak melarikan diri.


Namun aura pria pirang itu naik begitu pesat, hempasan angin yang ada makin besar dan membuat Olivia makin goyah.


SLASH!


Dan pada akhirnya Arthur berhasil melepaskan diri dari tusukan pedang aura hitam musuhnya, ia melesat menjauh ke jarak aman.


“....” Olivia terdiam, menilai apa yang barusan terjadi, tadi kerja sama tim yang cukup bagus.


Gadis pemanah itu punya sesuatu yang bisa menetralkan aura kekuatan iblis, yang tak lain tak bukan adalah kekuatan terang, bentuk sederhana dari kekuatan suci yang sudah lama hilang.


Kekuatan terang adalah jenis kekuatan sihir yang diciptakan manusia sendiri, dan ada kekurangannya bilamana dibandingkan dengan kekuatan suci yang berasal dari ras malaikat yang sudah lama hilang.


Kekuatan terang bisa menetralkan kekuatan gelap di tubuh, namun tidak seefektif kekuatan suci yang bisa menetralkan sepenuhnya.


“Olivia?” Arthur sudah berada di sisi lain, tidak terlalu jauh dari keberadaan iblis itu.


“Nama yang bagus, tapi sayangnya kau iblis.” Arthur menatap tajam sembari mengomentari nama sang iblis perempuan ini.

__ADS_1


Entah mengapa Arthur malah mengomentari nama dari sang iblis ini, apakah itu adalah topik penting yang perlu dibicarakan saat ini?


“Manusia bodoh, sia-sia aku memberimu kesempatan.” Alis mata Olivia menurun tajam, yang itu tentunya bukan ekspresi yang bagus.


__ADS_2