
Tap!
Tap!
Kini Danny dan Patricia berlari dengan cepat mengarah ke sumber ledakan yang terjadi tadi.
Berpencar memang bukanlah pilihan terbaik, namun Danny tidak punya pilihan lain selain ini.
Ia harus menghentikan ras iblis yang ternyata sdah sampai ke pusat Kerajaan Timur dan mencari jawaban mengapa orang-orang di kota seolah menghilang tanpa jejak.
Untuk itulah ia memilih pilihan seperti ini, berharap pilihannya ini tidak berakhir buruk.
Di sisi lain Patricia melihat bagaimana Danny berlari masih dengan memegang tangannya. Tangannya terasa kasar namun hangat di saat yang bersamaan.
Entah bagaimana menjelaskankannya, namun memang Patricia tahu, Danny sudah melewati banyak hal dan tidak heran kini tubuhnya juga berubah.
Setelah beberapa lama pun Danny tidak kunjung melepaskan pegangan tangannya, dan itu membuat perhatian Patricia selalu tertuju ke situ.
Apa Patricia tidak suka dipegang tangannya seperti ini? Tidak juga, ia malah tidak mau momen ini berhenti.
‘Kenapa Danny....?” Patricia kini bertanya-tanya mengapa temannya itu memegang tangannya, padahal dia bisa saja mengajaknya dengan perkataan saja.
Danny begitu serius tidak melepaskan pegangan tangannya sama sekali selama mereka berlari menuju arah ledakan tadi.
“Danny, makhluk tadi....” Patricia penasaran akan makhluk yang besar tadi.
“Ya dia adalah iblis.” Danny menjawab singkat di tengah pergerakannya yang cepat.
Sekarang Patricia bisa merasakan aura kekuatan yang begitu kelam, memang hal ini tidak sering ia temui sebelumnya, namun hawa kelam ini sering dirasakannya juga ketika menonton pertunjukkan horor.
‘Makhluk besar tadi tidak semengerikan itu.’ Begitulah pendapat Patricia mengenai makhluk besar yang barusan muncul tadi.
Padahal ia pikir ras iblis akan berpenampilan begitu mengerikan lebih dari penampilan orang yang memerankan karakter horor.
Namun meski ekspektasinya tidak terpenuhi, namun tetap saja Patricia kini tahu bisa ada makhluk yang punya kekuatan sihir sebesar itu.
Jadi sekarang kita tahu Patricia hanya terkejut dengan aksi menyeramkan sebelumnya, yang di mana rasanya akan susah jika itu diperankan di pertunjukkan horor.
‘Apa semua ras iblis punya kekuatan seperti itu?” Banyak pertanyaan yang muncul dalam kepalanya saat ini, namun Patricia tahu ini bukanlah saat untuk itu.
__ADS_1
Patricia melayangkan pandangannya di sekitarnya dan bisa dilihat memang kini api bertebaran di mana-mana dan banyak bangunan yang sudah roboh. Kekacauan ini benar-benar terjadi dalam waktu yang singkat.
Megapa rombongan mereka ini tidak sadar lebih cepat? Jika begitu bukankah lebih baik dalam mengatasi situasi ini?
Mengatakannya memang mudah, namun tidak dengan melakukannya. Keempat orang yang bahkan sudah berlatih dengan demi human ahli sihir pun masih belum bisa cepat untuk mengatasi hal ini.
Malah situasi buruk lebih cepat terjadi di luar perkiraan mereka, situasi yang tadinya biasa saja sudah berubah seratus selapan puluh derajat.
Apa itu berarti ras iblis punya trik tersendiri agar bisa menyembunyikan apa yang tengah dilakukan mereka? Atau memang itu murni karena kekuatan mereka?
Dengan kekuatan ras iblis yang begitu besar ini tak heran Freiss sebelumnya melatihnya dan juga yang lain dengan sungguh-sungguh.
Patricia masih terkesan bagaimana Brock, dan Vincent dengan penuh keberanian mau untuk menghadapi makhluk dengan kekuatan besar seperti itu.
Apakah itu adalah hasil dari latihan mereka sebelumnya yang membuat mental mereka lebih kuat dari sebelumnya? Patricia pikir seperti itu adanya.
‘Sihir penyerangan dan pertahananku tidak berkembang jauh....’ Melihat bagaimana kedua temannya itu percaya diri membuat Patricia jadi memikirkan ini.
Jikalau melihat perkembangan teman-temannya yang lain maka sudah pasti dia kalah dalam hal ini.
‘Jika dibandingkan sudah pasti aku akan kalah,’ Patricia menyadari hal ini, membandingkan diri dengan orang lain kemungkinan besar akan berakhir dengan kekecewaan saja.
Apa itu berarti Patricia masih belum berusaha dengan keras? Apakah ia masih belum menganggap serius latihannya selama ini?
Ia khawatir bilamana rekannya akan melihatnya seperti yang telah ia pikirkan sebelumnya, dan itu tidak terasa nyaman.
‘Apa itu sebabnya Danny memegang tanganku....?’
‘Karena aku tidak cukup kuat sendiri?’ Patricia mendapatkan kesimpulan seperti ini dalam hatinya, yang adalah alasan yang cukup masuk akal bagi Danny melakukan hal ini.
Patricia sedikit tertunduk namun masih bisa mengikuti pergerakan cepat rekannya. Ia jadi ingat berbagai momen latihan ketika bersaman Freiss.
‘Guru Freiss tetap menatapku dengan percaya diri... meski tahu aku tidak berbakat dalam sihir selain penyembuhan....’
‘Dan tadi pun aku bahkan tidak bisa memulihkan prajurit yang terluka parah....’ Perasan Patricia mulai campur aduk, rasa khawatirnya malah terus memuncak dan ia merasa jadi tidak berguna.
‘Jadi sebenarnya apa yang kubisa?’ Sebagai satu-satunya perempuan di sini, itu membuatnya jadi kembali berpikir.
‘Apa aku benar-benar ingin mengikut Danny?’ Patricia merenungkan kembali alasannya mengikut Danny sampai saat ini yang tak lain tak bukan memang karena keputusan hatinya sendiri.
__ADS_1
Jiwa petualangnya terasa bebas ketika ia bertemu dengan Danny. Ia kini bukan lagi seorang petualang solo. Dan bersama dengan Danny ia telah melewati berbagai hal.
Tapi apa semua itu cukup untuk mengikut Danny? Patricia pikir dengan semua kejadian yang telah dialaminya itu memang ia tidak banyak berkontribusi pada rekan-rekannya.
Berbeda dengan rekannya yang lain, Vincent dan Brock, mereka berdua punya kekuatan untuk melindungi dirinya dan bahkan Danny.
Brock yang dengan sigap menahan serangan pedang dan Vincent yang dengan beraninya berdiri tidak jadi dirinya sendiri di situasi serius seperti ini.
Sedangkan dirinya? Patricia bahkan tidak bisa melindungi dirinya dan menolong orang lain, dan itulah sebabnya Danny memegang tangannya dengan erat.
‘Aku ini hanya beban....’ Patricia jadi semakin menyadarinya sekarang, yang memang jika dipikir berkali-kali pun tetap seperti ini.
Jikalau hanya bisa dilindungi, lantas apa gunanya ia bersama dengan Danny?
Jika dia hanya jadi beban?
....
‘Aku sudah berlatih....’ Patricia berusaha bertahan dari pemikirannya ini, pada akhirnya tekadnya untuk mengikut Danny tidak berubah sampai sekarang.
Namun pemikiran yang ia pikirkan tadilah yang membuatnya ragu apakah ia pantas ikut Danny atau tidak.
‘Belum... masih belum... jika ingin mengikut Danny... maka aku harus menunjukkannya secara langsung!’
Patricia menguatkan tekadnya, kedua temannya sudah menunjukkan hal itu. Jikalau ia tetap lemah maka siapa yang akan memberikannya semangat?
Patricia perlahan menguatkan kepalan tangannya, ia tidak mau lemah di saat seperti ini, seberapa tidak bergunanya ia menurut pikirannya sendiri tidak akan mengubah tekadnya untuk terus mengikut Danny.
“Haah....”
Akhirnya setelah beberapa waktu berlari Danny dan Patricia sampai di tempat ledakan tadi, yang ternyata ada seorang gadis bertudung hijau, tepat seperti yang dilihat mereka berdua sebelumnya.
Danny bisa merasakan aura kekuatan yang tak asing dari gadis itu, kini perasaan dalam hatinya mulai berkecamuk kembali.
Gadis bertudung hijau itu menatap api yang besar di tengah kota seolah sedang menikmatinya. “Olivia bodoh, untuk apa dia mencari pemuda itu jauh-jauh... sedangkan padahal dia ada di ... sini?”
Gadis bertudung hijau itu berbalik dan menatap Danny dan Patricia dengan tajam.
Tidak salah lagi....
__ADS_1
Dia adalah....
“Cecilia....” Danny menatap apa yang ada di depannya dengan tak percaya.