Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 73: Kehidupan Terbelenggu (2)


__ADS_3

"Apa yang kau maksud Brock?"


Pria berambut coklat, namun terlihat rapi itu menjawab, "Aku telah berada di sini selama kurang lebih lima tahun."


Danny masih belum paham mengapa orang-orang di sini diperlakukan seperti ini. Mungkinkah ini tempat orang bersalah hingga akhirnya harus berada di sini?


"Ini tempat apa Brock?"


"Semacam penampungan manusia, di sini kami hidup namun harus mengikuti aturan dari atasan kami."


"Mengapa ada tempat seperti ini? Kukira ini hanyalah untuk orang bersalah saja."


"Kau salah, kita semua yang berada di sini itu berarti hidup kita memang di takdirkan untuk berada di tempat ini."


Danny lalu ingat samar-samar, alasan bahwa mengapa ia bisa sampai ke tempat ini, "Kita di culik?"


Brock mengangguk, "Kau tidak salah tapi tidak sepenuhnya benar juga, selama aku berada di tempat ini kebutuhanku tetap tercukupi meskipun aku harus tetap menurut pada mereka."


Danny belum bisa menilai tempat apa ini, lagipula ia benar-benar baru di sini.

__ADS_1


"Sepertinya kita di culik mereka karena mereka ingin menegakkan keadilan bagi para rakyat yang berada di luar kota, tempat di mana kita akan selalu di jaga lebih tepatnya."


Danny sedikit tidak setuju dengan perkataan Brock ini, lagipula mengapa kebebasan tidak diterapkan secara penuh disini?


"Ini berati kita harus hidup menurut aturan mereka?"


"Kau benar Danny, namun aturan itu sama sekali bukan aturan biasa."


"Maksudmu? Aturan seperti apa?"


"Kau harus melakukan apa yang kau bisa untuk bertahan hidup, kecuali kau perempuan, anak-anak atau orang lanjut usia," ujarnya.


"Jadi maksudmu, ini semacam kesenjangan sosial?"


"Mungkin, aku belum bisa menilai sampai sana, meskipun aku ada tempat bernaung di sini, tetap saja aku tidak merasa nyaman bila harus terus seperti ini."


Jam demi jam terus berlalu, kedinginan masih tetap saja menyerbu. "Aku sebenarnya masih belum paham tentang masalah ini," ujar Danny.


"Kukira kelompok ini menyandera kita, membuat kita sengsara bahkan mungkin hal buruk lainnya," ucap Danny

__ADS_1


Pria itu terbangun sekejab setelah Danny mengatakan hal itu, "Oh kau belym tidur? Ini sudah jam dua pagi ... hoaaam ..." Brock menguap, ia tidur disebelah Danny yang sedang bersandar pada dinding sel penjara itu.


Danny akhirnya menyerah karena ia sudah tidak nyaman jika harus bersandar pada dinding itu terus, ia mulai membaringkan tubuhnya dengan alasan agar ia bisa tidur.


Namun ternyata lantai yang berada di bawahnya ia menyambutnya dengan rasa dingin yang sama dengan yang ia rasakan berseliweran saat ini.


Brock merasa sedikit kasihan melihat Danny terus menggeliat karena lantai di bawah tubuh mereka selain sedikit kotor namun juga terasa dingin.


Ia memutuskan untuk mendekap Danny, mendekatkan tubuhnya agar Danny tidak merasa kedinginan.


Beberapa saat kemudian memang Danny merasakan hangat karena hawa hangat dari Brock memancar hingga akhirnya Danny lebih merasa nyaman.


Pagi hari tiba, sinar matahari berusaha masuk ke ruangan sel ini namun nampaknya ia tidak diijinkan masuk, buktinya karena minimnya jendela yang ada di sini, membuat suasana di sini redup dan sausana sama saja terasa suram.


Brock dan Danny masih tertidur lelap, mereka terlihat seperti ayah dan anak yang saling melindungi, ini terlihat sangat menyentuh.


Seorang pria muda, berjalan sempoyongan dengan baju dan celana yang compang-camping, sepertinya ia akan menuju ke sel tempat Brock dan Danny di tahan.


Begitu sampai, pria itu dikejutkan dengan Sepasang pria yang saling mendekap, nampaknya salah satu dari mereka mukanya merah.

__ADS_1


"Apa yang-"


__ADS_2