
Danny terpaku melihat seorang yang dicarinya berdiri tak jauh darinya, Arthur. Dan tidak berhenti di situ, namun juga ada tiga orang lain yang berada di sisinya.
'Kenapa hawa keberadaannya tidak terasa sama sekali?' batin Danny heran. Apakah ini adalah kemampuannya juga? Kemampuan semua anggota Ksatria Suci?
Sret.
Raven juga melihat ke arah keempat orang ini, yang seperti dugaannya akhirnya muncul juga.
"... Masih hidup?" Sang pemimpin ksatria suci ini tidak percaya akan apa yang dilihatnya.
"Bagaimana bisa?" Arthur maju ke depan, ia sebelumnya tahu benar pemuda di hadapannya ini seharusnya sudah meninggalkan dunia ini.
Danny terdiam, ia masih memproses kenyataan bertemu dengan orang terkuat dari Kerajaan Barat, secara lengkap.
Keempat anggota Ksatria Suci ada di sini!
Danny baru pertama kali melihat mereka selain pemimpinnya, dan tentunya bisa melihat secara langsung jadi kebanggaan tersendiri baginya.
"Kamu kenal dia Arthur?" tanya gadis cantik berjubah biru, begitu anggun dan raut wajahnya tenang. Dia paling muda diantara yang lainnya.
Seketika itu juga Danny tahu, dia adalah Hellen. Ketenaran Ksatria Suci terdengar di mana-mana, maka tidak heran juga ia bisa langsung menebaknya seperti ini.
"Ya," jawab Arthur pendek. Ia masih terlihat tidak percaya.
"Kau bicara selayaknya di sudah mati." Komentar seorang gadis lain dengan jubah hijau dan busur di punggungnya.
Danny tahu dia adalah Jessica, pemanah paling handal yang ada di Kerajaan Barat.
"Aku membunuhnya."
"!?" Hellen, Jessica, Worther terdiam, sedang pandangan mereka tertuju pada pemimpin mereka ini.
Perkataan yang singkat, padat, dan jelas Arthur ini membuat yang lainnya jadi tidak berekspresi biasa saja.
"Pantas saja." Pria besar dengan kapak dipunggungnya kini ikut bicara. Suaranya berat dan lantang.
Danny seketika tahu dia adalah Worther, petarung dengan kapak besar kebanggannya, dia memancarkan aura kekuatan yang hebat.
__ADS_1
"Tidak biasanya kamu bercanda." Hellen menatap Arthur dengan serius, apa yang dikatakannya itu terlalu sulit dicerna.
"...." Arthur terdiam, begitu melihat pemuda ini, ia ingat akan bagaimana pertarungan yang mereka jalani. Ia yang masih dibutakan oleh idealismenya sendiri, tidak peduli siapapun tetap saja disikatnya.
Begitupula dengan pemuda ini yang bertarung dengan segenap kekuatannya. Sang Ksatria Suci ini tidak mau mengingatnya, tapi tetap saja ia teringat.
Baik secara langsung atau tidak pun, kematian Danny adalah sesuatu yang tidak terduga. Arthur tidak punya banyak waktu untuk menggali informasi.
Yang pada akhirnya pun kenyataan mendatanginya, ia yang menyangka Danny sudah tiada dikejutkan dengan fakta yang ia lihat sekarang ini.
Hellen, Jessica, dan Worther sadar dibalik terdiamnya rekannya, disitu ada jawaban yang pasti.
"Ah Tuan...." Danny bingung dari mana harus menjelaskannya, berulangkali menjelaskan hal tidak masuk akal pada yang lain tidak semudah yang ia pikirkan, terlebih lagi yang ada di hadapannya adalah orang yang hebat dan disegani.
Tapi apa ia punya pilihan selain menjelaskannya? Danny mengambil nafas dalam, tenang, dan pada akhirnya mulai menjelaskan dengan sederhana.
"...." Para Ksatria Suci ini mendengarkannya dengan seksama, keseriusan terlihat jelas pada mereka.
"Ceritamu seperti dongeng," ujar Worther.
Reaksi seperti ini sudah diduganya, jadi pada akhirnya Danny tidak memaksa orang-orang hebat ini percaya juga.
Mau percaya rasanya sulit, tidak percaya maka akan tetap bingung, pikir Arthur.
Manusia yang bisa hidup kembali setelah mati, kemustahilan bagaimana lagi yang terjadi di dunia ini?
"Heh, mengejutkan." Raven dengan wujudnya yang mengerikan itu berkomentar juga, namun tidak dengan nada kaget atau heran. Dia ini percaya atau tidak sih?
"Dan kau...." Belum selesai urusan Arthur dengan Danny, kini perhatian Ksatria Suci ini tertuju pada makhluk hitam yang terasa familiar.
"Yo." Raven mengacungkan satu tangannya, sementara ia tidak melakukan persiapan apapun, sebagai antisipasi bilamana terjadinya cekcok.
"Kau kenal dia juga?" Hellen terdengar penasaran, entah mengapa dia ingin tahu seluk beluk dua orang yang ada di depannya ini. Mengingat kedua orang, atau lebih tepatnya, satu orang dan satu makhluk aneh ini memancarkan aura yang menarik.
"Buronan," jawab Arthur singkat, padat, jelas.
"Bu-buronan?!" Hellen tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti ini dari rekannya.
__ADS_1
Raven tidak menyangkal apa yang dikatakan Arthur, pada kenyataannya memang seperti itu adanya.
Dia adalah musuh dihadapan sang ksatria suci ini, dan apa yang diperbuatnya adalah kejahatan.
Tidak heran bilamana ekspresi Arthur berubah jadi serius seperti ini.
"Makhluk yang mengurungmu itu?" Worther sudah tahu akan kejadian ini, alasan mengapa ia dahulu mencari Arthur karena sudah beberapa lama menghilang.
"Tu-tunggu! Dia tidak sejahat yang kita pikirkan!" Danny mengarahkan kedua tangannya ke depan, berusaha untuk mencairkan situasi yang malah memanas di sini.
"Apa kau lupa bagaimana orang-orang tersiksa hidup terpenjara?" Arthur menatap Danny serius, sorot matanya tajam seperti elang, seolah apa yang ditanyakannya, juga adalah pernyataan mutlak darinya.
"...." Danny sedikit bergetar, entah mengapa ia malah seperti kembali melihat Arthur yang akan menghajarnya tanpa ampun lagi, apakah sekarang ini waktunya?
Apakah meminta bantuan padanya adalah hal yang salah? Yang malah terjadi situasi tidak ramah yang tidak diharapkan siapapun.
Apa tidak ada lagi orang lain untuk diminta bantuan selain sang Ksatria Suci ini?
Danny tahu meminta bantuan pada seorang yang punya masalah tidak akan berjalan dengan lancar, namun pilihannya terbatas di situ, selain orang-orang kuat dari Kerajaan Barat, siapa lagi yang bisa diminta bantuan?
Karena itulah Danny berani mengambil risiko menemui kembali sang ksatria suci ini dan berharap ia bisa bekerja sama dengannya.
"Apa kau serius mau melalukan ini?" Sorot mata merah Raven menyala terang, ia tidak terpengaruh dengan intimidasi Arthur, sebaliknya ia malah bersiap untuk bertarung.
Ssshhh....
Aura gelap mulai terkumpul di sekitarnya, kekuatannya yang unik ini membuat anggota Ksatria Suci yang lain juga melakukan hal yang sama, bersiap untuk bertarung.
'Kenapa... jadi seperti ini?' Danny bertanya dalam batinnya sendiri, kenyataan tidak sesuai ekspektasinya.
Danny pikir akan mudah untuk meyakinkan Arthur yang sekarang, mengingat dia sudah tidak lagi terpaku pada idealismenya sendiri.
Namun Danny sadar, meski begitu Arthur tetaplah Arthur. Dia melihat apa yang salah adalah salah, dan tidak ada lagi yang bisa mengubahnya.
"Danny, bersiaplah." Raven menatap Danny dengan serius, sedang pemuda itu tidak tahu ekspresi seperti apa yang ditunjukkannya, mengingat dia ini makhluk hitam mengerikan dengan mata merah menyala.
"Haaah...."
__ADS_1
Danny menghela nafasnya, menguatkan tekadnya dan menatap ke depan, melawan satu Ksatria Suci saja ia sudah mati, bagaimana dengan empat sekaligus?
BUM!