
Beberapa saat sesudah sang iblis perempuan Olivia meregang nyawa.
“Khhhh.... Haaah....”
Terlihat jelas seorang manusia yang terbaring di bawah hamparan pasir. Hampir seluruh tubuhnya dipenuhi oleh suatu cairan berwarna merah.
Aura kehidupannya benar-benar kecil, sampai-sampai begitu mengkhawatirkan kelihatannya.
Yang tak lain tak bukan adalah Arthur.
Sang mantan ksatria suci itu tergeletak lemas, tak berdaya di tengah panas teriknya matahari.
Memang tadi sempat ada semacam gelombang kekuatan hitam yang membuat keadaan padang gurun ini jadi diselimuti oleh asap gelap, namun itu hanya berlangsung sebentar saja.
Terlihat wajahnya tidak sesegar sebelumnya, dadanya mengembang dan mengempis pelan, ia tidak banya bergerak, karena tidak memungkinkan.
‘Aku... masih...?’ Arthur bertanya pada batinnya sendiri. Tidak banyak yang ia bisa lihat karena pandangannya kabur, dan satu-satunya yang bisa ia dengar hanyalah detak jantungnya yang lambat.
Arthur berusaha untuk menggerakkan badannya, namun tidak semudah biasanya.
“Uhuk!” Arthur terperanjat terbatuk keras, satu-satunya hal yang bisa membuatnya bergerak.
Sret.
Pada akhirnya setelah beberapa saat berlalu Arthur mulai bisa menggeliatkan badannya, berusaha menumpu tubuhnya dan bangun tidak pernah sesulit ini sebelumnya.
‘....’
Dan pada akhirnya Arthur sadar, setelah beberapa saat ke depan ia tidak lagi punya keinginan untuk bangun lagi.
‘Apa... yang dikatakan Thor... benar....’
__ADS_1
‘Tapi itu... tidak sia-sia.’
Arthur sudah memastikan ia sudah melakukan yang terbaik. Dan pada kenyataannya memang ia sudah melakukannya.
‘Aku tidak... bisa menepati janjiku....’
Arthur kembali teringat dengan perkataan terakhirnya pada teman-temannya.
Janji yang tidak ditepati sudah pasti menyakitkan, mengecewakan.
Lebih baik tidak menaruh harapan pada siapapun daripada harus berakhir dengan kekecewaan.
Arthur tahu, ia punya kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya. Namun ia masih berpegang pada rasa percaya dirinya yang berlebihan.
Seharusnya ia belajar berhenti memberi harapan lebih pada orang lain. Karena dengan begitu tidak perlu ada orang yang kecewa.
Terlebih lagi rekan dekatnya.
Terlihat jelas bagaimana mata Arthur memandang ke atas, sorot matanya menandakan kelelahan yang amat sangat. Meski pandangannya kabur namun Arthur bisa melihat langit memang sedang cerah-cerahnya.
‘....’
Lagipula Arthur juga sudah memprediksi akan hal ini sebelumnya.
Ada harga yang harus dibayar ketika melakukan hal ini, dan Arthur memahaminya. Ia menerimanya dengan tubuhnya sendiri.
‘Kenapa aku masih...?’ batin Arthur heran. Ia tahu betul akan bagaimana seharusnya setiap orang yang menggunakan teknik ini berakhir.
Di buku biru tebal usang juga sudah tertulis peringatan bahwa apa yang dibahas adalah teknik terlarang. Lebih dari sekedar teknik kekuatan sihir biasa.
Kekuatan yang bisa menampung semua jenis kekuatan dan mengembalikannya berkali lipat, dan seperti yang telah dikatakan, itu datang dengan risiko yang sepadan.
__ADS_1
Arthur ingat kembali bagaimana Thor yang mengatakan dia tidak bisa menggunakan teknik ini. Yang pada akhirnya ia mengerti mengapa Thor tidak menggeluti teknik pertahanan terhebat ini.
Atau mungkin saja rekannya itu tidak mengatakan yang sebenarnya. Arthur tahu Thor bukanlah pembohong, namun jikalau sudah menyangkut sesuatu yang dia anggap penting, maka segala cara pun akan dia lakukan.
Itu termasuk mencegahnya agar tidak mengenal dan mempelajari teknik pertahanan terhebat ini, yang pada akhirnya tidak ia dengarkan juga.
Kejadian sehari sebelum penyerangan iblis ke padang gurun ini membuat Arthur sadar akan mengapa Thor tidak menggunakan teknik ini.
‘Ia tidak ingin dikenang karena mengalahkan musuh... melainkan melindungi rekannya sendiri....’ Di saat seperti ini Arthur bisa merefleksikan kejadian masa lalu dengan baik.
Yah, mengingat dan memahami kejadian masa lalu lebih baik ketimbang memanfaatkan waktu tidak melakukan apapun bukan?
Thor bisa saja menggunakan teknik terlarang ini. Arthur yakin dia bisa menggunakannya, firasatnya memang mengatakan itu dari dulu.
Di masa lalu Thor tidak bisa menggunakan kekuatan pertahanan terhebat ini, karena sudah jelas-jelas mereka menghadapi banyak sekali pasukan iblis dengan kekuatan yang tidak lemah.
Pasukan iblis yang seringkali dianggap lemah di kala itu pada akhirnya menunjukkan taringnya. Dan lagi komandan iblis itu berada di barisan paling belakang yang tentunya mempersulit para ksatria suci untuk mentargetnya.
Lantas bagaimana dengan Jessica sang pemanah handal? Bukankah dia bisa diandalkan dalam serangan jarak jauh? Kenapa tidak mentarget sang iblis yang bernama Domer dahulu?
Tidak sesederhana itu. Semua anggota Ksatria Suci termasuk Jessica juga sudah disibukkan dengan sejumlah besar pasukan iblis yang mendesak. Mereka tidak punya pilihan lain selain bertahan saja kala itu.
Jikalau Thor menerima semua serangan gerombolan iblis itu dan membalikkannya juga tidak menjamin sang komandan besar iblis itu diam saja. Kejadian bisa saja lebih rumit dari yang sebelumnya.
Maka dari itu Thor tidak punya pilihan lain selain mengerahkan tenaganya untuk bertahan penuh dan memastikan siapapun selain dirinya bisa melarikan diri.
Arthur terdiam dan kemudian menutup matanya, tubuhnya memang mati rasa, namun emosinya masih ada sampai saat ini.
‘Thor....’
‘Aku akan segera menyusulmu.’ Arthur perlahan menutup matanya, dengan ini ia bisa tenang, karena ia masih punya kesempatan untuk melakukan hal yang sama dengan rekannya.
__ADS_1
SRRIIINNGGG!
Tiba-tiba muncullah cahaya terang tepat disebelah Arthur yang tergeletak tak berdaya itu.