
Cerberus hanya bisa berpikir seperti itu, penggunaan kekuatan besar tentunya mempunyai efek yang besar juga pada penggunanya.
"Cerberus terima kasih atas bantuanmu, kini mungkin akan ada banyak makhluk buas lain yang berdatangan kemari karena tertarik dengan kekuatan yang besar dari temanku ini."
Cerberus bisa langsung paham, keberadaannya di sini memang untuk membantu Danny, karena ia tidak bisa melawan siapapun dari ras demi human, maka cara lain agar bisa membantu Danny hanyalah mencegah agar para makhluk buas lain tidak berdatangan ke area di mana Tuannya ini sedang bertarung.
"Baiklah Tuan, saya pastikan para binatang buas ini tidak akan menggangu pertarungan Tuan, saya izin undur." Cerberus berbalik badan dan perlahan masuk ke arah hutan yang gelap dan suram itu untuk mencegah makhluk buas lain bermunculan di sekitaran area Tuannya itu.
Kini hanya ada Danny dan Forhan, Forhan tidak bisa lagi memanggil bantuan para makhluk buas yang ada di tempat ini karena memang semuanya sudah ditangani Cerberus.
"Makhluk anjing itu pergi? Apakah kau sebegitu yakinnya tidak butuh pertolongan darinya untuk melawanku?" Forhan membangun rasa percaya dirinya kembali, kini ia jadi tidak takut karena Danny juga tidak memiliki bala bantuan, sama seperti dirinya.
Danny masih fokus untuk menenangkan dirinya dari segala hasrat menghancurkan setiap hawa kegelapan sebagai efek lain dari penggunaan batu permata mulia ini.
Danny tahu kekuatan Forhan memang sebegitu besarnya, jauh ketika ia masih bersamanya dahulu, ia yang sudah kuat kini semakin menjadi kuat.
"Pedang Api: Api Kematian!" Forhan mengacungkan pedang besar beraura merah darahnya itu ke atas dan kemufian menghempaskannya ke arah tumpukan mayat binatang buas yang berserakan di sana, serangannya itu sekaligus mengarah ke tempat di mana Danny berada.
Perlahan namun pasti Danny kembali fokus, ia harus menghentikan serangan api milik temannya itu dan tidak mungkin ia menggunakan angin untuk melawannya, karena angin hanya akan membuat serangan Forhan semakin menggila dan merusak sebahian area yang berada di hutan ini.
Perlahan Danny bisa mengubah sihir angin yang sedang dipakainya itu, kini perlahan pedang angin berubah menjadi butiran-butiran air; singkatnya perubahan kekuatan sihir Danny dari angin ke air begitu cepat dan mulus.
Kini di tangan kanannya Danny memegang sebuah pedang sihir beraura biru, namun tidak berisi elemen angin melainkan air, tetesan-tetesan air terlihat berjatuhan dari pedang sihir miliknya itu.
"Sihir Api: Hempasan Angin Besar!" Danny melakukan hal yang sama ia mengacungkan pedang sihir besar air beraura biru itu dan menghempaskannya dengan keras.
BBUUUUMMMMM!!!
Ledakan kedua kekuatan yang besar tidak terhindarkan terjadi, kini kekuatan masing-masing sedang menunjukkan kebolehannya.
Kekuatan semburan api panas yang berasal dari kekuatan pedang Forhan hanya tertahan di tengah-tengah oleh karena bertubrukan dengan sekumpulan besar air yang dilancarkan oleh Danny.
Kekuatan sihirnya yang seharusnya tidak sekuat ini, kini menjadi kuat karena bantuan dari ketiga kekuatan batu permata mulia, andaikan Danny tidak menggunakannya maka sudah pasti kekuatan api Forhan akan melalap apa yang ada di hadapannya.
Ssshhhhh!!!
"Danny! Kau tidak pantas menggunakan kekuatan dari rasku! Tanpa kekuatan batu itu tidak mungkin kau bisa menghentikan seranganku!" Forhan berteriak dari tempatnya seraya terus menerus melancarkan dan memperkuat serangan api yang sedang dilakukannya itu.
Danny berusaha untuk tidak terpengaruh ucapan Forhan, sudah dari awal ia memang tidak bisa meyakinkan temannya itu akan alasan mengapa ia memegang kekuatan ini.
Buummm!!!
Setelah beberapa saat kekuatan api Forhan dan kekuatan air Danny beradu, muncul suatu ledakan yang hebat dan pula keras.
Membuat semua yang ada di area itu bergetar, dan perlahan namun pasti kekuatan yang beradu tadi berakhir dengan ledakan hebat tanpa merusakkan apapun.
Danny berhasil menghentikan serangan Forhan, mengingat temannya itu sudah mengeluarkan kekuatan yang begitu hebat, Danny langsung beranjak cepat berlari mendekati Forhan sembari mempersiapkan pedang airnya untuk menyerang Forhan.
Sslaaashh!!!
Danny berhasil mengayunkan pedang sihir airnya ke dekat Forhan yang masih mencoba untuk bertahan dan mengarahkan pedangnya ke atas demi menghentikan serangan pedang Danny.
Ziiiinggg!!!
Danny langsung menggunakan kekuatan kecepatan batu permata mulia, dengan begitu seluruh area yang dipandangnya berwarna kuning dan bergerak lambat.
Forhan, aku tidak berniat untuk menyakitimu tapi aku sendiri juga tidak bisa membiarkanmu mengambil kekuatan batu ini ....
__ADS_1
Danny yang masih diudara hendak melancarkan serangannya itu melihat Forhan masih menutup bagian kepalanya dengan pedang besarnya itu, menghindari agar serangan yang dilakukannya itu tidak mengenai bagian vitalnya itu.
Namun Danny sendiri dari awal tidak mengincar kepala Forhan, melainkan bagian perut daripada Forhan, ia berkelit dengan cepat ke arah bawah di mana Forhan masih bertahan dengan cara yang sama.
Dengan begini Danny bisa melumpuhkan Forhan tanpa perlu banyak bertarung dengannya, ia tidak mau pertarungan ini menjadi pertarungan terakhir baginya dan temannya itu.
Slit.
Danny memutar badannya dan bersiap untuk menebas sebagian kecil area perut Forhan demi menghentikan pertempuran ini, begitu pedang besar airnya hendak mengenai perut Forhan yang tubuhnya masih diselimuti oleh aura kemerahan darah ini, Danny melihat ke arah wajah temannya itu untuk memastikan sesuatu.
A— apa yang?!
Danny terkejut melihat pandangan mata Forhan yang seharusnya sedang menenggak ke atas demi menghentikan serangan awalnya itu, kini malahan pandangan matanya terarah dengan tajam ke arah bawah, tepat di mana ia hendak menyerangnya.
Forhan bisa melihat pergerakanku?! Ba- bagaimana bisa? Bukankah aku sudah menggunakan kecepatan super ini?
Danny tidak menyangka Forhan akan menyadari keberadaannya yang hendak menyerang ke arah lain itu, kini dalam benaknya hanya ada dua hal yang bisa memastikan mengapa Forhan bisa melihat pergerakannya; Forhan hanya memprediksi pergerakannya secara acak hingga akhirnya bisa melihatnya, atau yang lebih lagi, pria besar itu memang benar mampu untuk melihat pergerakan cepat yang dilakukannya itu.
Aku masih bisa menyerangnya meskipun dia menyadari keberadaanku!
Danny masih memiliki kesempatan untuk melukainya, dan ia mengabaikan pandangan mata Forhan tajam yang mengarah padanya secara langsung.
Srrriikkk!
Pedang air Danny berhasil menyentuh bagian luar, yaitu aura kemerahan yang dimiliki Forhan itu, aura kemerahan pria besar itu mencegah serangan pedang air Danny melukai badannya.
Danny menambahkan kekuatan fisik, hingga pada akhirnya ia tetap menerobos ke depan demi menghancurkan pertahanan aura luar kemerahan Forhan ini, sayangnya hal ini tidaklah mudah dilakukan.
Forhan mampu bertahan dari kekuatan batu permata mulia?! Kalau aku tidak bisa menembus pertahanan aura yang dimilikinya ini, bagaimana caraku menghentikan dia?!
Kekuatan aura Forhan bukannya semakin menipis dan melemah ketika diserang oleh Danny, sebaliknya aura kemerahan itu makin merah dan membesar malahan kini bercampur dengan aura kegelapan yang memang dari awal sudah ada padanya.
I- ini tidak bagus ....
Danny melihat kekuatan Forhan yang dalam waktu yang sangat singkat, bahkan dalam waktu yang diperlambat seperti ini, kekuatan Forhan membesar dengan tidak masuk akal, seolah-olah ia tadi hanya bermain-main saja dan belum menggunakan seluruh kekuatannya.
Danny sampai pada titik ia harus kembali menjauh dari jangkauan temannya itu, kekuatannya yang membesar dengan sangat cepat itu sungguh membahayakan siapapun yang berada di dekatnya.
Dengan cepat Danny memutar tubuhnya hendak menjauh dari temannya itu sebelum semuanya menjadi parah, namun Danny merasakan kekuatan yang besar merangsek ke kekuatan kecepatan yang saat ini dipakainya itu.
Dengan kata lain Danny merasa Forhan sudah tidak lagi berada di waktu yang seharusnya, kini dengan kekuatan yang luar biasa Forhan bahkan mampu memasuki dimensi perlambatan waktu yang sedang dilakukan oleh Danny ini.
Su- sudah kuduga! Forhan tidak benar-benar serius tadi! Kekuatannya ini sungguh di luar perkiraanku!
"Fo- Forhan—"
BUUUAAKGHH!!
Belum sempat Danny menoleh pada pria besar itu, Forhan dengan tinjuannya yang keras pada arah wajah berhasil membuat Danny terhempas jauh.
Zuuungg!!!
Dan dimensi waktu batu permata mulia berakhir seketika tanpa disadari Danny, kini kekuatan perlambatan waktu batu permata mulia kuning tidak bisa lagi digunakan melawan sang demi human, Forhan.
BUUUMM!
Danny terhempas, melayang dan mendarat tepat di tengah pohon besar yang menjulang tinggi yang ada di hutan ini, pemuda itu sedikit terbatuk karena debu yang dengan cepat muncul di sekitarnya.
__ADS_1
Danny memegang wajahnya sendiri, dan kemudian melihat dengan mata kepalanya sendiri, bercak darah yang tidak sedikit kini ada pada wajahnya.
Pa- padahal aku sudah menggunakan kekuatan batu permata daya tahan, ta ... tapi mengapa serangan Forhan bisa melukaiku?
"Ukh ...."
Belum lagi Danny sadar mengapa kekuatan batu permata daya tahan bisa ditembus dengan kekuatan luar biasa dari Forhan, kini ia merasa nyeri yang amat sangat, tidak hanya pada bagian wajahnya tapi pada seluruh bagian tubuhnya juga.
Pohon yang menjadi tempat pendaratan Danny tidak banyak mengalami kerusakan, karena memang seluruh pohon dan tumbuhan serta penghuninya memiliki energi kekuatan sihir, jadi ketahannya melebihi daripada yang biasanya.
Perlahan namun pasti Danny tidak bisa selamanya menempel pada bagian pohon besar yang sangat tinggi itu, kini Danny terlepas dari pohon itu dan meluncur ke bawah dengan cepat.
Dum!
Danny mendarat dengan tubuhnya sendiri ke arah tanah yang hancur itu, ia terlalu sibuk berurusan dengan rasa sakit yang tiba-tiba muncul itu dibanding dengan memerhatikan bagaimana caranya dia bisa mendarat.
Kepulan debu tanah lagi-lagi menyeruak membuat pemandangan yang begitu memuaskan untuk sang demi human yang ternyata baru mengeluarkan kekuatan yang sebenarnya itu.
"Danny! Aku tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan kekuatanku yang sebenarnya! Lihatlah dan rasakanlah kekuatan seorang demi human sejati! Gwhahahaha!"
Forhan merasa sangat puas, aura tubuhnya yang merah darah itu berangsur-angsur menjadi kehitaman, tubuhnya menjadi semakin besar lengkap dengan ototnya yang menjadi-jadi.
Kekuatan sang demi human sejati telah dikeluarkan oleh Forhan, ia sendiri tidak akan mundur oleh karena Danny yang sudah mendapatkan kekuatan leluhurnya itu, bahkan sekuat apapun dia.
Tekad Forhan menjadi-jadi, ia bisa menggunakan kekuatan demi human sebenarnya, yaitu meningkatkan batas kemampuan tubuhnya sampai pada batas yang bisa dicapainya yang pada umumnya para demi human harus melihat bulan purnama untuk melakukannya.
Danny sendiri masih terkapar dengan wajah yang menyentuh tanah, ia seakan mengalami rasa sakit pada dua arah, luar yang berasal dari temannya itu, dan pula dari dalam.
Se- serangan Forhan bukanlah serangan sembarangan, meskipun ia hanya meninju wajahku, namun rasanya serangannya itu membuat seluruh tulang-ku ngilu dan tidak karuan ....
Danny tidak menyiapkan dirinya untuk merasakan rasa sakit, ia kira setelah beberapa waktu menggunakan kekuatan batu permata mulia ini ia hanya akan merasa sedikit kesakitan saja dalam penggunaannya.
Tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku tidak bisa protes akan adanya rasa sakit ini, aku harus berteman dengannya ....
Danny memilih untuk menyemangati dirinya sendiri, ia mengambil waktu terkapar di tanah tanpa melakukan apapun sebelum menyadari Forhan akan berbuat sesuatu.
Forhan melihat kepalan tangannya sendiri, begitu besar, kokoh, dan ... berbulu; ia mengeluarkan segenap kekuatan dan tenaganya ketika melancarkan serangan tinjuannya pada Danny, dengan kekuatan besarnya itu ia yakna telah mengeluarkan segenap kekekuatannya hingga bahkan menembus ke dalam tubuh Danny itu sendiri.
Jika saja Danny hanya seorang manusia biasa dengan kekuatan biasa maka sudah pasti ia tidak bisa menghindar dari serangan fisik Forhan, jangankan menghindar bertahan pun sama sekali tidak ada gunanya.
Forhan memuji kekuatan Danny, ia pikir dengan serangan kejutan sekaligus serangan pembuka kekuatan aslinya akan langsung mengakhiri Danny, namun ternyata tidak.
Tap.
Danny sudah selesai mencium bau tanah, kini meksipun ia masih saja merasakan sakit, ia tidak bisa begitu saja mengalah dari temannya itu; perjuangannya dalam menemukan batu permata mulia akan berakhir di sini, dan semua yang telah dilaluinya hanya akan berakhir kesia-siaan.
Danny mengambil langkah keras untuk kembali berdiri, membangun tekadnya sendiri, dan tidak lupa dengan wajah yang seorang pemenang, bukan seoramg yang akan mengalah.
"Danny ...." Forhan semakin tertarik melihat wajah Danny yang sangat menantangnya dari seberang sana.
"Forhan, tidak usah ragu lagi, aku sudah terbiasa dengan rasa sakit, bahkan lebih dari itu."
"Aku akan menghabisimu di sini Danny Haaahhhh ...." Forhan kembali menggila dengan aura merah gelap dan wajah yang menginginkan kepuasan bertarung.
"Itu akan menarik, hehe" Danny pun memasang wajah yang sama.
****
__ADS_1